Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Pertemuan Di Taman Hotel


__ADS_3

“Maaf, karena aku gak bisa jagain anak kita. Maaf, Samudra.”


Kata-kata Glorien kemarin terus terngiang di telinga Samudra. Terbayang juga wajah rapuh dan tangisnya.


Tapi bisa jadi 'kan itu hanya kamuflase? Asumsi berlainan terus mengacau di kepalanya.


Namun sayang, ia sama sekali tak menemukan kepura-puraan di sana. Raut sakit Glo saat mengucapkan itu, Samudra bisa melihat ke dalam matanya, wanita itu benar-benar sakit. Membuat ulu hatinya ikut berdesir seperti merasakan perasaan yang sama.


Ahh!


Saat ini suasana di dalam kamar hotel itu mendadak dingin. Entah AC yang disetel terlalu tinggi, atau karena di luar, hujan mulai mengguyur.


Mematahkan pikirannya tentang Glorien, Samudra memilih keluar kamar. Kaos rajut putih dengan kerah tinggi dipakainya, bersetel chinos hitam membalut seluruh kaki. Jam tangan mahalnya ia gunakan sambil berjalan, keluar kamar, lalu mengunci pintu. Berjalan santai lalu masuk ke dalam lift.


Lift menuju lantai dasar menukik turun. Di sana berdiri seorang wanita gempal dengan dagu berlapis, terus memandanginya dengan kagum dari pojokan.


Samudra menolehnya dengan senyuman semanis gula. “Eskrimnya meleleh, Nona.”


Wanita gembul itu terperanjat, seketika menatap eskrim di tangannya. “God!” ia memekik kecil. Gegas dilahapnya sebelum benar-benar mengotori tangan kembungnya.


Samudra terkekeh lucu, lalu keluar dengan gagah karena pintu lift telah terbuka.


Sapaan hangat para petugas hotel dibalasnya dengan senyum alakadar saja. Dia berjalan ke bagian belakang hotel. Di sana ada taman yang dikerubung kaca sekelilingnya hingga ke bagian atap, Samudra penasaran ingin melihat cipta desain seorang Putri Pascal yang hebat itu.


Kedua sudut bibirnya tertarik ke samping setelah sepasang kakinya berdiri di ambang pintu taman yang dimaksud. Samudra menatap cukup kagum setiap detail yang dipadati bunga-bunga cantik berwarna-warni.


Walaupun untuk ukuran pria maskulin seperti dirinya itu terlalu cantik, tapi setidaknya orang lain yang masuk ke sana cukup menikmati. Seperti yang dilihatnya saat ini. Beberapa pasangan sibuk berfoto mesra dengan latar anggrek beragam warna dan bunga lainnya. Ibu dan anak saling cengkrama mengisi sebuah kursi panjang di dekat mini air mancur dengan teratai kecil di sekeliling area-nya.


Dan ....


BRUK!


Samudra terkejut. Seorang laki-laki kecil tiba-tiba menabraknya.


“Hey, Kid! Kamu gak apa-apa?” tanya cemas Samudra.


Bocah itu menggeleng, “Ndak, Om. Aku dak apa-apa,” jawabnya dengan logat cadel, seraya mengusap-ngusap jidatnya yang berponi lurus.


Samudra tersenyum lalu menurunkan tubuh, berjongkok untuk menyetarakan tinggi dengan si bocah. “Pembohong yang payah,” katanya. Kemudian disibaknya poni bocah itu lalu dielus dan tiupnya. “Berapa umur kamu?” tanyanya kemudian.

__ADS_1


Dengan lucunya anak itu mengacungkan lima jari mungilnya ke depan wajah. “Kata mami seditu, Om!”


Sekarang Samudra terkekeh. “Lima, ya. ... Anak Om juga seumuran kamu. Kalau ada, dia pasti selucu kamu sekarang. Sayangnya dia udah di surga. Udah pisah jauh sama Om.”


Bukan hanya Samudra yang perih akan perkataannya sendiri, kalimat yang diucapkannya itu juga menohok sekaligus menghancurkan hati seorang Glorien. Sedari tadi wanita itu ada di sana--bersembunyi di balik tiang besar yang dirambati bunga ivy. Ia membekap mulut menahan tangisnya yang sudah pecah. Rasa bersalah tiba-tiba menyeruak dan menggoresi seluruh jiwanya hingga berdarah-darah.


Terlihat Samudra semakin asyik mengobrol dengan bocah kecil tadi. Tawanya terdengar renyah menyikapi tingkah lucu lawan bicara yang tak setara.


Glorien semakin terluka. Andai tak ada petaka dalam rumah tangga mereka lima tahun lalu, mungkin ia dan lelaki itu sudah bahagia menjalani peran sebagai orang tua yang baik untuk anak yang begitu manis.


Untuk bermimpi pun rasanya ia tak lagi pantas. Ia telah gagal. Samudra bahkan kembali sebagai orang lain setelah memalsukan kematiannya. Pria itu bukan pria baik, semua mengatakan hal serupa saat itu, meskipun ia tak sependapat karena rasa percaya yang begitu besar. Lalu sekarang bagaimana?


Air mata deras yang mengalir di pipi Glorien sontak terhenti.


Sesuatu berhasil menggeser perhatiannya. Pandangannya menangkap sosok seorang wanita berjalan ke arah Samudra. Diamatinya terus wanita itu tanpa beranjak dari tempatnya. Setelah mengingat di kesekian detik, matanya seketika nyalak melebar.


“Koko!”


Samudra yang masih asyik mengobrol konyol dengan bocah laki-laki itu sontak teralihkan perhatiannya. “Mi!”


Wajah ceria Miana dipandanginya bahagia. “Kamu beneran ke sini?”


Keduanya langsung berpelukan.


“Mia kangen Koko.”


“Koko juga, Mi.”


“Om! Om!”


Panggilan bocah kecil setinggi paha merusak moment.


“Dia siapa, Koh?” tanya Miana menunjuk pada bocah itu.


Pelukan terlepas.


“Dia bilang namanya Albian. Dia tadi lari-lari, trus gak sengaja nabrak Koko. Keterusan ngobrol deh kita! Ya 'kan, Kid?” Samudra menjulurkan telapak tangan, mengajak anak itu melakukan 'tos’.


“Iya,” jawab Albian dengan wajah lucu, membalas tepuk tangan Samudra.

__ADS_1


Miana terkekeh seraya mengasak kepala Albian. “Kamu sama siapa ke sini?”


Pertanyaan Miana membuat bocah itu seperti mengingat sesuatu yang dilupakannya. “Cama ....” Ia berpikir, namun kepalanya mengedar mencari-cari. Orang yang datang bersamanya tak terlihat di mana pun, ia baru ingat.


Samudra dan Miana memperhatikannya dengan alis bertaut.


Bocah itu masih celingukan mencari. Sampai ....


”Itu!” Telunjuk kecilnya mengarah ke satu bagian. “Cama Onty Glo!”


Samudra dan Miana mengernyit heran seraya mengikuti arah tunjuk si bocah kecil.


Sementara di tempatnya, Glorien tersentak setengah mati. Matanya membelalak kaget. Dan semakin kaget ketika bocah lelaki itu menariknya dari persembunyian.


“Onty cini! Onty apain numpet di citu?! Aku punya tenalan Om kelen noh di cono. Ayo Onty aku tenalin.”


Pandangan Glo mengarah resah pada Samudra juga Miana, namun juga tak bisa menghardik saat Albian terus memaksa untuk ia keluar dari persembunyian. Dan sekarang bocah itu menyeretnya semakin dekat.


“Glorien,” desis Miana.


Dia sudah tahu milik siapa hotel Pascal yang saat ini ia jejaki, tapi bertemu langsung dengan Glorien, tetap saja mengejutkannya.


Samudra mengamati wanita itu melalui ekor matanya.


Glorien sudah berdiri di hadapan mereka dengan raut semakin resah tiada tertolong.


Kelucuan Albian tak lagi mendominasi, bahkan langsung tenggelam sesaat setelah ketiga orang dewasa itu saling bertatap dalam arti yang berlainan.


“Apa bocah ini anak kamu, Glo?”


Pertanyaan sinis Miana menyentak Glorien. Bukan karena tak ada lagi panggilan 'kakak' seperti dulu, melainkan ... ia merasa seperti sedang diintimadasi layaknya seorang psakitan, oleh sepasang kakak beradik yang jelas memasang raut membenci.


“Umm, bukan!” jawab kaku Glorien, menarik Albian merapat ke hadapannya. “Dia anak manager di hotel ini.”


...***...


BANTU KASIH RATE 5 BINTANG, YA, KAK KAKAK!


JANGAN LUPA LIKE!

__ADS_1


__ADS_2