Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Monitor Adegan


__ADS_3

Awan mendung di langit siang terasa aneh untuk Jakarta di cuaca seterik tadi. Sama mendung dengan hati Rohan yang kini dalam perjalanan pulang kembali menuju kantornya.


Pria itu baru saja merasa gagal.


Pak Jo tetap datar. Sesekali melirik bos besarnya melalui spion yang tergantung di depan bagian atas kepalanya, seraya terus bermain putar setir di kedua tangan.


Pria nomor satu Pascal tersebut pasti kecewa besar.


Rumah Belanda Oma Mina tak bisa Rohan dapatkan. Wanita tua itu tak mau menjual, bahkan kukuh sampai menyinggung soal batas bertahan hingga kematian. Rohan tidak tahu bagaimana bisa semua rencana yang dia susun hancur berantakan seperti buih di laut lepas.


“Bagaimana dengan Samudra, Jo?” tanya Rohan tanpa mengalihkan sejurus tatapnya dari pemandangan yang terus berganti di luar kaca. Ia ingin tahu perihal rival sekaligus menantu kurang ajarnya itu.


Pak Jo menjawab apa adanya, “Saya belum mendapat kabar apa pun tentang dia, Tuan. Tapi melihat dari sikap Nyonya Wilhelmina tadi, sepertinya belum ada orang yang datang ke sana selain kita.”


Rohan tercenung. “Benar," kata hatinya menyetujui. “Jikapun datang, apa bedanya dengan aku. Wanita tua itu pasti akan sama menolaknya.” Dia terus bermain asumsi.


“Jadi selanjutnya bagaimana, Tuan?” Pak Jo bertanya hati-hati.


Embus napas Rohan terdengar kasar. Di balik sikap tegasnya, itu sangat tak lazim bagi Pak Jo yang selalu mendapati keberhasilan sang tuan yang tak bercela. Kekecewaannya sungguh dalam, Pak Jo menebar empati dalam diamnya.


Dari cermin yang sama, ayah dari Yara Sasmitha itu menangkap Rohan mulai menyandarkan kepalanya ke dasar jok. Lelah nampak seperti pecundang yang baru lahir.


“Kita cari tempat lain,” jawab Rohan di detik ke sekian puluh.


Pak Jo mengangguk paham. “Baik, Tuan.”


...*****...


Layar monitor di tepi pantai telah siap merekam semua adegan.


Samudra mengamati persiapan itu dengan tatapan yang sulit dimaknai.


“Sudah selesai semua, Tuan." Seorang pria muda yang sedari tadi membantu, melaporkan pekerjaannya pada Samudra.


“Oke. Terima kasih," ucap Samudra.


Pria berbadan kurus itu mengangguk sopan, kemudian berlalu pergi dengan ranselnya.


Dari monitor empat belas inci yang menyala di depannya, rekaman Jesslyn yang tengah sibuk dengan pemotretan di dermaga kapal, nampak jelas terpampang. Kekasihnya itu terlihat anggun dengan gaun panjang berwarna orange, mengimbangi langit jingga di atas sana.


Tidak ada komentar khusus, hati Samudra seolah senyap dan kosong. Semua pria mungkin akan ricuh berebut memberi bintang lima untuk Jesslyn, tapi dia tidak. Bukan tak mau, tapi jangankan bintang lima, potekan dari satu bagiannya pun Samudra tidak punya.

__ADS_1


Puas menatap, kepalanya berotasi ke belakang, melihat yang dia tunggu apakah sudah muncul di sana atau belum. Tapi belum ia dapati.


Kedua telapak tangannya mulai menyusup ke kiri dan kanan saku celana, lalu mengayun langkah ke tepi pantai yang ombaknya berdebur tanpa emosi.


Angin laut menerbangkan longcoat-nya hingga terkibar-kibar ke belakang karena kancing bagian depan tak dia kawinkan.


Pikirannya melayang jauh. Sesungguhnya keputusan hari ini masih sangat abu-abu untuk perasaannya. Tapi dia tetap harus memilih, meski tanpa menggunakan hati.


Seperti kata David yang didukung Mada; Membuang waktu menekan hati hanya untuk wanita. Cukup mereka berlubang, bersih dan rapi, juga 'tak tonggos. Selesai!


“Hh, 9oblok!” decih Samudra mengingat itu. Bagaimana bisa dia bergaul dengan pria-pria tak waras seperti mereka.


“Koko!”


Suara Mia kemudian membuyarkan langlang buana pikirnya.


Samudra menoleh balik. “Mi.”


Gadis itu datang tak seceria biasanya. Mungkin karena Sakti dan Glorien yang menurut Mia ada hal yang mereka sembunyikan darinya.


“Hay, Koh," Sakti menyapa seraya mengulurkan tangan pada Samudra. Ia menggunakan sapaan sama dengan Mia, walaupun dirinya berumur sedikit banyak di atas Samudra. Karena cepat atau lambat, Mia akan segera ia persunting. Dan otomatis Samudra akan jua jadi kakaknya.


“Sak. Gimana kabarmu?” Samudra menerima seraya bertanya.


Samudra melongokkan kepalanya ke jauh ke belakang Mia dan Sakti. Terlihat Glorien berjalan dengan langkah malas ke arahnya. “Cepet dong!”


Glorien tak menjawab, dia malah membuang wajah ke lain arah.


Sakti mengamati mereka berdua. Seketika di pikirnya mulai bermunculan tanya. Apa hubungan Glorien dan Samudra sebenarnya? Mia belum ada cerita pasal mereka.


“Ini.” Kotak beludru kecil berwarna biru Glorien berikan Pada Samudra.


Pria itu menerimanya dengan tatapan datar. “Semoga kamu nggak bodoh soal selera," cibirnya.


Glorien mendengus seraya kembali membuang wajah. “Kamu bisa geret toko sama mbak-nya sekalian biar bisa milih sendiri, dan gak harus nyusahin aku.”


Samudra menyunggingkan senyuman sinis, namun tak mengatakan apa-apa.


“Koh! Jesslyn uda selesai tuh! Dia lagi jalan-jalan di pantai!” Mia berseru seraya menunjuk ke layar monitor yang mengawasi Jesslyn. “Koko siap-siap sana!”


Samudra menolehnya. “Iya, Mi.” Lalu kembali menatap Glorien. “Aku gak izinin kamu pergi dulu dari sini. Duduk bareng Mia juga Sakti di sana." Ia mengarahkan dengan tangan. “Abis semua selesai, minggu depan ... kamu terima surat cerainya.” Kemudian berlalu cepat ke arah mobil, memasukinya dan langsung melaju pergi tanpa menoleh lagi.

__ADS_1


Glorien mendesah kasar. “Aku harus sabar,” gumamnya. Mia dan Sakti dihampirinya lalu duduk bersama mereka.


Hanya kurang dari dua menit, Samudra sudah sampai di tempat di mana Jesslyn melakukan pemotretan.


Dia diam, memerhatikan Jesslyn yang saat ini tengah berjalan santai menuju jembatan kayu di atas laut, menikmati suasana.


Dan itu semua tak luput dari perhatian Mia di layar monitornya.


“Koko uda sampai,” katanya tersenyum lebar. Headphone di kepala dirapikannya sesaat sebelum kemudian memberi komando, “Mainkaaan!”


Di layar kecil itu terlihat seorang pemuda menghampiri Jesslyn dengan sebuah gitar di tangan. Bait-bait lagu cinta dinyanyikannya dengan merdu. Jesslyn tersenyum menyambut senang. Dia menikmati lagu itu seraya memejamkan mata.


“Cukup!" Instruksi Mia lagi. “Sekarang kasih bunganya!”


Pria bergitar itu menuruti. Setangkai bunga diambil dari balik jaketnya, lalu ia berikan pada Jesslyn kemudian pergi setelah membungkuk memberi kesan seolah dia tengah dalam pertunjukan di atas pentas.


Jesslyn tersenyum seraya menggeleng lucu. Langkahnya kemudian ia lanjutkan dengan santai hingga ke ujung jembatan kayu yang nampak sepi.


“Koko! Ayo siap!" Mia menyeru Samudra melalui earphone-nya.


Suasana terasa aneh bagi Glorien. Dia duduk menatap layar itu dengan perasaan penuh gejolak.


Apakah ia akan sanggup melihat adegan yang diperankan suaminya sendiri?


Suami yang bahkan ia tak tahu, konsep seperti apa yang mereka jalani sebagai pasangan saat ini.


Surat nikah dan cerai saja jadi mainan.


Apakah Samudra benar-benar bisa mempertanggungjawabkan kalimatnya? Atau belum puas mempermaikan, hingga berlanjut semakin konyol dan menyusahkannya?


****


Hy, Dear.


Para pembacaku terkasih yang cuma beberapa aja, (Miris ya)


Umm ... banyak dari kalian yang belum upgrade Noveltoon/Mangatoon versi terbaru ya..? Ketauan dari like yg kalian kasih, tapi gak muncul di panel dukungan.


Atau kalian yang sudah di versi baru, tapi gak masuk pake akun? Hmm ... keliatan dari like yg masuk, tapi gak ada nama yang muncul di notifikasi aku😄


Jadi biar masuk dukungan buat novelku ini, dan profil kalian pun muncul, ayok update ke versi baru dan masuk pake akun yaa...

__ADS_1


Terima kasih, Ayang Semua😘😘


__ADS_2