Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Persembahan Akhir


__ADS_3

Samudra mendekat santai ke arah Jesslyn dengan sebuket bunga gerbera di tangannya.


Jesslyn yang membelakangi masih tak menyadari. Sibuk menikmati terpaan angin yang mengibarkan indah rambutnya.


Satu tangannya asyik memainkan bunga yang diberikan pria bergitar tadi, sambil sesekali menyesapnya dengan senyuman.


“Apa bunga jelek itu lebih menarik dari pada aku?”


Jesslyn terkejut dan sontak membalik badan. “Sam.”


Samudra tahu-tahu sudah berdiri di belakangnya.


Bunga kecil di tangan Jesslyan direbut lalu dilemparkannya ke laut lepas. “Bunga punyaku lebih cantik dan indah ... kayak kamu.” Gombalan garing dari mulut yang tak berbakat.


Dalam beberapa saat, Jesslyn membelalak. Kalimat gombal Samudra bahkan tak menyesap di kepalanya.


“Ini.” Samudra memberikan buket bunganya. “Buat kamu.”


Jesslyn tercenung sekian saat. Ikatan gerbera di hadapannya ia tatap dengan perasaan sulit diartikan bahkan oleh dirinya sendiri.


“Kamu gak mau?” Samudra bertanya karena wanita itu tak kunjung meraih apa yang dia berikan.


Dengan lambat dan sedikit keraguan, Jesslyn menerimanya. Menatap sejenak lagi pada bunga di tangan, lalu bertanya pada Samudra, “Ada apa kamu ke sini?”


Samudra tersentak karena pertanyaan itu. Buru-buru dia membuang wajah ke sisi lain, lalu merunduk menatap ke bawah. Tersenyum sumbang pada tali simpul alas kakinya.


Pertanyaan Jesslyn terdengar seperti usiran halus. Gadis itu menunjukkan sikap tidak berkenan atas dirinya walau tak secara gamblang, tapi Samudra paham itu.


Dia beku sekian detik, sebelum akhirnya kembali menatap Jesslyn. Udara diraupnya dalam diam untuk setidaknya menambah dorongan atas dirinya sendiri.


“Jess ... aku minta maaf. Kejadian waktu itu aku cuma khilaf. Gak ada apa-apa antara aku sama Glorien.” Samudra berusaha menjelaskan. Kemarin dia tak sempat karena terpotong urusan Rohan dan bangunan tua Wilhelmina.


Wajah Jesslyn mencetak senyuman yang sama sumbang, ada sirat cemooh yang melukiskan betapa dia tak percaya omong kosong yang baru dilontarkan pria di hadapannya.


“Gak ada apa-apa kamu bilang, Sam?”


Samudra mengerut kening.


“Apakah surat nikah yang ada di tangan kamu gak cukup jadi bukti kalau ada apa-apa di antara kalian?”

__ADS_1


Kali ini mata Samudra nyalak melebar. Dari mana Jesslyn tahu soal itu?


Sejauh mana kepribadiannya ditelisik?


“Kemarin kalian berciuman!” Jesslyn sedikit meninggikan nada bicara dengan mata sudah berkaca-kaca. “Aku bukan anak kecil yang gak bisa bedain, mana khilaf dan sama-sama saling mendamba! ... Kamu dan Glorien ... kalian ... masih sama-sama saling mencinta, Samudra!”


“Jess ... aku ....”


“Aku tahu!" serobot Jesslyn lagi. Makin tak bisa menguasai diri. “Aku tahu semuanya, Samudra! Kalian bahkan hampir punya anak, 'kan?!”


Yang terakhir itu lebih menyentaknya.


“Jess!” Dengan cepat Samudra menarik tubuh Jesslyn ke pelukannya. Tidak ada kata yang bisa dia ungkapkan. Semua yang dikatakan Jesslyn tidak menyimpang. Meskipun pertanyaan sama masih menggumpal di benaknya, tentang dari mana wanita itu tahu semua rahasianya.


Gadis itu tak berontak. Membiarkan dirinya dipeluk lelaki yang begitu dia cintai, meski beriring kilatan sakit di ujung dada.


 


Di lain tempat.


Glorien merasakan hatinya semakin sakit. Samudra dan Jesslyn saling berpeluk di antara debur ombak dan sapaan angin yang berputar mengelilingi. Itu sangat romantis bagi siapa pun yang melihat, termasuk juga dirinya.


Sekarang Glorien paham. Perasaannya pada Samudra belum mampu dikesampingkan.


Tak ingin kelakuannya didapati Sakti juga Miana, dia berlari pergi meninggalkan tempat itu sesegera yang dia mampu.


Sebenarnya Sakti menyadari tingkah Glorien selama gadis itu ada di sana, bahkan hingga kepergiannya barusan. Dia bimbang. Pergi mengejar Glorien yang terlihat kacau, atau Miana akan memutuskannya.


Matanya menatap punggung Glorien yang semakin jauh dengan raut cemas.


Sekarang Sakti mulai paham. Antara mantan kekasih dan calon kakak iparnya itu, benar-benar ada hubungan yang tak sederhana. Pikirnya terus beradu asumsi.


Sampai kemudian ....


“Koko kenapa lepas headset-nya sih?!”


Suara Miana menyentaknya ke kenyataan dan membuat lelaki itu gelagapan. “Ada apa, Bep?!” Sakti bertanya spontan, lalu berusaha bersikap sewajar mungkin.


“Gara-gara Koko lepas headset-nya. Suaranya jadi gak kedengeran, 'kan? Jesslyn nerima lamarannya apa nggak? Mana drone-nya juga kejauhan ngambil gambar. Koko tu sengaja banget ngacau yang uda diatur!” Miana bersungut-sungut. Benar-benar kesal pada Samudra.

__ADS_1


Sakti mengusap pundaknya memberi penenangan. “Gak apa-apa. Nanti kita tanya langsung sama Koko kamu.”


Tak mempan. Wajah Mia masih memberengut. dua tangan berlipat di depan dada mendukung kekesalannya.


 ------


Perlahan, Jesslyn menarik diri dari pelukan Samudra. Bening mata pria itu ditatapnya pedih. “Kita udahin sampai di sini aja, Sam,” putusnya kemudian.


Samudra membelalak, tapi belum mengatakan apa-apa.


“Aku gak mau terselip di antara dua orang yang masih sama-sama saling cinta. Terlebih kalian masih sah sebagai suami istri.” Lalu merunduk hanya untuk mengedipkan mata dan menjatuhkan air yang menggenang di pelupuknya.


“Jesslyn," Samudra berdesis, bingung bagaimana menanggapi.


“Bakal jadi gak tau diri kalau aku tetap maksa bertahan sama kamu," Jesslyn melanjutkan seraya kembali mengangkat wajah. “Aku cuma bakal mempermalukan diri aku sendiri ke depannya.”


Samudra semakin tak bisa berkata.


“Kita pisah, Samudra. Aku mau akhiri hubungan kita sampai di sini.”


Keterpukulan di mata Jesslyn, Samudra bisa menangkapnya dengan jelas. Diraihnya dua telapak tangan wanita itu lalu digenggamnya. Keduanya saling menatap penuh rasa--rasa yang berlainan. Jesslyn yang terluka karena perpisahan, sedang Samudra diselimuti rasa bersalah.


“Aku minta maaf, Jess,” ucap Samudra selembut mungkin. “Aku minta maaf karena seret kamu di dunia aku. Dunia yang gak seharusnya kamu masuki. Maafin aku karena gak bisa kasih kamu bahagia di akhir hubungan ini. Aku nyesel, Jess. Aku bener-bener minta maaf.”


Jesslyn menatap pahit ke dalam mata pria itu. “Aku maafin kamu.”


Perlahan, ia menarik kedua telapak tangannya dari genggaman Samudra, lalu menegakkan diri. Detik ke sekian .... “Selamat tinggal, Samudra,” tukasnya. Gaun panjang yang menutup hingga ke kaki, ia angkat dengan remasan di kiri dan kanan tubuh untuk mempermudahnya.


Seraya menangis, Jesslyn pergi dengan langkah-langkah lebar meninggalkan Samudra yang berdiri dengan perasaan penuh gejolak.


Lagi-lagi tak sederhana. Samudra terdiam beku di tempatnya, ditemani debur ombak yang menggelora seakan menertawakannya.


Waktu satu tahun bukan waktu yang singkat untuk dikatakan hanya sebatas. Dan sebanyak waktu itu, Jesslyn menemaninya.


Sekarang ....


Di akhir hubungan ia dan wanita itu, hanya luka yang dia persembahkan sebagai ucapan terima kasih.


Lalu apa bedanya dia dengan Glorien yang menurutnya begitu dalam menghancurkan hatinya?

__ADS_1


__ADS_2