
Penjelasan ditutup Darius dengan sebuah bukti.
Bekas-bekas luka serupa goresan berwarna hitam di punggung Samudra adalah hasil cipta karya kekerasannya pada Karl Kecil hampir 28 tahun lalu. Ternyata masih sejelas itu terukir di punggung kekar yang kini menjadi seorang Samudra dewasa yang luar biasa.
Menganga mulut Laura, mata melebar hingga maksimal. Kakinya perlahan tersurut mundur.
Samudra, kelopak matanya menggenang panas. Dia membeku menatap lantai dengan isi hati serupa peperangan. Bajunya sudah dirapikan kembali oleh Darius.
Konsep takdir macam apa ini? Hampir saja dia menikahi ibu kandungnya sendiri.
Dia merasa menjadi bodoh dalam sekelip mata. Lebih tepatnya, dibodohi oleh keadaan.
Mada, David, Glorien dan lainnya tak jadi pengecualian. Mereka berekspresi sama terkejut tak main-main.
"Tuhan!" pekikan hati Glorien.
Sedang Laura, tubuhnya mendadak lemas. Limbung terhuyung-huyung dengan kepala menggeleng-geleng. "Tidak, tidak mungkin! Tidak mungkin seperti itu!" elaknya masih tak terima.
Seorang anak buahnya sigap menahan. "Hati-hati, Nyonya!"
Samudra menoleh perlahan wanita itu dengan tatapan sulit dan hanya sesaat saja. Detik berikutnya dia menoleh Sagara lalu menghampiri dengan langkah berat. Anak kecil itu masih dicekal anteknya Laura.
"Jangan!" Glorien berteriak cemas manakala sebuah pistol ditodongkan pada Samudra oleh anak buah Laura lainnya.
Tapi Samudra tak peduli. Langkah kakinya mantap mendekati sang buah hati yang terus meronta ingin terlepas. Dia tahu mereka tak akan berani melukainya.
"Turunkan senjata kalian!" Charlotte memerintah. "Aku sudah menelepon polisi dan mereka akan segera datang."
Belum kering mulut gadis itu berucap, gemuruh hentak kaki terdengar kemudian.
Charlotte tak hanya mengisap jempol, polisi benar-benar datang.
"Jangan bergerak!"
Mereka lengkap berseragam anti peluru.
"Tangkap mereka semua, Pak!" teriak Charlotte lagi seraya menunjuk para pria blonde yang menyandra Glorien, Mada dan teman-temannya.
Anak buah Laura langsung kalang kabut dan berhambur berlarian.
DARR! DERR! DORR!"
"Aarrggh!" Teriakan kesakitan susul menyusul. Mereka yang coba kabur langsung dibekuk dengan timah panas di bagian kaki.
Yang melawan pun ada saja. Tapi tak berlangsung lama karena polisi sudah siaga dengan caranya.
Glorien dan lainnya terbebas.
Samudra sendiri langsung menarik Gala sesaat setelah polisi datang. Dia melepas lakban di mulut anak kecil itu. "Gala gak apa-apa, Sayang?" Memposisikan rendah tubuhnya untuk menyamakan tinggi dengan sang anak.
__ADS_1
Sagara menggeleng. "Aku gak apa-apa, Pa."
"Syukurlah, Nak." Sekujur wajah anak itu dikecupi Samudra lalu dipeluknya lagi-lagi.
Glorien menghampiri bersama Darius.
"Saga!"
Sagara melepaskan diri kemudian menoleh ibunya. "Mama."
Samudra mengalah dan berdiri, memberi ruang pada Glorien dan putranya untuk berpeluk.
"Kamu gak apa-apa, Sam?" tanya Darius sembari mendaratkan tepukan halus di pundak Samudra.
"Aku gak papa, Yah."
Mada dan David menghampiri tapi tak mengatakan apa-apa.
Perhatian Samudra kini jatuh pada Charlotte.
Gadis itu tengah menangis seraya memeluk Laura yang terduduk lemas di sebuah sisi dengan tatapan kosong.
Perasaan Samudra kini terasa sulit, tidak bisa ia menelaah secara benar. Kedudukan Laura dalam pandangannya tiba-tiba remang tidak berwujud. Tidak ada yang ingin dia lakukan pada wanita yang nyata telah melahirkannya itu. Tidak ada rasa marah, tidak juga benci, bahkan tidak untuk kasihan apalagi rindu. Tidak ada apa pun.
Dibandingkan Laura yang lebur, Samudra malah ingin bertemu Jaladipa, sosok yang telah mendorongnya pada kehidupan sejauh ini. Dia berjanji akan menemui pria yang bahkan wajahnya tak pernah dia lihat, selepas semua urusannya di sini selesai.
Glorien dan Sagara sudah puas dengan pelukannya, keduanya bangkit berdiri kemudian ikut kemana pandangan Samudra terarah.
Tangan Glorien dan Sagara ditariknya untuk menjauh pergi meninggalkan tempat neraka yang hampir saja membuatnya menjadi seorang yang paling tolol sedunia.
"Tapi Madam dan Nona Charlotte--
"Biar polisi yang urus!" Samudra memungkas kalimat Mada.
...****...
Tidak ada waktu menunggu menenangkan diri, Samudra langsung mencelat meninggalkan Moskow setelah lebih dulu meminta maaf pada Jimmy dan juga Dawson yang sempat dia libatkan dalam masalahnya.
David dan Mada sementara dia tanam di sana untuk melindungi Charlotte dan mengurus sedikit masalah di perusahaan kuliner yang mulai berkembang di sudut Kota Moskow.
Mula dalam pesawat, hingga kini berada di dalam mobil yang menggerus jalanan Bandung, Sagara terus dipeluknya, pun tangan Glorien yang juga tak dia lepaskan. Samudra tak ingin kehilangan mereka lagi.
Di jok depan, Darius tersenyum haru, namun juga tersirat kesedihan mendalam di sana. Betapa dia beruntung dipercaya Tuhan merawat seorang Karl yang hampir mati di tangan ibunya.
Tentang Laura, dia bahkan tak ingin menyinggung nama itu. Cemas Samudra yang mulai tenang akan bergolak kembali.
Untuk saat ini, biarkan semua terjaga apa adanya.
Villa Kelapa yang dituju.
__ADS_1
Adalah tempat yang tepat untuk Samudra melepas semua penat.
Gerbang tingginya sudah terlihat.
Tiga mobil beriringan masuk. Selain mobil Samudra yang dikemudikan Pepeng, dua lainnya berisi para Pena Hitam yan terus mengawal.
Pohon-pohon kepala melambai dengan buah ranum. Samudra masih diam dengan tatapan datar, Sagara yang tidur berpindah ke pelukan ibunya.
Bangunan megah di depan sana terpampang, sudah direnovasi menyeluruh. Lebih indah dari saat pertama kali Samudra membelinya lebih dari satu tahun lalu.
Perputaran roda mobil berhenti.
Pepeng sigap turun untuk membukakan pintu tuannya di belakang. Sagara diambil alih gendongan oleh pria berpipi codet itu.
Tak canggung, Glorien memposisikan dirinya dalam gandengan Samudra. Sesaat ia dan pria itu saling menatap mata, lalu tersenyum saling menguatkan.
"KOKO!" Keras suara itu menggema dari arah dalam villa.
Miana datang tergopoh, diikuti Sakti tetap dengan sejuta pembawaan tenangnya di belakang.
Samudra tersenyum lebar. Merentangkan tangan untuk menyambut terjangan adik kesayangannya, setelah Glorien mengalah dan sedikit menjauhkan diri.
"Syukurlah Koko baik-baik aja. Mia uda mau mati rasanya dimakan cemas!" Gadis itu nyeloteh. Air matanya sudah luruh menembus kemeja hitam yang membalut tubuh Samudra.
"Itu karena do'a kamu yang maksa, jadi Tuhan kabulin."
"Dasar!"
Darius tersenyum bahagia melihat anak-anaknya.
"Udah Mi, Koko kamu capek tuh," celetuk Sakti.
"Bodo!" hardik Mia tak peduli.
Samudra mengalah. Membiarkan gadis kecilnya puas memeluknya sampai mau lepas sendiri.
Detik berikutnya pun terjadi. Mia melepaskan diri.
Pandangan gadis itu lalu jatuh pada anak kecil dalam gendongan Pepeng. "Koh, dia ...?"
"Iya!" Samudra menjawab cepat. "Dia Sagara. Ponakan kamu."
Miana menutup mulut dengan telapak tangan. "Tuhan." Kesyukuran luar biasa membuncah dalam dadanya.
"Aku mau gendong."
"Nanti aja. Dia lelah, Mi," saran Darius. "Ditidurkan dulu aja di dalem, Peng."
Pepeng mengangguk kemudian masuk ke dalam rumah. Mia memberengut kesal.
__ADS_1
Samudra mengasak rambut depannya dengan senyuman lucu, "Kalo Gala bangun nanti, puas hati kamu ajak ngobrol."