Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Dibuang Lalu Dirangkul


__ADS_3

Deru jantung Rohan Pascal mendadak cepat. Segenang saliva di dalam mulut ditelannya susah payah. Betapa terkejut dan marahnya ia saat ini. Namun semua rasa ditutupinya dengan tetap memasang ekspresi bertahan. Rohan memang telah tahu bahwa Glorien berada di Sukabumi, tapi memikirkan tentang pernikahan, hatinya tetap tak bisa menerima.


“Glorien siapa yang Anda maksud?” Rohan justru bertele-tele. Sikap yang sengaja ia tunjukan demi menutupi perasaan yang sebenarnya lebih dari sekedar kacau.


Menanggapi itu, Darius memicing mata. Kaki yang pegal karena berdiri tak dirasanya. “Sebegitu bencinya Anda pada putri Anda hanya karena dia khilaf, Tuan?” tanyanya memancing.


Rohan Pascal membuang wajah. “Asal Anda tahu, aku tidak memiliki putri seorang pembangkang,” katanya kembali meluruskan pandangan pada lawan bicara.


Darius lalu menekankan, “Tapi dia sedang mengandung cucu Anda!”


“Tidak ada cucu yang kau maksudkan itu!” tolak murka Rohan seraya mengangkat tubuh. Kata cucu terdengar sangat menjijikkan di telinganya. “Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengakuinya! Terlebih oleh laki-laki seperti anakmu yang bedebah itu! Aku juga tidak akan menerima anak pembangkang, sampai dia sadar!” tegasnya dengan urat memerah padam.


Mata Darius melebar. Dia terdiam dalam ketidakhabispikiran. “Jadi Anda membuang Nona Glorien hanya karena dia mengandung anak Samudra?”


Sekali lagi Rohan membuang wajah. Deru napasnya memburu semakin kencang.


Darius masih menunggu.


Selang sekian detik, Rohan kembali menatap pria di depannya. “Dengarkan aku, Tuan dari kampung ... Glorien putriku akan kembali sebagai dirinya. Aku pastikan ... dia akan segera menyesali tindakannya dan mau menggugurkan bayi sialan yang seharusnya memang tak ada!”


Kali ini sepasang mata Darius benar-benar nyalak melebar. Bukan karena ia direndahkan dengan kata-kata ‘Tuan dari kampung’, karena itu fakta adanya. Tapi sebait kata ‘menggugurkan bayi sialan’, jelas tidak mudah ditoleransi.


“Saya tetap akan menikahkan mereka!” kata Darius meneguhkan. “Dengan atau tanpa restu Anda, Tuan Yang Terhormat.”


Gigi Rohan bergesek geram. Banyak hina yang ingin ia lontarkan, tapi tenggorokannya mendadak kelu, entah karena amarah yang memuncak, atau Darius terlalu hebat.


“Jika Anda tidak mau mengakui Glorien yang saat ini tengah mengandung bayi dari Samudra, maka saya bisa mengadopsinya," sambung Darius. “Selamat siang. Saya permisi!” Ia lalu berbalik dan bertemu pandang dengan Pak Jo yang masih berdiri diam tak jauh di posisinya.


Memantapkan diri, Darius menyusun langkah untuk berlalu. Namun suara keras Rohan menginterupsi, “Hey!”


Darius berbalik badan, diam sejenak untuk menilai, lalu bertanya, “Apakah Anda berubah pikiran, Tuan?”


Sayangnya panggilan Rohan tidak untuk hal itu.

__ADS_1


“Bawa kantong sampahmu dari ruanganku!”


Hati Darius mencelos dan seketika bergetar. Jatuh pandangnya pada polibag sayuran yang teronggok di lantai di dekat sofa. Tanpa menimpal, ia kembali untuk mengambil polibag itu. Setelah berada di tangan dan menggamitnya, sejenak ditatapnya Rohan Pascal dengan sedikit gelengan kecil, kemudian berbalik dan pergi tanpa berkata lagi.


Ada desiran iba menyapa hati kecil Pak Jo. Ambang pintu kosong ditatapnya dengan prihatin. Sayangnya ia tak bisa sekejam Rohan, walau kesetiaannya pada pria itu bukan mainan.


*****


Jam Lima sore harinya.


Miana yang terus mondar-mandir menggugu rasa cemasnya atas sang ayah, seketika berteriak lalu berlari ke halaman bahkan tanpa beralas kaki.


Darius baru saja tiba dan langsung dipeluk anak gadisnya.


“Ayah kemana aja sih hari ini?! Mia 'kan cemas?!”


Darius tetap memasang senyum terbaik. “Ayah cuma jalan-jalan, Mi,” jawab pria itu seraya mengasak rambut Miana yang pelukannya baru saja ia lerai.


Menyikapi jawaban sang ayah, kening Mia berkerut-kerut. “Jalan-jalan?”


“Kemana?”


“Ke kampung seberang.”


“Kampung seberang?” Mia tak yakin. Pandangannya kemudian jatuh pada polibag sayuran di tangan ayahnya.


Darius menyadari keheranan Mia. “Ah, ini ....” Diangkatnya polibag bening di tangannya sampai ke depan perut. “Ini baru Ayah petik, mau Ayah kasih buat acara di kelurahan besok.” Jelas ia berkilah.


Dan Miana bukan anak ingusan yang gampang dibodohi begitu saja. “Tapi sayuran itu gak keliatan baru dipetik, Yah!”


“Ayah pergi ke Jakarta, 'kan?!”


Suara Samudra tiba-tiba mengudara dari belakang.

__ADS_1


Darius memutar tubuh. Terlihat putranya dan Glorien memasuki halaman. Kedua sejoli itu nampak lelah. Mereka mencari-cari Darius hingga ke desa tetangga.


“Jujur sama Sam, Yah! Ayah pergi nemuin papa Glorien 'kan?!” tekan Samudra lagi.


Darius terdiam. Diam yang artinya ia tak bisa mengelak lagi. Darius adalah pembohong yang buruk, Samudra dan Miana tahu benar perangai itu. “Dari mana kalian tahu?” tanyanya bernada datar, seraya berbalik dan berjalan menuju ke dalam rumah.


Tiga muda-mudi mengikuti di belakangnya.


“Kata Glo, kemarin Ayah kepoin KTP-nya dia dan alamat perusahaan," jelas Samudra. Hal demikian ia ketahui dari Glorien di jalan tadi ketika mencari Darius.


Tiba di dalam, satu bilah sofa di ruang tengah diduduki Darius.


Berulang napas kasar tertangkap mata Samudra. Dia bisa membayangkan kemungkinan apa yang menimpa ayahnya itu di kota sana.


“Apa papaku lakuin hal yang kasar sama Ayah?” Glorien mewakili apa yang ada di kepala Samudra juga Miana.


Dua kakak beradik tak sedarah itu duduk berdampingan di satu bagian sofa, sementara Glorien memilih sofa tunggal di dekat Darius.


“Jawab aku, Ayah!” tuntut Glorien dan berhasil meraih perhatian Darius yang terus diam.


Sepasang mata sendu Glo ditatap Darius dengan prihatin. Bayangan tentang ucapan-ucapan Rohan kembali melintasi kepalanya lalu berputar-putar seperti roll. Sapaan 'Ayah' yang ia minta atas Glorien mungkin memang bertakdir. Glorien akan jua jadi putrinya.


“Glo ... mulai saat ini ... jadilah anak Ayah. Menikahlah dengan Samudra. Dan kalian harus bahagia.”


Sekilas didengar dan ditanggapi, kalimat Darius tersebut memang terasa indah, tapi ketiga muda-mudi di dekatnya jelas paham ada makna menyakitkan yang lebih dominan di balik kata indah itu sendiri.


Air mata Glorien kembali menitik. “Apa Papa membuang aku, Yah?”


Darius terdiam, tersenyum pahit lalu menggeleng. “Tidak, Nak. Tidak akan ada ayah yang tega membuang anaknya, kecuali dia adalah binatang. Papamu hanya ingin kamu yang sesuai inginnya. Dia mau kamu menjadi yang paling hebat. Buat sekarang, waktu mungkin meminta kamu untuk jadi anak Ayah dulu, juga istrinya Samudra. Seenggaknya sampai bayi dalam kandungan kamu lahir. Selanjutnya, kamu bisa kembali jadi Glorien Pascal tanpa menyakiti anakmu.”


Samudra mengiyakan. Dia berdiri lalu mendekati Glorien yang mulai terisak. Dengan hati-hati dan perlahan, direngkuhnya tubuh gadis itu ke dalam dekapnya untuk memberi usapan dan menenangkan. “Jangan sedih, jangan cemas, dan jangan takut. Mulai sekarang, kita--kamu, aku, Ayah, dan Mia ... adalah satu keluarga.”


Darius dan Miana saling mengangguk.

__ADS_1


“Besok aku ajakin Kak Glo kotor-kotoran di tempat pembuatan bata. Aku jamin Kak Glo gak akan sedih lagi.” Miana memberi semangat.


Sukses membuat Glorien ikut terkekeh di sela tangisnya. “Aku mau.”


__ADS_2