Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Oh Darius ...


__ADS_3

Sesuai perintah Samudra, Mada menutup bengkel sementara. Pemuda yang lebih tua setahun dari Samudra itu memilih bekerja di rumah rekannya sekalian bersembunyi.


Dan terbukti, sesaat setelah bengkel ditutup, orang-orang kekar suruhan Pascal kembali datang. Jelas sudah siapa yang mereka cari, dua orang sekaligus--Glorien juga Samudra.


Mada yang masih berada di sekitaran cukup ketar-ketir. Dia bersembunyi di salah satu rumah tetangga. Rollingdoor yang tertutup dipukul-pukul anak buah Pascal hingga menimbulkan keriuhan. Mereka baru berhenti setelah satu orang warga mengatakan bahwa Samudra dan Mada tak lagi di sana.


Mada mengusap dada seraya mengembuskan napas lega. Orang-orang Pascal telah pergi. Dia dikerumuni warga untuk ditanyai apa yang terjadi. Mada menjelaskan alakadar. Sedikit berbohong tentang kesalahpahaman. Para tetangganya mengangguk dan merasa prihatin setelah mendengar Samudra yang koma. Mereka mengira Samudra hanya pulang kampung biasa.


Tuntas tak ada gunjingan. Mada kemudian pergi menuju rumah rekan yang ia niatkan sedari awal. Pada akhirnya hidupnya tak lagi tenang gara-gara si Samudra sialan itu. Terus saja ia mengumpat sepanjang jalan.


****


“Biarkan anak itu! Jangan cari dia lagi!” Rohan Pascal memberi perintah. Kilat geram terpatri dalam ekspresi yang membesi. Dia marah. Glorien anak manisnya tak lagi manis. Entah apa yang membuatnya menjadi gagal setelah semua ia berikan pada putrinya tanpa cela.


Mengatakan cela, banyak yang tak ia sadari. Aksi kabur Glorien, jelas gadis itu merasa terbebani dengan segala aturan yang Rohan buat.


Pak Jo mengangguk tipis saja. “Baik, Tuan.”


“Kamu boleh keluar.”


Pak Jo mengangguk lagi, lalu undur diri. Pintu ruangan Rohan ditutupnya dari luar tanpa suara.


Rohan termenung. Pemandangan kota di balik kaca tak lagi indah. Hidupnya tiba-tiba terasa suram. Anak yang telah ia persiapkan untuk meneruskan bisnisnya, mendadak jadi seorang pemberontak.


Dia berbalik, berjalan menuju meja kerjanya. Di sana foto Glorien yang disusun membentuk metamorfosa, satu per satu ditatapnya dengan sendu. Ia kembali ingat, tentang cerita Mbok Rum kemarin malam. Glorien merasa tertekan.


Latihan balet, les piano dan biola, belajar ilmu bisnis dan semua aturan lainnya, membuat gadis itu merasa terpenjara. Tak satu pun hal yang dia suka dapat dia lakukan. Glorien bahkan dikucilkan teman-temannya karena larangan Rohan yang bergaul dengan sembarang orang.


“Apakah aturan Papa membuat kamu semenderita itu, Nak? Sampai kamu berani memberontak? Dan sekarang kamu malah sedang mengandung anak seorang berandalan.” Rohan bergumam seraya menatap salah satu potret Glorien remaja yang baru saja diambilnya. “Apa yang salah dengan aturan Papa, Glorien?” Suaranya menjadi parau. “Lalu apa yang kamu sukai.” Tenggorokannya tiba-tiba tercekat. “Papa bahkan tidak pernah bertanya.” Matanya kini berair. “Papa hanya ingin kamu menjadi putri Papa yang kuat dan membanggakan. Lalu sekarang?”


...*****...


Satu minggu berlalu.

__ADS_1


Glorien tahu betul, dengan koneksinya yang tak main-main, papanya pasti bisa dengan mudah menemukan keberadaan dirinya, bahkan hingga ke lubang semut sekali pun. Tapi sampai hari ketujuh ini, tak satu pun nampak aneh. Semua berjalan biasa saja. Tak terlihat ada orang asing di sekitaran yang mungkin adalah orang suruhan papanya.


Mungkin pria separuh abad itu telah menyerah dan benar-benar membuangnya karena berani memberontak dan membuat semua menjadi kacau.


Kini Glorien mulai pasrah pada hidupnya. Hidup bersama Samudra adalah akhir dari apa yang papanya perjuangkan. Dan itu cukup membuatnya sedih, sebenarnya.


Samudra masih sibuk mengurus keperluan pernikahan yang akan berlangsung dua hari lagi.


Siang harinya, ia dan Glorien baru akan memulai santap di meja makan, namun kegiatan mereka terhenti.


“Koh! Ayah kok gak ada!” Suara teriakan Miana menginterupsi. Cemas nampak tampilan gadis 22 tahun itu.


Samudra mengangkat diri dari kursinya. “Gak ada gimana, Mi?” tanyanya mengerut kening.


“Iya, gak ada di mana-mana!" kata Miana resah. “Di perkebunan kata Kang Omon juga gak ada!”


Samudra menoleh Glo yang juga menatapnya, lalu kembali melihat Miana. “Di tempat pembuatan bata?” tanyanya memberi kemungkinan.


Namun Miana menggeleng. “Mia barusan aja dari sana. Ayah gak ada.”


Miana nampak berpikir. “Tadi pagi sih, cuma titip pesen kasih makan si Sella aja.”


Sella adalah nama ayam jago kesayangan Darius.


“Kamu gak tanya apa-apa lagi abis itu?” tanya Samudra.


“Mia gak terlalu ngeuh, Koh. Kebetulan tadi Mia lagi sibuk beresin buku-buku buat anak-anak yang nanti datang ke Villa Singgah.”


Kini mereka tercenung. Mobil perkebunan juga masih terparkir baik di halaman rumah. Artinya Darius tak mungkin jauh.


“Mungkin ke desa seberang, Mi," kata Samudra memberikan asumsi sekaligus penenangan. “Udah gak usah cemas.”


Miana cemberut. “Tapi gak biasanya Ayah kayak gini, Koko!”

__ADS_1


...******...


Jakarta. Gedung Utama - Pascal Corporation


“Tuan, seseorang mencari Anda. Dia menunggu di lobby.” Pak Jo memberitahu.


Rohan menyikapi melalui bola mata tanpa mengangkat wajah. “Siapa?” Lalu kembali menatap dokumen-dokumen yang sedang dipelajarinya.


Sejenak Pak Jo terdiam. Ada keraguan di wajahnya untuk mengatakan.


“Jo!” Rohan menegur.


Pak Jo sukses mengerjap, lalu buru-buru memberi jawaban, “Umm ... Beliau mengatakan, dia adalah ... ayahnya Samudra, Tuan.”


Kali ini Rohan tertarik mengangkat wajah. Tatapannya tajam dan bengis seperti biasa. “Bawa dia ke ruang tamu yang ada di bawah.”


----


Rohan sudah duduk bersilang kaki dengan punggung santai tersandar pada sofa. Dia menunggu.


Selang dua menit, Pak Jo masuk membawa orang yang di maksudnya. “Silakan.” Tangannya terarah memberi ruang pria itu untuk mendekat ke arah Rohan.


Tak lain adalah Darius, dia masuk dan melewati Pak Jo dengan sopan namun terkesan sungkan. Di tangan kanannya, sebuah polibag bening berukuran cukup besar berisi ragam sayuran yang ia petik dari kebunnya, tertenteng tak kalah sungkan.


Rohan Pascal menyambutnya dengan tatapan tajam. Tak mempesilakan untuk duduk, perhatiannya malah beralih pada polibag itu. Ada kilat senyuman sinis.


“Selamat siang, Pak," sapa Darius hati-hati. Ia masih berdiri, padahal sofa kosong berdadah-dadah tepat di samping kirinya.


“Apa yang membawa Anda ke tempat saya ini?” pertanyaan itu terlontar satu menit kemudian dari mulut Rohan--tak membalas sapaan santun pria kampung di hadapannya sama sekali.


Dari nada bicara itu, Darius langsung mengerti, Rohan Pascal bukan orang yang mudah diajak bicara, terlebih untuk orang rendahan seperti dirinya. Tapi sekuat hati ia coba untuk bersabar.


“Sepertinya Anda bukan orang yang suka dengan basa-basi,” kata Darius. Diturunkannya polibag sayuran di tangan dengan perlahan, hingga tercampak di bawah lantai. “Tujuan saya kemari ....” Sejenak Darius terdiam. Sementara Rohan menunggu diam, menatapnya penuh cemooh.

__ADS_1


“Saya ingin melamar Nona Glorien untuk Samudra.”


__ADS_2