
Laura Jung menaruh ponselnya ke atas meja. Ia Baru saja menghubungi seseorang dan berbicara panjang lebar.
Senyum jahat terukir seketika di wajahnya yang arogan.
“Kamu kena, Sayang!” katanya seorang diri, lalu tertawa puas. Ia bangun dari ranjang kemudian berjalan untuk mengambil sebotol sampanye di atas meja. Dituangnya ke dalam sloki, lalu diteguknya. Eskpresinya sudah berubah datar dan malah berganti suram di detik selanjutnya.
Gelas yang sudah diisi kembali oleh minumannya, ia timang di depan wajah. “Aku tidak akan biarkan siapa pun mengambil Samudraku. Dia hanya miliku.” Kemudian tersenyum seperti orang tak waras. “Dan kamu Samudra sayang ....” Wajahnya kembali bengis, “Jangan harap bisa menentukan nasibmu sendiri. Aku adalah pengendalimu. Ingat itu, Son.”
------
Dalam mobil yang dikemudikan Glorien, Samudra duduk di jok sebelahnya. Pria itu meminta diantar ke Bogor untuk sebuah kepentingan.
Tidak ada saling melempar kata untuk setidaknya mengisi senyap. Mereka berdua saling diam tak ada judul.
Jarak yang ditempuh sudah cukup jauh, dan kemacetan di depan sana sudah terlihat memanjang seperti segerombol bebek yang diasuh.
Samudra mendengus seraya membuang wajah. “Kita puter balik aja. Di belakang ada jalan tikus.”
Glorien menolehnya dengan bibir terangkat dan alis saling bertemu. “Jalan tikus?” Lalu menoleh ke belakang. “Yang mana?”
Samudra berdecak, “Puter balik aja. Jangan terlalu cepet. Nanti aku tunjukin.”
Glorien menurut seraya memutar bola matanya. Jengah dengan bahasa Samudra.
Mobil mulai berbelok lalu melaju kembali ke belakang.
Tak jauh dari posisi tadi, ada sebuah gang dengan gapura yang sudah hampir tak berbentuk. Dahan pohon perdu menjuntaikan daunnya yang gondrong sedikit ke bawah seperti poni. Samudra meminta Glorien berbelok ke sana.
“Jalannya kok serem gini? Kayak gak pernah dilewatin orang.” Glorien merasa takut, namun setir terus digilirnya kiri dan kanan. Jalanan yang tergerus ban mobilnya tak rata. Banyak batu menjadi sandungan hingga kendaraan itu bergerak oleng--gijak-gijuk.
Di sampingnya, Samudra masih nampak tenang. Sesekali terdengar denting pesan chat dari ponsel yang dia mainkan.
“Kamu takut hantu?” tanya datarnya pada Glorien tanpa menoleh.
Glorien melirik tipis saja lalu kembali menatap jalanan gelap di depan sana. “Aku takut hantu, tapi kamu jauh lebih menakutkan, Samudra,” dengusnya dalam hati. “Lebih takut Tuhan,” jawabnya kemudian.
Samudra tersenyum tipis. “Realistis,” komentarnya singkat. Selebihnya mereka kembali diam.
__ADS_1
Setengah kilometer terlewati. Jalanan semakin kelam dengan pepohonan yang berdiri seolah berbayang seperti zombie. Glorien bergidik. “Sam ... aku takut.” Pada akhirnya ia tak bisa menahan untuk tak mengatakan demikian.
Dan semakin ketakutan ketika kelebatan sosok bermunculan dari balik pohon. “Samudra!” Rem diinjaknya spontan dan mobil langsung berhenti.
Samudra cukup terkejut dengan itu. “Ada apa?!”
“Kamu liat ke depan,” kata Glorien dengan gemetar.
Samudra menuruti. Berotasi kepalanya untuk mengikuti arah pandang wanita di sampingnya, lalu terkejut.
Setidaknya lima sosok yang ke semuanya adalah laki-laki, berdiri menghadang jalan mereka. Tiga berderet di depan, dua lainnya mengisi masing-masing kiri dan kanan di dekat pintu.
Samudra mengamati satu demi satu wajah-wajah yang tertutupi kain hitam yang mengeliling mobilnya. Saat ia menoleh ke belakang, ternyata tiga orang lain juga berada di sana--tepat di pantat mobil.
“Sial!” umpatnya. “Dua minggu lalu gua lewat sini sama Mada kagak ada beginian.” Ia menggerutu, lalu menoleh pada Glorien yang ketakutan. “Kita tuker tempat!”
Glorien menoleh padanya seketika memahami dan mengangguk.
Namun naas, belum sempat gerak keduanya sempurna berpindah ....
DOR!
Dua kali tembakan beruntun, ban mobilnya terdengar mengeluarkan angin. Orang-orang itu tak banyak kata, mereka langsung bertindak gak pake otak.
“B4ngsat!” Samudra mengumpat. Sedikit menyesal dia memilih jalan itu dan tak mendengarkan keluhan Glorien. Yang dihadapinya saat ini jelas tidak senilai harga kemacetan yang tadi ia hindari.
Katakan saja dia sedikit frustrasi saat ini.
Tidak ada jalan melarikan diri.
Tetap di dalam mobil juga bukan pilihan bijak. Lama-lama orang-orang berpenutup wajah itu juga pasti memecahkan kaca dan memaksanya untuk keluar.
Glorien semakin ketar-ketir. Wajahnya menoleh kiri kanan depan dan belakang dengan wajah panik. “Kita harus gimana, Sam?!”
Samudra menolehnya sedikit terbawa panik, tapi berhasil menenangkan diri beberapa saat setelahnya.
Napas ditariknya sedikit banyak. Butuh oksigen tak sedikit untuk menghadapi para begundal itu agar tetap hidup.
__ADS_1
“Kamu mau apa?!” Glorien terkaget, saat dilihatnya Samudra mulai membuka pintu dengan perlahan, lalu turun setelah menyingsing dua belah lengan bajunya.
“Kamu tetap di sana, Glo!” himbau Samudra sambil terus menatap ke depan. Himbauan yang sepertinya hanya lelucon pèpèsan kosong. Seorang pria sudah bersiap menerkam Glorien di luar pintu dengan senjata tumpul.
Satu todongan glock meyer dari orang yang berada paling dekat, mengarah pada Samudra kemudian. Tidak tahu dari mana mereka dapat, benda itu seharusnya digunakan aparat hukum di berbagai belahan dunia.
Rupanya para manusia itu tak sederhana, Samudra menyimpulkan. Ia langsung mengangkat kedua tangan setinggi kuping, namun wajahnya tetap bertahan tenang. Tidak ada senyum, namun juga tak nampak ketakutan.
Menampilkan wajah takut hanya akan membuatmu berakhir seperti ban9kai tikus yang terlindas di tengah jalan, Samudra menekankan itu dalam mindset-nya.
“Apa yang kalian mau?” tanya si ganteng itu tidak bernada.
“Kita akan negosiasi tentang itu," satu orang yang berada paling ujung menjawab santai. Buff di wajah dia turunkan hingga ke leher. “Kalian bawa mereka ke markas!” instruksinya pada semua rekan. “Bos yang akan putuskan, apa yang pantas diambil dari mereka.”
Semua bergerak sesuai perintah.
Glorien berteriak saat dia ditarik paksa untuk keluar, kemudian sunyi setelah mulutnya dibekap menggunakan tangan. Dia meronta-ronta dengan kasar, namun jelas tak berdaya untuk melawan selain menangis seperti biasa.
Samudra menoleh cemas wanita itu, tapi tak bisa berontak ketika nasibnya pun sama dalam cekalan dua orang yang menyergapnya langsung saja.
“Lu urus mobilnya!” Pria tadi menginstruksi lagi pada dua rekan yang masih nganggur. Dia sendiri berbalik pergi, melangkah ke arah pepohonan lalu menghilang di balik gelap.
Glorien dan Samudra digelandang seperti psakitan. Mengarah pada jalan pepohonan dan semak-semak di sebelah kanan, mengikuti pria yang pergi lebih dulu dari mereka.
Setidaknya memakan sepuluh menit waktu. Mereka bergerombol tiba di sebuah bangunan usang berlantai dua, yang di depannya terdapat dua ekor anjing hutan hasil proses taksidermi.
Samudra dan Glorien terus didorong hingga merangsek ke bagian dalam bangunan, lalu berakhir di ruangan paling luas yang terdapat di dalamnya.
“Kami membawa hasil buruan besar, Bos!”
Notifikasi demikian memancing seseorang yang tengah santai bersama dua orang wanita di atas sofa, untuk mendongak.
“Haha! Kerja bagus!” respon orang itu.
Samudra yang dihadapkan walau dalam cekalan, tentu dapat melihat dengan jelas sosok berbadan kekar yang bertindak sebagai bos tersebut.
Seketika itu juga ... dia mengenali.
__ADS_1
“Regar!”