
Hari-hari Samudra semakin kelam. Ia terus murung dan terpuruk dalam tahanan. Pikirannya melayang ke banyak tempat. Miana, Mada, ayahnya, hingga wajah Glorien yang tak dilihatnya sejak terakhir kali mereka bertemu. Kemana istrinya itu? Kenapa tak ada menjenguknya?
Renungannya terganggu, seorang polisi mengabarkan padanya ada yang datang dan ingin bertemu. Samudra tak bertanya, hanya berharap bahwa itu adalah Glorien.
Satu polisi itu memboyongnya ke tempat besuk. Sayangnya ... orang itu bukan yang dia harap.
Wajah ayahnya di depan sana sebenarnya tak ingin Samudra tatap. Mata teduh Darius kini terasa seperti belati yang menusuk dan melukai. Perasaan gagal terlalu kuat menenggelamkannya hingga ingin mati.
“Mia gimana, Yah?” Samudra maju mendekat.
Darius menjawab singkat, “Dia selamat.”
Senyum getir Samudra mewakili bahwa ia cukup bersyukur dengan kabar itu.
“Sam!” Darius tiba-tiba menghambur lalu memeluknya sesaat setelah polisi menyisi ke satu bagian.
Tangis Samudra ikut pecah seketika. “Maafin Sam, Ayah. Maafin, Sam. Sam lagi-lagi bikin Ayah susah.”
Darius menggeleng lalu melepaskan pelukannya. Tatapannya masuk ke dalam mata Samudra yang kini rapuh. “Ayah percaya kamu, Nak,” kata pria itu. “Kali ini apa pun caranya, Ayah akan mengeluarkan kamu dari sini!”
Samudra tercenung dengan tatapan sakit. Detik berikutnya ia menggeleng pelan. “Jangan, Yah. Jangan lakuin apa pun buat Sam lagi. Sam gak pantes Ayah perjuangin. Sam gak berguna!”
“Apanya yang gak pantes?! Siapa yang gak berguna?! Kamu anak Ayah!” Darius menyergah keras. “Uang? Pengacara? Ayah akan usahakan semuanya! Bila perlu Ayah akan jual semua aset. Sawah, rumah, perkebunan, apa pun! Asal kamu bebas! Kamu gak boleh di sini, Nak!” Dua pundak Samudra diguncang-guncangkannya. “Ayah gak mau kamu di sini, Saaam.” Lalu tertunduk dengan pundak yang bergetar. “Ayah mau semua anak Ayah berkumpul.”
Samudra tak tahan untuk tak terisak. Dipeluknya Darius dengan rasa sakit luar biasa. Sakit tak kasat mata yang lebih sempurna menghancurkannya. “Cukup, Yah. Sam gak mau nyusahin Ayah lagi. Sam rela di sini. Mia lebih butuh Ayah.”
Darius mengangkat wajah. Memperlihatkan kehancuran dan ketidaksetujuannya. “Tapi Mia juga butuh kamu!”
----
Dunia Samudra telah runtuh. Janjinya pada Glorien untuk tak lagi lemah, tak bisa ia tepati. Bahkan ketika Rohan mengambil istrinya itu kembali, tak ada yang bisa ia perbuat.
Darius ... pria itu bukan ayah kandungnya, Samudra merasa sudah cukup menyusahkannya sedari kecil. Bukan hadir untuk memberi kebanggaan, tapi justru jadi penyakit tak tertolong, yang dia pikir hanya membuat semua pengorbanan Darius sia-sia dan hanya membuang waktu. Sekarang Mia bahkan menjadi korban.
Jika sisi manusianya terlalu buruk bereksistensi, kenapa ia tak jadi iblis saja?
Dua minggu berlalu ....
“Samudra! Ada yang ingin bertemu!”
Samudra berdiri. Sebelum keluar, lebih dulu kedua tangannya diborgol. Tak menunjukkan sikap berharap yang berlebihan, ia mengikuti polisi yang menuntunnya.
Polisi itu mengarahkan tangannya ke depan, mempersilakan Samudra menemui seseorang yang dimaksudkan setelah mereka sampai tujuan.
Jarak menipis, kening Samudra berkerut dalam.
Seorang gadis berpenampilan sedikit menyerupai laki-laki, langsung berdiri saat tatapan mereka sudah bertemu.
__ADS_1
Tak lain adalah Lola. Setelah mengangkat wajah, ia yang mulanya biasa saja saat datang ke tempat itu, kini sedikit terpana. Selain kesemrawutan penampilannya, sosok pria itu masih nampak memesona. “Pantes aja Glo termehek-mehek, ni cowok uda kek gulali," racau Lola dalam benaknya.
“Nona, dia Samudra.”
Pemberitahuan polisi menarik Lola dari pikirnya dan langsung terperanjat. “Ah, iya! Samudra, ya?" tanyanya kemudian.
Samudra mengangguk tipis. Ekspresinya masih sama--datar tanpa minat. “Kamu siapa?” tanyanya ingin tahu.
“Ah, kenalin.” Lola mengulurkan tangannya pada Samudra yang telah duduk di hadapannya. “Gue Lola, temen deketnya Glorien.”
Pengakuan itu mencubit kediaman Samudra. Dengan nada bersemangat, dia bertanya pada Lola, “Glo! Di mana dia sekarang? Kenapa gak nemuin gua?!”
Lola mengusap dada dengan tampang seperti emak-emak melihat harga berlian dalam majalah. “Santei, Bos!” katanya.
Menyadari dirinya over-excited, Samudra memundurkan tubuh. “Sorry.”
Lola mengangguk paham. “Gak apa-apa.”
“Jadi, di mana Glo? Kenapa malah lu yang dateng?” Suara Samudra mulai normal.
Menanggapi pertanyaan itu, wajah Samudra ditatap Lola sejenak, lalu merunduk mulai sibuk dengan tasnya yang ia taruh di atas lahunan.
Sebuah amplop berwarna biru, diserahkannya pada Samudra. “Dari bini lu!” ungkap Lola. Seraya menyelempangkan tas dengan benar, dia berdiri. “Baca di dalem sel aja. Gue balik dulu.”
Samudra menatap ragu pada Lola, lalu memandang amplop di hadapannya.
“Ayo!”
Samudra berjalan kembali ke dalam selnya bersama petugas yang menggandengnya.
....
....
Dari awal, pertemuan kita adalah kesalahan.
Hubungan kita kesalahan.
Kamu adalah kesalahan aku, Samudra.
Aku nyesel jadi pemberontak atas papaku.
Aku nyesel ketemu kamu.
Kamu orang jahat!
Aku harus nanggung malu sebagai putri Pascal yang ceroboh.
__ADS_1
Hidup aku ancur gara-gara kamu!
Samudra! Kita cerai saja!
^^^Glorien~^^^
Penggalan akhir isi surat yang telah habis dibaca Samudra, membuat jantung hati lelaki muda itu seketika berdentam-dentam seperti pedal drum yang diinjak tanpa aturan.
Diremasnya kertas itu dengan kepal mengurat, menyusul air mata yang menitik di wajah tanpa ekspresi.
“Teganya dia ...,” ia menggeram. “ANJIIIINGG!!” Kemudian berteriak membahana seantero penjara.
BUG BUG BUG!
Tembok di pukulinya hingga ruas-ruas jadinya lebam dan berdarah. “Aaaarrggghhh!!”
Tak dipedulikannya polisi yang juga berteriak memperingatkan.
“Udah, Sam! Udah!” Satu teman sel-nya menarik pundak Samudra untuk menjauh dari dinding yang dipukuli.
Dengan perasaan yang bergolak, Samudra melumbrukkan diri ke lantai. Meringkuk berguling di sana seraya menangis.
Tak ada kekejaman sesama penghuni sel seperti saat ia remaja dulu. Mereka yang mayoritas usia di atas tiga puluh, justru menatap iba.
“Udah, Sam. Gak ada guna kamu nangis-nangis kayak gitu." Salah satunya coba bicara. “Pasrah aja. Berdo'a supaya kamu bisa cepet keluar.”
“Iya. Abis di luar ... lu bisa dendam sebanyak yang lu mau sama orang-orang yang sama sekali gak bisa hargain lu.” Lainnya yang lebih muda menimpal sengit.
Samudra mendengar, ia juga mencerna. Tapi untuk saat ini, hatinya terlalu kebas untuk menyikapi rekan-rekannya.
Bagaimana bisa dalam sekejap Glorien mengatakan perceraian, sementara tempo lalu mereka berjanji akan saling mendukung, saling mencinta satu sama lain apa pun keadaannya.
Apakah sebodoh itu Glorien, sampai dalam sekejap bisa termakan doktrin toxic papanya yang monster itu?
...*******...
Heheyy!!
Kalian yang baca sembunyi2, jangan pelid dong🥴
Kalo suka kasi LIKE buat Samudra di tiap bab-nya. Biar Otoy semangad nulisnyah, walo sehari sebiji doangan.🤧
Jangan lupa Tap FAVORIT, biar nerima notifikasi update.
Gift and vote juga bole😁😁 Nonton iklan apalagi, diterima!🤣
Okega okega?!
__ADS_1
Okedong!