Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Bondowoso


__ADS_3

Mengesampingkan masalahnya dengan Glorien, Samudra berbelok pada kerumitan lain. Ernest menghilang, dan itu tak sederhana.


Hampir tujuh jam Samudra dan teman-temannya dibantu sebagian anggota Pena Hitam, bekerja keras untuk melacak keberadaan Ernest. Beradu pendapat, bermain asumsi, hingga semua mata fokus pada layar komputer yang menyala.


Belum ada hasil. Kini mereka menunggu seseorang sebagai usaha akhir.


TOK! TOK! TOK!


Semua perhatian menoleh ke arah pintu yang diketuk dari luar.


Satu anggota Pena Hitam, berinisiatif tanpa disuruh untuk membuka.


KLEK!


Seorang pria berjaket kulit hitam melakukan gerak hormat.


Pria Pena Hitam menggeser tubuh memberi jalan.


“Ndan.” Samudra bangkit berdiri, mengarahkan satu tangannya ke arah sofa, mempersilakan pria yang tak lain adalah Giovan itu, untuk duduk. “Gimana?” tanyanya.


Walaupun secara kasta sekarang Giovan tertinggal jauh, juga secara usia yang hanya selisih beberapa, Samudra tetap memandang hormat pria berkulit eksotis tersebut. Dia ingat harga sebuah jasa. Giovan berperan banyak untuk pelariannya dari penjara. Dan ternyata pria itu yang saat ini dia tunggu. Secara koneksi, Giovan punya kemampuan lebih urusan lacak melacak.


Samudra tahu, kedatangan Giovan tak hanya membawa kepala, pundak bidang, serta seragam kebanggaan yang dibalut jaket hitamnya, sesuatu yang penting pasti juga dibawa pria itu.


Disusul David yang ikut duduk di samping Samudra berhadapan dengan Giovan, semua nampak serius saat ini.


“Gimana, Ndan?” Samudra tak sabar, bertanya kedua kali.


Giovan mengeluarkan ponsel dari saku bagian dalam jaket yang ia pakai. Sesaat diotak-atiknya, lalu diserahkannya pada Samudra setelah halaman yang dicari terpampang di depan.


Samudra mengambil lalu mengamati, David ikut kepo di sampingnya. Mada dan yang lain memerhatikan di tempat masing-masing.


“Jawa Timur.” Samudra menyebutkan pelan. “Bondowoso.”


“Betul!” Giovan membenarkan. “Mereka menggunakan plat mobil bodong di Jakarta, lalu ke Jawa Timur menggunakan jalur laut. Kebetulan saya mengenal seseorang di pelayaran,” sambung aparat muda itu. “Beberapa anak buah saya juga Pena Hitam yang kemarin kamu kirim, sudah ada di sana.” Pandangan Giovan masih pada Samudra. “Tapi belum saya komando untuk bergerak.”


Samudra memerintah, “Tahan mereka dulu, Ndan. Suruh awasin aja dulu. Jangan sampe mereka mati sia-sia. Dazh bukan orang sembarangan.”


Giovan mengangguk, “Iya. Saya suruh mereka menyamar jadi penduduk.”


“Bagus kalo gitu.”


“Jadi kita berangkat ke sana kapan nih?!" Mada bangkit dari tempatnya, nampak antusias. “Pantat gua uda kebas di mari mulu!”


“Sekarang!” kata Samudra. Yang lain mengangguki. “Peng, siapin semuanya!” Dia memerintah seorang Pena Hitam yang perannya adalah ketua. Sedang pemimpin tertinggi mereka adalah Samudra sendiri.

__ADS_1


Pria berkulit legam ber-nick name Pepeng itu mengangguk, lalu keluar cepat tanpa bertanya lagi.


Giovan ikut berdiri. “Saya akan menyusul segera setelah urusan kecil saya dengan peng3dar itu selesai. Kalian berhati-hatilah.”


“Oke! Thank you, Ndan!” Samudra dan Giovan berjabat tangan, kemudian semua berhambur melakukan tugasnya masing-masing.


...****...


Deru helikopter menggelegar di ketinggian tanah Bondowoso.


Samudra, David, Mada dan Pepeng, turun bergantian setelah mendarat di helipad sembarang yang cukup luas.


Satu heli lainnya ikut mendarat di belakang. Gerombol Pena Hitam yang terdiri dari lima orang turun, kemudian bergabung dengan Samudra dan lainnya.


Sengaja mendarat jauh dari pemukiman, untuk menghindari keudikan warga pelosok +62 yang selalu kepo pada hal tak biasa bagi mereka.


Dua heli itu naik kembali ke ketinggian, lalu menjauh dan hilang ditelan jarak.


Dua buah mobil sudah menunggu, semua membagi diri lalu melaju cepat.


Mada mengaktifkan laptop untuk menerima pemantauan aktifitas di gudang kayu tua di mana Ernest disekap.


David memutar bola mata. Beberapa wanita berpakaian seksi baru saja memasuki halaman gudang. “Selalu aja ada belatung,” cibirnya.


“Diasyikinlah, Depe!” kata Mada. “Gua aja kalo gitu pasti ikutan.”


“Plus montok!” serobot Mada.


“Iyelah! Sempurnah,” balas David membayangkan wajah gadis Pak Jo itu.


Samudra tak peduli. Pepohonan yang bergerak seiring laju mobil diabsen matanya, namun isi pikirannya melayang pada dua hal. Kesalahanpahamannya pada Glorien dan anak mereka yang masih hidup. Napas terembus kasar dari mulut dan hidungnya. Andai waktu bisa diputar, andai semua tak serumit sekarang ....


Namun ....


“Kita diawasin!” celetuk Samudra tiba-tiba. Seluruh bayang tentang Glorien dan anak laki-laki lucu di kepalanya buyar seketika, saat pandangannya menangkap sebuah motor matic, melaju mengendap di jalanan setapak berseberangan.


Semua tersentak bersamaan. Celoteh David dan Mada terhenti saat itu juga.


Pepeng yang berada di balik kemudi ikut melongokkan kepala.


“Gimana kita, Sam?” tanya Mada.


“Terus laju aja. Tinggal sedikit lagi kita sampe, 'kan? Dan itu artinya kita gak bisa pake cara alus. Sampe sana terkam pukul senggol bacok.”


“Iye, Sam!” Mada setuju.

__ADS_1


Layar di laptop mencuri perhatian David. “Lu bener, Sam. Mereka stalker. Orang-orang di gudang itu berembuk.”


Mada ikut menatap. “Aduh, liat tampang songong mereka, kok gua kuatir sama Ernest yak.”


Samudra tercenung sejenak mengingat itu. Dia juga sama cemas sebenarnya. “Tapi gua yakin mereka gak akan bunuh Ernest,” katanya kemudian. Mengingat Ernest yang cerdas, orang-orang jahat itu akan membutuhkan banyak dari pria muda berkacamata tersebut.


David menyetujui.


“Kita sampai, Boss!” Pepeng memberitahu tiba-tiba. Mobil sudah dihentikannya. Bangunan kumuh berlumut separuh sudah terpampang di depan mata.


Samudra, dengan gagah tanpa keraguan turun lebih dulu. Kaos putih ketat berbalut rompi hitam polos, membalut tubuh. Disempurnakan sepatu lars dengan alas keras menutup jeans ketatnya, siap digunakan untuk menendang.


David dan Mada turun tak kalah gagah.


Walaupun tubuh Mada terbilang paling pendek, tapi dengan pelatihan keras, otot tubuhnya juga seperti kawat.


Kalau David, dia memang sudah keren dari sononya. Tubuh tegap berkaos panjang. Rambut gondrong yang diikat asal-asalan, jadi ciri pria asal Medan tersebut.


Pepeng berbadan badas. Tinggi besar dengan wajah codet, cukup jadi momok mengerikan bagi kambing kecil yang terikat di badan pohon.


Beserta Pena Hitam terpilih yang berjejer merapat di belakang, mereka siap tempur.


Di depan sana, anak buah Dazh menantang angkuh.


Jumlahnya mungkin lebih dari sepuluh.


Dazh sendiri tak nampak di antara mereka. Mungkin masih asyik bermain di atas ranjang dengan wanita kiriman.


Itu amunisi versi begundal.


“Bisa tunjukin di mana Ernest?” Samudra bertanya santai.


Mereka malah cengengesan. “Ernest, makhluk apa itu?" ejek salah seorang. Dan ....


JLEB!


“Aarrrggh!”


Orang itu kesakitan, memegangi wajah yang berdarah-darah.


Sebatang senjata sumpit menembus bola matanya, setelah dilesatkan seseorang entah dari arah mana.


“B4NGSAAATTT!” rekan-rekannya murka.


“SERAAAAANGGGGG!!” Mereka berhambur maju.

__ADS_1


Perkelahian pun terjadi.


^^^TO BE CONTINUED.....^^^


__ADS_2