
Suara peringatan keras Laura Jung berhasil menarik tindak Samudra yang hendak menutup perlawanannya terhadap Edmon menggunakan sebuah kursi teras berbahan besi.
Dengan mata membola, kursi itu diturunkannya perlahan.
Berbalik badan pada Laura yang berdiri menatapnya dengan kelam.
"Katakan sekali lagi?" pinta Samudra. Peluh bercucur dari sekujur tubuh hingga merembas ke serat baju yang ia pakai.
"Aku bilang, harga satu nyawa milik Edmon, seharga nyawa anak dan istrimu." Laura tersenyum sinis, sangat senang dengan kalimatnya sendiri. Senang karena Samudra sesaat lagi akan masuk perangkap--pikirnya. "Aku yakin kau cukup cerdas untuk memahami apa yang aku katakan barusan."
"Katakan di mana mereka?!" sergah Samudra dengan tanya tak sabar.
"Ckk!" Edmon berdecak. Dibantu seorang penjaga, dia sudah kembali menegakkan tubuh. Sedikit ringisan menghias wajah, pertanda lumayan sakit juga, tapi itu tak apa baginya. Yang penting tak jadi mati. "Ternyata seorang Samewise Will yang ditakuti banyak orang itu ... hanya seekor kelinci saat miliknya diganggu." Dia mengolok Samudra.
Hanya mengetatkan rahang, Samudra tak ingin menoleh ke belakang untuk beradu bacot dengan pria Rusia yang hampir ko'it di tangannya itu.
Setelah mengatakan demikian, Edmon mendekati Laura. "Lau
... terima kasih sudah menyelamatkanku." Senyumnya mengembang senang. Kata per kata Laura di ranahnya tentu adalah harga mati, termasuk Samudra yang K.O hanya karena sedikit gertak.
Saat ini, tidak ada yang tak tahu perihal kedekatan Laura dan Edmon, termasuk Charlotte Wen. Gadis 22 tahun tersebut hanya memilih diam. Jika tak ada kepentingan urusan pendidikannya dengan tanda tangan Laura, dia tidak akan pulang dari Melbourne. Ditambah, perbuatan bejad Edmon membuatnya semakin menyesal menginjakkan kaki di mansion megah Laura. Dan sejujurnya dia juga mengeluh tentang kelakuan ibunya yang pula tidak bermoral.
Charlotte berdiri sembunyi di balik tembok bagian dalam rumah. Menatap bagaimana Samudra hampir menghabisi lelaki bajingan bernama Edmon, juga laku lampah Laura yang sumpah demi apa pun yang menurutnya benar-benar seperti j4lang.
"Chan Sen, Jadd!"
Adalah nama dua pengawal kepercayaan Laura yang langsung sigap saat wanita itu memanggilnya.
"Kurung pria itu. Latih dia sampai bisa menggantikan Pak Tua Lucas memberi makan dan membersihkan kandang Nowella."
Langkah kaki Edmon sontak terhenti. Mata membola mengiring keterkejutan tiada kira. Nowella adalah nama seekor leopard peliharaan Laura. "L-Lau ... a-apa maksudmu? Nowella, aku--"
"Chan Sen! Jadd! Cepat bawa dia!" Laura tak peduli Edmon.
__ADS_1
"Siap, Nyonya!" sahut Chan Sen dan Jadd. Langsung keduanya mencelat ke arah Edmon dan mencekal masing-masing kiri dan kanan lengan pria itu.
"Apa-apaan ini, Lau?!" Edmon bertanya pada Laura seraya meronta-ronta. "Kau sungguh sedang bercanda 'kan, Honey?!" Dia tidak percaya.
Samudra masih diam menyaksikan, walau sebenarnya dia tak sabar untuk segera bertindak demi mengetahui di mana keberadaan anaknya dan juga Glorien yang masih kelam.
Laura tersenyum remeh menyikapi Edmon. "Apakah seseorang yang telah melecehkan putriku masih pantas kuberi muka?"
Mata Edmon membelalak. Tidak ada waktu walau sekedar untuk mempertanyakan dari mana wanita itu tahu. "A-aku, aku tidak--"
"Jika kau masih banyak bicara, bukan hanya kuhukum kau dengan cara ini, tapi kau sendiri yang akan kujadikan makanan Nowella!" serobot Laura menegaskan. "Seret dia!" perintahnya lagi pada Jadd dan Chan Sen.
"Tidak, Lau! Tidak!" Edmon menggeleng dan terus meronta-ronta ingin terlepas. "Jangan lakukan ini padaku, Laura!"
Sayangnya tidak akan ada pengabulan. Laura bahkan tak menolehnya lagi saat lelaki itu benar-benar diseret jauh hingga hilang dari hadapan. Teriakan Edmon anggap saja ringkikan kuda yang kelaparan.
Di tempatnya, Charlotte cukup senang dengan jatuhan hukum atas Edmon yang sudah hampir dua kali melecehkannya, tapi di disisi lain, bagaimana dengan Samudra? Pria itu sudah menyelamatkannya dari kematian karena penyakit ginjalnya dulu. Pun dengan tadi, pria iti juga yang menyelamatkannya dari Edmon sialan.
Tapi Laura, ibunya sendiri ....
Percaya Laura tidak akan menyakiti Samudra, dia berbalik pergi dan masuk ke dalam kamar. Entah apa yang akan dia buat.
Tatapan mata Laura kini beralih pada Samudra yang masih diam di tempat yang sama.
"Katakan padaku, di mana anakku dan Glorien kau sembunyikan?!" tuntut Samudra lagi makin tak sabar.
Laura menyikapi itu dengan senyuman. Kali ini tak ada kemarahan dan urat kelam di wajahnya yang tetap kencang tanpa kerutan. Perihal Edmon, baginya hanya seperti rumput liar yang diinjak lalu mati tak akan dia peduli. "Sabarlah, Honey. Semua butuh proses."
Samudra menggeram dan mengepalkan tangan, tapi belum bicara lagi. Laura semakin dekat ke hadapannya.
"Sesuatu yang besar, bukankah harus dibalas dengan yang sama besar?"
Samudra menahan diri saat jari-jari lenti Laura merayap di sekitaran dadanya.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan sebenarnya ... Laura?"
Pertanyaan Samudra menyentak pandangan Laura untuk mendongak. Wajah santainya langsung melejit jadi sumringah. "Panggilan itu sangat manis. Aku menyukainya."
Semakin geram, Samudra mengetatkan rahang. Dia tak tahan sampai kemudian memilih menghindar setelah menepis tangan Laura yang hendak naik membelai wajahnya.
Sintingnya, Laura malah terkekeh seolah ada yang lucu di bagian itu.
Para pengawalnya masih berada di sana, namun tak berani mengangkat wajah.
"Berhenti bersikap menjijikkan!" sembur Samudra.
"Sekali lagi aku tanya, di mana Sagara dan juga Glorien?!"
Laura terdiam beku seketika, menyorot Samudra dengan tatapan horor.
Samudra balas menatapnya sama.
"Hahahaha!" Detik selanjutnya Laura tertawa keras. "Kau tenang saja, Honey. Rambut wanita itu masih tergerai indah, pun dengan jari-jari mungil anakmu yang tampan itu, semua masih utuh belum kukurangi apa pun dari mereka."
"Kurang ajar!" Samudra menggeram. "Satu mili saja kau sakiti mereka berdua, aku tak akan segan membalasmu dengan cara yang lebih kejam."
Laura malah semakin mengeraskan tawanya. "Haha, tenang, Sayang, tenang," katanya. Kembali dia mendekati Samudra dan berlagak seperti Tetua J4lang. "Mereka akan baik-baik saja, percayalah!"
Samudra menepis tangan nakal Laura lagi-lagi. Semakin merasa jijik.
Di rumah ini, tidak kurang tiga puluh orang bodyguard Laura yang disiagakan. Mereka kuat dan terlatih. Jadi, walau sangat ingin Samudra menghabisi Laura, dia harus menahan ego, atau mati mengenaskan jika memaksakan diri. Demi Sagara dan juga wanita yang dicintainya, Samudra tak boleh bertindak bodoh dan gegabah tanpa dorongan rekan-rekannya.
"Jadi bagaimana, Sayang ... masih mau meneruskan berontakmu?" Memiliki keyakinan bahwa saat ini Samudra dalam keadaan tercekik, Laura sangat percaya diri.
Samudra, terus berpikir cara dalam otaknya.
Belum menemukan, dia memilih masuk kembali ke dalam rumah tanpa peduli pertanyaan sialan itu.
__ADS_1
Mada, Pena Hitam dan lainnya ... harus mulai dia komando.