Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Pengorbanan


__ADS_3

David meminta Glorien untuk tak cepat-cepat menemui Rohan dan menumpahkan segala kemarahannya. Mengatakan biar saja Samudra yang akan menindak orang tua itu.


Glorien lemas terduduk di sebuah sofa. Semua cerita yang didengarnya dari mulut Pak Jo bukan lagi membuatnya marah, melainkan lebih dari itu. Dia ingin membunuh papanya sendiri.


Bagaimana bisa seorang ayah berperan merusak kebahagiaan anaknya sendiri hanya demi hal singkat bernamakan; "penerus bisnis"? Glorien benar-benar tak habis pikir.


Ia mengingat kembali moment menyedihkan ketika anaknya dinyatakan meninggal. Seharusnya dia mengusut detail. Hasil ultrasonografi menyatakan buah hatinya jelas berjenis kelam1n laki-laki dan cukup sehat. Saat itu obgyn yang menangani bahkan memastikannya hingga tiga kali. Tapi setelah lahir berubah jadi perempuan, dan parahnya sampai meninggal dunia. Terbawa dampak dari depresinya akibat kehilangan Samudra, itu memang masuk akal. Tuhan bahkan bisa merubah jenis kelam1n kapan pun Dia mau dan berkehendak. Tapi nyatanya ... Glorien memang dibodohi.


Ironi!


Pak Jo yang kini duduk di kursi roda, hanya bisa merunduk dan melontarkan kata maaf yang tak terhitung jumlahnya pada Glorien. Ia menyesal menjadi budak bodoh yang membiarkan ketidakadilan berlangsung di depan mata, dan bahkan dia sendiri ikut terlibat.


“Nona boleh menghukum saya dengan cara apa pun. Saya rela dan siap meski harus kehilangan nyawa saat ini juga.”


Untaian kalimat sesal Pak Jo hanya digubris Glorien dengan gelengan. Mulutnya masih rapat membisu setelah menyuarakan ketidakpercayaannya tentang kenyataan itu.


“Sabar, Glo. Kamu harus percaya pada Samudra. Dia akan balikin semua yang udah hilang dan terlewatkan dari kalian berdua,” David menyela di antara percakapan mereka.


Tak lagi memanggil wanita itu dengan sebutan Nona. Glorien meminta santai saja ketika dalam perjalanan menemui Pak Jo tadi.


Glorien yang masih dengan tangisnya menghela pandang pada pria berambut gondrong itu. “Tapi dia menceraikan aku,” sangkalnya nyaris tercekat.


David tersenyum. Dia yang berdiri bersandar pada sebuah meja, berjalan mendekat pada Glorien dengan secangkir kopi di tangannya. “Kamu akan tahu gimana lelaki hebat itu berjuang. Berjuang buat kamu dan anak kalian. Semua butuh pengorbanan, Glo. Dan perceraian kalian, adalah salah satu pengorbanan yang Sam buat.”

__ADS_1


Tercenung diam, Glorien menatap David dengan segenap ketidakpahaman. “Maksud kamu?”


Kursi kecil di dekat Pak Jo diduduki David bersilang kaki. “Seseorang mengincar kamu, Glo," ungkap David. Kopi di tangan diseruputnya penuh rasa.


“Seseorang?" Glorien makin tak paham.


Pak Jo sendiri ikut tersentak dan mengangkat wajah, tapi tak berani mengatakan apa-apa.


“Ya!" jawab David. “Tu perempuan terobsesi sama Samudra dan gak suka cewek mana pun deketin suami kamu. Karena itu Samudra ngambil jalan cerai, gak laen buat selamatin kamu dari wewegombel itu, Glo," lanjutnya menjelaskan. “Kamu harus hati-hati.”


Sembari berkata, pikiran David terbang pada sosok Laura. Ketika Samudra mengirimnya ke Singapore beberapa waktu lalu, dia dipertemukan dengan wanita itu untuk pertama kali. David ingat bagaimana Laura berbicara dengan nada manja khas tante-tante kehausan. Beruntung banyak cara di kepalanya untuk menghindar dari godaan yang sebenarnya cukup membuat David ingin mencicipi seperti apa rasanya tante-tante. Terlebih Laura luar biasa aduhai dalam pandangannya yang tentu normal.


Yara, David menyukai wanita itu. Dia tak ingin berkhianat pada hatinya. Tak peduli cintanya masih ditanggapi abu-abu oleh pemilik nama.


Tentu saja Glorien terkejut. Tapi melihat bagaimana Samudra sekarang, ia tak heran lagi. Pria itu sudah berubah dari sosok brandal acakadut menjadi seorang yang luar biasa. Perempuan mana pun pasti akan jatuh cinta terhadapnya, termasuk Glorien sendiri. Jatuh cinta untuk ke sekian kali.


Tapi yang diungkapkan David sesaat lalu ... wanita yang bagaimana? Kenapa Samudra sampai harus mengorbankan pernikahan mereka sebagai tumbal?


Dikatakan mengincar dirinya, itu wajar. Samudra dan dirinya punya hubungan yang tak sembarang. Tapi seberbahaya apa wanita itu sampai Glorien harus berhati-hati?


“Racun di makanan, ratusan kalajengking di ruang kerja kamu, hampir ketabrak mobil, apa semua itu cukup sebagai bukti kalau kamu beneran diincar?”


Glorien tersentak, belum menanggapi apa-apa, David sudah bertutur seolah bisa membaca pikirannya. “Ja-jadi ... semua itu ...?”

__ADS_1


“Iya!" sergah David. “Semua itu perbuatan tu perempuan, Glo!”


Pak Jo mengambil peran, “Kalau begitu tolong kalian jaga dan lindungi Nona!" Dia memohon karena kecemasan juga menyergap perasaannya.


David tersenyum lalu bangkit dari duduknya. “Jangan cemas, Pak Jo. Kalo kita gak lindungin, dari awal Glorien pasti uda mati.”


Benar!


Glorien tercenung. Membayangakan semuanya dari awal sampai terakhir dia hampir tertabrak mobil yang melaju kencang di depan hotel, tapi terselamatkan oleh seorang pria ber-hoodie hitam.


Jadi pria itu bagian dari Samudra? Kepalanya terus berperang pikir hingga ingin meledak rasanya.


“Tempat ini aman buat kamu, Glo. Ada baiknya kamu di sini dulu sama Pak Jo. Tunggu sampai Samudra datang dan bawa anak kalian.”


Mendengar kalimat panjang David, deretan hal di kepalanya tentang wanita yang terobsesi dengan Samudra, seketika tergantikan dengan bagian itu-----Anak!


Hatinya berdentam tabuh berganti tema.


Benar, kata Pak Jo anaknya masih hidup dan dalam perawatan Mbok Rum. Glorien melupakan sejenak beban di dada dan menggantinya dengan sebuah harapan besar.


“Apakah Samudra akan berhasil menemukannya?”


Pertanyaan Glorien membuat David yang baru saja menaruh cangkir kopi ke atas meja, sontak berbalik langsung dan tersenyum. Ditatapnya Glorien dengan sorot tenang, kedua tangan terbagi selip di kiri dan kanan saku celana. “Jangan pernah kamu ragukan dia, Glo!”

__ADS_1


__ADS_2