
Tentang Sakti. Sebenarnya Glo tak pernah ada hati untuk pria itu. Selain rasa dekat sebagai seorang sahabat, selebihnya tidak. Tapi karena usaha Sakti juga dorongan Lola yang terus memaksa, akhirnya dia mau mencoba.
Di sebuah taman, kursi besi bergaris horizontal, Glo dan Sakti duduk di sana. Sepoi angin menampar-nampar wajah mereka.
Seorang pedagang es krim, berdiri di kanan dengan wajah senang, karena dikerubuti anak-anak yang mengantri giliran es krim mereka. Glo memerhatikan dengan senyuman.
Lain dari Sakti yang sepertinya sangat tak nyaman.
“Kamu mau itu?”
Glo menolehnya. “Ah, ngga--”
“Bentar aku beliin.” Sakti mencelat pergi.
Tukang es krim dan anak-anak dia hampiri lalu berbaur di sana. Satu menit kemudian, dua cone es krim mengisi kiri dan kanan tangan pria itu.
Glo menanggapi dengan senyuman saat Sakti mulai mendekat. Satu cone diterimanya dengan hati senang lalu berterima kasih.
“Sama-sama,” Sakti membalas tak kalah senang.
Dalam sekian menit, seperti anak kecil, pasangan itu khidmat menikmati jajanan mereka.
Sampai di detiknya, Sakti harus menyampaikan apa yang sudah disusun di kepalanya sejak awal ia meminta bertemu di tempat ini.
“Jadi kamu mau kerja di Hongkong?” Tanggapan Glo setelah mendengar penuturan Sakti yang terdengar menyesalkan, ragu juga terbata.
Sakti mengangguk bimbang. “Aku harus berusaha, Glo. Pekerjaan itu impian aku dari lama.”
Glorien mengangguk paham, walau nampak berat. “Jadi kita LDR-an?”
Pernyataan Glo membuat Sakti merasa buntu. Ia tidak menyiapkan jawaban untuk pertanyaan itu.
Keputusannya untuk pergi hanya ingin membuat Glo terbiasa jauh. Dan jika nanti mereka harus putus, Glo tidak akan terlalu terpuruk. Sedangkan untuk kata putus itu sendiri, Sakti tidak ada nyali untuk mengatakannya. Biarkan Glo jengah dan bosan dengan sendirinya tanpa harus ia yang menggunting tali di antaranya. Tapi seandainya waktu mengangkat derajat dan bisa membuatnya setara dengan Pascal, mungkin cerita akan berubah.
“Terpaksa, Glo.”
...🔸🔸🔸🔸...
Pesawat yang membawa Sakti menuju Hongkong telah tinggi menembus awan. Glo menatap dengan berat hati dari balik kaca mobilnya.
Bukan karena cinta, tapi kebiasaan bersama yang membuat kepergian Sakti seolah ada yang hilang dalam dirinya.
Glorien menghela napas berat.
Lagi-lagi, ia harus berdamai dengan keadaan juga kata ‘merelakan’.
. . .
__ADS_1
Mobil kembali dilajukannya. Meninggalkan area bandara dengan rasa hampa.
Lola tak bisa ikut, karena tuntutan pekerjaan dari Pak Jo yang mengirim gadis itu ke suatu daerah.
Glorien sendiri.
Beruntungnya, sejak lulus kuliah dan mulai bergabung dengan Pascal, ia mendapat izin dari papanya untuk berkendara sendiri tanpa seorang supir.
Kini roda mobilnya kembali bergelinding di jalanan seakan menggerus waktu tanpa kisah yang harus dikenang.
Glorien tak ingin mengingat apa pun di masa lalu. Ia akan memulai konsep hidupnya dengan alur maju.
Tapi satu hal yang ia sisakan dari sekian banyak; Tetap rajin mengunjungi kuburan buah hatinya setiap akhir pekan atau di waktu senggang, seperti yang akan ia lakukan saat ini.
Kegiatan demikian Glorien lakukan tanpa sepengetahuan siapa pun kecuali Lola. Sakti bahkan tak tahu dia pernah menikah, hamil dan melahirkan. Karena saat tragedi itu, Sakti berada di Malaysia untuk urusan pendidikannya.
Tepat melewati satu jalan di pertigaan menuju pemakaman, dering ponsel Glorien berbunyi.
Mobil disisikannya lalu berhenti. Ponsel yang masih bunyi, ia letakkan di telinga. “Hallo, La.”
Rupanya Lola yang menghubungi.
“Jangan lupa hari ini kamu harus ke Bandung, Glo.”
Pemberitahuan Lola sontak mengejutkannya.
Glorien lupa dengan tugas itu.
“Glo!” tegur Lola di line.
“Iya, iya, La. Aku pergi siang ini.”
“Oke! Lokasinya udah aku kirim ke WA kamu, ya.”
Lola menghapus sapaan 'lo-gue'-nya pada Glorien karena teguran Rohan yang sok baku--komentar jengkelnya kala itu.
“Oke, makasih, La.”
Ponsel dikembalikan Glorien ke dalam tas. Ia memutar balik, 'tak jadi ke pemakaman. Jarak satu kilometer menuju tempat itu akan sangat membuang waktu jika diteruskan, dan Glorien harus sampai di Bandung tidak boleh terlalu sore.
_____
Tak ada Mbok Rum yang selalu sigap mengurusinya. Wanita tua itu entah kenapa mengatakan ingin pulang dan rindu cucunya sejak banyak hal terjadi di Pascal. Glorien dengan sedih dan berat hati menyanggupi.
Kini ia harus mempersiapkan segalanya seorang diri. Isian koper yang dibawanya bahkan nampak teracak saking terburu-buru.
Di bawah tangga, Martin melintas dengan secangkir kopi di tangannya.
__ADS_1
Langkah Glo terhenti, karena sepupunya itu mulai bertingkah.
“Kalo sampe kamu gagal dalam proyek ini, aku yang bakal ambil alih semuanya!” ancam Martin, tersenyum sinis lalu menyesap kopinya kemudian berlalu tak tahu malu.
Glorien hanya mendelik seraya meneruskan langkah.
Memilih bisu saat berhadapan dengan Martin, adalah jalan ninja paling benar, menurutnya.
Semua rapi, mobil pun siap pacu. Sesaat Glorien memejamkan mata untuk setidaknya merapal do'a. Do'a untuk keselamatan, disusul harapan keberhasilan. Detik berikutnya ia mulai mengendarai meninggalkan halaman Pascal.
------Time Skip------
Empat jam memakan waktu hingga sampai di daerah tujuan. Langit berselimut jingga. Hari mulai petang.
Glorien kembali melirik ponsel sesaat setelah keluar dari mobilnya, menyamakan alamat yang dikirim Lola dengan gerbang rendah yang saat ini ia berdiri di depannya. Gerbang itu terhubung dengan pagar besi kiri dan kanan yang memanjang, entah di mana ujungnya.
Keadaan cukup sepi. Jalanan berbatu nampak longsong tanpa satu pun yang melalui, selain mobilnya yang terparkir di satu sisi.
Sebuah perkebunan kelapa seluas dua hektar, di mana di dalamnya terdapat sebuah villa yang cukup megah.
Glorien mendapat kabar, bahwa pemilik perkebunan ini baru beberapa minggu pulang ke Indonesia, dan saat ini kebetulan tengah berada di villa-nya, di dalam sana.
Ada sebuah pos tak jauh dari pintu gerbang. Glo memanggil seseorang---mungkin penjaga, yang sepertinya tengah tertidur.
“Permisi! Pak!”
Sebanyak tiga kali dia mengulang. Barulah orang itu merespon.
“Iya saya! Ada apa, ya, Neng?” tanya si penjaga seraya maju mendekat. Kupluk yang miring di kepala ia betulkan.
“Saya mau bertemu dengan pemilik tanah di sini, Pak!” jawab Glo langsung pada intinya.
Si bapak berkerut kening. “Neng sudah buat janji?”
Glo sedikit terkejut. Bertemu juragan tanah pun harus membuat janji? tanya hatinya merasa konyol.
“Umm ... kebetulan belum, Pak," jawabnya.
“Waduh!" Si bapak garuk-garuk kepala.
“Tolonglah, Pak," mohon Glorien. “Saya jauh-jauh dari Jakarta ini.”
Bapak penjaga kini berpikir, hingga .... “Kalau begitu sebentar, ya, Neng, saya coba hubungi pengurus.”
“Silakan, Pak,” tanggap Glorien.
Dan orang itu pun mulai mengotak-atik ponselnya.
__ADS_1
Tak lama dia mulai berbicara. Gorien memerhatikan dengan serius dan penuh harap.
“Oh. Katanya boleh, Neng. Bentar Bapak buka gerbangnya.”