Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Titik Terang


__ADS_3

Samudra sama sekali tak bisa lelap.


Di luar, entah berlanjut seperti apa antara Laura dan anak buahnya. Yang jelas terasa hening selain suara angin yang berkesiur dari pintu balkon yang tak ditutupnya.


Berkali Mada dia hubungi. Menanyakan apakah mereka sudah mendarat di tanah Moskow atau belum.


Mada mengatakan masih di Indonesia, dan akan bertolak esok pagi, yang akan datang hanya kurang dua jam saja.


Menunjuk angka 4.05 malam buta waktu setempat.


"Sam ... Samudra!"


Terhentak perhatian Samudra ke arah pintu. Suara itu seperti bisikan, tapi sangat jelas terdengar. Dia beranjak dari duduknya di atas ranjang.


Detik berikutnya sebuah benda muncul dari celah bagian bawah pintu, terlihat seperti pegangan sendok. Mengganti ketukan pintu dengan cara yang berbeda, atau dia mengira Samudra mungkin sudah tertidur.


TING! TING!


Samudra mengerut kening menatap ke arah itu.


"Samudra." Bisikan itu terdengar lagi.


Suara perempuan.


Jika itu adalah Laura, rasanya tidak mungkin.


Laura memiliki kunci lain sebagai akses kebebasannya atas Samudra.


Dengan langkah mengendap tanpa alas kaki, Samudra mendekati pintu, memasang telinga sebaik mungkin.


"Samudra ini aku Charlotte."


Sedikit terkejut, "Charlotte," gumamnya.


"Tolong buka pintunya."


Handle digenggam lalu diputarnya untuk membuka pintu.


Dia--Charlotte yang tengah berjongkok terperanjat dan langsung berdiri.


"Ada apa, Wen?" tanya Samudra. Begitulah dia menyapa adik angkatnya, mengambil bagian belakang nama lengkap gadis itu.


Bukan jawaban dari mulut, setelah sesaat celingukan ke sekitar, Charlotte malah mendorong tubuh Samudra ke dalam kamar dan gegas mengunci pintu.


"Hufft!" Napas kasar dia embuskan seraya mengelus dada.


Samudra mengerut kening. "Ada apa?"


Dia sedikit terkejut, saat Charlotte malah menarik tangannya ke arah tempat tidur.


"Duduklah!" kata gadis itu. Samudra menurut saja karena dipaksa.


Sesaat Charlotte menarik napas, menelan saliva, lalu menstabilkan diri. "Aku tahu di mana anak dan wanitamu berada!" ungkapnya langsung saja.


Samudra membulatkan mata mendengar itu, lalu menanggapi antusias, "Di mana?! Kat--pffftt!"


Charlotte membekap mulut kakak angkatnya, lalu meletakkan telunjuk dari tangan lain ke bibirnya. "Jangan kencang-kencang!"


Seperti anak kecil, Samudra mengangguk.

__ADS_1


Setelah itu barulah Charlotte melepaskan bekapannya dan mulai bercerita pelan dan hati-hati, mengungkap titik hitam Samudra menjadi terang.


"Tadi aku mencuri dengar ...."


...******...


SUV berwarna hitam berpadu merah melaju kencang membelah jalanan gelap Moskow di pagi buta.


Di telinganya, sebuah earphone tanpa kabel terpasang.


"I need help. Please read the message i just sent!"


Samudra menghubungi seseorang sembari terus menyetir.


Waktu tempuh tak begitu lama karena tempat yang dituju tak jauh juga.


Memarkirkan SUV milik Laura yang ia curi di sebuah sisi, di bawah sebuah pohon tak kenal apa jenisnya, Samudra turun dengan hati berdebar-debar.


Di depannya, tinggi menjulang sebuah bangunan tua yang sepertinya tak lagi digunakan. Rerumputan tumbuh meninggi di sekeliling halaman.


Menjaga pandangan tetap waspada, dia melangkahkan kaki menuju bagian dalam bangunan itu.


Tidak ada pintu yang menghalangi. Lantai yang diinjak bahkan sudah ditumbuhi lumut dan sedikit berbau apek.


Situasi kosong melompong, selain barang bekas yang ditumpuk serampangan di atas meja.


Langkah mengayun pelan sembari terus mengedar pandang dengan waspada. Dia tak lupa, sebuah soft gun dalam genggaman, untuk berjaga dari hal yang tak diduga.


Puas berkeliling, tak ada yang aneh di lantai dasar yang dia pijak. Sebuah tangga di satu titik menjadi pusat perhatian Samudra berikutnya.


Dia menjajak satu per satu anaknya untuk mencapai bagian lantai lebih tinggi, tetap dengan langkah penuh waspada.


Sepasang matanya tajam membidik setiap sudut. Kernyitan kening mulai timbul. Di sebuah arah, terdengar suara-suara seperti orang tengah berbicara. Tetap melangkah tak serampangan, Samudra mendekati arah tersebut. Pikirannya menerka, mungkin mereka ada di sana.


Ada sebuah pintu kembar yang cukup tinggi, batasnya menjulang jauh di atas kepala.


Tidak terkunci.


Didorongnya perlahan dan hati-hati.


Sayangnya, belum sempat pandangannya sampai ke dalam sana, suara hentak sepatu berdebam sedang mendekat. Samudra langsung mencelat untuk bersembunyi. Kebetulan ada celah dinding yang menjorok cukup pas untuk tubuhnya.


Benar!


Dua orang bersepatu lars keluar melewati dirinya kemudian menuruni tangga sembari bercakap membahas segelas kopi.


Usai mereka tak terlihat, Samudra keluar dari persembunyian untuk kemudian kembali ke arah pintu yang tadi.


Dia berhasil masuk. Tak ada apa pun di sana.


Pandangan kembali diedar.


Lantai ini berbeda dari yang sebelumnya, tangga yang tadi dia pijaki untuk naik, cukup tinggi dengan ratusan anak pijak. Ternyata ini alasannya.


Ketika masuk, dia berada di ubin yang hanya selebar dua meteran, dipagar raling besi di sekeliling yang membatasi bagian besar di bawah sana.


Langkah kembali disusun hati-hati. Pistol siaga dalam genggaman siap bidik.


Tangga lain untuk turun ke bawah sana cukup berbelit, tapi tetap dituruninya hingga sampai ke dasar.

__ADS_1


Tak sempat mengedar pandang, tatapan langsung tertuju pada satu titik.


"Glo! Gala!" Seketika jantung Samudra berderu kencang. "Tidak!"


Glorien dan Sagara, keduanya terikat di sebatang tiang besi kecil cukup tinggi dengan posisi sedikit berjauhan.


Di bawahnya, sebuah alas lebar berduri nampak mengancam.


"Samudra!" Glorien berteriak setelah melihat sosok yang sangat dia nantikan.


"Papa!" Sagara ikut berteriak. "Tolongin Gala, Pa!" Anak itu menangis.


Suara wanita dan anak kecil itu semakin menguatkan tekad Samudra untuk sesegera mungkin menyelamatkan mereka.Tanpa peduli sekeliling yang belum sempat dia amati ada banyak musuh atau tidak, Samudra langsung melompat lari mendekati anak dan mantan istri sementara yang belum sempat dia rangkul bersamaan.


Namun seorang pria yang sepertinya ada di sana sedari awal, menghadang cepat.


"HEY!" teriak pria itu.


GREPP!


Kaki yang menendang sigap ditahan Samudra oleh tangannya. Kemudian dipelintirnya hingga terjungkal.


Tapi dia bangkit lagi.


"Papa!" "Samudra!" Sagara dan Glorien berteriak cemas.


BUG!


Adu jotos tak bisa dihindari. Tidak ada waktu bagi Samudra untuk menggunakan pistolnya, benda itu malah ia jadikan senjata untuk mengadu pukul. Memakan setidaknya antara lima sampai tujuh menit untuk menumbangkan.


Napas memburu, kembang kempis cepat, orang itu tumbang di bawah kakinya setelah ia kepruk dengan pistolnya hingga mengalirkan darah. Sialnya, dua orang tadi sudah kembali dan langsung menyusul serang.


"KYAAAKK!"


Sontak membuat Samudra kembali berbalik untuk melawan.


DORRR!


"Aaarrghh!" Yang satu, ambruk sekaligus setelah peluru Samudra menembus dada kirinya. Satunya lagi maju menghadang.


KLATAK!


Pistol di tangan Samudra berhasil terlepas kemudian terpelanting membentur dinding. Berlanjut dengan adu otot kembali.


"Papa!" "Samudra!" Sagara dan Glorien semakin cemas, tapi tak ada yang bisa mereka perbuat.


BAG! BIG! BUG!


Lawan yang satu ini lumayan sulit, tenaganya cukup mumpuni. Samudra sedikit kewalahan. Sayangnya tak ada pilihan lain selain terus melawan. Sampai akhirnya ....


DAG!


Tendangan mematikannya mementalkan pria Rusia bermata picak itu ke sudut tembok, Samudra menghajarnya di sana membabi buta sampai benar-benar membuat lawannya kesulitan untuk bergerak.


Lelah dalam diri langsung menghilang. Dari sana bergegas Samudra ke arah Glorien juga Sagara yang terus meneriakkan namanya dengan tangisan.


Kurang lebih hanya tinggal lima langkah lagi ....


"BERHENTI, SAMUDRA! ATAU ANAK DAN WANITAMU AKAN DITEMBAK DARI SINI!"

__ADS_1


__ADS_2