
Tengah malam.
Tiga pasang mata tak bisa lelap.
Miana masih tersengak-sengak di pelukan Darius.
Kang Omon menyelonjorkan kakinya di sofa panjang, merebah berbantal lengan dengan tatapan nyalang ke langit-langit.
Ketiganya menunggu esok, untuk menjemput jenazah Samudra ke Jakarta.
Lelehan air di mata Darius telah mengering, tapi luka hatinya tidak akan semudah menuang air.
Samudra bukan darah dagingnya, tapi pemuda itu dirawatnya sedari balita dengan limpahan cinta yang sama dengan Miana. Satu ton berlian atau anak lelaki lain seberkualitas apa pun, tak akan rela ia menukarnya. Samudra miliknya.
Dan esok, ia harus menyiapkan tanah kuburan untuk putranya itu. Waktu 22 tahun terasa singkat.
Darius ingat, Samudra diantar seseorang padanya saat usia anak itu mendekati angka dua tahun, tepat seminggu setelah istrinya meninggal ketika melahirkan Miana.
Tuhan mengambil istrinya, namun langsung mengirimkan pengganti seorang malaikat kecil yang tampan dan menggemaskan. Hidung mancung, mata sipit khas oriental, juga kulit seputih kapas, Samudra seperti oase saat Darius dalam krisis kekeringan yang menyakitkan.
Dia juga masih ingat bagaimana Miana merubah panggilan “Aa” pada Samudra menjadi Koko di usia enam belas tahun. Hal itu karena menurut Mia, Samudra seperti tokoh favoritnya di drama China yang sering dia tonton ketika itu.
Mengingat masa itu, tangis Darius kembali pecah. Miana bahkan bangkit dari peluknya karena terkejut. Kang Omon juga terperanjat.
“Ayah!” Miana mengusap wajah Darius yang berair mata. Ia mengerti betul apa yang dirasakan ayahnya.
“Ikhlaskan, Yus, biar Sam tenang. Kasian dia," kata Kang Omon ikut menenangkan.
Darius menyeka air matanya. Tak ada kata yang bisa ia lontarkan. Seluruh jiwanya serasa direnggut paksa.
Sampai tiba-tiba ....
“Ayah!”
Semua menoleh lalu terkejut setengah mati.
Sosok yang tengah mereka tangisi tiba-tiba masuk lalu berdiri di hadapan semua dengan raut bercampur rasa.
“Sam!”
“Koko!”
“Jurig!” Itu suara Kang Omon. Dia meringsut sampai ke ujung sofa, menaikan kedua kakinya dengan wajah takut seperti bocah.
__ADS_1
Darius mendekati Samudra. Matanya tak berkedip, menatap sosok itu dalam ketidakpercayaan. Dirabanya seluruh bagian tubuh Samudra, mula dari wajah, lengan, dada lalu berakhir di dua pundaknya. “Kamu masih hidup, Sam?” tanyanya memastikan ia tak sedang berhalusinasi.
Samudra mengangguk memastikan. “Iya, Yah. Ini, Sam. Sam masih idup persis kayak yang Ayah liat.”
Mendengar itu, serta merta Darius langsung menghambur memeluk Samudra dengan tangis yang kembali pecah, namun berganti tema. Kali ini tangisnya karena bahagia.
“Koko!" Mia memanggil dengan suara parau. Air matanya mengalir seperti tetesan tanpa gejolak.
Darius melepas pelukannya, memberi ruang pada Miana.
Detik itu, dunia seolah berhenti. Mata Samudra nyalak melebar, disusul deru jantung yang berpacu saling memukul.
“Mia ... tangan kamu?”
Miana yang baru akan maju untuk memeluknya langsung mundur kembali. Dia menoleh satu bagian tangannya, lalu mendongak pada Samudra penuh getir. “Iya, Koh. Mia sekarang cuma punya satu tangan aja.”
Hati samudra semakin tak bisa dikondisikan. Pecah tangisnya lagi seraya menarik Miana ke dalam pelukannya. “Maafin Koko, Mia. Gara-gara Koko kamu jadi kayak gini.”
Kang Omon yang sudah yakin dan tak takut lagi, ikut menitikkan air matanya. Karena malu disorot kamera, buru-buru dia mengusapnya kemudian nyengir seperti orang pe'ak yang ketahuan mencuri ****** *****.
(Sebenarnya tak ada kamera~ hihi)
Menghabiskan waktu sampai menjelang pagi, Darius, Miana dan Kang Omon, serius mendengarkan cerita Samudra tentang mengapa ia bisa bebas, juga alasan pemalsuan kematiannya. Namun ada satu bagian yang tak bisa Samudra ceritakan. Darius akan menentang jika ia beberkan tanpa saringan.
“Sam minta sama kalian, tolong ikut jaga rahasia ini. Demi keselamatan kita semua.” Samudra mengingatkan bersungguh-sungguh.
Ketiga orang di depannya mengangguk paham.
Saat yang sama, dering ponsel Samudra berbunyi. Itu bukan ponsel miliknya yang biasa ia gunakan. Ponsel naas itu terjatuh di sungai saat ia dikejar polisi.
“Bentar. Sam angkat dulu.” Semua mengiyakan.
“Ya.”
“....”
Orang di seberang berbicara cukup panjang. Samudra mendengarkan dengan seksama.
“Oke," ucap Samudra kemudian, lalu menutup teleponnya.
Saat semua masih diam melihat ke arahnya, Samudra mengabsen satu per satu wajah itu penuh rasa, sampai kemudian berakhir di wajah Darius.
“Ada apa, Sam?” tanya Darius.
__ADS_1
Nampak keraguan di wajah Samudra. Detik berikutnya, sesaat memejamkan mata, ia lantas mulai berkata, “Sam harus segera pergi, Ayah.”
“Pergi kemana, Koh?!" Miana terkejut.
“Iya, mau kemana, Sam?" Kang Omon ikut bertanya.
Samudra masih meragu. Tapi ia harus. Ditegakkan wajahnya, berusaha menata hati agar tak goyah. “Moskow!”
Miana menutup mulutnya, lalu kembali terisak. Ia menggeleng tak menerima putusan itu. “Kenapa sejauh itu, Koh?”
Samudra mendekat lalu memeluk dan mengusap kepala gadis kecil yang kini beranjak dewasa tersebut. “Koko pergi demi kebaikan kita, Mi. Koko janji, Kalo Koko udah berhasil, Koko akan belikan tangan pengganti paling bagus dan paling mahal buat Mia. Biar kamu bisa lakuin banyak hal lagi seperti semula.”
Darius hanya bisa menatapnya dengan raut sedih. Tak ada kata yang bisa ia timpalkan. Yang akan dilakukan Samudra mungkin benar demi kebaikannya. Jika di sini, Rohan lama-lama akan mencium keberadaannya dan berakhir tak akan baik.
Jadi dengan berat hati, “Ayah izinkan, Sam. Baik-baik kamu di sana.”
...*****...
Deru suara pesawat menggelegar di ketinggian.
Awan bergumpal cerah di balik kaca yang kini ditatap Samudra.
“Pesawat ini harus menjadi tempat terakhir kamu bersedih. Sampai di sana, kamu harus sekuat baja. Aku tidak ingin kamu mati hanya karena satu ginjalmu aku pindahkan ke tubuh putriku yang malang itu.”
Samudra menoleh wanita di sampingnya. “Saya bisa pastikan.”
Laura Jung tetap menatap lurus ke depan saat berkata. “Aku tidak suka lelaki lemah. .... Walau nanti kamu hanya hidup dengan satu ginjal saja, kamu harus tetap kuat, karena perusahaanku di sana bukan tempat untuk bersantai apalagi menggulu kesedihan yang menjijikkan.” Barulah ia menoleh Samudra. “Belajarlah dengan benar, Samudra! Tidak semua orang punya kesempatan sebagus kamu.”
Samudra mengangguk, kemudian memalingkan wajah--kembali menatap awan yang bergumpal seakan minta ia rebahi. “Ya, kesempatan bagus untuk kehilangan satu ginjal,” hatinya menambahkan miris.
Perputaran jam berlalu begitu cepat.
Pesawat yang ditumpangi Samudra dan Laura Jung beserta anak buahnya, telah mendarat di bandara internasional kota Moskow--Rusia.
Sebuah mobil van berwarna merah telah menunggu.
Laura Jung mengajak Samudra masuk ke sana untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit terlebih dulu.
Samudra harus menepati janjinya. Ia akan mendonorkan satu ginjalnya pada Charlotte, putri satu-satunya Laura yang sudah menderita sekian tahun.
Sempat Samudra bertanya ketika di pesawat tadi.
“Darimana Anda tahu kalau ginjal saya dan putri Anda cocok?”
__ADS_1
Dengan santai dan senyumnya Laura menjawab, “Kamu ingat giat donor darah di daerah Palang Pintu?”