Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Evakuasi


__ADS_3

Samudra tercenung setelah mendengar teriakan interupsi Glorien. Ditatapnya wajah Regar yang sudah tak jelas rupa. Pria itu telah tak sadarkan diri, mungkin dari satu menit yang lalu.


Raut bengis belumlah pudar dari wajah Samudra. Jika saja tak ada Glorien, mungkin Regar adalah orang ke sekian yang akan berakhir di liang lahad setelah beberapa orang lain yang terkena hukum tangannya di Moskow sana.


Ya! Bergelut di dunia mafia memang kelam. Akan sangat aneh jika tak melibatkan kekerasan, termasuk membunuh dan kematian.


Tapi melihat dari kondisi yang super naas Regar, siapa pun akan tak yakin, hari esok pria itu masih akan merasakan hangatnya mentari pagi. Walaupun perutnya masih terlihat kembang kempis pertanda nyawa belum pergi dari tempatnya.


Dan sebagai penutup tindak 4narkis yang baru saja Samudra lakukan, ditendangnya tubuh Regar hingga tersungkur membentur badan mobil yang sesaat lalu akan digunakan pria itu untuk melarikan Glorien. Benar-benar belum merasa puas. “Gua harap lu mati pelan!” ujarnya menyumpahi, lalu berbalik badan.


“Kamu gak apa-apa?" tanyanya kemudian pada Glorien. Ia masih bertahan dalam ego dengan memakai nada biasa. Menutupi rasa yang sebenarnya lebih dari sekedar cemas.


Glorien menggeleng. “Aku gak apa-apa,” jawabnya tersengak.


Dalam hati, sejujurnya Glorien bukan hanya merasa takut karena peristiwa berdarah ini, tapi juga ada perasaan ngeri yang menjalari titik rapuhnya. Perubahan perilaku Samudra---alasannya. Itu benar-benar bukan lagi wajar dalam pandangnya. Pria itu menjadi kejam, membuatnya seolah melihat orang lain yang bahkan ia sendiri tak tahu siapa yang dimaksudkan.


Tapi juga tak dipungkir, Glorien cukup berterima kasih karena Samudra sudah berhasil melepaskannya dari bahaya.


Samudra merespon dengan hela napas syukur yang tak ditunjukannya secara jelas.


Keduanya kini terdiam saling bertatap dalam tema masing-masing. Lalu dengan tiba-tiba dan tanpa diduga Samudra, Glorien justru menghamburkan diri memeluknya penuh emosi. Emosi yang lahir dari ketakutannya.


Wanita itu terisak di pelukannya.


Samudra tersentak. Sekian detik dalam keadaan terperangah. Tangannya bergerak mengambang di sisi tubuh--kaku untuk terangkat. Sebenarnya dia ingin memberi penenangan dengan balas untuk memeluk, tapi juga tak ingin kalah sikap oleh nurani. Akan sangat lucu jika tiba-tiba menjadi murah, sementara tekad sudah setangguh baja untuk balas dendam atas apa yang telah Glorien torehkan dalam hatinya.


Kedua perasaan terus mendesak. Membuat Samudra serasa berada dalam kondisi alter ego.


Nyawa kecil dalam kandungan Glorien saat itu, adalah penyulut dendam terbesar dalam diri Samudra hingga detik ini. Ia tak ingin melihat wanita itu bahagia. Sementara oleh dirinya sendiri telah banyak yang dikorbankan, termasuk satu ginj4lnya dan sebelah tangan Miana. Setidaknya itu porsi pembalasan dendam pria itu.


Glorien segera menjauhkan diri setelah menyadari respon Samudra yang sedingin es. Ia lupa jika Samudra bukan ranahnya lagi.


“Maaf,” ucapnya seraya membuang wajah lalu menyeka air matanya.


Samudra terkesiap lalu menelan ludah. Apakah ia baru saja mempermalukan wanita itu?


UIW WIU WIU ....

__ADS_1


Sirine mobil polisi terdengar dari kejauhan, mengalihkan perhatian dua sejoli itu dari kecanggungan.


Sebuah mobil putih berhenti di jalanan tak jauh dari mereka. Di belakangnya, dua iringan mobil polisi mengikuti.


“SAM!” Mada berlari tergopoh setelah membanting keras pintu mobilnya. David dan Ernest keluar dari mobil berbeda, lalu mengikuti Mada segera dari belakang. Sementara semua polisi sudah berhambur masuk ke dalam bangunan tua di dekat mereka.


“Lu gak apa-apa?!” tanya Mada setelah berada tepat di hadapan Samudra.


“Telat, Sialan!” semprot Samudra.


Mada meraba seluruh bagian tubuh kawan sekaligus bosnya itu dengan gerak rusuh. “Tapi lu kagak mati, pusaka lu juga masi utuh," katanya seraya mengusap bagian yang dimaksudnya---gak ngotak.


Samudra spontan menepis tangannya, lanjut mengepruk kepala sialan itu. “Emang ngapa pusaka gua bisa ampe ilang, Setan?!”


David dan Ernest tertawa saja. Sementara Mada yang bertampang konyol kini sibuk mengusap kepala lalu merapikan rambutnya yang seperti bulu jagung. “Sialan, rambut aing.”


Dalam sekian waktu mereka asyik saling lempar lelucon garing. Tak peduli naas tubuh Regar yang teronggok di dekat kaki.


Para petugas kepolisian masih di dalam bangunan. Satu orang dari mereka terlihat keluar lalu menghampiri sekumpulan anak tua cap botol itu. “Tuan Sam,” sapanya pada Samudra disertai senyuman tipis, seperti tersirat sesuatu lucu yang entah apa.


“Ya, Ndan,” sahut Samudra membalas senyum. Komand4n petugas itu dikenalinya. Dia adalah yang dulu membantunya saat proses pemalsuan kematiannya di lapas.


“Syukurlah kamu baik-baik saja, Samudra,” kata komand4n yang dari bet bordir bajunya bertuliskan nama; GIOVAN JHONI.


“Gak lucu kalo jagoan mati duluan,” Samudra membalas sekenanya.


Giovan mengangguk masih dengan senyum yang belum pudar. “Ya ... kamu bener," katanya setuju. “Memiliki nyawa cadangan memang menguntungkan.”


Kali ini Samudra terkekeh. “Placenta kucing Moscow gak diragukan kualitasnya.”


“Gua menta dong!" Mada menadah tangan. “Sapa tau kulit gua bisa ampe ngamplèh.”


“Kagak ada!” tampol Samudra.


Dari arah dalam, dua orang petugas datang mendekat untuk mengevakuasi Regar yang entah masih bernyawa atau tidak.


Seraya mengamati anak buahnya bekerja, Giovan berujar pada Samudra. “Kenapa gak sekalian kamu potong anunya, Sam?”

__ADS_1


Tipis saja Samudra menoleh pria berseragam itu. “Kalau gua potong, dia gak akan bisa genjot pocong-pocong perawan di dalem kubur, Dan. Kesian,” jawabnya seenak jidat.


Mada mencibir, “Kalo rasa pocong enak-enak, gua rela gali kubur saben ari. Tapi sayangnya gua masi sayang umur, ngeri dicekèk pas lagi enak-enaknya.”


Langsung kena tampol Ernest dan David sembari tertawa-tawa.


“Yakali pocong telentang!”


Perdebatan 'tak faedah mereka tidak ada lucu di mata Glorien. Ia menyisi sedikit jauh terhalang sebuah tiang jemuran, sesaat setelah kedatangan Mada--masih bertahan dengan kengeriannya.


Giovan yang menangkap sosoknya menyipitkan mata, mengamati lebih detail. Ia jelas mengenal setelah berhasil meraih jelas wajah itu. “Nona Pascal!" kejutnya.


Semua menoleh pada pria itu, dan Samudra seketika pun menyadari. “Apa dia bersama kamu, Samudra?!” tanya Giovan kemudian.


Samudra menoleh Giovan lalu kembali melihat Glorien. “Iya.”


Dia tercenung.


“Nona! Apa Nona baik-baik saja?” tanya Giovan pada Glorien, sesaat setelah langkahnya berakhir di hadapan wanita itu.


Glorien mengerjap lalu mengangkat wajah. “Saya baik-baik aja, Pak.” Jawaban yang tak sesuai dengan isi dadanya.


“Syukurlah,” Giovan mengangguk percaya. “Mobil Anda yang di jalan sana, kah?” tanyanya mengingat nomor seri mobil itu berukir huruf GLO.


“Betul, Pak." Glorien membenarkan dengan suara parau.


“Ah, sayangnya ban mobil Anda dalam keadaan kempes. Kalo begitu biar saya antar Anda pulang.”


“Biar dia balik bareng gua, Ndan,” Samudra menyergah seraya mendekat ke arah Giovan dan Glorien. “Gua kudu bertanggung jawab secara pribadi sama dia," tukasnya.


“Oh, oke kalo begitu.” Giovan menyetujui diiring anggukan tipis.


“Ayo, Glo!” Satu tangan Glorien ditarik Samudra lalu pergi dari sana tanpa peduli apa pun lagi.


Mada mengerang ketika mobilnya dibawa Samudra, kemudian melangkah mengikuti David dan Ernest yang lebih dulu berlalu setelah pamit pada Giovan.


“Keparat!”

__ADS_1


__ADS_2