Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Penyesalan


__ADS_3

Dengan tawa bahagia ditemani Sakti, Glorien dan Samudra, sang bibi--Miana, benar-benar menghabiskan berjam-jam waktu untuk dekat dengan Sagara. Tawa-tawa renyah terdengar memecah malam.


Bermain game di ponsel, hingga bercerita tentang banyak hal.


"Aku belum tau. Kebun binatang itu kayak apa? Banyak gak binatangnya? Di sana ada kudanil sama unta nggak, Onty?"


Pertanyaan itu seketika membungkam semua orang, walaupun ditujukan Sagara untuk Miana.


Mereka lupa, tujuh tahun usianya kini, kehidupan Sagara tak sebaik mereka di waktu kecil.


Darius yang sibuk bercokol dengan Pepeng dan kawan-kawannya di depan pemanggang daging pun, ikut menoleh.


Samudra dan Miana saling beradu pandang, kemudian menghela wajah pada Glorien yang tercengang dengan mata berkaca-kaca.


Samudra mengusap punggung wanita itu untuk mentransfer tenang.


Sakti berperan sigap, "Gimana kalo besok kita ke kebun binatang! Gala boleh liat hewan apa aja yang mau Gala tau ada di sana. Gimana?"


"Beneran, Om?" Binar mata Sagara.


"Iya dong!"


Miana ingin berkata, tapi tertahan karena sesak di ujung dada.


Alhasil dia membalik badan menyusupkan diri ke pelukan Darius yang sudah ada di sana dari dua satu menit lalu.


Darius mengusap punggung putrinya penuh sayang. "Udah, gak usah nangis. Jelek."


Sagara menoleh papa dan mamanya yang duduk di atas kursi. "Ma, Pa, mau ikut ke kebun binatang besok, 'kan?"


Samudra berhasil menekan sesak dalam dadanya setelah menarik napas cukup dalam. "Pasti, Sayang. Kita berangkat pagi-pagi."


"Yeaayy!"


Glorien tak tahan. Dia bangkit mendekati Sagara lalu memeluknya. "Tentu, Sayang. Bukan cuma kebun binatang, Gala bilang aja apa yang Gala mau, atau tempat mana yang mau Gala datengin. Mama Papa pasti kabulin."


Bukan tidak senang dengan ucapan ibunya, Sagara berdiam dengan tatapan sedih. "Mama kok nangis? Mama capek ya? Gak jadi besok deh ke kebun binatangnya. Kapan-apa aja kalo Mama sehat. Gala gak apa-apa kok."

__ADS_1


Glorien menggeleng cepat. Sesegera mungkin menghapus air matanya dengan telapak tangan. "Nggak, Sayang. Mama gak cape. Mama nangis karena Mama seneng bisa ketemu Gala tiap waktu. Pokoknya besok kita datengin semua tempat hiburan yang Gala mau. Kita cari di gugel yang bagus-bagus, trus Gala pilih sendiri."


Tidak ada yang tidak terharu. Sebanyak waktu yang terlewat dengan Sagara, Samudra dan Glorien bersumpah akan menebusnya.


Dua jam kemudian.


Suasana telah hening. Selain orang-orang yang ditugaskan Samudra untuk berjaga, yang lain sepertinya sudah tertidur.


Pun dengan Sagara yang terlelap di atas ranjang. Glorien baru saja menyelimutinya usai meninabobokan anak kecil itu.


Setelah mengecup pipinya dalam, dia bangkit dari ranjang lalu berjalan menuju balkon. Samudra berdiri di sana, memegang raling besi pembatas loteng. Pandangannya jauh menembus kegelapan malam. Pohon-pohon kelapa menggoyang-goyang ditiup angin hingga terlihat seperti sekumpulan kain yang berkibar.


"Kamu liat apa? Gak mau tidur?"


Samudra menoleh cepat ke belakang. Glorien sudah ada di belakangnya, lalu bergerak ke sisi untuk posisi berdampingan.


"Aku belum ngantuk," jawabnya. "Sini."


Glorien tersentak ketika pria itu tiba-tiba menarik tubuhnya dalam pelukan dengan satu tangan, namun wajahnya lurus menghadap ke depan.


"Aku masih inget, waktu kamu datang ke villa ini, minta beli perkebunan." Samudra mengenang kejadian itu.


Samudra terkekeh tipis saja menanggapinya. Terlebih sekarang bibir Glorien dimanyunkan ke depan seperti kue kerucut. Akhirnya tak tahan juga untuk tak jahil.


"Awww! Sakitlah!" pekik Glorien seraya mengusap-usap bibirnya yang baru saja dicubit Samudra.


Cubit bibir?


Yang penasaran, silakan praktekan sendiri.


Pria itu terkekeh lagi sebelum akhirnya mengembalikan pandangannya jauh ke depan. "Aku menyesali itu, Glo. Maaf." Seketika iras tampannya berganti raut menyesal. "Aku gak tahu kesalahpahaman aku sama kamu sampai sejauh itu."


Raut wajah Glorien ikut berangsur datar, dia mendongak memandang wajah dengan hidung lurus dan lancip juga bola mata hazel sebening kaca di hadapannya. "Bukan salah kamu. Papaku yang jahat." Kalimat itu melemparnya pada keadaan sama-sama menyesali. "Aku juga bodoh. Gak sadar sama sekali kalo aku bener-bener dibohongi."


Kesedihan kembali merayapi seisi jiwa Glorien. Dalam lurus pandangannya, mata bulat beningnya mulai berkaca.


Samudra menangkapnya sedikit tercubit, mengingat dia sendiri adalah bagian dari kesedihan wanita itu. "Glo."

__ADS_1


Dagu manis Glorien ditariknya hingga menghadap dan saling bertatap. "Aku mau kita mulai semuanya dari awal."


Sempat sesaat mencerna. Diamati wajah berkilau Samudra yang tanpa cela, dan dia tak menemukan apa pun selain kesungguhan di sana. "Mulai dari awal? Dalam konsep yang bagaimana yang kamu maksud?" Dia ingin tahu.


"Kita menikah lagi!" Samudra menjawab cepat. "Demi Gala."


Jawaban yang luar biasa meresap hingga ke palung hati terdalam Glorien. "Aku mau."


Senyuman Samudra mengembang lebar. "Makasih masih mau nerima aku."


Keduanya lalu berpelukan dalam waktu yang lama. Menikmati malam ditemani semilir angin yang terus berputar-putar seperti spiral-spiral kecil tanpa tenaga.


"Jangan tinggalin aku lagi," kata Glorien seraya makin merekatkan pelukannya.


"Gak akan! Gak akan pernah. Kita besarkan Sagara bersama-sama."


...*****...


Jauh di Kota Moskow. Di dalam sebuah kamar.


"Mom ... aku mohon Mommy makan. Jangan siksa diri Mommy seperti ini."


Sebanyak suara paksaan Charlotte, lebih banyak Laura mendiamkannya. Mata dan wajah yang selalu bersinar dengan taburan make up, kini redup dan tiba-tiba terlihat tua di waktu cepat.


Seisi jiwa, pikiran dan hati Laura dipenuhi oleh Samudra.


"Bagaimana bisa?"


Pertanyaan itu terus bergumul hingga tak tertampung rasanya dalam kepala.


Laura mengingat, bagaimana ia dulu masuk mengendap ke dalam kamar Samudra di tengah malam. Memakai satin tipis tanpa pakaian dalam. Memeluk pria muda itu dengan rasa membuncah menginginkan lebih.


Beruntung Samudra sekuat baja. Dia tak pernah merespon apa yang Laura mau. Tetap menekan diri bahwa Laura adalah sosok seorang ibu bagi dirinya yang tak pernah memiliki anugerah itu.


Dan selalu, setelah melakukan hal menjijikkan demikian, Laura akan keluar dari kamar Samudra dengan perasaan dongkol, kemudian meminta Edmon menyelesaikan semua hasrat yang terlanjur kuat.


Beranjak pada kejadian kemarin.

__ADS_1


Lebih hina lagi. Hampir saja dia benar-benar menikahi putra kandungnya sendiri. Kekejian apa yang tertanam dalam jiwanya sampai lupa akan sebuah moral? Jikapun Samudra bukan darah dagingnya, setidaknya gunakan nurani untuk menekan diri, bahwa pria itu tak pernah menginginkannya. Sayangnya ... Laura adalah seorang iblis succubus.


__ADS_2