
Malam hari saat keadaan sudah sangat sepi selain pengawal yang biasa ditugaskan pada tempatnya, Laura terbangun dari baringnya. Melangkah tertatih menuju jendela. Disibaknya gordeng untuk melihat langit malam, tak ada bintang yang berkedip. Cuaca pasti sedang mendung, semendung hatinya yang serasa tak pernah tidur semenjak mengetahui Samudra adalah putra biologisnya.
Air mata kembali menitik bulir demi bulir.
Bayangan wajah Samudra kembali melintas lalu menetap tak mau pergi, tapi beralih di detik ke sekian puluh. Angka 99.99% kecocokan hasil tes DNA yang dia baca, menggantikan sesaat isi pikirnya.
Selain bukti Jaladipa yang sempat mengirim video guna menjelaskan semua hal, beberap waktu lalu, Laura meyakinkan diri dengan tes DNA. Potongan kuku Samudra yang dikirim Darius dia gunakan, dan hasilnya jelas terhubung dengan semua keadaan. Samudra benar-benar darah dagingnya.
Sesenggukan lagi. Laura benar-benar menghancurkan dirinya sendiri. Beruntung Samudra tak pernah tergoda dengan molek tubuhnya. Andai lelaki itu membalas, otomatis dia dan anaknya adalan inses paling menjijikkan yang akan dihujat dunia.
“Kamu tampan, Nak, seperti ayahmu.” Dia bergumam dengan perasaan sakit. Kain yang menutupi dada dia remas hingga mengurat kepal tangannya. Sakit di sana tak ada obat.
Untuk bertemu Samudra sebagai seorang ibu, Laura bahkan tak punya muka. Jadi akan bagaimana hidup Laura ke depannya?
Waktu menunjuk angka dua dini hari. Puas menangis, wajah Laura menegak. Memandang satu titik sembari memikirkan sesuatu di kepalanya.
Detik berikutnya dia menoleh lalu menatap sebuah pintu.
Naluri menajam, menuntun langkahnya ke sana dengan perlahan. Handle digenggam lalu diputar, adalah ruang kerja pribadinya. Bukan laptop, kertas berkas atau buku yang dia sentuh, melain sebuah botol berwarna putih yang terselip di dekat patung seekor macan kecil di sudut meja. Beberapa butir berwarna coklat pekat, ia tuangkan ke telapak tangan lalu menatapnya dengan gamang. Matanya kembali berair, kemudian terjun melewati pipi yang pucat pasi.
Tanpa berpikir banyak, Laura menelan semua butir obat di telapak tangan sekali tenggak. Awalnya masih biasa dan belum ada reaksi, tapi setelah memakan setidaknya lima menit waktu, isi perutnya bergolak, mengocok dan mengobrak-abrik seperti mau meledak rasanya. Urat-urat wajah Laura menegang. Leher dipegangnya erat karena tenggorokan yang tiba-tiba menjadi panas. Sakit menyerang semakin kuat, dan ....
BRAKK!
Charlotte yang sengaja menempati kamar di sebelah ibunya terlonjak dari mata yang baru dia pejamkan sekitar lima menit lalu. Suara benda jatuh dari kamar Laura. “Mom!” Dia melanting cepat keluar dari kamarnya untuk melihat keadaan Laura.
....
“MOMMYYY!”
02.30 dini hari waktu Moscow, 06.30 pagi waktu Indonesia, Jakarta tepatnya. Samudra yang masih santai dengan piama, berdiri di atas balkon sebuah hotel dengan secangkir teh panas di tangannya, terganggu oleh dering ponsel di dalam kamar. Sempat menoleh ke ambang pintu, namun kembali masa bodo. Dia benar-benar tak ingin diganggu dengan apa pun saat ini.
Sayangnya ....
__ADS_1
“Hallo, Onty Charlotte.” Sagara yang baru bangun mengangkat panggilan itu. “Sebentar, Onty. Ghala panggil Papa dulu.” Dia akrab dengan Charlotte melalui videocall yang dilakukan Samudra beberapa waktu lalu.
Anak itu berlari ke tempat di mana Samudra berdiri. “Papa, Onty nelepon, nih!”
Samudra mendesah, menatap Sagara yang berjalan mendekat ke arahnya sembari menggeleng. Namun dia tetap berusaha memasang senyum. “Sini, Sayang.”
Ponsel dipindahkan Sagara ke tangan papanya. Anak itu mencelat kembali ke dalam kamar setelah sekilas Samudra mengusap kepalanya dengan sayang.
“Ya, Char. Ada apa?”
“....”
“Apa kamu bilang?!” Samudra terkejut setengah mati.
...*****...
Mada, David dan Ernest yang tengah asyik bercokol di ruang istirahat kantor, terkejut saat menoleh bersamaan pada satu titik. Glorien muncul dan berdiri di ambang pintu dengan wajah berantakan.
“Glo!” David mendekat segera, disusul Mada. Ernest hanya memperhatikan di tempatnya tanpa beranjak. “Ada apa?” sambung tanya David.
Sebelum melontarkan apa yang akan ia katakan, Glorien menyapu satu per satu wajah orang-orang terdekat Samudra tersebut seperti mencari sesuatu.
“Tolong ... ceritain semua sama aku tentang Samudra, sampai kemudian dia jadi Samewise Will.”
Mada dan David saling beradu pandang, sama-sama terkejut.
Sekarang mereka paham, apa yang menyebabkan Samudra begitu murung dua hari belakangan. Itu terlihat selepas kawan sekaligus bos mereka itu pulang dari kediaman Pascal.
Mereka bahkan kena semprot Samudra saat menanyakan perihal pernikahan yang beberapa waktu lalu digemborkan dengan semangat. Ternyata dua sejoli itu sedang tidak baik-baik saja.
“Mada, David, Ernest, tolong, aku bener-bener butuh tahu semuanya. Bagaimana Miana kehilangan satu tangannya, juga Samudra sampai harus kehilangan satu ginjalnya? Apa itu jujur? Dan apa bener itu semua disebabkan oleh papaku?” Glorien lanjut mencecar.
David menoleh Mada. “Gua rasa ini bagian lu, Mad.”
Mada balik menoleh pada David lalu tercenung. David benar, yang paling mengetahui banyak tentang Samudra adalah dirinya. Tapi, haruskah Mada membeberkannya? “Harus ya, Pe?” tanya pria itu sedikit tak percaya diri.
__ADS_1
“Jelasin aja, Mad, semuanya. Mereka gak akan aman kalo masih saling berteka-teki. Kasian Bos Sam juga kan.” Ernest mendorong dengan persepsinya. Kacamata dia luruskan lalu menyesap kopi.
David mengangguk, setuju dengan Ernest.
Glorien menatap penuh harap pada Mada. Kembali disekanya air mata yang terus terjun mengikuti gejolak perasaannya. “Mada tolong.”
Mada melengak lagi.
Dua hari Samudra menghilang tanpa kontak. Glorien menghubungi sampai ke villa kelapa, tapi Jaladipa dan orang-orang di sana tak ada yang tahu. Pun dengan Miana dan Sakti, yang ada mereka justru balik bertanya.
Keputusan yang tepat jika sekarang Glorien mendatangi kantor yang entah apa sebenar isi di dalamnya. Mada, David dan Ernest selalu bekerja di ruangan sama dengan berbagai komputer yang tak hanya tiga jumlahnya. Ketiga pria itu jelas tahu tentang Samudra, karena kepergian Samudra akan ada akses melalui mereka terlebih dulu, dan itu selalu.
“Oke, Glo. Kamu siap dengerin semuanya?” Mada memastikan dan langsung diserobot Glorien dengan anggukan.
“Janji gak lemes ya?” tanya Mada lagi.
Ernest melempar sendok ke arah pria somplak itu seraya terkekeh. “Apanya yang lemes, Anj?!”
Dibalas Mada dengan delikan. “Lututnya, Sialan! Kalo dia kelenger dengan kisah mengsedih Samudra pan repot.”
“Tinggal gendong, susah amat.” David menimpali.
“Ditelen si Sam lu mau?!” hardik Mada kemudian langsung menatap Glorien dan mengembalikan tema ke mode serius. “Oke, Glo, jadi gini nih pertamanya ....” Mada memulai penjelasan tanpa meneruskan leluconnya.
Mulai dari obatterlarang yang berada di dalam mobil servisan Mada, hingga Samudra berakhir menjadi Samewise Will setelah menukar kebebasannya dari penjara dengan satu ginj4l yang diberikan Samudra pada Charlotte, Mada beberkan tanpa ada yang dilewatkan.
“Gitu yang sebenarnya, Glo.” Mada menutup penjelasan yang sepanjang jalan kenangan tanpa skip dan main-main.
Dari tetesan air mata tanpa emosi, kini Glorien sesenggukan tak bisa lagi mengendalikan diri.
David dan Ernest saling beradu pandang dengan tatapan iba.
Mada ingin memeluk Glorien tapi dipelototi David seraya menyodorkan tinju.
“Nyari mati, lu!” semprot David memperingatkan.
__ADS_1
“Abis kagak tega gua,” kata Mada. “Udah, Glo. Sekarang kan udah tahu, jadi bisa ya, gak marahan lagi sama Sam.”
Glorien menyeka air matanya lalu mengangkat wajah. “Sekarang dia di mana?”