Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
BAGBIGBUG Lagi


__ADS_3

Bentrok antar dua kubu sedang berlangsung. Saling adu jotos, tendang menendang, gebuk-gebukan, riuh terdengar.


Mereka adalah Pena Hitam dan anak buah Dazh.


Mada ikut menguji ketahanan ototnya, berbaur ricuh dengan sesekali berteriak dalam pukulan membabi buta meniru teriakan kungfu. Tinjunya memang mantap, tapi ujungnya dia berlari kocar-kacir setelah melihat seorang lawan membawa badik besar hendak menerkamnya.


Mada dikejar. “Setan! Goloknya gede bangeeet!”


“Jangan lari kamu!” Lawannya berteriak.


“Dikira gua kebo gila!” umpat Mada. “Gak lari gua ko'it, Kampret!” Berbelok gerak sana gerak sini mencari jalan yang enak. “Saaaammm!” teriaknya memanggil Samudra. “Tolongin guaaa!” Kini dia kucing-kucingan dengan lawannya. Berputar-putar seperti komedi putar.


Tidak ada yang bisa Mada jadikan senjata. Di sekitarnya hanya ada balok-balok besar yang belum halus. Mana mampu dia memikul.


Sampai perhatiannya tercuri oleh sesuatu.


Di depan sana ada setumpuk bambu gelondongan. Mada menengok orang berbadik di belakangnya. Masih mengejar juga, sembari terus mengacung-acungkan senjatanya yang sumpah demi apa pun ... gak banget, Anjim!


“Sial!” Umpatan ke sekian dari mulutnya.


“Mau kabur kemana kamu?!” Orang itu berteriak lagi.


Mada punya ide dengan bambu-bambu gelondongan itu.


Di ujung, tumpukan rapi bambu didorongnya hingga berhambur menggelinding. Dia mencelat cepat agar tak kena.


“WO wo wo wo!” Lawannya kerepotan. Kakinya bermain dengan batang-batang bambu utuh yang bergerak-gerak, ikut bergelinding menjaga keseimbangan. Dan ....


BRUK!


“Hahahaha! Rasain lu!” Mada tertawa mengolok. Orang itu ambruk telentang dengan kaki mengacung tinggi ke atas. Selanjutnya keparat itu berlari ke bagian lain, menyusul Samudra--niatnya.


Samudra sendiri ditemani David menyelinap keluar di tengah kericuhan rekan-rekannya tadi, masuk menyusur ruang untuk mencari keberadaan Ernest.


Teriakan Mada terdengar bergaung di kejauhan, keduanya hanya geleng-geleng, tak menunjukkan raut cemas, karena tawa si Kampret itu menyusul kemudian.


“Mereka gak terlalu banyak! Anak buah kita pasti bisa ngadepin.”


Mendengar suara itu, Samudra dan David langsung waspada. Sembunyi di balik tumpukan valet kayu yang meninggi.


Samudra mengintip sedikit dari celah valet yang tak terlalu besar.


Dazh dan lima orang anak buahnya menuruni tangga besi yang melingkar.


Berbeda dengan Edmon, Dazh tak bisa berbahasa Indonesia. Satu orang anak buahnya bertindak sebagai translator bagi pria Rusia itu, juga untuk rekan-rekannya yang tak mengerti bahasa Inggris. Sebut saja translator itu Birawa. Pria tinggi hitam berambut jambul yang mengacung menantang langit.


“Kill them! Don't leave anyone out!” perintah Dazh dengan wajah ketat.


“Yess, Boss!” Birawa meneruskan pada rekannya, “Habisi mereka semua!”

__ADS_1


Sisanya berhambur pergi menjalankan perintah setelah saling mengangguk.


“Hello, Dude.” Samudra keluar dari persembunyiannya usai keadaan hening. Menghentikan sontak langkah Dazh dan Birawa yang akan berbelok ke suatu arah.


Dazh membalik tubuh lalu tersentak. “You!”


“We meet again, Dazh. You're getting handsome.” Samudra menyapa dengan seringai, sok-sok'an memuji.


Sepasang mata Dazh menajam lebar. Gigi atas dan bawah bergemeletuk saling beradu. Bukan ia tak suka dipuji tampan, tapi lihat dulu, siapa yang memuji. Orang sialan itu bukan Marion Jolla.


Birawa di sampingnya sudah bersiap dengan kepalan.


David masih ngupil santai di belakang Samudra, sesekali menyentil hasilnya ke udara.


“Beat him!” Dazh mendorong Birawa untuk bergerak.


Birawa mengangguk, kemudian langsung menerjang tanpa babibu.


“KYAAA!”


David melanting maju, menyongsong serangan Birawa yang sepertinya tak bisa disepelekan.


BAG! BIG! BUG!


Samudra menoleh David yang sudah sibuk dengan tugasnya, lalu menatap Dazh. Pria berambut pirang itu pun sama. Mata elang tajam ingin memangsa.


Samudra sudah siap, dan ....


BAG! BIG! BUG!


Beradu pukulan cepat dengan Dazh, itu terlihat seru.


Barang-barang di sekitaran berhambur jatuh karena terdorong. Pertempuran kecil mereka mungkin akan cukup memakan waktu.


Di lain posisi.


Mada yang bergerak sendiri masih melangkah celingukan kiri dan kanan. Tak disangka, bangunan tua yang dipijakinya ini cukup luas untuk ukuran penggesekan kayu.


“SAM! DEPE!” Si tolol itu malah berteriak-teriak.


Dan kebetulan ada yang menyambut.


“KYAAAKK!”


Mada menoleh sontak dan terkejut.


Sial! Mungkin punya dendam pribadi, pria pembawa badik yang tadi muncul lagi. Tapi badiknya tinggal sepotong, sisanya entah kemana.


Kali ini mau tak mau Mada maju membalas serang.

__ADS_1


BUG!


Satu tendangan kaki Mada berhasil menggagalkan serangan pria itu. Terdorong membentur dinding lalu mengaduh.


Herannya, badik sialan itu tak lepas juga dari tangannya.


JEDAG!


Tendangan berikutnya dari Mada dan kaki yang sama, orang itu berteriak kesakitan. Memegangi rahang yang mungkin tulangnya sudah bergeser.


“Rasain lu!" Mada mengolok dengan tangan masih mengepal.


DAG!


Tendangan berikutnya ia hantamkan lagi. Menyusul seribu pukulan lain tak kalah keras. “Mampus lu! Mampus lu!”


Ia bangkit setelah puas memukuli. “Sok-sok'an mau lawan gua sih!”


Memoles hidungnya singkat dan bangga, lalu melanting pergi.


Lawannya sudah terkapar.


Langkah ke sekian, membawa Mada pada sebuah tangga yang gelap dan menukik. Dia mengernyit menatap ke bawah, lalu menoleh kiri dan kanan. “Ruangan apa tu yak?” tanyanya--pada diri sendiri. Dia bergidik ngeri saat angin dingin memoles tipis tengkuknya. “Kok serem?”


Tak pelak, rasa penasaran jauh lebih besar dari ketakutannya. Dia sudah berlatih beladiri keras di Hutan Krivinskiy Rusia, bersama Samudra dan beberapa rekan. Banyak binatang buas yang kadang menakuti tapi gak bikin mati, masa ruangan sepi doang takut?


Langkah demi langkah turun disusun pria asli Depok tersebut. Semakin ke bawah bau apek makin menyengat, mengacau hidungnya yang biasa mencium aroma rawon buatan Ncing Ider yang sering mangkal di jalan depan.


“Njirr. Bengek." Mulutnya terus nyeloteh.


Akhirnya sisa anak tangga terakhir.


Ternyata tak segelap yang Mada bayangkan. Ada sebuah lampu berdaya [mungkin] lima watt, tergantung meliliti sebatang balok yang melintang di langit-langit.


Tak ada apa pun sedapat mata Mada memandang. Tapi dia membelalak di menit kemudian.


“NEST!” teriaknya.


Di satu sisi ruang, Ernest dalam keadaan mengenaskan. Kedua tangannya diikat tergantung tinggi dengan tubuh setengah berdiri. Kepalanya tunduk terkulai. Wajah manis babyface-nya lebam membiru bercucur darah yang mulai kering. Rambutnya habis diracik hingga tak bermode.


Mada mencelat cepat ke hadapannya.


“Nest! Bangun, Nest!” Pipi Ernest ditepuk-tepuknya. Dadanya bergemuruh cemas bukan kepalang.


Gegas tali yang melilit keras tangan Ernest dilepas Mada. Walau cukup kesulitan, tapi berhasil juga. Ernest langsung ambruk dan Mada menahan sebisa mungkin.


Kini pemuda itu dibaringkan Mada di lantai kotor. Dada, lubang hidung, denyut nadi, semua Mada pastikan keadaannya. Dan ....


“Tuhan ....”

__ADS_1


__ADS_2