
“Mia, tangan kamu!” Glorien membekap mulutnya setelah menyadari ada yang berbeda dari Miana.
Mia menyentak pandang pada Glorien, lalu menoleh kiri tangannya. Lengan panjang baju yang dia pakai, satu tak berisi.
Samudra menarik Miana--menggandeng bahu gadis itu dengan posesif. “Kita balik ke kamar Koko,” ajaknya seraya menatap tajam pada Glorien.
Miana setuju dengan anggukan. “Iya, Koh.”
Dua kakak beradik itu melangkah jauh, melewati dan meninggalkan Glorien dengan segudang pertanyaan di kepalanya yang tak terjawab.
Namun di langkah ke sekian, Samudra menghentikan. Kepalanya berotasi ke arah Glorien.
“Seseorang akan membayar semua, lebih dari harga sebelah tangan Mia!” tukasnya seakan memperingatkan. Lalu berbalik dan meneruskan langkah.
Glorien tercenung diam. Perasaannya semakin tak enak saja.
Albian yang sedari tadi dalam lindungan kedua tangannya mendongak. “Onty kenapa?”
Pertanyaan si kecil ditanggapi dengan senyum terpaksa. “Onty gak apa-apa, Sayang.” Seraya mengusap kepalanya. “Kita ke mama kamu yuk.”
Samudra dan Mia setelah sampai di kamar hotel.
“Koko jangan paksa Mia lagi buat pake tangan palsu itu. Kayak gini pun Mia masih bisa lakuin banyak hal kok,” tutur Mia memahami ekspresi Samudra yang sangat dihafalnya.
Sejujurnya iya, Samudra cukup kecewa, Mia menolak dibelikan tangan palsu. Padahal seorang profesor Amerika kenalannya, siap membuatkan tangan canggih yang bisa sinkron dengan otak si pengguna, agar bisa bergerak sesuai kemauan. Sayangnya Mia selalu bersikukuh dengan pilihannya.
Bersyukur dan melanjutkan hidup sesuai yang Tuhan berikan tanpa harus membuang banyak waktu dan biaya, itu pilihan Mia. Ia tak ingin menjadi beban siapa pun.
Dia gadis yang manis. Kekurangan satu bagian tubuh tak akan membuatnya hina.
Samudra kembali memeluknya. “Koko bangga sama Mia.”
Kata itu ia ucapkan tulus dari hatinya untuk Miana, tapi tidak untuk orang yang menjadi akar pemicu kekurangannya.
Selain polisi yang menembak sudah dia patahkan ruas tulang kakinya hingga bengkok, seseorang lain yang jadi inti penyebab segala sakit yang dia dan keluarganya alami, akan menerima lebih dari itu.
Samudra bersumpah.
__ADS_1
...*****...
Mendadak semua investor marah. Rohan Pascal kalang kabut.
Pak Jo banting sana sini menerima perintah, tapi tak satu pun dapat diselesaikannya. Lola bahkan turut pusing hingga kepalanya ingin meledak. Semua pekerja mulai bingung dengan apa yang mereka kerjakan. Cemas gaji mereka tak akan dibayarkan.
Glorien ikut sibuk. Mencari investor lain sana sini untuk memulihkan. Dia tidak ingin Pascal remuk. Hanya mendapat setidaknya tiga orang untuk bergabung. Itu pun belum mampu menutupi keterpurukan.
Terhitung satu bulan sejak saham anjlok, sekarang semua benar-benar kacau. Tidak ada dividen yang dijanjikan untuk para investor yang bergabung di perusahaannya.
Mereka sekarang mengancam tarik semua saham yang mereka tanam. Rohan terpaksa mengabulkan karena mereka mulai memaksa dengan cara kasar. Beberapa aset dijual untuk menutupi. Pascal terancam bangkrut.
“Tuan. Seseorang menghubungi saya. Dia bilang dia bisa membantu kesulitan kita.” Pak Jo datang terburu dari arah luar.
Rohan yang diam dengan pandangan kosong seketika berekspresi. “Siapa dia?”
Pak Jo terdiam sesaat, lalu melontarkan di tiga detik berikutnya. “Dia bilang. Dia asistennya ... Samewise Will, Tuan.”
Seketika mata Rohan melebar. “Apa dia tidak berbohong atau mengaku-ngaku?”
“Sepertinya tidak, Tuan. Dia bilang akan meluncur langsung ke tempat ini jika Tuan menyetujui bantuannya. Sekarang juga!”
Rohan tersenyum samar dalam kelegaan. “Sanggupi. Tentukan waktu dan tempat juga jamuan yang pantas. Kita akan menyambutnya.” Dia tahu Samewise Will bukan pengusaha kacangan. Akan sangat mungkin jika dana yang nanti dikucurkan juga fantastis. Minimal sepuluh persen dari dana Pascal secara utuh. Dengan begitu Pascal bisa pulih kembali dalam waktu dekat---harapan yang muluk.
Saat yang sama sebelum Pak Jo keluar, Lola juga datang. “Permisi, Pak Bos, Pak Jo.” Dia mengangguk sopan sembari berjalan masuk, karena pintu yang tak tertutup langsung diserobotnya.
Pak Jo membalas dengan anggukan sekilas saja.
“Kabar apa yang kamu bawa?” tanya Rohan kembali dingin.
Lola mendekat berdampingan dengan Pak Jo yang berdiri di hadapan Rohan. “Mario Ramses siap menanam saham di perusahaan ini.”
“Apa katamu?" Rohan memperlihatkan ketertarikan.
“Betul, Pak Bos.”
“Berapa dana yang siap dia inves-kan?” tanya Rohan lagi tanpa babibu.
Lola garuk-garuk tengkuk seraya tersenyum kikuk. “Soal itu nanti Pak Bos tanya dia langsung saja dalam pertemuan. Saya nggak tau. Hehehe.”
__ADS_1
Tingkah konyol Lola seperti biasa akan membuat Rohan pijat kepala. Jika bukan dia sahabat Glorien juga cara kerjanya yang terkesan unik namun selalu punya hasil baik, sudah pasti ditendangnya gadis itu ke Antartika.
Pak Jo mesem-mesem sendiri menyikapi Lola, namun langsung serius dan menegakkan tubuh ketika Rohan menolehnya penuh intimidasi.
“Jadi gimana, Pak Bos? Kapan Mario bisa ketemu Pak Bos? Karena kebetulan, dia lagi di Jakarta sekarang.” Informasi Lola lagi.
Rohan menatap gadis itu dengan sirat berpikir. Dihempasnya badan bersandar kursi barang sejenak.
Lola masih menunggu.
Detik berikutnya.
“Jo! Satukan pertemuan semua investor baru yang siap bergabung, termasuk Samewise Will, juga ....” Rohan menatap Lola. “Mario Ramses,” tambahnya. “Kita akan rapatkan secepat mungkin. Jangan lewat dari siang ini. Dan jangan lupa, bawa Glorien, suruh dia berdandan lebih rapi lagi.”
Perintah terakhir membuat Lola dan Pak Jo saling beradu pandang melalui ekor mata. Mereka paham tentu saja, namun lebih memilih bersikap masa bodo dan berlalu cepat, dari pada mendapat teguran yang membuat keduanya panas telinga.
Mereka mulai sibuk setelahnya.
Rohan termenung seorang diri setelah kedua orang itu pergi dari ruangan.
“Samewise atau Mario, aku tidak peduli mana dari kedua pria itu, Glorien harus bisa bersama salah satunya. Bisnisku akan kembali berkembang jika sedikit saja putriku mau berkorban. Andai Samewise Will sulit ditaklukkan, maka Mario bukan opsi buruk yang tersisa.” Rohan menyeringai. Meyakini apa yang dia rencanakan akan berjalan spektakuler. Mengingat Glorien lumayan diminati banyak rekan pengusahanya, maka dia cukup percaya diri dengan itu.
Telepon genggam diambilnya di atas meja. Deretan angka dengan foto kontak begitu cantik, dihubunginya.
“Glo. Bisa ke kantor Papa?”
“....”
“Ada yang mau Papa bicarakan, ini penting.”
Setelah mendapat setuju dari putrinya, beralih ia menelepon Pak Jo untuk tak jadi menghubungi Glorien karena ia yang ambil alih peran itu lebih dulu.
Selang waktu hingga Glorien tiba di ruangannya.
“Ada apa, Pa?” tanya Glorien.
Rohan bangun dari kursi kerjanya dan berpindah duduk di sofa, menggandeng serta Glorien untuk ia ajak berbicara sekian hal di sana.
“Glo ... kita akan adakan rapat dengan para calon investor siang ini. Papa minta, kamu sedikit memberi muka pada seseorang yang kemungkinan besar akan bisa menyelamatkan perusahaan Papa ke depannya.”
__ADS_1
Glorien mengerut kening. “Maksud Papa?”
“Dia ... Samewise Will, akan datang sebagai calon pemegang saham.”