Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Balada Anak Dan Papa


__ADS_3

"Aku dan Samudra akan menikah."


Di atas kursi rodanya, Rohan tercenung diam. Pemberitahuan Glorien menyerang tak kasat mata ke bagian ulu hatinya.


"Apakah sebuta itu kamu sampai seperti ini, Glo?" Rohan merasa terkhianati. "Dia sudah merusak banyak bagian dari keluarga kita." Membayangkan wajah Samudra saja sudah membuatnya seperti mendadak terserang sindrom.


Menyikapi dengan senyuman kecut, Glorien sedikit merasa lucu. "Papa salah," katanya menyanggah kalimat Rohan. "Justru Papa sendiri yang udah menciptakan kekacauan ini di keluarga kita."


Rohan melengak menatap anak perempuannya dengan tatapan skeptis. Sampai sekian detik belum ada kata yang dia lontarkan.


Melihat kediaman itu, Glorien meneruskan, "Maafin aku, Pa. Aku sadar memang aku yang mulai dengan kecerobohan aku, tapi walo sesalah apa pun aku dan Samudra waktu itu, Papa gak berhak menghakimi kami terlalu jauh, bahkan sampai memisahkan aku dan anak aku. Apa salahnya dulu Papa restui kami? Samudra nggak sebodoh yang Papa pikir. Papa tau sendiri 'kan gimana hebatnya dia sekarang?!"


Hati Rohan tercubit.


Yang Glorien katakan tentang Samudra barusan, benar, dia mengakui itu. Bukan hanya hebat secara pribadi, Samudra bahkan melahap habis semua yang dia punya, termasuk Glorien sendiri.


"Aku semenderita itu, Pa. Apa Papa sadar? Dan Samudra adalah kebahagiaan aku."


Kembali Glorien menamparnya.


Dalam geming, terdalam dari lubuk hatinya, muncul pergolakan. Otak kecilnya berusaha mencerna setiap bait kalimat yang dilontarkan sang putri dari awal sampai akhir, memastikan ada di bagian mana kesalahannya sebagai seorang ayah dengan segala aturan ketat yang dia buat. Yang dalam pemikirannya, itu jelas dia lakukan untuk kebaikan Glorien sendiri dan masa depannya. Samudra bukan pilihan tepat. Saat itu mereka hanya khilaf, dan kekhilafan itu harus diluruskan dengan membuat Glorien kembali menjadi apa yang telah dia bentuk sebelumnya.


Ternyata hatinya belum melentur.

__ADS_1


"Papa hanya ingin yang terbaik buat kamu, Glo. Papa sangat sayang kamu. Tidakkah kamu sadar tentang itu, Glo? Tentang betapa besar cinta Papa sama kamu?!" Dia mendongak meluruskan tatapan bersungguh-sungguh ke wajah Glorien yang masih berdiri, mengharap anak itu mengerti.


Glorien mungkin sedang diserang secara nurani oleh kalimat Rohan yang mengatasnamakan kata 'cinta' sebagai jurus. Tapi akal sehat Glorien sedikit menepis itu, tidak ingin gampang termakan seperti beberapa waktu lalu yang mengakibatkan dia hampir kehilangan Samudra---lagi.


Dia tahu, sebagian mungkin benar, Rohan adalah papa kandungnya, jelas ada sayang yang mungkin memang tidak terukur, tapi ....


''Tapi cinta Papa sama aku gak ada dalam konteks ayah dan anak seperti seharusnya. Papa gak tulus. Terlalu banyak syarat yang papa haruskan untuk aku sebagai anak. Papa menuntut aku menjadi superior dalam konteks Papa sendiri. Papa gak peduli gimana tersiksanya aku menjalani hari-hari dengan semua aturan Papa yang sebenernya sama sekali aku gak suka." Air mata Glorien berjatuhan. Ada emosi menyeruak dalam setiap kata yang dia lontar.


Jangan tanya bagaimana Rohan, sepasang matanya melotot mengekspresikan ketidakpercayaan. Jantungnya berderu cepat. Ternyata ini bukan hanya tentang Samudra, Glorien sedang membeberkan isi hati yang lama dia penjarakan. Keluhan sebagai seorang anak.


Dan semakin tak terkendali ketika Glorien melanjutkan kalimatnya,


"Dari semenjak Mama meninggal bahkan sampai saat ini, Papa masih menganggap aku robot yang harus terus Papa kendalikan. Papa gak biarin dan kasih aku kesempatan buat aku lakuin apa yang aku suka. Papa gak pernah peduli sama perasaan aku. Sampai di saat kesalahan itu datang, kesalahan yang membawa dan membuat aku bahagia karena memiliki Samudra, Papa juga menghancurkannya!" Semakin menderas air matanya. Tak bisa dia menahan betapa sesak perasaannya saat ini.


Susah payah saliva ditelan agar melewati kerongkongan yang tercekat, Glorien melanjutkan lagi, "Anak aku ... anak yang aku kandung sembilan bulan lamanya, anak yang aku nantikan kehadirannya, anak yang namanya sudah aku siapkan dengan bahagia ... Papa bahkan menghilangkannya dari pandangan aku setelah dia terlahir." Telapak tangannya naik untuk membekap mulut, menahan sakit luar biasa di palung sana. Ada banyak tikaman tak kasat mata yang terus menerus memberi luka.


Dalam posisi skakmat, tidak kata yang bisa dilontarkan Rohan sebagai penyangkal. Sebutir air mata menggelinding melewati pipi yang masih tirus. Perasaannya, dia bahkan tak tahu seperti apa rupanya sekarang. Semua yang dipaparkan Glorien, Rohan baru mengetahuinya. Dari kecil, anak perempuan manis itu tak pernah mengeluh apalagi mengatakan kalau dia tak suka. Tapi sekarang ....


Dalam keadaan itu, suara pintu berderak lalu terdorong pelan dari luar. Pandangan Rohan dan Glorien bergerak senada. Sesosok manusia kecil menyembul seperti kelinci. Nampak ragu terlihat dari mata polosnya yang sangat bening.


"Ghala," desis Glorien, terkejut dengan kedatangan anaknya ke ruangan yang kini dia pijak. Pasalnya, saat ini yang dia tahu Sagara sedang berada di sekolah bersama Miana.


"Ma." Langkah kaki Sagara terayun mendekat ke arah ibunya. "Ghala denger suara Mama nangis, jadi Ghala masuk." Anak itu menjelaskan.

__ADS_1


Sebelum membalas kata, Glorien menyeka lebih dulu air matanya untuk menunjukkan jika dirinya baik-baik saja. Setelah itu merendahkan tubuh untuk memeluk sang putra yang kini berada tepat di hadapannya. "Mama gak apa-apa, Sayang," kilahnya seraya mengelus-elus rambut Sagara. "Ghala ke sini sama siapa?"


"Sama Papa."


Glorien tersentak lalu cepat menoleh Rohan. Ternyata raut papanya masih sama, tak bisa ditebak. Tapi terselip ketakutan dalam hatinya, takut Rohan akan melontarkan kalimat menyakitkan pada putranya.


"Kata Papa hari ini kita mau liat baju pengantin, tapi jemput Mama dulu ke sini."


Mendengar itu, Glorien mendapat angin segar. "Oh iya! Mama lupa, Sayang. Untung Ghala sama Papa ke sini,'' ujarnya. "Kalo gitu ayo berangkat!" Dia berdiri, kemudian menarik tangan Sagara untuk dituntunnya pergi dari sana dengan segera. Aura Rohan akan sangat mengintimisi kepolosan bocah kecil itu.


Tapi Rohan menginterupsi, "Glo!"


Sontak terhenti langkah kaki Glorien yang hampir mencapai ambang pintu, lalu menoleh ke belakang. "Ada apa, Pa?" Digenggamnya erat tangan Sagara, mencetuskan diri bahwa setajam apa pun serangan Rohan, Sagara tetap berada dalam perlindungannya.


Sekian detik Rohan terdiam. Tapi pandangannya tak lepas dari wajah Sagara. Genangan liur di dalam mulut ditelan susah-susah hanya demi bisa melontarkan tanya, "Apakah anak laki-laki ini--"


"Iya!" Glorien memotong cepat. "Dia Sagara, anak aku ... cucu Papa. Itu pun kalau Papa berkenan menganggapnya sebagai cucu."


Bergemuruh seisi jiwa Rohan. Tenggorokannya kembali tercekat dan terasa berat.


"Satu lagi, Pa," kata Glorien di sela itu.


Rohan menatapnya dan menunggu.

__ADS_1


"Dengan atau tanpa restu Papa, aku dan Samudra ... akan tetap menikah."


__ADS_2