Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Frustrasi


__ADS_3

Halaman sebuah pusat perbelanjaan baru saja ditinggalkan mobil Samudra.


“Gimana, Gala seneng?” Samudra bertanya pada putranya yang terduduk ceria di jok sebelah. Sekotak es krim sibuk dilahap anak itu menggunakan sendok.


“Iya, Pa. Gala seneng. Papa beliin Gala macem-macem sih. Apalagi robot optimus ini." Dia menunjuk mainan yang tergolek di sampingnya. “Keren banget, Pa.”


Wajah sumringah anak itu malah disikapi Samudra dengan senyuman getir. Sekotak es krim dan sebuah mainan robot saja sudah membuatnya sebahagia itu.


Sekeras dan sesulit apa sebenarnya yang Sagara dan Mbok Rum lalui hanya berdua di waktu lalu?


Waktu kecil, Samudra bahkan merasa cukup, semua mainan dan makanan yang dia suka, Darius pasti membelikannya. Tapi Sagara ....


“Syukur kalo Gala suka.” Lantas diasaknya rambut anak itu. Dia bertekad dalam hati, apa pun yang Sagara inginkan, akan diberikannya. Sebanyak waktu yang hilang di antara mereka, Samudra akan menggantinya, sampai napasnya tak lagi terdengar dan berkesiur.


Mengingat apa yang terjadi pada putranya, pandangan Samudra berubah kelam. Ponsel di dalam saku jas dirogoh lalu diotak-atiknya. Dia menelepon seseorang.


“Buat drop semua saham pascal. Kita akan ambil alih secara menyeluruh.”


Sagara menoleh papanya dengan tatapan aneh. Sendok es krim masih berada di antara gigitan pasang giginya. Siapa Pascal, dia merasa pernah mendengarnya dari Mbok Rum. Tapi kemudian anak itu menggedik bahu--tak peduli dan melanjutkan kembali kesibukannya.


“....”


“Usahakan lebih rapi. Bagi tugas, jangan sampai ada bagian yang kosong.”


“....”


“Iya! ... Dan inget ... jangan sampe antek dari Laura ada yang tahu. Kalo bisa bikin cecurut-cecurutnya mati keracunan.”


Sagara melengak lagi. “Siapa yang pelihara curut, Pa? Kok Papa suruh racunin?” tanyanya dengan wajah polos khas anak-anak.


Pertanyaan anaknya membuat Samudra tersentak lalu merenyih bingung. Ponsel diangkatnya sejenak dari telinga, lalu menjawab pertanyaan Sagara sesimpel mungkin, “Pokoknya dia orang jahat. Gala lanjutin mam es krimnya ya.”

__ADS_1


Anak kecil itu mengangguk paham, “Iya, Pa.”


Samudra menoleh Anton di depan kursi kemudi. Supirnya itu nampak terkekeh geleng-geleng menanggapi dia dan putra kecilnya. “Fokus jalanan, Ton.”


Yang diminta segera patuh, “Siap, Bos.” Tapi tak pudar kekehan di wajahnya yang berkeringat. Dalam hati Anton mungkin berkata, “Len kali jan bacot aneh-aneh depan bocah, Bos!”


Melupakan tema Sagara, Samudra kembali fokus pada ponsel yang sejenak ia campakan. “Gimana, Nest?”


“....”


Dia mendengarkan dengan seksama tutur panjang lawan bicara di line telepon. Sekali tangannya mengusap bibir belepotan Sagara terhubung sisa lelehan es krim.


“Ide bagus. Biar David lagi yang turun tangan soal itu. Pokoknya buat semaksimal mungkin. Gua yakin ini bukan perkara sulit buat lu 'kan, Nest?”


“....”


“Bagus! Gua tunggu kabar baeknya.”


Panggilan terputus. Ponsel dicengkramnya dalam genggaman.


Anak itu merespon dengan anggukan, lalu mulai menumbangkan tubuh, tertidur di lahunan Samudra tanpa mengatakan apa-apa lagi. Samudra mengelus kepala anaknya hingga Sagara benar-benar terlelap.


“Selain Papa, sebentar lagi kamu akan ketemu mamamu, Nak. Kita kumpul lagi nanti. Papa janji, abis semua urusan Papa selesai, kamu, Papa dan Mama, kita berlibur ke Manarola, sesuai impian mama kamu, waktu kamu masih di perutnya dulu.”


...*****...


Ernest dan team-nya bekerja cepat.


Kalang kabut dunia Rohan Pascal dibuat mereka.


Semua investor baik yang baru maupun lama, menarik diri. Tak terkecuali Mario Ramses. Pria itu juga ikut mencabut saham yang ditanam karena alasan 'percuma'. Glorien yang dikejarnya tak pernah merespon lebih banyak, selain senyuman hambar yang terkesan dipaksakan. Sekarang jika harus bertahan dalam tema bisnis pun, apa yang akan diharapkan dari perusahaan yang hampir rata. Sama saja bunuh diri di atas tumpukan uang.

__ADS_1


Rohan frustrasi. Tak ada lagi Pak Jo yang sigap pergi sana-sini untuk membantunya mengatasi banyak hal. Kekuatan Lola dan para karyawannya tak bisa dibawa debat. Pascal di ambang kematian.


Semrawut keadaannya. Wajah pucat dengan kantung hitam di bawah mata semakin memperburuk keadaan. Dia terduduk rapuh di depan laptop yang seolah kering. Angka-angka di layar itu telah tak ada arti. Jiwanya terdampar dalam harapan yang ditumpuk terlalu luas, yang nyatanya itu adalah mulut buaya. Rohan termakan obsesinya sendiri.


Sampai sesuatu kemudian mengalihkan sejurus perhatian pria itu dari peningnya.


Seseorang menghubunginya melalui skype.


Rohan tak tahu itu siapa. Tapi ....


Dia mengharap itu adalah kabar baik. Mungkin investor yang akan membantu.


Segera saja diangkatnya tanpa berpikir ulang tiga atau empat macam lagi.


BRENG!


Tampilan wajah seseorang yang paling ia benci terpampang di layar tujuh belas inci yang sedari tadi dia tatap tanpa semangat.


“Samudra," desisnya dengan bola mata hampir meloncat.


“Hallo, Mantan Papa Mertua!”


Gigi atas dan bawah Rohan saling bergesek pertanda kegeraman langsung menyerang detik itu juga. Samudra baginya seperti sindrom yang membuat panas kepala.


“Ada apa ... Manusia Laknat?!” tanyanya dengan nada menekan.


“Hahaha!” Samudra malah tertawa. “Jangan begitu, Pak Tua. Nanti gigimu rontok semua.”


Semakin menajam pandangan Rohan menyikapi kalimat pria muda itu.


“Katakan! Apa tujuanmu menghubungiku?!” Tapi dia masih berusaha menahan diri.

__ADS_1


Samudra terlihat mengatur diri lebih tegak. Senyum di wajah perlahan dia kendurkan. Tatapannya menajam lurus menusuk Rohan seolah siap menerkam.


“Rohan Pascal ... mulai besok, tinggalkan kursi kuasa yang Anda duduki sekarang!”


__ADS_2