Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Mantan Lainnya


__ADS_3

"Kamu gak apa-apa, 'kan?" Samudra bertanya tepat ketika Glorien sampai di hadapannya. Dia menunggu di ruang tamu ditemani sehelai koran yang lima detik lalu dia letakkan lagi ke atas meja. Alasan pertanyaan itu dia lontarkan, wajah Glorien terlihat sembab karena menangis. Sudah dipastikan jelas karena Rohan.


Glorien mengangguk. "Isoke, aku gak apa-apa," jawabnya diiring senyum.


Samudra memicing mata menatap wanita itu, lalu merunduk pada putranya, "Ghala?"


Glorien ikut merunduk, meraih wajah Sagara dengan pandangan. Tangannya tergerak untuk mengelus kepala bocah kecil itu. "Dia juga baik."


Walau tak yakin, Samudra berusaha santai. "Baguslah. Kalo gitu ayo berangkat."


Ajakan itu menggiring langkah mereka keluar dari kediaman Pascal yang tidak seagung dulu.


Menyikapi ini, bukankah Samudra terlalu baik? Dia mengakuisisi dan merebut semua aset, tapi tidak dengan istana Pascal.


Sederhana saja. Samudra tak ingin Glorien kehilangan kenangan tentang bagaimana dan dimana dia bertumbuh. Setidaknya Rohan juga tak akan terlunta-lunta.


Cukup.


Sekian waktu termakan untuk sampai di sebuah butik kenamaan di ibukota.


Langkah kaki Samudra, Glorien dan Sagara tergerak senang memasuki area itu.


"Sam." Seorang wanita berpakaian formal dengan kacamata bening membingkai mata, datang menyapa dengan senyuman, terlihat ramah dan bersahaja.


"Hi, Neta," balas Samudra. "Gimana, baju kami udah siap, 'kan?" tanyanya.


Wanita itu seorang desainer busana, Aneta Prima. Samudra mengenalnya melalui seseorang sekian tahun berlalu.


"Neta!"


Teguran Samudra menyadarkan yang punya nama. Entah apa yang ada dalam isi kepala wanita designer itu, dia memandangi Glorien dengan tatapan yang entah apa maknanya. Setelah mengerjap dan kembali ke mode sadar, Neta menjawab, "Ah, iya. Sudah, sudah aku siapkan. Mari ikut aku."


Glorien menyadari dia diperhatikan tak biasa oleh wanita yang baru ditemuinya kurang dari lima menit itu, tapi dia memilih tak peduli dan mulai mengikuti kemana langkah Aneta mengarah. Samudra dan Sagara masih setia di dekatnya.


Ruangan lain yang nampak mewah, Aneta membawa mereka ke sana. Selingkar sofa ditunjuk untuk diduduki para klien-nya dengan kalimat mempersilakan yang sangat sopan.


"Sebentar, aku ambil bajunya dulu."


Mengangguki, Samudra dan Glorien tak tinggal Sagara, mengisi waktu dengan candaan-candaan kecil setelah Neta berlalu. Seperti Sagara yang mengatakan bercita-cita ingin menjadi jagoan tersembunyi yang menumpas segala bentuk kejahatan dengan caranya. Anak itu juga bilang ingin menikahi seorang putri yang cantiknya sama seperti sang ibu.


Samudra terkekeh banyak. "Kamu tu kebanyakan nonton film Marvel, Kid," ujarnya seraya mengasak gemas rambut putranya.

__ADS_1


Glorien menggeleng-geleng lucu dengan senyumnya yang selalu teduh.


Di sela itu, Aneta datang bersama seorang asisten yang membawa setumpuk pakaian di kedua tangan.


"Ini busana kalian!"


Perhatian Samudra dan dua lainnya teralihkan pada Aneta.


"Nona Glo boleh coba lebih dulu."


Glorien mengangguk kemudian berdiri.


"Ayo aku bantu," kata Neta lagi, menggandeng Glorien dan membawanya ke ruang ganti.


Anak dan ayah masih menunggu dengan mode sama-sama cool, tanpa cela.


Urusan wanita memang akan selalu memakan waktu, dan itu sedikit membuat dua pria mulai menggerutu. Samudra berdiri kemudian pergi setelah meminta Sagara untuk menunggu dan menitip pesan izin pada Glorien. Dia mengatakan kandung kemihnya sudah penuh tak lagi bisa ditahan.


Anak itu mengangguk tanpa membantah.


Letak toilet ada di kiri paling pojok melewati sebuah tangga.


Setelah itu dia keluar untuk kembali ke tempat tadi dimana Glorien dan putranya masih di sana.


Namun saat mendekati pucuk tangga, sesosok wanita yang tengah beranjak naik, mencuri perhatiannya. Samudra tertegun.


"Jesslyn."


Pun dengan wanita yang namanya baru saja didesiskan Samudra. Langkahnya yang sudah sampai di pucuk tangga, langsung membatu. "Samudra."


Pasanga mata mereka saling bertemu.


Puas menatap pemilik wajah, pandangan Samudra jatuh pada bagian perut yang membuncit. Jesslyn sedang hamil.


Merasa dirinya berlebihan memerhatikan, pria itu mengerjap membuang wajah, lalu kembali pada Jesslyn dengan mata berganti tatapan wajar. "Hi, Jess, long time no see."


Tidak sama dengan Samudra yang nampak santai, Jesslyn justru menemukan dirinya seperti tersengat listrik. Mulutnya terasa kelu bahkan untuk membalas sapaan sederhana itu.


Wajah tampan itu tak pernah berubah, tak pernah tua walaupun terhitung tahun mereka tidak dipertemukan. Wajah yang selalu dirinduinya. Tapi menyadari dirinya dalam keadaan sangat menonjol perihal kehamilannya, kerinduan itu seketika terbungkus malu.


"Permisi!"

__ADS_1


Samudra terkejut. Jesslyn langsung pergi begitu saja tanpa balasan kalimat seperti yang dia bayangkan keramahannya sedari dulu.


Langsung dia menyapu diri. Apa yang salah dengan dirinya? -----Tidak ada.


Lalu apa yang membuat Jesslyn sampai terbirit-birit?


Merasa tak ada urusan dengan itu, ujungnya dia menggedik bahu--tak peduli. Menyelipkan satu telapak tangan ke dalam saku celana, lalu kembali meneruskan langkah.


Time skip.


 Sagara dibawa Glorien menginap di rumah Lola, selepas dari butik dua hari lalu. Ada banyak hal yang kata Glorien akan didiskusikan bersama sahabatnya itu perihal konsep pernikahan, sekaligus untuk acara temu rindu dan shoping bareng. Sedang Samudra memilih pulang ke rumah bengkel. Dan hari ini, dia akan menjemput Glorien juga putranya untuk dibawa ke Bandung menemui Darius.


Tapi belum sampai mobil Samudra di tempat yang dia tuju, seseorang membuatnya berubah pikiran melalui sebuah panggilan telepon. Keraguan sempat menyergap, tapi ditepisnya dalam sekejap. Ponsel dirogohnya dari dalam jas yang dikenakan. Dia menghubungi Glorien dan mengatakan sedikit terlambat datang ke rumah Lola. Mobil diputar balik namun mengambi jalur berbeda.


Sampai dalam hitungan dua puluh menit, Samudra turun dari dalam mobil lalu mendongak ke ketinggian. Sebuah apartemen menjulang di hadapannya.


Ponsel berdering singkat, sebuah pesan pendek dibaca Samudra sekilas, lalu berjalan cepat memasuki bangunan itu.


Sehelai daun pintu ditatapnya sekian detik sebelum akhirnya menekan bel untuk memanggil yang punya petak.


Tak lama pintu terbuka.


"Kamu datang?" Tak lain adalah Jesslyn, mata pucatnya nampak berbinar.


"Hmm," jawab singkat Samudra lalu masuk setelah Jesslyn mempersilakan melalui gestur telapak tangan.


Sofa berwarna putih diduduki Samudra kemudian.


Dalam dua menit, Jesslyn muncul dengan segelas minuman dingin berwarna oranye, lalu meletakannya di hadapan Samudra. "Maaf, cuma ada itu," katanya seraya mengambil tempat di samping Samudra.


"Gak apa-apa," balas singkat Samudra. "Jadi, ada apa kamu minta aku ke sini?" Bertanya langsung pada intinya.


Jesslyn tersenyum sumbang. Sedikit takjub dengan sikap Samudra. "Kamu berubah menjadi orang yang gak suka basa-basi."


Samudra tersenyum, tapi tak mengatakan apa pun.


Itu sedikit mengganggu Jesslyn. Wajah diangkatnya untuk meraih wajah Samudra secara intens.


Samudra balik menatap--lebih kepada menunggu, apa yang akan disampaikan mantan kekasihnya itu.


Cukup lumayan detik termakan hanya untuk saling menatap. Sampai kemudian suara lembut Jesslyn terdengar. Mengatakan, "Aku cuma rindu."

__ADS_1


__ADS_2