
Rumah itu adalah rumah yang dibeli Samudra untuk Lussi enam tahun lalu. Sekarang dia mengisinya sekedar untuk singgah selama berada di Jakarta.
Dia baru saja pulang menghabiskan malam bersama Jesslyn di sebuah acara pesta seorang artis rekan kerja wanita itu.
Sekarang, pintu kamar yang mana ada Glorien di dalamnya, ia dorong perlahan. Jas yang dia tenteng dilemparnya ke atas sofa di pojok ruangan.
Lampu di langit-langit telah mati. Hanya sebias cahaya dari arah balkon luar yang sedikit memberi terang untuk bisa menangkap bayangan Glorien yang tengah meringkuk.
Wanita itu mungkin kelelahan, setelah berulang dengan emosi menghadapi anak buah Samudra yang berjaga. Glorien memaksa ingin pulang. Sayangnya ia tak mampu walau untuk sekedar menyentuh pintu.
Samudra berdiri di sampingnya. Menatap dengan sirat yang entah apa artinya. Pelan-pelan dia menurunkan tubuh, duduk diam, kemudian menaikkan kaki yang masih beralas kaos kaki putih. Perlahan dan hati-hati dia merebah. Satu tangannya merayap ke pinggang Glorien yang membelakangi. Dirapatkannya tubuh, lalu dipeluknya wanita itu dengan mata dipejamkan menikmati aroma bunga yang menyeruak ke penciuman.
Sebuah perasaan hangat kemudian mengalir ke dalam satu kubangan besar dalam hati Samudra. Sekarang dia sadar, perasaannya terhadap Glorien, belum juga bisa disederhanakan.
Glorien sadar dengan pelukan itu. Dia tak tidur. Sama halnya Samudra, hatinya pun turut bergolak seperti lahar yang justru membuatnya tak ingin berontak dan menikmati pelukan itu. Pelukan yang sama saat mereka di rumah sawah dulu. Pelukan yang dirindukannya.
Setitik air mata kemudian jatuh menggelinding melewati hidungnya yang lancip, lalu tercampak menembus bantal di bawah pipi yang menekan. Glorien benci Samudra karena kebohongan juga perlakuannya, tapi dia juga tak memungkir, betapa dia merindukan pria itu.
Untuk sekarang, biarlah keduanya berperan sama-sama tak tahu malu.
Namun naas, belum sampai lelap, melodi rindu itu sudah terganggu.
Bunyi berdebam menguasai telinga pasangan itu dalam hitungan detik setelah mata terkatup. Keduanya sama-sama terkejut lalu bangun bersamaan pula.
Suara ledakan terdengar nyata dan cukup besar.
Sesaat keduanya saling tatap, lalu menghambur seperti orang tolol yang dikerubung percikan api.
“TUAN! TUAN!”
Ketukan keras di pintu mengejutkan Samudra yang kebetulan hampir mencapai pintu. Ketika dibuka, wajah seorang anak buahnya nampak seperti dikejar monster.
“Ada apa?! Suara apa itu tadi?!” berondong cemas Samudra.
“Kita harus keluar dari rumah ini segera! Seseorang melempar bom asap beracun, Tuan! Lantai bawah sudah penuh dengan asap!” Sekali tarikan napas, anak buahnya memberitahu.
Samudra membelalak terkejut. “Bom asap beracun?!”
“Iya, Tuan. Kita harus segera keluar!”
Glorien yang berdiri di belakang Samudra dengan tampang cemas, terkejut lagi, Samudra tiba-tiba menarik tangannya dengan kasar. “Kita harus keluar dari rumah ini!”
“Ada apa sebenarnya, Samudra?!”
Pertanyaan Glorien tak diindahkan.
Sekarang Samudra menariknya menuruni tangga dengan langkah-langkah lebar.
“Tutup hidung dan mulut kamu, Glo!” pinta keras Samudra. Asap mengepul di ruangan yang saat ini mereka lewati. Satu anak buahnya yang tadi terus memandu menuju halaman.
__ADS_1
Terlihat setidaknya dua orang anak buah Samudra sudah terkapar di atas lantai.
Mereka mungkin tengah tertidur saat bom asap itu dilemparkan.
Mobil di halaman yang dituju.
Namun ....
DUAAARRRR!!
Mobil itu meledak seketika, mengeluarkan api yang mengamuk menyambar-nyambar ke sekitaran.
Glorien, Samudra dan seorang anak buahnya itu spontan mundur kembali untuk menghindari terjangan api di dalam mobil.
“Glo, kamu gak apa-apa?!” Samudra bertanya pada Glorien yang baru saja berteriak karena terkejut setengah mati.
Wanita itu menggeleng kaku, wajahnya nampak pucat. Tubuhnya bahkan gemetaran.
Samudra menyadari itu, langsung mengangkatnya dalam gendongan. “Kita harus segera pergi!”
Glorien tak ada waktu untuk terkejut lagi. Ia merekatkan lingkaran tangannya di leher Samudra karena takut.
“Lewat sini, Tuan!" Anak buahnya menunjuk arah.
Di luar keadaan sudah ricuh dipenuhi warga sekitar yang berdatangan.
“Cepat tolong mereka!” Terdengar seorang warga berwarna suara nenek-nenek berteriak, sesaat setelah melihat Samudra keluar dari halaman dalam keadaan memangku seorang wanita.
Samudra mengatakan dirinya baik-baik saja, namun meminta aparat yang baru saja tiba, cepat menangani rumah itu karena masih ada orang di dalam sana.
“Sebelum ambulan datang, sebaiknya kalian ke rumah saya dulu!” Seorang ibu menawarkan.
Samudra mengangguk. Glorien yang sempat diturunkannya ia pangku kembali. Hatinya luar biasa cemas. Glorien terus terbatuk. Asap racun itu pasti sudah menyebar dalam paru-paru dan tubuhnya.
“Kamu urus semuanya!” perintah Samudra pada satu bawahannya yang tersisa itu.
Yang lalu diangguki tanpa bantahan. “Baik, Tuan.”
Rumah ibu-ibu tadi hanya berjarak tiga puluh meter dari rumah Samudra. Ia menolak bantuan para bapak untuk membopong Glorien yang lemah. Hatinya tak ingin siapa pun menyentuh wanita itu apalagi memeluknya.
Sudah sampai.
Glorien direbahkan di atas sofa setelah diberi seteguk air. Samudra kemudian mengambil peran kembali memeluknya possesif, memberi penenangan. Ia tak lagi mengedepankan egoisnya. Sesuatu mendorong dirinya untuk jujur. Dia benar-benar tak ingin kehilangan.
“Tenang, Glo. Semua udah baik-baik aja.”
Namun respon Glo atas perlakuannya, tak seperti yang dibayangkan.
Masih bersandar di dada Samudra, wajah Glorien terdongak menatap pria itu. Matanya kembali berkaca-kaca.
__ADS_1
Samudra menyikapi dengan terheran. “Glo--”
“Bukannya kamu dendam sama aku, Sam? Bukannya kamu benci aku? Kenapa kamu gak biarin aku mati di rumah itu!”
*
*
Di waktu hampir menjejak pagi.
Glorien sudah berada di rumah sakit. Ia langsung mendapat penanganan di ruang IGD.
Samudra tak peduli tentang ocehan Glorien semalam. Anggap saja ia melakukan atas dasar kemanusiaan, bukan bermain rasa secara intim.
Mada datang diikuti Ernest. Wajah mereka sama-sama khawatir.
“BOSS!”
Samudra yang duduk di atas brankar dengan masker oksigen dihidungnya menoleh spontan. “Kemana aja lu, Sialan!” tanyanya dengan nada kesal.
Mada dan Ernest sudah berdiri di sampingnya.
“Gua pan ngurusin kebon kelapa lu,” jawab Mada.
“Lu ngurusin kebonnya, apa ngabisin buahnya?!” sarkas Samudra.
“Ya sekalian!” Ernest yang menjawab dengan kikikan, disusul keprukan Mada di kepalanya.
“Moncong lu!” semprot Mada.
Ernest kembali terkekeh. “Elu gak apa-apa, Bos?" Lanjutnya bertanya pada Samudra mendahului Mada.
Samudra membeliak. “Gua ampir mati.”
Tidak ada lagi lelucon.
Tatapan serius Samudra langsung mereka pahami.
“Cari tau siapa pelaku bom asap di rumah gua semalem.”
Perintah Samudra langsung disambut Mada, “Baik, Boss!” Lagaknya dengan hormat. Samudra menanggap dengan delikan.
“David udah kroscek di lokasi, sekarang dia ada di sana. Berhubung CCTV rumah lu gak fungsi, CCTV tetangga yang dipake,” Ernest memberitahu.
“Hasilnya?” tanya Samudra.
“Dua orang pake mobil Ava, pelakunya.”
Samudra mengernyit. “Apa ada hubungannya sama Rohan?”
__ADS_1
Ernest dan Mada saling melempar pandang. “Sayangnya belum diketahui, Boss.”