Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Mengendap


__ADS_3

Glorien tak akan percaya semudah itu.


Semenjak pertemuannya dengan Samudra di kondisi pria itu sudah menjadi Samewise Will, banyak kebohongan yang ia terima. Jadi pernyataan dan pelukannya tadi, bisa jadi dia dibohongi lagi. Glorien tak ingin menjadi bodoh.


Samudra hanya menatap nanar pintu gerbang rumah Glorien yang tertutup. Dia memang mengantarnya pulang, tapi tak ada kata yang terdengar antar keduanya sepanjang perjalanan. Glorien bungkam suara dan selalu memalingkan wajah. Dan Samudra tak ingin tunduk pada egonya.


Dengan hati hampa, mobil kembali dijalankannya menuju pulang. Dia bahkan belum menceritakan bahwa hubungannya dengan Jesslyn telah berakhir.


Ahh!


 -----


Lola cemas. Glorien sakit demam sudah hampir lima hari lamanya. Tapi sahabatnya itu tak mau dibawa ke rumah sakit. Seperti sengaja memperparah diri dan ingin mati.


Hanya dokter keluarga yang didatangkan. Tapi itu tak cukup, karena tak ada alat medis lengkap yang dibawanya.


Rohan sedang dalam perjalanan ke luar negeri karena suatu urusan sejak seminggu lalu. Untuk pertama kali sepanjang sejarah mendampinginya, Pak Jo tidak dilibatkan dalam urusan pria Pascal itu kali ini. Jangankan demikian, apa isi dari urusan itu pun Pak Jo tidak diberitahu. Rohan pergi hanya bersama seorang pengawal kepercayaannya.


Soal sakitnya Glorien, Rohan hanya mengatakan melalui panggilan seluler-nya dengan Pak Jo, “Beri obat. Itu hanya demam biasa. Kalau sedikit parah, suruh Dokter Herry tinggal sampai Glo benar-benar sembuh. Jangan menggangguku dulu!”


Kedua orang itu--Lola dan Pak Jo mendesah kasar dan mulai bingung.


Dokter Herry bahkan meminta agar Glo dibawa saja ke rumah sakit, untuk penanganan lebih lanjut karena demam yang turun naik.


Lola dan Pak Jo masih memaksa Glorien agar mau dibawa ke rumah sakit. Tapi sebanyak mereka memaksa, sebanyak itu pula Glorien lagi-lagi menolak.


“Gimana ini, Pak Jo?” Lola semakin cemas.


Pak Jo tak menjawab tapi nampak sedang berpikir.


Keduanya kini berdiri berdampingan di ujung ranjang Glorien.


Glorien baru saja tertidur setelah meminum obat yang diberikan Dokter Herry.


“Kalo kayak gini aku pengen bunuh Samudra rasanya!” Lola menggeram kesal.


Pak Jo menoleh gadis itu, “Kenapa dengan Samudra? Apa hubungannya dengan Nona?”


“Cowok bren9sek itu dendam sama Glo, Pak Jo!”


“Dendam?” Pak Jo mengerut kening.

__ADS_1


“Iya!" jawab cepat Lola.


Mengenai surat yang dikirim ke penjara, juga kematian anak mereka, Samudra menyalahkan Glorien. Dan Lima hari lalu, tentang Samudra yang meminta Glorien menonton adegan lamarannya pada Jesslyn, Lola menceritakan semuanya pada Pak Jo tanpa skip.


Pria setengah baya itu terhenyak, lalu tercenung diam seraya menatap wajah pucat Glorien.


“Tuhan ... Nona bahkan tidak tahu apa pun tentang masalah enam tahun lalu itu. Sekarang dia malah menjadi pelampiasan dendam Samudra.”


Lantai di bawah kakinya ditatap Pak Jo dengan hati tak karu-karuan.


“Aku tidak bisa biarkan ini.”


“Lola, tolong jaga Nona. Saya ada urusan sebentar!”


Pak Jo berlanting pergi dari kamar Glorien. Tak didengarnya seruan Lola yang bertanya mau kemana.


Langkah kaki diayun cepat menuruni tangga.


Pak Jo mengedar pandang dengan gelisah, seperti takut akan ada orang yang melihatnya. Tepat melewati sebuah ruangan, dia terkejut dan dengan cepat memundurkan langkah. Suara-suara bising tertangkap telinganya. Kembali Pak Jo mengendap. Diintipnya melalui celah pintu yang sedikit terbuka. “Anak tak berguna itu,” gumamnya.


Martin, pria binal itu sedang asyik bermain bersama seorang wanita berpakaian setengah telanjang.


Kamar Rohan. Dia sudah berdiri di depan pintunya yang tertutup.


Perlahan dan hati-hati, pria itu memutar knop dengan wajah masih mengamati sekitaran, lalu mendorong daunnya, pintu terbuka detik itu juga.


Dia tahu Rohan tidak pernah mengunci pintu kamarnya. Karena semua berkas yang penting, ditaruh bos-nya dalam brankas di ruang kerja yang didesain bersatu dengan dinding. Hanya Rohan dan Glorien yang tahu password.


Tapi untuk berkas yang saat ini diincarnya, Pak Jo yakin Rohan menaruhnya di dalam kamar.


Diamati petak ruang itu sekeliling, namun langkahnya terhenti saat mendengar sesuatu dari dalam kamar mandi, seperti suara gemericik air, namun pelan. Pak Jo mendekat, lalu memasang pendengaran lebih tajam. Suara itu menghilang. Pria itu mengerut kening.


“Ah, sudahlah!" Dia mengibas tangan tak ingin peduli. Apa pun yang ada di kamar mandi, bukan itu tujuannya.


Kembali diayunnya langkah--tetap dengan mode hati-hati.


Ia mulai membuka laci yang ada di kamar itu satu per satu, bahkan hingga ke lemari. Dan ....


“Ini dia!” Pak Jo tertawa senang. Tak perlu ber-euforia lebih lanjut, dia menutup kembali lemari dan merapikan kotak di dalamnya. Harus sesegera mungkin pergi dari sana sebelum ada orang yang melihat.


Namun baru dua langkah kakinya terayun.

__ADS_1


“Sayang, kamu sudah pulang?”


Pak Jo melebarkan mata. Suara itu tak cukup keras untuk bisa terdengar sampai keluar kamar, tapi Pak Jo mengenali jelas milik siapa suara itu. “Nonya Margareth,” gumamnya.


“Rohan, Sayang ....”


Pak Jo berlanting keluar secepat kilat, lalu menutup pintu sehati-hati mungkin. Dia menuruni tangga dengan sebuah berkas di tangan. Mobil yang terparkir di halaman luas Pascal dimasuki lalu dilajukannya.


Di perjalanan, ia mulai bermain pikir dan geleng-geleng. Seorang Rohan Pascal ... ternyata bermain gila dengan adik iparnya sendiri. Ya, walaupun itu wajar karena suami Margareth sudah meninggal bertahun silam, tapi kenapa harus bersembunyi-sembunyi?


“Ah, terserah mereka saja!" Pak Jo menepis pikirannya yang sok ikut campur. “Aku harus segera memberikan ini pada Samudra.” Dia memutuskan. “Jika tidak, Nona Glorien akan terus jadi sasaran dendamnya. Aku tidak peduli Rohan akan memecatku suatu hari nanti atau bahkan secepatnya.”


Keputusan Yara meninggalkan Pascal adalah pilihan bagus, Pak Jo menyetujui putrinya, walaupun sampai saat ini ia belum tahu apa alasan di balik keputusan Yara itu sendiri. Semakin ke sini, Rohan semakin tak bisa diikuti lagi.


Perusahaan Will, Pak Jo menuju ke sana. Hanya tempat itu untuk saat ini yang dia tahu tentang keberadaan Samudra.


Berkas di sampingnya kembali dia tatap. “Semoga dia akan berbalik melindungi Nona jika semua berkas ini aku berikan," gumam Pak Jo. “Rohan bukan lagi tempat yang nyaman, bahkan untuk putrinya sendiri.” Dia menyayangkan dengan miris.


Paling tidak seratus meter lagi, dia akan sampai.


Namun sayang ... tak akan semudah itu.


BRAAAKK!


Sebuah mobil menyenggol mobil Pak Jo dari belakang hingga oleng, lalu membentur trotoar.


Pak Jo terkejut setengah mati. Dia keluar segera untuk melihat kondisi kendaraannya, namun lagi-lagi.


BUGGG!


“Arrghh!”


Pak Jo tersungkur.


Seseorang baru saja menendang punggungnya dari belakang, lalu berlanjut memberi beberapa pukulan di wajahnya. Pria baya itu mengerang kesakitan tanpa sempat melawan. Ternyata mereka ada dua orang. Sama-sama mengenakan jaket hitam kulit sintetis.


“Jangan ambil berkasnya!” teriak Pak Jo.


Tangannya gagal meraih. Dia ditendang kembali.


Dua orang itu pergi bersama berkas yang akan diberikannya pada Samudra.

__ADS_1


__ADS_2