
Di perjalanan, di dalam sebuah mobil yang dilajukan tak cukup cepat, Samudra membisu, pun dengan Glorien yang duduk di sebelahnya.
Keduanya saling diam.
Jalanan yang bergerak seiring perputaran ban mobil menjadi sejurus pandangan Glorien di balik kaca--membelakangi Samudra. Punggungnya bersandar pasrah pada jok yang diduduki. Ia lelah, sangat lelah. Kejadian hari ini mungkin akan tak mudah untuk harinya ke depan.
Semakin jauh jalanan tergerus, dua tangan Samudra masih anteng dengan putaran setirnya yang mulai lambat. Ia juga lelah. Menghajar sekian manusia seorang diri di dalam gelap cukup menguras energinya yang sudah lelah pada dasarnya. Namun di saat ke sekian, ia tergoda untuk menoleh ke samping bagian kiri di mana Glorien masih terjaga dalam posisi sama.
Mobil diarahkannya ke tepian, lalu berhenti.
Sesaat terdiam hanya untuk memberi tatapan dalam pada Glorien yang tertidur entah sejak kapan.
Kebetulan di jok belakang, Samudra melihat ada sehelai hoodie milik Mada yang untung saja 'tak bau apek. Mada mulai kritis soal kebersihan setelah bergaul dengan seorang gadis Rusia yang merupakan seorang perawat---------perawat hewan.
Samudra mencondongkan tubuh untuk meraih hoodie itu kemudian menyelimutkannya pada tubuh bagian depan Glorien.
Rambut yang menjuntai teracak ke depan wajah wanita itu, Samudra selipkan ke balik daun telinga. Glorien yang lelap tak menyadari gerakan itu.
Jauh di dalam hati Samudra kembali bergemuruh. Berdekatan dengan Glorien benar-benar 'tak baik untuk kesehatan hati dan jantungnya yang sudah lama terpuruk. Glorien memiliki ilmu sengat listrik yang bekerja tak kasat mata, dan itu hanya berlaku untuk dirinya. Sebelum jatuh tenggelam dalam melodi yang tak lucu, buru-buru mobil kembali dijalankannya. Hatinya terus mengumpat untuk tak terbuai seperti seekor marmut yang penurut.
Sampai di suatu tempat setelah sekian waktu termakan di perjalanan.
Rumah garasi.
Samudra turun dari mobilnya. Pintu kecil di samping rolling door yang dia buat beberapa waktu lalu, dibukanya lebih dulu, barulah menghampiri Glorien dan membopongnya. Pintu mobil ditutupnya menggunakan kaki.
“Samudra!” Glorien terbangun dengan terkejut di gendongannya.
“Diem!” hardik Samudra seraya terus menyusun langkah.
“Tapi aku mau pul--”
“Diem gak!” sembur lelaki itu sedikit lebih keras.
Glorien takut. Kembali melemaskan pundak dan pasrah di pelukan pria yang secara sah masih berstatus suaminya itu.
“Pegangan yang kuat! Kalo jatoh gak lucu!”
__ADS_1
Glorien menurut lagi, dua tangannya melingkar erat di leher Samudra. Bentakan itu memang keras, tapi malah terdengar hangat di telinganya.
Ya ... sama halnya Samudra, jantung Glorien pun juga sama punya masalah. Masalah yang timbul hanya ketika berdekatan dengan pria itu.
Jadi keduanya memiliki penyakit sama, sama-sama jantungan saat saling dekat satu sama lain.
Di tengah romansa tak jelas tema itu, tanpa Samudra dan Glorien sadari, seseorang memperhatikan dari samping bangunan. Mengintip dengan sebagian kepala yang dilongokkan.
Jesslyn Dun, wanita cantik itu keluar dari persembunyiannya. Langkah kaki terlihat limbung, mendekat ke arah pintu yang baru saja menelan Samudra beserta Glorien dalam gendongan.
“Ternyata bener,” katanya lemah. Mata merahnya menatap daun pintu di hadapan penuh kecewa. “Kamu gak sejujur yang selama ini aku percaya.”
Setetes air mata jatuh menggelinding melewati pipi yang tanpa make up.
Dengan ragu, satu tangannya terangkat naik, lalu kemudian mendorong pintu yang tak terkunci itu perlahan dan hati-hati.
Jesslyn masuk ke dalam dengan susunan langkah pelan agar tak menimbulkan bunyi berdebam dari sepatu flat yang dia kenakan.
Kamar Samudra, Jesslyn mendekat ke arahnya.
Dan kebetulan, pintu dalam keadaan terbuka paruh derajat.
Jesslyn memegangi dadanya yang sakit luar biasa dengan satu tangan, meremass kemejanya hingga mengurat. Sedang tangan lain ia naikan untuk membekap mulut. Terisak tanpa suara.
Samudra dan Glorien belum menyadari. Keduanya sibuk dalam lingkaran sama--sama-sama dibodohkan oleh suasana.
Kegiatan mengobati lebam sudah selesai. Tatapan Glorien atas matanya, Samudra balas dengan balik menatapnya. Keduanya saling tatap bertatap, seolah terjebak di ruang hampa.
Ketika perasaan dan hasrat mencintai lebih kuat dibanding ego dan dendamnya, Samudra jelas kalah detik ini juga. Dia tak bisa menahan. Bibir Glorien terlalu menggoda ingin dikecup.
Pun Glorien. Justru mengikuti naluri dalam dirinya, tanpa sedikit pun memberi celah pada sebentuk penolakan yang dia tanamkan.
Habis saling bertatap, wajah Samudra maju perlahan. Glorien memejamkan mata siap menerima. Detik berikutnya ... bibir mereka resmi saling beradu penuh rasa.
Namun Samudra tak bisa hanya sebatas itu. Kelelakiannya menuntut lebih. Ia mendorong tindakannya semakin in.tim, hingga berlanjut menjadi kecupan liar yang penuh nafsu.
Demikian terang saja meleburkan benteng tinggi di diri keduanya yang justru terkesan tolol.
__ADS_1
Mereka sama-sama keluar konsep.
PRANNGG!
Suara gaduh itu mengejutkan keduanya tiba-tiba.
Samudra mencelat langsung keluar kamar tanpa berkata. Glorien mengikuti dengan tergesa.
Sampai di sana.
Dunia Samudra seakan runtuh. Dia mematung.
Jesslyn berdiri dengan mata melebar sembari merunduk menatap pas bunga yang baru saja dia senggol hingga jatuh dan kini berserak pecahannya di atas lantai. Gadis itu tambah terkejut saat Samudra tiba di sana.
“Jess,” desis Samudra menyebutnya dengan bola mata nyaris keluar.
Glorien datang dan langsung membelalak, satu telapak tangannya naik membekap mulutnya yang menganga. “Jesslyn .... Apakah dia melihat aku dan Samudra--”
Melihat dari raut hancur wanita model itu, Glorien meyakini ... iya! Jesslyn pasti melihatnya.
“Oh, tidak!”
“Jess ... kamu ... sejak kapan kamu di sini?” Samudra bertanya. Terayun langkah kakinya mendekat ke arah wanita yang masih berstatus kekasihnya tersebut.
Namun Jesslyn tak menghirau pertanyaan itu dan malah menahan Samudra dengan satu telapak tangan yang dia majukan. “Jangan mendekat, Samudra.” Sepasang kakinya mundur dua langkah perlahan untuk menghindar. “Aku gak mau deket sama pengkhianat!” serunya dalam tangis yang sudah pecah. “Dan kamu, Nona Pascal ....” Arah wajahnya berpindah pada Glorien. “Samudra itu pacarku dan kamu tahu itu! Kamu murahan!” Jesslyn benar-benar marah. “Kalian berpeluk cium di belakang aku. Kalian benar-benar seperti sampah!”
“Jess!” Samudra menghardik. Ia bergerak cepat menyongsong tubuh Jesslyn lalu memeluknya dengan paksaan.
Jesslyn meronta-ronta ingin terlepas. “Lepasin aku, Samudra!”
Namun Samudra terus bertahan dan memaksa. “Maafin aku, Jess. Maafin aku!”
Glorien terjebak. Hanya bisa mematung dan menangis tanpa suara. Yang dikatakan Jesslyn benar adanya, ia mengakui.
Diangkatnya kepala untuk melihat dua sejoli di hadapannya.
Keadaan berbalik. Beberapa saat lalu ia dan Samudra saling berkecup, namun sekarang ....
__ADS_1
Scene yang sangat kejam!