Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Doktrin


__ADS_3

“Papa,” Glorien berdesis kecil. Dalam hitungan kurang dari lima detik, matanya sudah berkaca-kaca hanya dengan melihat Rohan yang begitu mengkhawatirkan. Mengiris hatinya sebagai seorang anak.


Kemarahannya akan Rohan perihal kebohongan tentang Sagara, langsung berganti sedih.


Rohan terbaring di atas ranjang. Matanya terpejam karena efek obat yang dia minum, itu kata suster yang sesaat lalu meninggalkan ruangan. Glorien terus membelai pipi ayahnya yang kini nampak jauh lebih tirus dari biasa. Pucat seperti mayat.


Di belakangnya, Samudra berdiri dengan tampang datar. Menyelipkan tangan ke kiri dan kanan saku celana.


Terlalu banyak hal yang membuat dia enggan--bahkan sangat muak terhadap sosok seorang Rohan. Jika bukan pria itu ayah dari wanita yang dia cinta, sudah dipastikan, bukan hanya perusahaan yang dibuat rata, Rohan pun akan berakhir tinggal nama di batu nisan.


“Glo!” Pundak Glorien ditepuknya. “Kamu boleh tunggu di sini. Aku mau ke bawah, takut Gala bosan nunggu di sana.”


Mendongak pada Samudra, lalu mengangguk, “Iya.” Suaranya terdengar parau.


Mendapatkan izin, Samudra keluar ruangan, Margaret datang dan hendak masuk. Kening Samudra mengerut menyikapi kedatangan ibunya si bedebah Martin tersebut.


“Umm, Samudra, kamu mau kemana?" Margaret bertanya ragu. Selain tinggi badan yang tiga puluh senti di atasnya, wajah tampan pria itu pun terasa mengintimidasi.


“Bukan urusanmu!" jawab Samudra sembari berbalik pergi. Baginya tidak ada yang penting dari wanita menor itu selain putranya yang akan dia hakimi.


Margaret menelan ludah susah dan payah. Punggung tegap Samudra yang menjauh dipandanginya sembari bergidik ngeri.


Samudra menjauh hingga ke lantai dasar untuk menemui Sagara dan Pepeng yang masih menunggu di taman belakang rumah sakit. Setelah bertemu, sekian menit dihabiskannya untuk bercanda dengan sang putra dan menjawab beberapa pertanyaan anak itu terkait Glorien yang tak ikut turun.


“Gala pulang ke rumah Papa sama Paman, ya. Di sana nyaman kok. Nanti kalau Papa sama Mama udah selesai jenguk Kakek, kita susulin Gala. Oke?!” Rumah yang di maksud Samudra adalah rumah bengkel.


Sagara tak banyak bertanya lagi. Penjelasan petugas yang tak mengizinkannya ikut masuk, dipahaminya walau cukup menyayangkan karena tak bisa bertemu Rohan. Sekarang ia pun harus pulang bersama Pepeng tanpa kedua orang tuanya.


“Iya, Pa.”


****


Setelah Sagara hilang dari pandangan, Samudra kembali naik ke lantai tinggi rumah sakit dimana Rohan dirawat inap.

__ADS_1


Sosoknya sangat mencuri perhatian sepanjang langkah. Banyak pasang mata yang mendamba. Tapi dia tak peduli karena itu sudah biasa. Sekarang tentang Rohan adalah prioritas yang harus diselesaikan terkait pernikahannya bersama Glorien.


Pintu yang tadi dia masuki sudah terlihat. Dengan langkah mantap Samudra memasukinya kemudian.


Sampai di dalam, keadaan terasa kelam.


“Kau sudah bangun, Papa Mertua?” Terselip nada mengejek dari pertanyaan Samudra.


Rohan yang entah sejak kapan sudah tersadar memelototi Samudra seperti tak sayang dengan bola matanya. “Kau!” geramnya.


Margaret berdiri di samping kiri brankar, memasang ekspresi yang terasa berbeda dari yang tadi. Sedang Glorien berada di sisi kiri duduk di sebuah kursi.


Terangkat santai tungkai kaki Samudra hingga berakhir di samping Glorien.


“Bagaimana keadaanmu?”


Pertanyaan Samudra menuai emosi di wajah Rohan. Meski kini nampak pucat dan sedikit tirus, auranya masih saja sekelam dulu. Rohan tetap saja Rohan yang angkuh walau sudah jadi tengkorak sekali pun.


“Gara-gara kau aku jadi begini, Keparat!” Rohan menyembur.


Kalimat Rohan disikapi Samudra dengan santai, “Masih untung kau masih punya tulang dan kulit di tubuhmu, Pak Tua.”


“CUKUP, SAMUDRA!”


Samudra terkejut bukan kepalang, Glorien baru saja menghardiknya dengan sangat keras. Sepasang matanya yang basah karena air mata ditaburi amarah. Melotot lebar seperti ingin menelan Samudra hidup-hidup.


“Kenapa kamu rebut perusahan Pascal bahkan sampai ke bagian terkecilnya?” tanya Glorien sembari terisak. “Kenapa kamu sejahat ini, Samudra? ... Papaku jadi begini gara-gara kamu.”


DEG!


Terpental jantung Samudra. Ditatapnya Glorien yang kembali duduk dengan isi hati bergemuruh. Belum ada kata yang ingin dia ucapkan. Dari Glorien, melalui ekor mata, Samudra melihat Margaret, ada seringai puas di bibir wanita itu yang bersirat kelicikan. Lalu beralih pada Rohan, tercetak hal yang sama pula di matanya yang seperti panda tak pernah makan.


Dalam dua detik Samudra paham, perubahan sikap Glorien yang cepat pasti karena terkena doktrin kedua orang menjijikkan itu selama dia ke bawah menemui Gala.

__ADS_1


“Ternyata kamu selemah ini, Glo.”


Kalimat Samudra tersebut langsung menyentak Glorien. Mendongak refleks memandang wajah Samudra yang tiba-tiba berganti kesan menjadi dingin.


Rohan melotot lagi. Dia mungkin akan melontarkan antisipasi sesaat lagi, pun sama dengan Margaret yang langsung sigap menegak wajah.


“Lemah kamu bilang?” Glorien bangun lagi dari duduknya kemudian langsung memasang wajah sinis menantang pada Samudra. “Pascal dibangun Papa dengan susah payah, Samudra. Bahkan aku harus menggeluti dunia kuliah yang sama sekali gak aku suka cuma buat Pascal. Lalu gak pakai hati kamu merebutnya tanpa sisa walau secuil." Dia menggeleng tak habis pikir, sembari masih menangis. “Kamu jahat. Gimana bisa kamu melakukan ini?” Dia meraung penuh kecewa.


Tidak membutuhkan detik, ekspresi Samudra langsung menajam menyikapi kalimat Glorien yang terasa sangat mencubit.


“Sebelum kamu menyalahkan aku, aku tanya dulu sama kamu, Glo!” ujar Samudra dengan nada menekan.


Jauh di ujung dada sudah menumpuk amarah yang rasanya begitu ingin membunuh Rohan saat ini juga.


“Apakah Pascal yang dibangun susah payah oleh papamu itu bisa mengembalikan sebelah tangan Miana?”


DEG!


Glorien melengak mendengar itu. Matanya melotot menatap tepian ranjang di hadapannya.


“Apakah Pascal yang hebat itu bisa menebus rasa sakit aku waktu di penjara? Rasa sakit karena memikirkan keluargaku, rasa sakit karena terpisah dari kamu, rasa sakit menerima surat cerai palsu yang papamu kirim, sampai rasa sakit saat aku harus kehilangan satu ginjalku?!”


Seperti ditimpa palu gada besar, Glorien bertambah kesakitannya. Tubuhnya mulai bergetar. Dia ingin berkata, tapi dadanya begitu sesak hingga suaranya tercekat di tenggorokan.


Samudra melanjutkan,


“Apakah Pascal yang kamu banggakan itu bisa menebus tujuh tahun kemalangan Sagara? Juga Mbok Rum yang merawat dan membesarkan kamu sampai harus terlunta-lunta.”


“Apakah Pascal yang luar biasa itu bisa mengembalikan semua waktu berharga aku, Glo? APAKAH BISA, GLORIEN PASCAL?!” Samudra berteriak di penutup pertanyaannya. Napasnya terengah dari emosi yang tak bisa dikuasai.


DEG! DEG! DEG!


Glorien tersungkur ke bawah lantai seraya meraung-raung. Memegangi dada yang begitu sakit. Kepalanya menggeleng-geleng seolah tak menerima. Entah tak menerima dalam konteks apa. Menepis fakta-fakta yang dilontarkan Samudra barusan? Atau karena penyesalan akibat kebodohannya termakan doktrin papanya sendiri juga Margaret yang tadi dia benarkan?

__ADS_1


“Kalau bagi kamu Pascal bisa menebus semuanya, akan aku kembalikan sama kamu, Glo,” kata Samudra diiring gemuruh di dalam dada. “Tapi dengan syarat, kamu gak akan aku perkenankan muncul di hadapan aku ... apalagi Sagara.”


__ADS_2