
Di bingkai jendela yang menganga, semilir angin menyapu wajah polos tanpa riasan. Glorien termangu di sana. Sawah luas yang subur dengan daun hijau padi yang lebat, ditatapnya dalam nestapa. Dia rindu Samudra. Sudah dua bulan lamanya pria itu tidak pulang.
Hari-hari dilaluinya sama, walau di waktu luangnya, Mia seringkali mengajaknya melakukan banyak hal yang menyenangkan, tapi tak jua mengobati rasa saat sendiri seperti ini.
....
“Glo!”
Glorien terperanjat. Dia pasti sedang bermimpi. Apakah rasa rindu membuatnya jadi berhalusinasi. “Tidak, tidak!” Ia menepis seraya mengeleng-geleng.
“Glo.” Tapi suara itu begitu nyata dan semakin jelas.
“Glo!”
Kali ketiga itu ia yakin tak salah dengar. Gegas bangun dari tempatnya untuk menghampiri pintu yang sesaat lalu ia kunci karena hari merangkak senja.
Dan ....
Tepat di ambang pintu yang baru saja disibaknya, Glorien memaku diri. Mulutnya melebar disusul deru jantung yang bergemuruh. Dalam sekedip detik, matanya sudah berkaca. “Sam.”
Samudra berdiri dengan senyum mengembang.
“Kamu pulang?” Glorien masih tak percaya, menganggap mungkin saja ini hanyalah mimpi. Pasalnya, tiga hari ini Samudra tak ada menghubunginya dan tak mengatakan akan pulang di saat terakhir mereka berkomunikasi.
“Iya, aku pulang,” jawab Samudra. “Kamu gak mau peluk aku?” Ia merentang tangan.
Glorien menutup mulut, tanpa mengangguki pertanyaan Samudra, ia menabrakkan diri memeluk pria itu lalu menangis menumpahkan rasa. Betapa ia rindu dan sungguh tidak sedang bermimpi.
“Aku kangen kamu,” kicaunya.
Samudra balas memeluk erat. “Aku juga.”
Beberapa waktu kemudian, keduanya sudah berada di dalam rumah. Duduk berhadapan di kursi yang memang hanya ada dua dengan satu meja bundar di bagian tengah, disiapkan Darius khusus mereka. Secangkir teh mengepul terhidang di depan Samudra.
“Kenapa tiga hari ini gak ada kabar?” tanya Glorien membuka kata.
Samudra meletakan cangkir teh yang isinya baru ia sesap. “Hape aku jatoh ke kolam. Rusak. Gak apal nomor kamu buat ngabarin balik.”
“Hmm.” Glorien mengangguk paham. Dalam diam, diamatinya Samudra mula dari wajah hingga ke kaki.
“Kamu kok jadi jelek sih?” kata wanita itu jujur dari hatinya.
Samudra tersentak. Mengamati dirinya langsung saja. Memegang wajah, lalu rambutnya. Ujungnya dia nyengir sendiri, menyadari betapa kacau penampilannya saat ini.
Memang ada yang berubah dari Samudra.
__ADS_1
Rambut gondrongnya tetap diikat bergaya hun, namun wajahnya nampak kusam dan semrawut, kumis dan jenggot tumbuh kasar seperti rumput liar yang terbakar.
“Yang aku pikirin cuma kerja dan pengen cepet pulang. Aku gak ada mikir ngurusin diri," jelas lelaki itu kemudian.
Glorien tersenyum maklum. “Gak apa. Besok kita rapiin ke barbershop, sekalian ke klinik kandungan, aku mau periksain anak kita.”
Hati Samudra seketika berdesir. Pandangannya kemudian jatuh pada perut istrinya yang mulai berubah gendut. “Bayi kita,” katanya penuh haru. Ia kemudian turun dan bersimpuh di hadapan Glorien. Ditatap seraya dibelainya perut itu, kemudian dikecupnya. Di saat yang sama, kandungan yang kurang lebih berusia hampir lima bulan itu bergerak. Samudra berteriak senang, “Dia gerak, Glo!”
Glorien mengangguk dengan senyum bahagianya. “Dia tahu papanya pulang," katanya sembari mengusap lembut pipi Samudra.
Kalimat itu menggetarkan seisi jiwa Samudra. Dengan rasa berbunga-bunga, dipeluknya Glorien kemudian. “Kita bakal jadi orang tua.”
------
Sudah satu minggu Samudra ada di rumah. Dan hari ini, adalah hari terakhir sebelum ia pergi kembali ke Kalimantan untuk bekerja esok harinya.
Ruang makan di rumah Darius nampak ramai. Ada Kang Omon juga di sana. Mereka semua makan bersama. Miana nampak semangat bercerita tentang tamu-tamu yang datang ke villa singgah milik Darius yang dikelolanya. Kang Omon sibuk berceloteh tentang ibunya yang mulai pikun, tak bisa membedakan mana lilin plastisin dan kue bolu, juga sering nyasar ke dapur orang.
Gelak tawa terdengar renyah seperti petasan sambutan anak laki-laki yang baru saja selesai khitan.
Di waktu yang sama, terdengar pintu depan diketuk-ketuk. Ada yang datang.
“Biar Mia yang buka, Kak.” Miana mencegah Glorien yang hendak berdiri.
“Ya udah,” kata Glorien kemudian duduk kembali.
Samudra langsung berdiri setelah matanya menangkap siapa gerangan pemilik aroma kuat yang menyengat seisi ruang. “Bajingan!” Tanpa babibu, dihampiri, dipukul, kemudian dipeluknya lelaki itu. “Kenapa baru datang, Sialan?!”
“Woooy, Setan! Aing kecekèk ini!” Tak lain adalah Mada. Wajahnya mengurat kencang, Samudra memeluknya pake tenaga tepat di bagian leher.
“Haha! Sorry, sorry, Mad. Keliwat kangen gua sama lu!”
Mada mendengus seraya mengusap-usap lehernya yang masih kebas. “Bangke! Kangen mampusin gua lu?!”
“Kangen kentutin sih!” Samudra membalas seenak jidat.
“Duduk, Mad!" kata Darius. “Makan sekalian.”
Wajah Mada menyambut senang. “Kebetulan lagi laper ini, Om!” Seraya menarik kursi kosong tepat di samping Kang Omon.
“Lu kagak salaman dulu sama Ayah sama Kang Omon?! Maen duduk-duduk aja lu!” semprot Samudra mengambil kembali tempat duduknya.
“Hehe.” Mada nyengir kaku. “Lupa gua, Sam." Dia lalu berdiri dan menyalami Darius juga Kang Omon. “Maaf, Om, Pak. Keliwat girang liat makanan saya.”
“Gak apa girang liat makanan mah, asal jangan girang liatin bini orang. Haram!” celoteh Kang Omon seolah menggurui. “Tapi boong!”
Semua terkekeh.
__ADS_1
“Pan yang enak tu yang haram-haram, Pak" Mada membalas sembari mencomot sepotong ikan goreng lalu melahapnya.
“Kalo enak, lu jilatin upil gua nih,” kata Samudra seraya memasukkan telunjuk ke dalam lubang hidungnya. Spontan mendapat pukulan ekstra dari Glorien.
“Jorok!” semprot wanita itu.
“Koko lama di Jakarta banyak sarafnya yang putus,” Mia menimpali. “Lama-lama berubah jadi Sun Goku," sambungnya ngalor dan ngidul.
Mada terkekeh lebar. “Mampus lu, Tan!” oloknya pada Samudra.
Samudra mendelik. “Apa hubungannya, Jakarta, saraf sama Sun Goku?”
“Sama-sama---”
Jawaban Miana terpotong sontak, saat suara pintu begitu keras digebrak dari luar. Disusul suara teriakan,” SAMUDRA, KELUAR KAMU!”
“Naon eta?!” Kang Omon bangkit dengan terkejut.
Semua menghambur ke depan rumah, termasuk Mada yang ribet membawa serta piring makannya.
Darius dengan cepat membuka pintu. Di teras, seorang pria tua berdiri berkacak pinggang dengan napas memburu.
“Juragan Wangsa!” sebut Darius mengenali. “Ada apa ya, Juragan?”
Pria tua itu menunjuk Samudra. “Dia, anak kamu itu ... sudah menggoda istri saya!”
Samudra mengernyit. “Saya? Menggoda istri Anda?” Lalu beradu pandang dengan Darius.
“Iya!” jawab yakin Juragan Wangsa. “Anak buahku melihat kalian berduaan di kebun Darius!”
Glorien menepuk bahu Samudra, menyiratkan ia butuh penjelasan suaminya.
“Riani, Sam! Istrinya Juragan Wangsa itu Riani.” Darius memberitahu.
Mendengar itu, Samudra menghela napas, lalu memutar bola matanya. “Saya gak ngapa-ngapain sama Riani. Dia datang ke perkebunan nemuin saya sambil nangis-nangis. Dia bilang dia nggak tahan sama perlakuan Anda yang katanya suka kasar.”
“Sialan! Saya--”
Sebelum semua berlanjut adu mulut, dari pintu pagar, seorang pria datang tergopoh. “Juragan! Juragan!”
Semua menoleh serentak.
“Yadi! Ada apa kamu ke sini?!” Juragan Wangsa bertanya pada orangnya dengan wajah bengis.
“Itu, Juragan ... itu ....” Pria bernama Yadi nampak takut.
“Apa?! Ngomong yang jelas kamu!” sembur sang juragan.
__ADS_1
“Itu, Juragan! ... Neng Riani gantung diri!”