
Beruntung, pria itu meminta Glorien menunggu, sementara dia membersihkan diri. Sekian menit cukup bagi Glo untuk menetralkan perasaannya yang bergolak tak karu-karuan.
Secangkir teh panas tersaji di hadapannya setelah diantar si ibu asisten berwajah bulat yang sebelumnya.
“Maaf. Membuat Nona lama menunggu.”
Glorien terpental dari lamunan, cepat menoleh ke sumber suara lalu berkata, “Ah, nggak apa-apa, Tuan.” Dirapikannya posisi duduk yang sebenarnya tak bermasalah, selain kegugupan yang menyerang setitik saraf lalu menyebar ke seluruh tubuh.
Pria itu kini nampak lain. Rambutnya disisir klimis ke belakang. Setelan jogger hitam dan kaos putih polos membalut tubuhnya yang isi dan berotot. Aroma maskulin menyeruak sekitaran seperti diselimuti segala jenis wewangian. Glorien semakin salah tingkah dengan itu.
“Kalau aku berpikir dia itu Samudra, jelas aku salah. Samudra tidak serapi dan sekritis ini soal penampilan, dan juga ... dia sudah meninggal!” Hati Glorien menyangkal getir. “Aku harus sadar dengan itu. Meski seribu orang yang mirip dengannya hadir di hadapanku, Samudra tak akan kembali. Samudraku telah pergi.”
Sepasang matanya lalu mengikuti pergerakan pria di depannya.
Sofa berseberangan diduduki pria itu.
“Jadi, apa tujuan Nona sampai repot-repot datang ke villa saya?” Dia bertanya dengan posisi sudah bertumpang kaki. Wajah pongah terukir jadi pembeda antara dirinya dan Samudra. Glorien menambah satu poin penilaiannya.
Tapi wajah familiar ‘Tuan Will’ itu ... benar-benar mengganggu konsentrasinya. Sejuta kali ia menepis, tetap pikirnya terpaut pada kemiripan yang seolah dikirim untuk mempermainkan perasaannya. Wajah itu terasa membuatnya dejavu. Namun jika berbicara tanpa melihat wajah, tentu Glorien akan dicap sebagai manusia tidak sopan. Bukan begitu?
Yang jelas, Will bukan Samudra.
“Umm, begini, Tuan Will ....”
Membawa serta sikap profesional, Glorien mulai bisa menata diri saat berbicara dan mengungkapkan tujuan kedatangannya setelah memaksa diri.
Semakin jauh, semakin bersungguh-sungguh wajah Glorien untuk meminta perkebunan itu. Namun lawan bicaranya masih datar seperti tak peduli apa pun yang ia tuturkan.
“Jadi bagaimana, Tuan? Apa Tuan Will tertarik? Atau kalau ingin bernego dan merasa keberatan dengan tawaran harga dari saya, Tuan bisa utarakan berapa harga yang Tuan mau.”
Respon sang pria setelah Glorien habis pembicaraan benar-benar di luar dugaan. Diiring senyuman remeh, pria itu menjawab, “Maaf, Nona. Saya tidak kekurangan uang sampai harus mau menjual tanah kelapa ini.” Dia lalu berdiri dan menyelipkan dua telapak tangannya ke saku celana. “Jawaban saya sudah jelas bukan? Jika tidak ada yang ingin Nona bicarakan lagi, Nona bisa pergi. Pintunya masih sama dengan saat Nona masuk ke villa ini. Saya masih banyak urusan.”
Glorien membulatkan mata dengan mulut menganga. Punggung pria itu bahkan masih terlihat menaiki tangga.
Ia tak habis pikir. Sebanyak dia berbicara hingga berbusa, pria itu hanya merespon dengan usiran.
__ADS_1
“Kurang ajar banget sih tu orang! Sombong! Aku 'kan belum selesai, uda pergi-pergi aja! Pake ngusir segala. Aku dateng baek-baek, ngomong juga baek-baek. Dasar!” gerutu kesal Glorien. “Tolol kalau aku bilang dia mirip Samudra!” ia memarahi diri sendiri.
Mengekpresikan kegalauannya, Glorien menutup wajah dengan kedua telapak tangan dan siku yang disangga di atas lutut, lalu membukanya kembali dan menghasilkan raut semakin resah. “Gimana dong ini?” Diliriknya arloji di pergelangan tangan. “Udah jam lima.”
Baiklah, Glorien bangkit dari tempatnya, tegak berdiri. “Besok aku coba lagi deh,” tukasnya seraya menatap puncak tangga di atas sana. “Sekarang aku mending cari hotel.” Lalu melenggang pergi meninggalkan tempat itu dengan hati dongkol.
Di atas lantai dua.
Pria pemilik nama ‘Will’ itu melangkah perlahan mendekati ralling tangga lalu memegangnya dengan erat hingga mengurat. “Sebaik itu hidup kamu setelah sekian banyak aku menderita, sampai kematian anak kita,” geramnya. Tatapan matanya menusuk pintu yang baru saja dilewati Glorien. “Jangan harap ... Nona Pascal!”
...*****...
Jalanan berbatu itu terasa sulit dilalui. Licin karena hujan terus mengguyur. Glorien kesulitan mendapatkan jarak pandang yang baik. Kawasan yang dilalui berkabut tebal. Dia masih di area perkebunan kelapa dan belum melewati gerbang.
“Ya, Tuhan ...," dia mengeluh takut. Sementara langit mulai gelap meskipun waktu belum sampai di angka enam menuju malam.
Tangan dan kakinya terus berusaha mengemudi mobil yang semakin terasa berat. Sampai kemudian ....
“Aaarrrrrggghh!” Glorien berteriak. Ia lepas kendali. Setir dibanting serampangan hingga berakhir menabrak pohon kelapa dan berhenti di sana dalam keadaan naas.
🔸🔸
Sekitar jam 21.05.
Samudra. Ya, itu memang dia! Will adalah Dia--Samewise Will.
Dia yang tengah sibuk dengan laptop di dalam kamar, dikejutkan dengan teriakan-teriakan bising di lantai dasar. Ia bangkit lalu keluar untuk memastikan.
“Ada apa?!” teriaknya bertanya dari pucuk tangga.
“Ini, Tuan ... perempuan yang tadi datang ke sini, kecelakaan di jalan kebun!” Satu menjelaskan dengan panik. “Dia pingsan!”
Pandangan Samudra langsung mengarah pada sosok yang direbahkan di atas sofa. “Glo,” sebutnya pelan. “Apa ada luka lain?” tanyanya sedikit cemas juga.
“Kayaknya nggak, Tuan. Cuma jidatnya aja robek sedikit.”
__ADS_1
Helaan napas terembus kasar dari mulut Samudra.
Kini ia bimbang, bagaimana harus menyikapi. Di satu sisi, ia merasa kasihan di atas rasa kemanusiaan, sedang di sisi lain, atas nama dendam, harusnya dia senang karena wanita itu celaka tanpa mengotori tangannya sendiri.
Dan sayang sekali ... hati iblisnya masih terlalu lemah untuk menunjukkan eksistensinya saat ini.
“Rebahkan dia di kamar tamu dan suruh Bibi obati lukanya.” Kemudian berlalu dan kembali ke dalam kamar tanpa menoleh lagi.
Ponsel di atas meja diraih Samudra setelah benar-benar berada di kamar.
Kontak atas nama Mada dipanggilnya kemudian.
“Ya, Bos!” sahut Mada di seberang.
“Mad ... Glorien ada di villa gua sekarang. Kok gua curiga ini kerjaan lu?”
“Serius lu dia ada di situ?!” Mada terkejut.
“Iya, Keparat!” jawab jengkel Samudra.
“Haha!” Mada malah tertawa. “Mana ada kebetulan semanis itu yé, 'kan?” ujarnya songong. “Ya pasti kerjaan asisten lu yang ceddrass ini lah!”
Samudra mendengus. “Trus abis gini mau lu apain, Taaan?”
“Lah kok gua?” Mada menghardik. “Elu lah!” tukasnya. “Gua giring dia ke sana biar lu lancar baleus deungdamnyah. Haha!”
TUT TUT!
Telepon dimatikan Mada seenak perut.
“Keparaat!” Samudra melempar ponselnya ke atas kasur.
“Konsep gua kagak gitu, Mada sialan!” kesalnya tertahan. Dia berjalan ke arah jendela lalu membukanya. Membiarkan angin menyergap masuk seperti tamu. Di luar sangat gelap. Pandangannya tajam menyorot satu titik yang entah apa. Hatinya bergejolak kencang.
“Bukan cuma Glorien ... gua bakal ancurin Pascal sampe ke akar!” Rahangnya mengetat. “Rohan ... gua balik ke sini ... spesial buat bikin lu gila.”
__ADS_1