Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Bocah Kecil Dan Neneknya


__ADS_3

Benar kata dua pemuda tukang palak itu, dua anak kecil korban mereka berada di lampu merah.


Samudra menepikan mobil. Mengamati dua pemuda jalanan memberikan kembali hasil rampasan mereka.


Mada merengut bingung. “Lu meratiin sapa sih, Sam?”


“Pengamen kecil itu,” jawab Samudra tanpa mengalihkan wajah.


Mada menelisik ke depan sana. “Yang pake baju biru?”


“Iya.”


Karena tak paham dengan situasinya, Mada manggut dan kembali diam. Banyak bertanya juga pasti ujungnya kena semprot Samudra.


Tak melontar apa pun pada Mada, Samudra membuka pintu mobil lalu keluar.


Mada melengak. “Sam!”


Pria itu melangkah jauh menuju ke arah si anak kumal berbaju biru berkarakter baby shark di depan perut.


“Udah kita kasiih balik uangnya, Om.” Satu dari dua orang pemuda palak melaporkan.


Samudra sudah berada tepat di sisi mereka. “Saya tau. Jangan ulangi perbuatan bodoh kalian pada siapa pun. Terlebih pada anak-anak seperti mereka. Kalian boleh pergi.”


“Iya, Om. Makasih, Om!” Keduanya melanting pergi kocar-kacir menyebrang jalan meninggalkan Samudra dan dua anak kecil yang masih asyik bernyanyi di tengah kemacetan yang mengular.


Tapak demi tapak Samudra mendekat.


Banyak mobil sengaja menurunkan kaca untuk melihat fenomena langka di tengah jalan. Beberapa bahkan sampai mengabadikan moment itu. Rugi jika dilewatkan. Samewise Will, pengusaha muda, cerdas dan terkenal di jagat media sosial itu, ada di tengah mereka.


“Nak!”


Dua anak kecil yang bernyanyi itu melengak. Satu yang besar memandang Samudra tanpa berkedip.


“Iya, Om.” Si kecil kumal tanpa takut memberi jawab. Botol air mineral berisi pasir ia turunkan genggam di sisi tubuh.


Samudra tersenyum. Anak itu sungguh tampan jika diamati secara benar. Sayangnya, debu jalanan menyamarkan anugerah yang dia punya.


“Kalian lapar nggak? Makan yuk,” ajak Samudra.


Ada dorongan tak kasat mata yang membuat dia sendiri bahkan merasa aneh dengan tingkahnya.


Bocah yang besar menarik-narik tangan si kecil. “Ayo pulang. Nenek pasti cemasin kamu.”


Samudra menatapnya, anak itu seketika diam dan menunduk. Sadar ada ketakutan di sana, Samudra menyadari lalu memberi senyum. “Jangan takut. Om bukan orang jahat,” katanya. “Tadi kamu bilang apa? Nenek?”


Anak sepuluh tahunan itu tak sempat membuka mulut, si kecil di sampingnya langsung menyerobot jawaban, “Iya, Om. Nenek lagi sakit di kontrakan. Aku lagi kumpulin uang buat bawa Nenek berobat ke dokter." Dengan lantang anak kecil itu menjelaskan. Plastik sak kemasan permen yang berisi sejumlah uang recehan ia perlihatkan pada Samudra.


Hati Samudra mencelos perih menatap kumpulan uang lusuh di depan mata. Desiran iba dan rasa peduli menyeruak seketika ke dalam diri.


Tidak ada kebohongan di mata polosnya yang bening. Samudra menurunkan tubuh untuk posisi sama rata dengan si bocah.


“Kalau gitu kita bawa Nenek kamu ke rumah sakit.”

__ADS_1


Anak kecil itu melengak, menoleh pada temannya, lalu kembali menatap pria di hadapannya. Pasang matanya bergilir kiri dan kanan seolah mencari kebenaran di mata Samudra. “Beneran, Om?” tanyanya. “Sekarang?”


“Iya.” Samudra tersenyum. “Ayo ke rumah kamu buat jemput Nenek.”


 ---


Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Mada tak banyak bicara. Kelakuan Samudra saat ini sebenarnya ia anggap membuang waktu. Tapi dibiarkannya saja, mengingat keadaan sekarang tak sebaik ketika mereka bermain catur.


Jalanan di bawah komando si anak sepuluh tahun. Mereka mulai memasuki sebuah gang.


Anak-anak kecil di jok belakang sesekali ditatap Mada melalui spion di depan wajah, meski tangannya fokus pada kemudi.


Semakin menelisik, semakin ia menyadari sesuatu.


“Kok lama-lama gua peratiin, tu anak mirip sama Sam yak?”


Tapi tak dilontarkannya secara langsung. “Atau jangan-jangan ....”


“Itu rumah kontrakannya, Om.”


Suara itu menghalau isi pikiran Mada.


“Berenti, Mad,” kata Samudra.


“Iya, iya!” Pedal rem diinjak Mada. Mobil diparkirkan di tepi jalan.


Anak-anak kecil itu turun lebih dulu tanpa dibukakan pintu.


“Gal, Kak Banu pulang duluan ya. Takut Bapak nyariin.”


“Iya, Kak.”


“Om, aku pulang dulu, ya." Anak yang ternyata bernama Banu itu pamit undur diri. Dia melanting dengan ceria setelah mendapat anggukan dari Samudra dan menggenggam beberapa lembar uang yang diberikan oleh pria itu.


Arah larinya ke belakang kontrakan yang saat ini dipijak Samudra, jelas rumahnya di sekitar sana.


KRIEEET ....


Pintu yang handle-nya tidak dalam keadan baik itu diputar si bocah kecil. “Ayo masuk, Om. Nenek ada di dalam.”


“Iya, Boy!" Mada yang menyahut. Dia dan Samudra masuk mengikuti si bocah kecil ke dalam rumah kontrakan yang luasnya hanya sekitar dua puluh meter. Satu lampu kuning yang tergantung membuat kacau terang pandangan. Semua terasa remang.


Samudra dan Mada mengedar pandang.


Berapa kira-kira biaya kontrak yang dikeluarkan sepasang nenek juga cucunya itu untuk rumah sekumuh ini?


Kedua saling beradu pandang dalam tema sama-sama miris.


“Nek.”


Panggilan bocah kecil menarik kesadaran seorang nenek yang terbaring di atas bale kayu berkasur tipis dari lelapnya. “Gala?”


“Iya, Nek.”

__ADS_1


“Gala dari mana, Nak?”


“Dari--” Nampak bocah itu kebingungan. Wajahnya menoleh tinggi ke belakang seolah meminta bantuan pada Samudra.


Samudra menilai cepat. Bocah itu pasti berbohong pada neneknya.


“Malam, Nek." Dia menyapa.


Perhatian nenek tua beralih padanya, lalu pada Mada yang kini berdiri di samping ranjang. “Kalian siapa?” tanyanya.


“Hallo, Nek." Mada menyapa dengan gayanya. “Kita dari Jakarta, Nek.”


“Jakarta?” Nenek itu mengerut kening.


“Iya. Kami ada bantuan untuk membawa Nenek berobat ke rumah sakit,” ujar Samudra. “Mau ya, Nek. Ke rumah sakit bareng kami?”


“Rumah sakit?”


“Iya, Nek. Biar Nenek cepet sembuh." Bocah kecil bernama Gala ikut meyakinkan.


Samudra baru ingat, sepanjang pertemuannya, dia sama sekali belum bertanya nama pada si bocah. Dan sekarang dia tahu, namanya ... Gala.


Selang dua puluh menit. Selama waktu itu tak ada percakapan yang berlangsung di dalam mobil. Semua fokus pada satu titik dan satu arah yang sama---rumah sakit.


Yang terdekat, mobil Samudra sudah terparkir baik di halaman bangunan syarat orang tak sehat itu.


Seorang petugas pria tergopoh membawakan kursi roda untuk si nenek.


Beberapa waktu digunakan untuk pemeriksaan intensif.


Tubuh kecil Gala terlelap di pangkuan Samudra yang duduk di kursi tunggu. Baju biru lusuh telah berganti yang lebih bersih.


Mada sibuk mengurus administrasi juga diminta membeli beberapa makanan untuk Gala.


Pepeng dan Anton akan menyusul menggunakan taksi setelah dikabarinya ada di rumah sakit.


KLEK!


Pintu ruang rawat terbuka dan menyembul tubuh seorang dokter dari dalamnya.


“Gimana, Dok?!" tanya Samudra bangkit berdiri. Gala dipeluknya dalam pangkuan.


“Nenek Rumsa menderita darah tinggi juga maag yang sudah kronis. Jadi untuk mendapatkan perawatan intensif, sebaiknya beliau di rawat inap.”


Samudra menyanggupi dengan segera. Mengatakan semua biaya dia yang akan tanggung. Dia masuk membawa Gala ke dalam ruang perawatan. Sebelum berhadapan dengan si nenek yang kebetulan dalam keadaan sadar, tubuh Gala ia baringkan di atas sofa. Sejenak dia tatap wajah lelap anak itu dengan hati sedikit berdesir. “Dia pasti kelelahan,” gumamnya.


Cukup dengan itu, ia berbalik mendekati neneknya Gala.


“Gimana keadaan Nenek sekarang? Apa yang dirasa?”


Bukan menjawab pertanyaannya, nenek tua itu justru membelalak mata menatap wajah Samudra. Dia baru detik sekarang dengan jelas melihat wajah tampan yang membawanya ke tempat ini.


“Sa-Samudra.”

__ADS_1


__ADS_2