Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Bertandang Ke Rumah Pascal


__ADS_3

Pertemuan Samudra dengan Jaladipa berlangsung penuh keharuan.


Jaladipa yang datang dengan jemputan Darius nyaris tak percaya, seorang anak kecil dua tahun yang dulu mati-matian dijaganya, kini nampak luar biasa. Dia bahkan tak berani mendekat apalagi memeluk Samudra, hanya melongo tatap lalu sesenggukan. Ada perasaan segan yang sama sekali tak bisa dia gambarkan alasan persisnya. Apa yang dia lihat saat ini atas seorang Darren Karl si balita malang, terlalu jauh dari apa yang dia bayangkan di kepalanya saat dalam perjalanan.


Darius hanya menunjukkan potret sebatas wajah, tak disangka betapa seorang Karl seluar biasa itu, bahkan melebihi gagah ayahnya--Abram Karl, yang begitu dikagumi Jaladipa pada masanya.


“Aku akan menjamin hidup Paman sampai akhir. Tinggallah di sini. Tak perlu bersusah payah berjualan mainan lagi.” Samudra meminta, tulus dari hatinya pada Jaladipa.


Jaladipa melengak. Wajah tuanya yang kumal nampak bingung bagaimana akan mengambil sikap. “Tuan Muda, saya--”


“Panggil aku Samudra! ... Sekarang itu adalah namaku. Nama luar biasa yang diberikan Ayah.” Samudra menatap bangga Darius yang duduk di samping Jaladipa.


Sekian detik Jaladipa tercengang. “Ahh, baiklah ... Samudra.” Dia merasa luar biasa dengan itu, tapi masih terselip kekakuan juga.


Darius sendiri menyikapi pernyataan Samudra dengan hati berdesir haru. “Ayah gak keberatan kalau kamu mau pakai nama aslimu lagi, Sam.”


“Nggak!” tolak Samudra cepat-cepat. “Kecuali nama belakangnya, Karl. Nama ayah kandungku. Aku mau pakai itu. Samudra Karl.”


Mereka yang mendengar saling beradu pandang.


“Pilihan bagus,” komentar Darius menyetujui, diikuti yang lain sama mengangguki kemudian.


...*****...


Rencana pernikahan ulang Samudra dan Glorien telah disepakati.


Beristirahat dua minggu di Villa Kelapa cukup mengembalikan tenaga, yang juga lumayan menenangkan pikir dari kalang kabut karena masalah yang bertubi-tubi.


Sepakat juga, hari ini Samudra dan Glorien serta Sagara, akan bertolak ke Jakarta. Mereka akan menemui Rohan Pascal demi meminta seutas restu.


Sebenarnya Samudra tak begitu peduli dengan kata itu terkait Rohan. Baginya Rohan seperti onggok belaka yang tak berharga , tidak diperlukan lagi. Semua ranjau yang dicipta dan dihadirkan oleh pria tua itu tentu menjadi alasan vivid. Tapi tentu saja lain bagi Glorien, Samudra tak ingin menyakiti hati wanitanya lagi jika mengutarakan jujur bagaimana perasaan sebenarnya terhadap sang calon mertua. Jadi dia ikuti saja dulu apa yang dimau Glorien sebelum semua dia lakukan semau diri.


Istana megah Pascal sudah terlihat di kejauhan, mobil yang dikemudikan Pepeng membawa tuannya merangkak semakin dekat.


Di atas balkon loteng, Margaret yang melihat sebuah mobil mewah dan asing langsung berdiri meninggalkan majalah yang dia baca, mengamati hingga kendaraan itu resmi mengisi parkiran yang tersedia. Dia memicing mata lalu terkejut. Glorien keluar dari dalam mobil bersama seorang pria tampan berpenampilan casual, diikuti anak kecil yang kemudian berdiri di tengah-tengah antara Glorien dan pria itu. Mengobati penasaran dalam kepala, cepat-cepat Margaret lari keluar untuk menemui keponakannya.


“Glo! Kamu kemana aja, Sayang?!”


Glorien yang baru melewati dua meter pintu tinggi rumahnya, sontak mengalihkan pandang. Margaret tergopoh menghampirinya dari atas tangga. Sedang Samudra dan putranya hanya diam memerhatikan seadanya.

__ADS_1


“Kamu baik-baik aja 'kan, Sayang?” Margaret berperan cemas.


Dirabanya seluruh wajah Glorien hingga ke lengan-lengannya.


“Aku baik-baik aja, Tante.” Tangan Glorien menepis tangan Margaret. Dia tahu tantenya itu pasti hanya berpura-pura.


“Oohh, Shameless Princess baru inget pulang rupanya.” Dengan Nada sinis, Martin melolong. Datangnya dari arah dapur. Segelas kopi masih mengepul ditenteng tangan kanannya. “Pria mana lagi yang kamu bawa?” Sejurus tatapnya jatuh pada Samudra, kemudian merunduk pada Sagara. “Duda?” tanyanya penuh cemooh.


Si bodoh itu tak mengenal siapa Samudra atau Samewise Will yang terkenal di dunia bisnis. Pekerjaannya hanya memelorotkan celanadalam wanita. Kasus Glorien dari awal sampai akhir tak pernah dia peduli.


Samudra, seulas senyuman santai mengiringi pertanyaannya, “Kamu Martin Pascal?”


Martin memicing mata, mencoba menelisik sosok sepuluh tingkat di atas kelebihannya yang hanya sebatas dengkul. “Dari mana Anda kenal saya?”


Senyuman santai Samudra diamati Magaret lebih dalam. “Samudra? ... Kamu, Samudra?” Dia kenal wajah itu dari data komputer Rohan, yang mana Samudra termasuk orang yang wajib dieliminasi, bahkan menempati posisi nomor satu saat itu. Ya, walau ujungnya Rohan juga yang berbalik tereliminasi.


Barulah Martin melengak, menoleh terkejut pada sang mama, lalu pada Samudra. Dia tahu nama itu adalah nama keramat yang seringkali dibaca-baca Rohan seperti mantra. Setelah itu seketika rautnya berganti sok jagoan. “Jadi kamu orangnya?” Disapukan tatapnya pada Samudra dari atas ke bawah. “Yang udah bikin Pascal berkerut?”


Samudra masih diam santai macam biasa, sedangkan Glorien mulai cemas. Martin pasti akan membuat ulah, pikir wanita itu.


Dan sesuai dengan isi pikiran Glorien.


“Papa!” Sagara ikut terkejut.


Tak terkecuali Margaret, “MARTIN!” pekiknya. Mengingat bagaimana Samudra meruntuhkan Pascal, dia cemas Martin dalam masalah yang tak sederhana setelah ini.


“Haha!" tawa Martin membahana.


Kopi yang baru saja disiramkan Martin ke kepalanya terasa hangat menyengat ke ubun-ubun Samudra.


Satu telapak tangannya dengan lembut mengusap wajah yang basah dan berkafein, seringai mengembang tipis di bibirnya kemudian. “Jadi begini cara pangeran Pascal menyambut tamu?”


Martin cengengesan memasang tampang muak, “Karena tamu itu pantas mendapatkannya.”


Margaret menggeleng, cemas putranya akan semakin mengacaukan suasana. “Martin, sudah, Martin!”


Sayangnya ....


BUG!

__ADS_1


Glorien, Sagara dan Margaret terlonjak.


Martin lebih terkejut lagi.


Samudra menahan tinjunya yang hampir menyentuh wajah.


“Aaarrggh! Tanganku!” teriak kesakitan Martin.


Margaret memekik takut.


Pergelangan tangan Martin dipelintir Samudra lumayan kencang.


“Sam, udah!” Glorien menarik Samudra agara cekalannya atas Martin dilepaskan. “Ada Gala! Kamu mau nyontohin dia kekerasan, huh?”


Barulah berhasil. Samudra menoleh putranya yang masih terbengong. Anak itu, tidak ada ketakutan di wajahnya apalagi sampai bergetar badan.


Anak cerdas bisa membedakan siapa yang salah lebih dulu.


Meski Samudra juga salah, tapi dia hanya melindungi diri. Sagara paham itu adalah naluri alami setiap makhluk hidup walaupun berbeda cara.


“Iya, maaf," kata Samudra.


“Sudah! Ayo temui Papa.”


Tepat ketika Glorien menarik tangan Samudra dan putra kecilnya, Margaret menginterupsi, “Papamu tidak ada di rumah, Glo!”


Membuat Glorien berbalik lagi. Keningnya berkerut dalam. “Lalu? Di kantor?”


Margaret menggeleng. “Papamu--”


“Om Rohan ada di rumah sakit. Sudah hampir dua minggu dia dirawat!” Martin menyerobot jawaban. Walau sibuk dengan usapan di tangan yang sakit hasil ulah Samudra, wajahnya tetap tak luput sinis. “Cepat pergi temui papamu dan bawa monster sialan ini!” Maksudnya jelas adalah Samudra. Kemudian berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi.


Samudra kembali menyeringai. “Cecunguk itu, harus diberi pelajaran,” hatinya bergumam.


Bukan tanpa alasan, atau hanya karena masalah satu menit lalu, sebelumnya Samudra memang sudah berniat akan menghakimi Martin dengan caranya.


Yara, gadis itu hampir mati akibat pendarahan dari keguguran anak Martin setelah sialan itu mendorongnya karena tak ingin bertanggung jawab. Itu terjadi hampir dua tahun lalu, dan baru diketahui Samudra belum lama belakangan ini dari David.


Sekarang saatnya.

__ADS_1


__ADS_2