
DOOORRR!!
“AAARRGGHH!!”
“MADAAAAA!!”
Suara tembakan, jerit kesakitan Mada, disusul teriakan Samudra, ketiga suara itu tersusun membahana menantang langit.
Mada baru saja tertembak, di bahu kiri tepatnya. Seketika lelaki itu ambruk dengan lutut menopang tubuh. Darah mengalir deras, dipeganginya bagian itu disertai erangan kesakitan yang menggetarkan seisi jiwa.
“Anjing!” Samudra marah pada polisi, lalu ikut menurunkan tubuh menyamai posisi Mada. “Lu gak apa-apa, 'kan, Mad?” tanyanya dengan air muka panik.
“Lu gak usah pikirin gua, Sam. Mending lu lari,” kata Mada dengan air mata yang sudah keluar--entah karena sakit dari lukanya, atau karena nasib yang tak memihak.
“Kagak bisa, Goblokk!” sembur Samudra tak setuju. “Kita lari, maka kudu lari barengan. Kalo mati, juga mati barengan!” Tanpa peduli racauan Mada lagi yang sudah meringkuk kesakitan di tengah perahu karetnya, Samudra kembali mendayung, berusaha secepat-cepatnya. “Lu kudu bertahan, Mad. Jangan bego mau mati sekarang. Lu nikah aja belon! Kalo lu idup, gua idup, kita jalan-jalan ke Jeruk Purut pake pampers doang sesuai kemauan lu waktu itu.”
Celotehan itu walau dalam kepanikan, entah kenapa terdengar romantis di telinga Mada. Dia terkekeh getir di tengah kesakitan yang luar biasa. “Jangan lupa, gua pake pampers ukuran 36B,” racaunya pelan di antara kesadaran yang mulai remang.
“SAUDARA SAMUDRA DAN SAUDARA MADA, KALIAN SUDAH TERKEPUNG!”
Di atas jembatan.
Mendapat kabar dari salah seorang warga yang melihat aksi kejar-kejaran Samudra dan polisi, dalam keterkejutan yang menggelora, Darius, Kang Omon, Miana dan Glorien yang memaksa ikut, mereka pergi menyusul menggunakan pick up Darius. Turun berkali-kali untuk bertanya kepada orang-orang yang melihat kejadian itu, hingga sampai di titik di mana banyak polisi menguasai area jembatan, di situlah mereka jua berhenti.
Tepian jembatan berpagar beton, Darius dan lainnya berjajar di sana.
“SAMUDRAAA!” Glorien berteriak histeris seketika mendapati Samudra yang dalam kepungan polisi di tengah sungai luas di bawah sana.
“KOKOOO!” Miana tak kalah histeris.
Sedang Darius ....
“Tolong, Pak. Jangan tembak anak saya!” pinta Darius pada salah seorang petugas polisi yang membidik dari atas jembatan, sembari ditarik-tariknya lengan baju petugas itu. Seperti dejavu, perasaan enam tahun lalu kembali dirasakannya. Perasaan mengerikan yang tak bisa digambarkan dengan apa pun. “Tolong, Pak! Tolong, jangaaan!” Kali ini ia benar-benar meraung pilu. Tangisnya pecah tak lagi bisa ia tahan dalam ketenangan bagai biasa.
Kang Omon memegang pundaknya yang mulai lemas dari belakang. “Eling, Yus! Jangan kayak gini!” Ia coba menyadarkan, walau tak elak, dirinya pun sama cemasnya. “Gusti ... naha jadi kieu ieu teh atuh,” keluhnya bingung.
Di bawah--sungai.
Perahu karet itu terus melaju mengikuti kemana arus membawa. Samudra tak lagi menggunakan dayungnya. Ia kini malah terduduk meraung seraya menepuk-nepuk pipi Mada yang sudah memucat tak lagi sadar. “Mad! Bangun, Mad! Jangan tinggalin gua, Keparat!” Diguncang-guncangkannya tubuh sahabatnya itu berulang kali, namun Mada tetap tak merespon. Baju putih lelaki itu bahkan telah dikuasai warna darah yang terus mengalir dari lukanya. “Bangun, Sialan!” Samudra menengadah ke langit, menangis sembari mendekap Mada yang terus diam dan semakin pucat seperti mayat. “Tuhaaann!” raung pilunya.
“JANGAN BERGERAK!” Berakhir sudah! Samudra berpasrah. Ia tak bisa lari dari kepungan.
...*****...
Samudra langsung digelandang polisi. Kedua tangannya sudah diborgol, walau satu di antaranya bersimbah darah. Peluru polisi berhasil memoles satu inci dagingnya tepat di atas sikut bagian kiri.
__ADS_1
Sebelum ke kantor polisi, terlebih dahulu dia dibawa ke rumah sakit untuk dibebat lukanya. Sedangkan Mada, Samudra bahkan tak tahu, apakah masih hidup, atau perlu menggali tanah kuburan.
“Saya gak tau apa-apa, Pak!” Di ruang perawatan, Samudra masih berusaha membela diri. Seorang suster sibuk memutar perban di tangannya, tak berani mengangkat wajah karena takut.
Polisi menghardik kesal, “Kasus kamu tak cuma tentang obat terlarang itu! Tapi juga ada laporan bahwa kamu telah menculik Glorien Pascal dan menyekapnya berbulan-bulan!”
Jawaban itu seketika membuat darah Samudra bergolak. Matanya membelalak, jantung hatinya bertalu kencang. “Apa maksud Anda dengan menculik, Pak? Glorien itu istri saya!”
“DIAM!”
Teriakan polisi mengejutkan suster yang merawat Samudra. Wanita berkisar 28 tahunan itu segera pergi dan berpamit tanpa menoleh lagi.
“Kamu bisa bicara bebas hingga berbusa mulutmu nanti di kantor!”
Samudra tercenung. Tatapannya resah membentur dinding di samping pintu.
Menculik Glorien?
Menyekapnya berbulan-bulan?
Walau belum pernah dirinya bertemu dengan Rohan Pascal, tapi Samudra bisa menebak dengan segala sangkut pautnya, bahwa pria itulah yang melaporkannya. Laporan palsu! Laporan karena dendam pribadi.
“Bawa dia!”
Dengan sigap, diangguki rekannya yang sedari tadi bersama Samudra.
Dia kembali digelandang, dihimpit kiri dan kanan tanpa borgol seperti saat ia ditangkap di sungai tadi.
Koridor yang dilewati terasa hening. Samudra melirik kiri dan kanan dengan ekor matanya. Di ujung sana tulisan ‘Kamar mayat’, menambah cekam suasana.
“Satu.” Samudra menghitung dalam hatinya. Entah apa yang akan dia perbuat.
Dua!
...
Tiga!
Dan ....
BAG BIG BUG!
“HEY! JANGAN KABUR KAMU!” teriak keras dua polisi. Keduanya gegas bangun kembali setelah Samudra berhasil menendang mereka lalu ia melarikan diri sekencang-kencangnya.
Para aparat mengejar lagi.
__ADS_1
Tak peduli sekitar, Samudra terus berlari. Menabrak brankar yang ditiduri pasien diperban mumi, mendorong abah bertongkat hingga aki-aki itu tersungkur dan berakhir di pelukan wanita berdada besar. Terakhir, ia menubruk seorang suster yang membawa nampan berisi puluhan gelas urine sampai membuat cairan itu tumpah ruah membajiri baju suster itu sendiri, Samudra tidak sempat meminta maaf. Terus lari saja.
Namun sayangnya ....
BAAAMM!
Seorang pria muda berbaju hitam di depan lobby menjegalnya dengan mengait kaki Samudra hingga tersungkur membentur pintu.
Dia tersenyum dan mengenakan kembali earphone-nya ke telinga. “Silakan ditangkap, Pak,” katanya santai pada aparat yang mengejar Samudra.
“Terima kasih.”
Sial!
Samudra kembali tertangkap.
“Lepasin gua!” teriak pemuda itu seraya meronta-ronta.
Di halaman rumah sakit.
“KOKO!”
Teriakan Miana membahana. Ditemani Darius dan Kang Omon, gadis itu berlari menuju arah Samudra dengan air mata berderai-derai.
“Mia!” Langkah Samudra dan para polisi yang mengawalnya terhenti.
“Lepasin Koko saya, Pak! ... Dia gak bersalah!” Miana meminta.
Tak satu pun polisi menganggapnya.
“Anak saya tidak bersalah, Pak.” Kali ini Darius yang mengiba.
Tak berbeda, semua aparat hanya menganggapnya angin yang melintas sambil lalu.
Samudra kembali meronta. “Udah gua bilang gua gak bersalah! Mana ada gua culik bini gua sendiri!”
“Berhenti berontak, atau kami tembak!” Satu polisi yang sedari tadi bersiap di depan mobil mengancamnya.
Darius dan Miana ketar-ketir.
“Jangan, Pak!” teriak Miana.
“KEPARAT KALIAN!” Samudra menyembur keras. Dan ....
DOOORRRR!!!
__ADS_1