
Hari berikutnya dan berikutnya lagi.
Tak ada yang berubah dari perasaan Samudra, masih kacau-- belum lelah berkubang di kolam yang sama.
Darius masih bolak-balik menjenguk dengan bawaan makanan yang berbeda-beda setiap kali masa jumpa.
Dan saat ini, polisi menggandengnya menuju sebuah ruangan. Bukan tempat biasa ia menemui Darius saat ayahnya itu menjenguk. Keningnya mengernyit heran. Pasalnya, tadi polisi itu mengatakan ada yang ingin bertemu.
“Siapa yang ingin bertemu saya, Pak?” Mengobati penasaran, Samudra bertanya.
“Kamu akan tahu sebentar lagi.” Itu bukan jawaban jelas yang dibutuhkan Samudra, tapi dia memilih diam dan mengikuti kemana ia akan dibawa.
Ketukan kaki mereka sampai di sebuah ruangan berpintu, sedikit menjorok posisinya di bagian belakang kantor polisi itu.
Pintu diketuk, seseorang kemudian membuka dari dalam.
Samudra makin penasaran. Memasang kening berkerut dan menunggu kapan sosok itu akan memasang muka.
Langkah kaki membawanya masuk, masih dituntun sang petugas yang semula. Di dalam sana ada beberapa orang yang di antaranya tidak mengenakan seragam, malah bahkan terkesan santai dan bebas seperti akan berlibur. Yang lebih mengherankan Samudra, komisaris besar polisi juga ada di sana, duduk santai mengisi sebuah sofa dengan sebatang rokok terselip di antara telunjuk dan jari tengah.
Kali ini bukan rasa penasaran yang meliputi Samudra, melainkan kebingungan yang menarik keningnya makin berkerut.
“Hay, Samudra.” Suara seorang wanita.
Dia tiba-tiba berbalik dari kursi putar yang semula membelakangi. Posisinya bertumpang kaki dengan punggung tersandar santai. Dari penampilan, wanita itu sangat modis dan elegan di usia yang jelas tak lagi muda.
Samudra menatapnya terheran. “Maaf, Anda ... siapa, ya?”
Senyuman manis namun terkesan penuh misteri ditunjukkan wanita itu.
“Duduklah, Samudra.” Itu suara Pak Komisaris. “Kita akan bicara banyak kali ini.”
Samudra menolehnya, lalu mengangguk, walau tak paham apa sebenarnya yang akan dia hadapi setelah itu. Borgol di kedua tangannya telah dilepas sesaat setelah ia masuk ke dalam ruangan. Sebuah sofa kosong di depan komisaris kemudian ia duduki dengan sikap sungkan.
“Samudra ... kamu ingin keluar dari tempat ini?”
Seraya mengernyit, Samudra mengangguk kaku. “Tentu saja,” jawabnya.
Walaupun pertanyaan wanita itu terkesan bodoh, terlebih di depan komisaris besar polisi yang notabene kritis hukum, tapi Samudra iya-iya saja dulu. Melihat akan seperti apa selanjutnya.
__ADS_1
Samudra seorang tertuduh, dan belum ada hal yang bisa membuktikan ketidakbersalahannya. Jadi maksud semua ini?
Ia sudah membayangkan banyak hal jika bisa keluar dengan cepat dari sangkar yang tak pantas mengurungnya. Jika ini bercanda, tidak mungkin susah-susah melibatkan petinggi hukum hanya untuk cecurut macam dirinya, 'kan?
Bibir dengan gincu merah menyala milik wanita itu tertarik ke samping membentuk senyum. “Saya bisa melakukannya dengan sangat mudah,” katanya. Sebatang rokok di atas meja yang menyekat antar mereka diambilnya dari dalam bungkus yang merk-nya bahkan tak ada di Indonesia. “Tapi tentu ada harga yang harus kamu bayar untuk itu.”
Samudra paham aturan dan hukum alam. “Apa timbal baliknya?” Ia bertanya ingin tahu.
Lagi-lagi wanita itu tersenyum. Setelah memantik korek, rokoknya menyala, ia mulai menghisap sangat dalam dan penuh rasa. Asap kemudian mengepul mengerubung wajahnya yang menor seperti model toko kecantikan. “Sebelum sampai pada pembicaraan timbal balik, ada hal lain yang harus kamu tahu, dan itu harus kita lakukan,” tuturnya. “Tapi sebelum itu, perkenalkan dulu." Ia mengulurkan tangan pada Samudra. “Saya Laura Jung.”
Disikapi dengan sungkan oleh Samudra. Tangannya kembali ditarik usai bersalaman dengan wanita paruh baya bernama Laura itu. “Saya tidak perlu menyebutkan nama lagi, 'kan?”
Laura Jung mengangguk senang. “Ya! Saya tau kamu.” Rokok di atas asbak kembali diambil lalu dihisapnya. “Saya harap kamu siap melakukan permainan ini, lengkap dengan syarat yang harus kamu penuhi nantinya.”
Samudra terheran lagi. “Permainan?”
“Ya, Samudra.” Pak Komisaris menimpal cepat di tengah kerut kening Samudra. Wajah berhias kumis dan jenggot itu nampak serius. “Jika kamu ingin keluar dari sini dengan mudah, kamu harus siap untuk hal yang lebih besar.”
Semua seperti teka-teki. Samudra belum paham.
“Begini, Samudra ....”
“Bagaimana? Apa kamu siap?”
...*****...
Dua minggu kemudian ....
“SEORANG NARAPIDANA DEPRESI, MATI GANTUNG DIRI DI KAMAR MANDI LAPAS”
Tajuk berita utama di seluruh media cukup menggemparkan.
Pak Jo tergopoh membawa notebook di tangannya untuk ia beritahukan pada Rohan.
“Tuan, Samudra mati gantung diri di penjara!”
Rohan terperanjat. Bolpen yang semua terjepit di jari tangannya merosot ke atas meja. “Kau yakin berita itu benar, Jo?”
Pak Jo mengangguk cepat, lalu menyodorkan notebook yang berisikan berita Samudra pada Rohan. “Ini, Tuan.”
__ADS_1
Rohan Pascal memandang nanar. Foto di mana Samudra terpejam pucat di dalam kantung mayat, sedikit menggetarkan jiwanya. Bagaimana pun ia bukan pembunuh. Tapi berkiblat pada tinggi harga diri dan keras kepalanya, dia tersenyum sinis. “Penjara saja langsung membuat dia menyerah. Setolol itu, bagaimana dia akan menjaga putriku.”
Pak Jo sedikit membuang wajah. Tiba-tiba dia ingat bagaimana Samudra menyatakan rasa tanggung jawabnya atas Glorien saat di rel kereta, juga bagaimana Glorien begitu memujanya, lelaki muda itu tak nampak buruk.
Ahh ... sebagai seorang ayah yang memiliki putri, Pak Jo bisa membayangkan bagaimana kepedihan Glorien menyikapi tragedi ini sebentar lagi.
Dan benar saja.
Di kamarnya di rumah Pascal, Glorien berteriak histeris menantang langit.
Tangisnya pecah dengan raungan pilu yang menggetarkan.
Dia baru saja menonton pemberitaan tentang Samudra di televisi.
“Samudraaaa!”
Mbok Rum langsung melejit menghampiri dari lantai bawah. Ada Lola yang baru saja datang.
“Nona!”
“Glo! Ada apa?!”
Glo terus meraung tak peduli sekitarnya. “Kenapa kamu ningalin aku?! Kenapa kamu ninggalin anak kita?! ... Aku mau nungguin kamu! Aku mau selama apa pun itu! .... Kenapa, Samudra, kenapa?!”
Mbok Rum terus berusaha menenangkannya, sedang Lola ... gadis itu berdiri membekap mulut menahan tangisnya. Rasa sakit ikut ia rasakan atas kepedihan Glorien.
“Saaammm.” Teriakan terakhir Glorien terdengar lemah dan parau. Pada akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri di pelukan Mbok Rum.
“Non!” Mbok Rum menepuk-nepuk pipi Glorien.
Lola yang terkejut ikut menurunkan tubuh di atas lantai di depan Glorien. “Glo!” panggilnya melakukan hal yang sama dengan Mbok Rum. “Bangun, Glo!”
“Kita angkat ke tempat tidur, Non,” kata Mbok Rum mengajak Lola.
Lola mengangguk, lalu keduanya membopong dan menaikan Glorien ke atas kasur.
“Gimana ini, Non?" Mbok Rum kebingungan dan putus asa. “Mbok gak tega.”
Lola menatap wajah hancur Glorien yang memejam namun tak tenang. Penuh iba dan kasihan, ia berkata, “Kalo gue jadi lo, Glo ... gue rela dihapus dari kartu keluarga. Bokap lo beneran iblis Apollyon.”
__ADS_1