
Hari berikutnya, Samudra tidak jadi kembali bertolak ke Kalimantan. Ia menjanjikan pada atasannya akan menyusul esok harinya.
Pemakaman Riani baru saja usai. Samudra dan keluarganya ikut serta mengantar jenazah.
Tentang Juragan Wangsa, pada akhirnya pria itu harus berurusan dengan hukum. Selain kekerasan yang dilakukannya pada Riani, kasus lainnya terbuka satu per satu.
Ketika di pemakaman, Juragan Wangsa sempat berteriak menuntut hukum untuk Samudra atas penyebab kematian Riani, tapi Agus Bagja--ayah Riani, memungkasnya. Tuduhan itu terlalu konyol. Ia membuka banyak kesaksiannya tentang prilaku minus menantu sekaligus mantan rekan bisnisnya. Banyak orang di sekitar termasuk beberapa pegawainya, kemudian maju juga menjadi saksi. Samudra berhasil terbebas tanpa tantangan.
Agus Bagja nyaris bersujud hingga tersungkur di depan kaki Samudra demi meminta maaf untuk kesalahannya di masa lalu, tapi Samudra justru mundur tak ingin menyentuhnya. Tidak akan mudah rasanya. Hanya sebait kalimat, ” Saya sudah maafkan.” Walaupun itu terasa berat untuk diucap.
Ada kilat benci yang masih kuat di mata Samudra untuk ayah Riani tersebut. Tapi kematian mengenaskan Riani--putrinya, Samudra tak ada hati untuk [setidaknya] memberi pelajaran pria tua stroke yang duduk di kursi roda itu.
Balasan Tuhan lebih mengejutkan, Samudra menyadarkan diri.
“Maafin aku baru cerita soal ini,” kata Samudra pada Glorien setelah berada di rumah kecilnya.
Glorien memilih duduk di ujung kasur. “Gak apa. Aku cuma terkejut aja.” Seketika wajah cantiknya berubah iba. “Sekeras apa yang kamu jalani dalam penjara?”
Pertanyaan itu membawa pikiran Samudra kembali ke masa di mana ia terlempar seperti sampah dalam jeruji. Ada rasa sakit, benci, jijik, dan rasa ingin tenggelam tanpa kembali. “Waktu itu, andai pilihan itu ada ... aku pilih mati aja, Glo!”
Glo mengelus lengan atas suaminya untuk memberi dukungan.
Dalam kenangan yang sebenarnya tak ingin Samudra ingat, seketika wajah Regar--narapidana paling senior dan berkuasa ketika itu, membayang di pelupuk matanya seperti suatu penyakit yang mematikan.
Ada kilat amarah dalam sorotnya.
Ia ingat, bagaimana Regar menekan-nekan kepala remajanya untuk bersimpuh, sedangkan Regar sendiri berdiri dengan celana yang sudah dipelorotkannya hingga ke lutut.
Samudra dipaksa memuaskan nafsu pria bertato itu dengan mulutnya. Tapi dengan keras dan terus berusaha berontak, Samudra menolak. Alhasil ia dihajar Regar dan anak buahnya hingga tak sanggup bangun kembali.
Malam harinya Samudra menggigil panas dan dingin. Tak ada satu pun petugas yang datang untuk menolong. Rintihannya tak didengar. Satu anak buah Regar bahkan sengaja meludah ke wajahnya, menimbulkan bau busuk saat Samudra mengusapnya dengan gemetar.
__ADS_1
Tanpa sadar Glorien terisak. Cerita Samudra seperti film kartun ‘Hachi tawon sebatang kara’, yang selalu ditontonnya sambil menangis ketika kecil. Tapi ini jelas lebih menyedihkan.
“Glo!” Samudra menegurnya. “Jangan nangis. Plis, itu cuma masa lalu!” Diusapnya pipi sang istri dengan kedua telapak tangan. “Sekarang aku udah baik-baik aja!”
Tidak menanggapi, Glorien malah memeluk erat Samudra. Menekankan kepalanya di dada bidang itu, lanjut menumpahkan tangisnya di sana. Tak ada kata, kerongkongannya benar-benar tercekat.
Samudra terus mengusap kepala istrinya.
“Aku janji, aku gak akan selemah dulu!”
...*****...
Esok harinya, Samudra benar-benar kembali ke Kalimantan. Ia harus bekerja dengan giat. Glorien dan anaknya akan butuh rumah yang lebih besar di masa depan. Ia harus mencari uang yang banyak. Walaupun dalam hatinya masih gamang, apakah ia dan Glorien akan terus bersama? Atau justru menjadi kenangan dalam sebuah album yang tak bergerak?
Untuk saat ini, setidaknya harapan itu masih ada. Ia terus menitip asa dalam setiap do'a-do'anya. Berharap Glorien mau mempertahankan semua bersama dirinya yang bukan siapa-siapa.
Mada sudah kembali Jakarta sore kemarin. Bengkel mulai kembali dioperasikannya demi sesuap nasi dan kiriman untuk sang ibu. Samudra dengan percaya menitipkannya pada pemuda itu, semoga Rohan tak lagi mengganggu.
Tak lain adalah Mbok Rum dan juga Pak Jo.
Ya! Mbok Rum datang ke Sukabumi tempat di mana Glorien menetap saat ini. Awalnya dia terkejut melihat tampilan Glorien yang mulai membuncit, tapi kemudian berhasil menguasai diri setelah Pak Jo menepuk-nepuk pundaknya memberi penenangan.
Setelah puas berpelukan melepas rindu dengan sang nona, wanita tua itu lantas memberitahu sesuatu.
“Apa, Mbok?! Papa sakit?!” Respon terkejut Glorien.
“Iya, Nona. Beliau terus kepikiran Nona." Wajah Mbok Rum nampak memelas.
Pak Jo yang turut mengantar, maju mendekat. “Tuan tidak ingin mengganggu Nona. Beliau hanya ingin bertemu.”
Glorien sedikit bimbang. Wajahnya lalu menoleh pada Darius yang duduk di kursi lainnya di ruang tamu itu, seperti meminta pendapat.
__ADS_1
Sedikit pun Darius tak berkata. Rautnya sungguh sangat sulit untuk dibaca.
Sebagai anak, Glorien tentu cemas pada sang papa. Tapi Samudra tak di sana. Untuk menghubungi, ia bahkan tak memiliki keberanian.
Darius paham kegalauan menantunya.
“Apakah Glo akan kalian pulangkan kembali kemari kalau saya izinkan pergi?” Itu mungkin peluang untuk Glorien bisa pergi. Tapi sesungguhnya, dalam hati ia tak percaya Rohan Pascal tidak punya tujuan lain. Kejujuran yang diyakini Darius dari pengusaha angkuh itu, hanya sebatas seorang ayah yang merindukan anaknya. Sisanya sungguh abu-abu.
Pak Jo dan Mbok Rum bersamaan menoleh Darius.
“Kami akan antarkan kembali setelah semua urusannya usai, Pak,” Pak Jo menjawab sesantai tiupan angin.
Napas Darius terhempas kasar dari mulutnya. “Saya harap kalian tak berbohong. Glo harus kembali sebelum Samudra.”
Punggung tua Darius yang menjauh ditatap Glorien dengan perasaan masih saja bimbang. Tapi ia harus. Rohan membutuhkannya. Paling tidak tiga hari lamanya. “Kalo gitu aku siap-siap dulu, Pak Jo, Mbok.”
“Mbok ikut, Nona!”
Glorien mengangguki.
Keduanya berjalan cepat menapaki pematang sawah di belakang rumah Darius, menuju rumah mungil.
Sampai di tujuan, Mbok Rum menutup mulut dengan mata yang berkaca. Dalam hatinya, bagaimana bisa nonanya tinggal di tengah sawah dengan rumah yang sangat kecil? Apakah dia bahagia? Atau hanya memaksakan diri?
Glorien memahami perangai pengasuhnya yang bungkam seraya mengedar pandang menelisik tiap bagian dalam rumahnya bermuram durja. “Mbok gak usah sedih. Aku bahagia tinggal di sini. Rumah kecil ini lebih nyaman lebih dari yang Mbok kira.” Dia tersenyum, menunjukkan betapa dia baik-baik saja. “Samudra dan keluarganya, memperlakukan aku udah kaya putri," sambungnya seraya menyisir rambut di depan cermin.
Mbok Rum mendekat lalu berdiri di sampingnya.
“Mbok percaya, Non.” Sisir diambilnya dari tangan Glorien. “Biar Mbok sisirkan.”
Glorien menanggapi senang hati.
Tak ada tipu di bening matanya yang bagai embun.
__ADS_1
Tak harus harta yang menjadi tolak ukur kebahagiaan. -----Teruntuk siapa pun!