Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Map Biru


__ADS_3

“BEDEBAH!” Laura Jung berteriak murka. “Bagaimana bisa wanita sialan itu selamat lagi?!”


Mendapat kabar bahwa wanita muda yang dia kirim untuk jadi pelayan di rumah Glorien telah mati, Laura meradang.


“Samudra benar-benar membuatku gila!”


Serpihan kaca dari gelas yang dia banting ke pintu terserak di bawah lantai.


Di sofa, Edmon duduk bersandar punggung, menatap Laura dengan wajah sinis. “Should i step in?” tanya Edmon menawarkan diri.


Laura menghela pandangnya pada pria itu. Menyorot mata Edmon seperti menelisik sesuatu yang dalam.


“Aku tidak percaya padamu,” tukasnya. Laura bukan anak kemarin sore yang tak paham perangai Edmon selama pria itu mengikutinya.


Edmon benci Samudra.


Jika masalah Glorien dipercayakan pada Edmon, salah-salah Samudra yang akan dihabisinya. Laura tentu tak mau itu. Samudra adalah aset yang tak sembarang dalam kantung kekayaannya, juga ... dalam hatinya.


Walau secara usia cukup memalukan, tapi bukan Laura jika tak percaya diri pada apa yang dia mau. Termasuk Samudra yang notabene lebih pantas jadi anaknya.


Apa gunanya dokter kecantikan, jika tak bisa membantunya terhindar dari peot. Laura bermandi uang. Semua akan jadi mungkin di tangannya.


“Kenapa?! Apa yang membuatmu tidak percaya?" Edmon menuntut. “Aku bisa mengacau wanita itu hanya dalam hitungan menit.”


Laura membuang wajah lalu mendengus. “Lakukan saja tugas sesuai porsimu, Ed!” Dia kembali ke kursinya. Snifter glass di atas meja diisinya dengan vodka asal Korea, lalu diteguknya sekali tandas.


“Kau terlalu memanjakan anak nakal itu, Honey.” Edmon membeliak. Mengangkat diri dari duduknya lalu melangkah ke dekat Laura. “Kau lihat ini!” Sebuah tablet dengan layar menyala ia serahkan ke hadapan Laura.


Laura merunduk untuk menatap layar itu. Mengamati sepersekian detik. Dari wajah yang sudah datar, berangsur mengetat geram. “Samudra.” Giginya saling bergesek pertanda kemarahan mulai naik ke kepalanya.


Edmon menyandarkan bokong di ujung meja Laura, bersedekap tangan dengan bibir tersenyum sinis. “Lihat kesayanganmu itu, Lau? Dia bahkan sudah berbelok dari apa yang selama ini kau arahkan.” Pria itu memprovokasi.


Pandangan Laura menajam. Isian dadanya sudah berderu kencang.


Rumah klasik Wilhelmina. Perihal itu yang baru saja ditunjukkan Edmon pada Laura. Berisi gambaran kehangatan sekumpulan orang lintas usia yang tertawa-tawa.


Samudra sudah meng-klaim bangunan itu sebagai hak miliknya entah dengan cara apa. Wilhelmina mengalah tanpa syarat.

__ADS_1


Laura menyetujui pembelian karena Samudra mengatakan akan menjadikan tempat itu sebagai klub malam yang sohor. Tapi nyatanya ... perubahan yang berlangsung adalah; Samudra malah menjadikannya sebagai rumah singgah untuk anak-anak jalanan dan tunawisma. Madam Wilhelmina sendiri dibantu Mia dan Sakti yang mengelola. Itu benar-benar membuat Laura murka.


“Sudah kubilang, Will bukan orang yang bisa dipercaya." Edmon terus menekan toxic pada Laura. Dia turun menegakkan tubuh, memutari meja, lalu berakhir di belakang kursi yang diduduki wanita itu. ”Hanya aku yang bisa kau percaya," desisnya. “Bahkan jauh bisa memuaskanmu dibanding Will yang tak pernah menghargaimu. Aku lebih perkasa, Lau.” Tubuhnya menekuk untuk menaruh kepalanya di pundak wanita yang terpaut jauh di atasnya secara usia tersebut. “Apa aku benar?”


Laura yang rambutnya diikat bun menggeliat kecil, ketika leher jenjang dan polosnya mulai dikecupi Edmon. Tangannya tergerak naik meraba tengkuk lelaki itu dengan mata yang sudah terpejam. “Kau benar, Ed. Sekarang aku butuh berkeringat untuk menyegarkan tubuhku lagi.”


...****...


Kegalauan makin meluas di dada Samudra.


Setelah insiden racun, Glorien juga hampir ditabrak seseorang saat berjalan menuju parkiran di sebuah pusat perbelanjaan bersama Lola. Di ruang kerja hotel Pascal, ratusan kalajengking memenuhi kamar mandinya. Glorien terus diteror.


Penjagaan yang diturunkan tak bisa menjamin keselamatan wanita itu, seketat apa pun Samudra membuatnya.


Sehelai kertas di tangan ditatapnya dengan hati bergejolak. Ada keresahan yang tak bisa ditutupinya.


“Maafin aku, Glo. Aku terpaksa lakuin ini.” Dia berat hati. Kertas itu dimasukkan ke dalam map biru, lalu terayun di kiri tangan.


Samudra keluar dari garasi.


Di halaman seorang dari Pena Hitam sudah siap menyambutnya dengan pintu mobil sudah menganga. Samudra masuk dan mobil pun mulai melaju.


Satu jam mobil silver yang membawanya sudah berada di depan gerbang kediaman Pascal. Seorang satpam sigap membukakan.


Dengan langkah tegas, Samudra berjalan ke arah pintu kembar yang menjulang tinggi di atas kepala. Dua orang yang berjaga di depan pintu mempersilakannya masuk setelah lebih dulu mereka sibakkan.


Kali ini Rohan tak main-main menjaga putrinya. Rumahnya sudah seperti markas pria-pria berbaju hitam. Mereka nyaris tersebar di tiap sudut.


Sofa tamu chesterfield yang melingkar di tengah ruang berdadah manja. Samudra berjalan ke arahnya lalu menduduki salah satunya. “Aku ingin bertemu Glorien.”


Tidak perlu berteriak, sekian dari penjaga itu langsung mengangguk dan pergi tanpa mengiyakan dengan kalimat.


Dua menit sejak Samudra duduk di sofa, Rohan datang.


Tatapannya seperti biasa, terlihat seperti hewan buas.


Kaos berkerah dengan celana hitam santai membalut tubuh pria nomor satu Pascal tersebut.

__ADS_1


Samudra mengamati melalui ekor mata. Terlihat pria tua itu mulai menurunkan tubuh untuk duduk berhadapan dengannya. Selebihnya ia kembali fokus pada ponselnya.


“Apa yang membawamu kemari?” tanya Rohan dingin dan datar. Tapi sepasang matanya menyorot penuh intimidasi.


Dengan tenang Samudra mengangkat wajah, lalu tersenyum. “Malam, Papa Mertua.”


Sapaan murahan bagi Rohan. Dia menganggap seolah itu hanyalah angin. “Tidak perlu membuang kata. Di sini satu kalimat akan dihitung ratusan dollar.”


“Wow!" Samudra berseru menanggapi. “Lalu berapa dollar yang harus aku bayar jika aku berpidato seperti menteri kehutanan?”


Rohan membuang wajah. Baginya percuma. Dirinya sudah tak ada harga di depan Samudra.


Menantu sampah itu seperti biasa akan sangat menjengkelkannya.


Di tengah sapa menyapa yang baru saja dimulai itu, Glorien datang.


Rambut yang tergerai indah dengan piyama biru bercorak spiral, begitu manis dalam pandangan Samudra. Tiba-tiba ia merasa menyesal dengan tujuan kedatangannya.


Tapi ya....


“Ada apa, Samudra?” Glorien bertanya datar.


Ia sudah duduk di samping Rohan.


Jika dikupas, jauh di dalam hati, sebenarnya Glorien takut pada pria yang sudah berubah menjadi makhluk berdarah dingin itu. Dia mengingat bagaimana Samudra memaksa wanita pelayan menelan racun hingga mati terkapar mengenaskan dengan mata nyalak membola. Dan itu adalah tindak ke sekian yang dia tahu.


Di posisinya, Samudra berhasil mengesampingkan perasaannya.


Map yang dia bawa sedari awal, disodorkannya ke hadapan Glorien.


“Apa ini?” tanya Glorien.


Sedang Rohan masih diam memerhatikan.


“Surat cerai!" jawab Samudra tanpa basa-basi lagi. “Kamu mau itu, 'kan? ... Aku udah tandatangani."


Glorien terkejut bukan kepalang.

__ADS_1


Tak bisa menyembunyikan sekuat apa pun dia menahan.


Samudra bangun dari duduknya. Sepersekian detik memandang Glorien yang masih tertunduk menatap nyalak map biru di atas meja. “Kamu bebas, Glo,” tukasnya, kemudian berlalu pergi tanpa menoleh lagi.


__ADS_2