
“GALAAAA! GLOOOOO!” Samudra berteriak kesetanan.
Sagara dan Glorien berhasil dibawa pergi dua orang yang kemudian terbang ke ketinggian bersama sebuah helikopter.
Mbok Rum dan Pak Jo sudah dalam keadaan naas. Keduanya pingsan terkapar di bawah lantai.
Mereka kecolongan.
Satu helikopter lain ternyata menunggu di bagian belakang rumah, sedikit menjorok jauh ke dekat tebing.
“BANGSAAATT! BALIKIN ANAK SAMA ISTRI GUA, ANJINGGG!” Samudra meraung memukul-mukul lantai.
“Udah, Sam! Udah!” Mada menariknya bangkit sebelum semua ruas tulang jari sahabatnya itu patah.
“Gala, Mad. Gala.” Hancur seisi jiwa Samudra.
David tak bisa mengatakan apa-apa. Dia sama bingung. Ketinggian awan kosong ditatapnya berwajah kacau.
“Boss! Anton gak bisa diselamatkan.”
Semua pandangan kini teralih pada Pepeng yang berdiri di ambang pintu dengan raut menyesalkan.
Mereka dipukul oleh hal menyedihkan lagi-lagi.
David langsung berlari sesaat setelah kabar itu disuarakan Pepeng.
Samudra menatap semakin tak bisa mengkondisikan perasaannya.
Apa yang salah dari caranya?
“Kita pikirin cara buat selametin anak sama bini lu abis ini. Gua yakin mereka bakal baik-baik aja, Sam. Orang-orang di sini lebih butuh kita dulu sekarang.”
Kalimat Mada menyentil hati Samudra yang langsung sadar dengan sikapnya yang egois.
Di ruangan tadi, Mbok Rum dan Pak Jo belum mendapat pertolongan. Dan Anton, supir itu bahkan kehilangan nyawa.
“Iya, Mad. Hubungin orang buat urus mereka."
Mada mangiyakan lalu menggandeng Samudra bangkit. Membawa masuk untuk menemui orang-orang yang terkena imbas dari masalahnya.
...*****...
Bukan perbuatan Rohan Pascal.
__ADS_1
Pria itu saat ini bahkan tengah terbaring di ranjang rumah sakit karena tekanan mental. Kesehatannya menurun drastis. Glorien yang hilang pun dia tak tahu.
Samudra mencari tahu sendiri ke rumah Pascal. Selain Martin dan ibunya yang genit, Samudra tak menemukan apa pun yang mencurigakan di sana.
Mbok Rum dan Pak Jo dalam masa perawatan di rumah sakit lainnya. Anton telah dikebumikan di sebuah tempat--tidak di kampung halamannya, digabung di pemakanan anak buah Samudra dari Pena Hitam yang tumbang saat di Bondowoso.
Selain keluarga mereka [yang gugur] yang memang dijamin segala sesuatunya, juga anggota yang terlibat, semua akan tetap jadi rahasia. Samudra tak ingin kehidupan dan dunianya bercecer hingga menjadi gosip murahan yang menjijikkan karena diketahui semua orang.
Saat ini Samudra dan kelompoknya masih berusaha mencari.
Dan ini adalah hari kedua, belum membuahkan hasil tentang keberadaan Glorien juga Sagara.
Darius diberitahunya karena merasa tak ada lagi tempat menenangkan untuk ia menumpahkan keluh dan kesah. Ayahnya menanggap sedih dan akan membantu yang dia bisa juga dorongan do'a.
"Gua mau cabut ke Moskow!" celetuk Samudra tiba-tiba.
David, Mada, Ernest dan lainnya sontak melengak.
Mada lebih dulu bertanya, "Mau ngapain lu ke sana?"
Gelas berisi soda di tangannya diangkat Samudra ke depan wajah, lalu diputar-putar seraya menatapnya seperti pusaran angin. "Nemuin Laura."
Mereka yang mendengar saling beradu pandang.
Tidak ada pesan yang dirimkan, tidak ada peringatan sebentuk apa pun, tidak juga ada meminta tebusan, pelarian Glorien dan anaknya masih berkabut. Tapi Samudra menujukan pikir, curiga dan tuduhnya pada satu orang-------Laura Jung.
"Lu yakin?" tanya Mada.
"Sangat!"
"Kalo gitu gua temenin," Mada menawarkan diri. Ada kecemasan besar jika itu menyangkut Laura.
"Gak, Mad!" tolak Samudra menatap kawannya itu skeptis. Bukan masalah kepercayaan, tapi ada hal yang memang Samudra butuh dia yang menyelesaikan sendiri.
"Tapi, Sam--"
"Kalian susul gua belakangan," sergah Samudra. "Tapi sebelum itu, siapin semua yang memang harus dipersiapkan. Paham 'kan maksud gua?"
Lagi, Mada, Ernest dan David saling beradu pandang, lalu sama-sama mengangguk kemudian.
Esok harinya, membawa serta harapan, Samudra benar-benar bertolak ke Rusia. Mada dan lainnya ia minta siaga dan mempersiapkan semua walau belum tahu keadaan sebenarnya.
Tapi yang jelas, pelarian anak dan istrinya bukan ranah sederhana lagi. Semua terencana matang.
__ADS_1
Jika Laura benar-benar ada di balik ini semua, Samudra tidak akan segan lagi pada wanita itu.
Walau jalan yang akan dilalui tak mudah, Laura memiliki bakingan kuat yang sulit ditembus, tapi tekad Samudra lebih kuat lagi. Apa pun yang berhubungan dengan Laura, akan ia sudahi.
Sebuah rumah mewah berdesain klasik modern berdiri angkuh di bagian selatan Kota Moskow. Rumah tunggal yang jauh dari hiruk pikuk dan keramaian, Samudra berdiri di depan halamannya sekarang. Halaman tanpa gerbang, berjejer belasan mobil mewah yang sepertinya adalah milik tamu-tamu Laura.
Bersepatu hitam mengkilat dengan longcoat berwarna serupa, pria itu berjalan percaya diri memasuki rumah setelah melewati dua penjaga yang berdiri di teras tanpa kesulitan.
Kedatangannya langsung disambut sumringah oleh Laura yang kebetulan [sepertinya] tengah berpesta.
"Samewise! Oh, My God!" seru Laura berjalan menyongong Samudra seraya merentang tangan. "Kamu pulang, Sayang?"
Samudra masih diam saat Laura memeluk tubuh dan mengecupi dua pipinya, walau dia sangat jijik sebenarnya.
Tatapannya mengabsen orang-orang yang duduk mengisi semua bagian sofa.
Dia mengenali mereka adalah para investor kesayangan Laura dan lainnya orang-orang yang diunggulkan wanita itu di perusahaan. Salah satunya ada Donna Trump--janda cantik kaya raya yang pernah menawarkan sebuah kapal pesiar pada Samudra, asalkan dia mau diajak tidur semalam suntuk dan memberi kepuasan tanpa batas. Luar biasa! Tentu saja ditolak Samudra. Bukan dia tak suka kapal pesiar, tapi Samudra tak mau sembarang memilih lubang.
Samudra tidak menanggapi saat Donna melambaikan tangan dengan kedipan genit.
Semua pria dan bapak-bapak memandangnya hanya sebagai putra laki-laki Laura. Kecuali yang duduk di sofa paling ujung dengan sebatang rokok di tangannya----Edmon. Tatapan tajam masih sama seperti dulu. Samudra tahu betul Edmon adalah musuh dingin yang suatu saat [mungkin] akan beradu otot dengannya.
"Why didn't you say, you wanted to go home? Ibu 'kan bisa suruh Edmon jemput kamu ke bandara dan suruh pelayan siapkan makanan enak!" Laura melanjutkan dengan raut menyesal. Tangannya masih terus sibuk membelai pipi Samudra yang dingin.
"Aku ingin memberi kejutan saja."
Laura tersenyum senang menyikapi itu.
"Dia akan pegal jika kau terus perlakukan seperti itu, Laura." Donna Trump bersuara. "Biarkan si tampan itu duduk."
(Anggap berbahasa inggris ya).
"Oh, God. Aku sampai lupa. Kau benar, Donna!" Laura membalas. "Ayo duduk, Honey." Satu tangan mengarahkan Samudra ke bagian sofa.
Samudra mengangguk. Semua tamu diedarnya dengan senyum sapaan wajar.
"Sorry semua, aku terlalu bersemangat," kata Laura pada tamu-tamunya dengan senyuman khas seperti biasa.
"Isoke, Mrs. Laura."
Samudra menduduki sofa di samping Laura. Walaupun ia tak paham dengan apa yang tengah mereka bicarakan sebelum kedatangannya, tapi ia memasukkan diri ke dalamnya tanpa canggung. Saling bertukar tanya dan obrolan formal seputar bisnis dan lain-lain. Laura nampak senang dengan itu. Terus saja dipujinya Samudra penuh bangga.
Tapi di samping hal demikian, jika dikaitkan dengan aura tenaga dalam di dunia spiritual, Samudra bisa merasakan aura menekan dan kelam, dari seorang Edmon.
__ADS_1