
Memasuki area perkebunan, ternyata jalan yang dilalui cukup terjal. Berkelok, berbatu dan belum beraspal. Glorien memaksa mobilnya terus melaju, walau bergijak-gijuk dan bergoyang-goyang, ia tidak menyerah demi tender besar yang dimandatkan kepadanya.
Seorang investor dari Jerman, menginginkan sebuah villa kaca, dengan kawasan luas yang sejuk, ramah lingkungan, jauh dari polusi kota dan kebisingan. Investor itu jatuh cinta dengan prestasi Glorien di bidang arsitektur dan penataan, ia ingin Glorien yang mengerjakan sekaligus mencarikan tanah yang tepat. Tak lama sejak meeting dengan klien itu, Lola menemukan perkebunan yang saat ini Glorien jejaki.
Letak villa si pemilik di titik paling ujung perkebunan.
Jika Glorien berhasil membuat pemilik itu menjual seluruh aset-nya, dipastikan kantong Glorien akan gemuk dengan uang, lengkap dengan apresiasi besar dari papanya dan perusahaan.
Tender ini terbilang sampingan bagi Glorien, karena sebenarnya ia sudah sibuk mengurusi hotel yang Rohan percayakan untuk ia kelola di pusat kota. Glorien saat ini termasuk kategori CEO muda, cantik dan berprestasi.
---- Back to scene ----
Setelah melalui perjalanan pendek namun terasa lambat karena trek yang masih bobrok, dari jarak sekian meter, villa sudah terlihat, menjulang dan megah dengan pilar raksasa yang terhubung satu dan lantai dua.
Tanah kosong di bawah sebuah pohon kelapa perdu, Glorien memarkirkan mobilnya di sana. Ia turun dengan hati-hati lalu menutup pintu.
Pemandangan indah sekitaran villa cukup mencuri perhatian Glorien. Sesaat ia mengedar pandang menikmati sejuk yang betapa langkanya ada di Jakarta. Sampai tatapnya kemudian jatuh pada seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari pintu utama villa. Wanita itu membawa serta sebuah polibag hitam besar berisi sampah yang kemudian ditaruhnya di bak pembuangan. Glorien menghampiri dengan langkah mantap.
“Permisi, Bu.”
Si ibu langsung menoleh. “Iya, Neng?” Nampak mengerut keningnya karena tak mengenali wanita muda di hadapannya.
“Umm ... pemilik villa ini ada di dalam?” Glorien bertanya langsung.
Ibu itu menoleh ke arah dalam. “Oh, Tuan ....” Lalu menoleh kembali pada Glorien, “Iya, ada, Neng." Dia tersenyum ramah. “Neng tamunya, ya?” tanyanya berlogat Sunda.
Glorien diam sesaat, lalu kemudian mengangguk kaku. “Iya. Iya, kurang lebih begitu, Bu," jawabnya. “Kebetulan saya ada urusan penting sama beliau.”
Ibu yang jelas dari tampilan dan sikapnya adalah seorang asisten rumah tangga, tersenyum lagi. “Kalo gitu, hayu atuh masuk. Sebentar lagi mau ujan.” Dia mendongak ke atas, menatap sekilas mendung di ketinggian awan kelabu.
“Ah, iya, Bu. Terima kasih.”
Diikutinya si ibu yang berjalan lebih dulu di depannya. Pandangannya masih sibuk mengabsen isian villa beserta seluruh detail ornamen dan bagiannya. “Bangunan klasik yang unik," komentarnya dalam diam seraya berjalan.
__ADS_1
“Silakan duduk, Neng. Saya panggilkan Tuan ke atas dulu.”
Diangguki Glorien dengan senyuman. Dia duduk mengisi sebuah sofa mewah di tengah ruang.
Enam menit terhitung penulis, si ibu pembantu yang tak diketahui namanya sudah turun dari lantai dua.
“Aduh, maaf, Neng. Tuan kok nggak ada di atas, ya?”
Glorien bangkit dari duduknya. “Gak ada gimana, Bu?”
“Iya, nggak ada, Neng. Apa di belakang ya, ngoprek motor butut kayak kemaren?”
Pembantu itu bingung, apalagi Glorien yang tak mengenal. Dia tanya Glorien, Glorien tanya siapa?
“Bibi cari ke belakang dulu, ya.”
“Oh, Bu!" Glorien menarik tangan si ibu yang hendak berbalik. “Kita cari sama-sama, ya. Waktu saya nggak banyak soalnya.”
Keduanya lantas berjalan beriringan ke arah belakang villa. Sebuah koridor panjang dilalui mereka. Mata Glorien cukup sibuk mencuri pandang ragam lukisan di sepanjang dinding koridor yang berlangit-langit cukup tinggi.
Di langkah ke sekian, si ibu menghentikan langkah seraya berteriak, “Gusti! Ibu lagi rebus telor! Lupa!”
Glorien menanggapi ikut panik, “Trus, Bu?”
“Neng sendiri aja ke belakang. Tinggal belok kiri sekali lagi, langsung sampe!”
Glorien kebingungan, sementara si ibu sudah mencelat lari seperti turbo.
Pada akhirnya Glorien mengalah, mengangkat kedua tangan lalu menurunkannya berpasrah. Meneruskan tujuan dengan langkah cepat sesuai petunjuk si ibu tadi. ‘Belok kiri sekali lagi, langsung sampe’.
Glorien celingukan dengan langkah pelan. Sampai telinganya kemudian mendengar suara kratak-kratak di satu bagian.
“Oh, di sana,” katanya.
__ADS_1
Gudang itu berada terpisah dari bangunan utama. Menempel dengan sebuah dapur yang sengaja didesain di luar ruang. Alat-alat panggang berjejer lebih dari satu. Itu pasti khusus acara barbeque.
Langkah Glorien telah sampai di depan gudang yang pintunya terbuka lebar. Seseorang tengah berjongkok di depan sebuah kawasaki AR125 yang nampak lapuk. Tangannya sibuk memutar baut dan mur yang entah akan dibuka atau dikencangkannya, yang jelas orang itu nampak serius. Langkah kaki Glorien yang bersepatu flat tak menggubrisnya.
“Permisi,” Glorien berucap dengan gaya sesopan mungkin.
Orang itu jelas pria. Dia belum berbalik untuk menyambut sapaan Glorien. Menjawab pun tidak. Entah tak mendengar atau bagaimana.
Aura dingin tiba-tiba menyergap Glorien. Dia sampai mengusap tengkuknya karena merinding. Suasana gudang sedikit mencekam walau terang dari pintu menganga lebar. Gerimis mulai turun dan menyebar di sekitaran. Suasana perlahan gelap. Fantasi khayal Glorien mulai kacau. Dia membayangkan kalau orang itu adalah hantu, lalu bergidik ngeri.
“Permisi!" ulangnya sekali lagi dengan suara sedikit lebih keras.
Barulah berhasil mencuri perhatian.
Obeng yang dimainkan ditaruh pria itu ke lantai yang nampak kotor dan bercecer oli. Dia menolehkan kepalanya ke arah Glorien dan ....
Seiring suara guntur menggelegar di ketinggian langit, disusul hujan yang tiba-tiba deras, sepasang mata Glorien nyalak melebar. Pandangan mereka sudah bertemu.
“S-Sa ... mudra,” desis Glorien tak percaya. Jantung dan hatinya mulai bertabuh saling memukul. Ada hantaman tak kasat mata menyerang tiba-tiba. Kakinya limbung menghela mundur tubuhnya hingga beberapa langkah ke belakang.
Sementara lelaki di depannya nampak datar tanpa ekspresi. “Anda siapa?” tanyanya pada Glorien.
Genangan saliva di dalam mulut ditelan Glorien susah payah karena tercekat. “Suaranya ... suaranya lebih tebal. Dia bukan Samudra. Aku pasti sudah gila,” monolog hatinya. “Tapi wajahnya benar-benar mirip.”
Menegakkan badan mencoba mengatur rasa yang bergejolak. Ditariknya napas untuk menormalkan diri yang sudah seperti terkena demam. “Ke-kenalkan, saya Glorien.” Satu tangan ia julurkan pada pria yang mirip Samudra itu, berusaha memasang sikap wajar diiring senyuman ramah yang justru terkesan kaku.
Pria itu mengangguk dengan tampang masih biasa saja. “Will.”
Tangan Glorien langsung dingin saat orang itu balas menjabat tangannya. Kembali ia menelan ludah. Demi menghilangkan kegugupan dibuangnya pandangan ke sisi kiri.
“Ada perlu apa Anda datang kemari, Nona?”
Pandangan Glorien kembali padanya. “Umm ... saya ... umm ... bisa kita bicara di tempat yang lebih nyaman ... Tuan Will?”
__ADS_1