
BRUKKKK!!
Dua orang pria tersungkur di bawah kaki Samudra yang duduk santai di atas sebuah kursi, dalam keadaan kedua tangan terikat di balik punggung. Wajah keduanya penuh lebam dan darah di sekitaran wajah--mereka asli bonyok.
“Jadi kalian pelakunya?” tanya Samudra.
Dua orang itu saling pandang ketar-ketir, lalu merunduk diam.
Dari kondisi muka, mereka berasal dari ras kulit hitam. Entah itu Ambon atau Papua. Berwajah bengis dengan alis tebal.
Tapi tetap seperti cecunguk di hadapan Samudra saat ini.
“Siapa yang nyuruh kalian?” Nada tanya Samudra masih terdengar datar.
Dua orang hitam itu tetap bungkam. Ada raut takut dengan dua tema berbeda. Takut oleh hukuman Samudra, dan takut [mungkin] oleh bos mereka yang menyuruh.
Setidaknya ada lima orang dari Pena Hitam berjaga di sana mengelilingi. Bersedekap tangan dengah wajah angkuh. Mereka tak ikut campur di sesi ini. Karena tugas mereka hanya menangkap dan membawa, selebihnya, Samudra yang akan mengambil sikap.
Di dekat Samudra, David duduk santai dengan sekotak susu strobery di tangannya. “Cincang aja, Sam!” suruhnya tersenyum iblis. Suara sedotan susunya terdengar horror di telinga kedua orang di bawah kaki Samudra. “Kebiasaan!” lanjutnya makin menjadi.
“Gua tanya siapa yang suruh kalian?!” ulang Samudra menekan. Sorot matanya bagai elang menatap seekor kijang.
“BACOD, ANJINGG!” desaknya berteriak. Dua orang itu langsung terperanjat dan ketakutan. “Atau kalian mau gua kuliti?” Suara Samudra kembali pelan.
“Kuliti, Sam! Mutilasi sekalian!” David memprovokasi lagi.
Samudra tak menggubris. Bola matanya seolah akan keluar saking amarah sudah naik ke ubun-ubun. “Masih gak mau bacot?”
PLAK! PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi masing-masing tawanannya kemudian.
Mereka mengerang. Antara sakit dan panas yang bercampur jadi satu.
“Lanjut, Sam!” seru David seperti mendapat tontotan asyik. Didukung para Pena Hitam yang turut memberi sorak.
“Pinjem korek lu, Dav.” Samudra menadahkan tangan pada David.
Sebuah korek zippo berwarna silver diberikan David. “Perlu gua ambilin bensin?” tambah pria itu kesenangan.
“Bakar, bakar!” Pena Hitam menyorak girang.
TREK!
Korek menyala di tangan Samudra, lalu didekatkan ke wajah salah satu pria hitam di bawah kakinya yang sudah gemetar.
__ADS_1
“Jan-jangan!” Dia ketar-ketir.
Samudra menyeringai. “Jangan apa?” tanyanya. “Jangan tanggung-tanggung?!”
TREKK!
“Aarrrgghhh!!” Teriakan itu mendengking menyembah langit.
Disusul tawa riuh David dan Pena Hitam. “Hahaha!”
“Gimana? ... Enak dicukur kumis pake api?” tanya Samudra seraya mengangkat wajah orang yang baru saja dia kerjai. Kulit di bawah hidung orang itu menghitam gosong, satu level di atas hitam kulitnya.
Satu teman di sebelahnya mulai gemetar.
“Eh, dia kencing, Sam!” David menunjuk celananya, lalu terbahak.
“Hahaha! Ampe tekencing-kencing dia!” seru salah satu Pena Hitam. “Makanya bacod lu! Apa susahnya.”
JEDAG!
Kali ini Samudra menendangnya keras hingga terjungkal ke belakang. Menyusul tendangan berikutnya, lalu orang hitam itu ....
“Ampun! Iya, iya! Saya akan bilang, jangan siksa saya lagi!” Teman yang tadi dibakar kumisnya oleh Samudra menatap dengan gelengan, seperti tak menyetujui putusan itu.
Samudra menoleh pria itu lalu menendangnya juga.
BAGBIGBUG!
Pukulan Samudra di wajah mereka susul menyusul kesetanan.
“IYA! KAMI AKAN KATAKAN!”
Samudra menarik cepat kakinya yang hendak melayang lagi. “Bacot cepet!”
“Tapi saya mohon satu permintaan pada Anda, Tuan.” Satu yang kumisnya gosong memelas.
Samudra memicing mata. Pena Hitam saling beradu pandang.
“Uda model iklan sampurna,” kata David terkekeh geli. “Lu dikira jin, Sam.”
Samudra menolehnya tanpa tawa. Dia mengingat bagaimana Glorien hampir mati kehabisan napas karena bom asap racun yang dilempar dua orang itu. Dia murka, namun tetap harus mendengarkan apa maunya. “Minta apa lu?” tanyanya lantas memberi muka.
Sejenak orang itu diam. Ada setitik air mata jatuh menggelinding dari matanya yang sudah tak jelas rupa. “Tolong jemput putri saya di Asrama Mega. Dia terancam akan diapa-apakan kalau saya sampai buka mulut pada Anda.”
Dia sudah memastikan nasib, Samudra pasti akan menghabisinya, atau paling rendah menjebloskan mereka ke dalam penjara. Demikian otomatis putrinya akan sendiri. “Tolong. Putri saya sudah tak ada ibunya.”
__ADS_1
Samudra terketuk hati dengan permintaan itu.
“Kalo gitu cepet bilang! Siapa yang nyuruh kalian?!”
“Laura! Laura Jung yang menyuruh kami!” Ungkapan itu justru dilontarkan cepat oleh teman satunya lagi.
Keterkejutan Samudra bagai tonjokan. “Ibu Laura,” desisnya.
Pena Hitam kembali saling beradu pandang.
Sedang David menatap tak percaya. “Kalian gak ngada-ngada, 'kan?” tanyanya.
“Kami tidak bohong, Tuan!" Orang itu memastikan bersungguh-sungguh.
Samudra tercenung.“Ternyata kecurigaan gua bener,” kata hatinya. “Perempuan tua itu emang gak beres dari awal.”
Ia lantas menggilir tatap pada dua orang di hadapannya, kemudian jatuh pada si hitam yang mengiba tadi. “Jemput anak lu dari asrama dan kalian pergi sejauh mungkin. Buang ponsel dan apa pun yang bisa dilacak anak buah Laura.”
Kedua orang itu melengak menatap Samudra. “Tuan tidak akan menghukum kami?”
Samudra berdiri. Tatapannya nampak datar tidak terbaca. Dia lantas menjawab tak sesuai pertanyaan mereka. “Anak buah gua bakal ngikutin kalian sampe bener-bener cabut. Tapi kalo sampe kalian belok trus balik sama Laura, gua yang akan gantiin Laura ngancurin keluarga kalian sampe ke akar!” Lalu melenggang pergi keluar dari sana tanpa menoleh lagi.
****
Samudra memilih menyetir sendiri setelah keluar dari tempat eskekusi di gudang bawah tanah Villa Kelapa.
Di jalanan dia tercenung. Mengingat kata 'putri saya', dia terbayang wajah Miana. Darius begitu mencintai anak perempuannya itu, pun dengan dirinya. Tak terkecuali penjahat tadi, entah sebesar apa anak perempuannya, tapi dia tahu ... semua ayah akan sama cemas pada anak mereka bahkan nyaris setiap detik, walaupun dia seorang penjahat.
Bergeser dari tema itu, Samudra menghubungi Glorien.
“Masakin sesuatu yang enak dari tangan kamu. Dalam dua jam, aku sampe di rumah garasi!” Ponsel dibantingnya ke jok sebelah, lalu menancap gas, melajukan mobilnya secepat turbo.
Bandung - Jakarta memang jauh, tapi Samudra benar-benar membuktikan kata-katanya. Dalam dua jam, dia sudah sampai di halaman bengkel yang nampak sepi.
Kunci mobil ditarik dalam genggaman, dia masuk dengan langkah lebar ke dalam bangunan itu.
Aroma lezat seketika menyeruak ke penciuman sesaat dia menjejak area dalam. Samudra tersenyum melihat beberapa piring berisi ragam jenis masakan di atas meja yang dia lewati. Kepalanya laju mengedar mencari Glorien.
Satu ruangan terdengar berisik. Dia melangkah pelan menuju tempat asal suara itu.
Di sana terlihat Glorien yang nampak sibuk di depan wastafel mencuci perabotan bekas memasak. Kembali bibir Samudra tertarik ke samping membentuk senyuman. Tampilan Glorien dengan rambut dicepol sembarang nampak menarik perhatiannya.
Glorien yang tak menyadari kehadiran pria itu seketika terperanjat dan menoleh, lalu membulatkan mata.
Bibirnya beradu dengan bibir Samudra yang saat ini memeluknya dari belakang.
__ADS_1
“Maygat!”