
Rohan, seperti biasa ditemani Pak Jo, janji bertemu dengan seorang manager marketing perusahaan di ruangan lain, masih di gedung yang sama setelah pertemuan saham usai. Sekarang keduanya akan kembali ke ruang kerja pribadi Rohan di lantai enam sesudah semua keperluannya dengan manager itu dibicarakan.
Di tempat lain, Glorien pamit cepat pada Mario.
“Aku harus pergi, Mar. Sorry gak bisa anter sampe depan.” Ia ingin mengejar Samudra yang entah kenapa ada di perusahaan, padahal pria itu tadi tak hadir dalam rapat dan malah mewakilkan pada bawahannya. Glorien cemas orang itu punya maksud lain.
Menyikapi sikap wanita di depannya, Mario berkerut kening dan bertanya, “Ada apa?”
“Umm ... aku ada sesuatu yang kelupaan,” jawab Glorien seingatnya.
Mario memahami kemudian mengangguk sekali saja. “Oke. Aku balik kalo gitu.”
Glorien tersenyum. “Hati-hati di penerbangan kamu nanti sore.”
Sesaat Mario diam menatap ke dalam mata Glorien yang indah itu. “Iya,” katanya. Lalu mendaratkan sebuah kecupan singkat di kening Glorien. “Aku harap, kamu mau membuka hati kamu buat aku, Glo.”
Gerakan yang tak diduga itu membuat Glorien terkejut. Ia diam membatu tak siap membalas kata.
“Aku akan tunggu jawaban kamu saat aku pulang nanti,” sambung Mario, tersenyum puas, kemudian berlalu meninggalkan Glorien yang terdiam seperti patung.
Masih tercenung, tak tahu bagaimana mengekspresikan, punggung Mario yang mulai jauh ditatap Glorien dengan raut bingung. Apakah pria itu baru saja menyatakan cinta?
“Glo!”
Sampai Lola mengejutkannya dengan tepukan di pundak, barulah Glorien tersadar. “La!”
“Kamu ngapain bengong di sini?" tanya Lola.
Lift yang baru saja menelan tubuh Mario ditatap Glorien sesaat, lalu menoleh kembali pada Lola. “Nggak. Nggak ngapa-ngapain, kok.”
Lola memicing mata. “Gak bisa kamu boongin aku,” ujarnya tidak percaya.
“Gak ada, La! Ayo pergi!” Tangan Lola ditarik Glorien.
“Eh, eh, kemana?” Lola terseok-seok.
“Aku harus cari Samudra. Tadi dia ada di sini.”
Lola mengerut kening, tapi tak mengatakan apa-apa lagi.
***
__ADS_1
Rohan sudah sampai di depan ruangannya, dan seperti biasa, Pak Jo akan membukakan pintu untuk pria nomor satu Pascal tersebut penuh hormat.
Keduanya mengayun kaki sesigap biasa untuk masuk ke dalam ruangan. Namun setelah sampai, Rohan dan Pak Jo saling melempar pandang. Didapati mereka, seseorang duduk santai di atas kursi yang berhadapan dengan kursi agung milik Rohan--membelakangi keduanya.
“Maaf, Anda siapa, ya?" Pak Jo tak tahan untuk bertanya.
Perlahan, kursi beroda di depannya mulai berputar.
Rohan terus memperhatikan sampai sempurna sosok itu menguasai penglihatannya. Dan ....
“SURPRISE!” seru orang itu dengan senyum mengembang. “Hallo, Tuan Pascal,” sapanya percaya diri. Dia bangkit menegakkan tubuh lalu berjalan mendekati Rohan. “Apakah semua berjalan baik selama lima tahun ini?”
“Samudra," Pak Jo berdesis lirih dalam keterkejutan bernilai hakiki.
Rohan mendengar itu lalu membelalak. Meski dia tak pernah bertemu secara langsung dengan Samudra sebelumnya, tapi dia belum pikun untuk melupakan wajah yang ada di CCTV enam tahun lalu itu. Wajah yang menemani Glorien mabuk semalam suntuk hingga berakhir anak gadisnya tersebut hamil di luar nikah.
“Kau ....”
Rohan tak tahu harus mengatakan apa. Tapi keyakinannya masih menentang kalau orang di depannya adalah Samudra seperti yang disebutkan Pak Jo. “Siapa, kau?” Lantas ia bertanya. Coba menekan hati, mungkin lelaki itu kembaran Samudra.
Samudra tersenyum. “Aku ... Anda mau tahu siapa aku, Tuan Pascal?” tanyanya setengah mempermainkan.
“Jangan bermain-main denganku!” Rohan memperingatkan seraya berjalan ke arah kursinya.
“Aku pemegang dua puluh persen saham perusahaan ini,” kata Samudra sesantai kentut.
Rohan tertawa. “Jangan mengada-ngada, Anak Muda. Apa kau kembaran pemuda yang mati itu?!”
Samudra meluruskan hadapnya pada Rohan, lalu tersenyum penuh arti. “Kalau aku bilang ... aku hantunya, bagaimana?”
BRAK!
Pintu tiba-tiba terbuka.
“Samudra!” Glorien muncul diikuti Lola di belakangnya.
“Hay, Glorien Sayang. Kamu rindu aku?” goda Samudra sudah berbalik arah pada Glorien.
Spontan menghasilkan tatapan membunuh dari Rohan.
Glorien meradang, tapi entah apa yang membuat, dia langsung merasa kalah saat itu juga.
__ADS_1
“Jo! Panggil satpam untuk mengusir orang ini keluar!” turun perintah Rohan dengan nada bengisnya.
“Baik, Tuan!”
Belum sempat Pak Jo menghubungi satpam, Samudra lebih dulu memotong, “Kalian mau mengusir aku?” tanyanya seraya menyerahkan dengan kasar sebuah kartu nama ke dada Pak Jo.
Pria baya itu menerima dan langsung membacanya. “Samewise Will,” bunyinya setengah menggumam. Mengangkat wajah dari kartu kecil di tangannya lalu membelalak. “Ka ....?”
“Ya! Aku Samewise Will” sergah Samudra mengakui. “Juga Samudra!” Ia menambahkan disertai senyuman iblis. “Aku tidak jadi mati. Malaikat maut mengatakan salah menjemput orang saat itu,” leluconnya sambil terkekeh. “Dan sekarang ... aku adalah pemegang dua puluh persen saham Pascal Corporation.” Lalu tertawa.
Rohan membelalak. Tatapan matanya berkilat kelam, menyiratkan rasa tidak terima yang kental dan menghitam. “Kau ....”
“Ya, Tuan Pascal Yang terhormat?” todong Samudra, masih dengan wajah sinting yang membabikan. “Jangan bilang lagi kau ingin mengusirku.”
“Akan aku lakukan!” sergah Rohan mengetat rahang.
“Silakan jika kau ingin aku mundur dan menghacurkan Pascal hingga rata ... dari luar,” ancam Samudra berubah datar.
Harga diri Rohan benar-benar jatuh detik itu juga. Ia tak bisa berbuat apa pun selain menahan semuanya di ujung dada.
“Samudra, bisa aku dan kamu bicara empat mata?” Glorien mencoba jadi penengah. Ia cemas ayahnya akan tertekan mengingat riwayat jantungnya cukup tidak baik akhir-akhir ini.
Lola dan Pak Jo seperti kecoak terinjak. Diam tak tahu harus berbuat apa.
“Tentu, Sayang.” Lagi-lagi Samudra bertingkah seperti èèk kebo. “Apa kita akan membicarakan tentang membuat anak?”
“Hentikan atau kurobek mulutmu!” Rohan Murka dan mengancam. Ia tak suka dengan kalimat menjijikan Samudra pada putrinya.
Samudra berbalik kembali. Menyorot Rohan dengan tatapan seolah akan melahap.
“Aku berhak menggoda istriku. Apa yang salah dengan itu, Pak Tua? Bukankah kau sebagai ayah harusnya mendamba kehadiran seorang cucu?” ejeknya. “Atau ingin membunuhnya?” tambahnya dengan ekspresi kembali redup.
“Putriku bukan istrimu!” tolak geram Rohan.
“Iya, Samudra. Sudah tidak ada apa pun lagi di antara kita.” Glorien menimpal. “Jadi tolong jangan membuat lelucon rendahan seperti ini.”
Tubuh tegapnya perlahan membalik, Samudra menatap Glorien dengan seringai. “Kamu yakin, Sayang? ... Kamu yakin tidak ada apa pun lagi di antara kita?”
“Tentu saja!” jawab cepat Glorien. “Semua sudah berakhir sejak kamu dinyatakan mati.”
Dengan tatapan tajam tak beralih dari wajah Glorien, satu tangan Samudra menyelinap ke dalam saku bagian dalam jasnya. Sebuah benda diambilnya dari sana, kemudian ....
__ADS_1
“Lalu bagaimana dengan ini?”