Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Ketahuan


__ADS_3

Mbok Rum masih menangis, terduduk lemas di atas ranjang putri asuhnya. Kepergian Glorien secara diam-diam mengejutkan seisi rumah.


Rohan Pascaal berdiri bergeming menatap ke luar jendela kamar putrinya yang terbuka. Seekor burung kecil baru saja bertengger di bingkainya tak mengusik pria itu.


Di sana ada Martin dan ibunya--Margaret, berdiri sejajar lewat satu meter dekat ambang pintu. Keduanya saling melempar senyum, seperti ada kepuasan besar yang begitu baik untuk mood mereka.


Mbok Rum merasa gagal. Kertas hasil lab kehamilan Glorien ditemukan Margaret saat wanita itu melewati kamar Mbok Rum yang tengah berbenah kasur, mengganti sprei. Kertas maha penting tersebut tercampak di atas lantai setelah terlempar hingga ke dekat pintu. Margaret mengambilnya gegas sebelum Mbok Rum. Terang saja itu menjadi berita besar bagi dirinya dan juga Martin untuk mengacau Rohan dan putrinya hingga ke akar.


Rohan yang terkejut saat menerima laporan adik iparnya, tanpa berpikir, langsung meluapkan kemurkaannya pada Glorien dengan meminta menggugurkan segera kandungannya, atau dia akan mencabut hak waris atas putrinya itu sebagai ancaman.


Namun siapa sangka, ancaman itu justru menjadi hal yang terbantah. Putrinya malah pergi.


Glorien tertekan. Seluruh sarafnya seakan terenggut paksa, saat mendengar kata demi kata dari kemurkaan papanya. Dia tak menyangka, Rohan mengetahui lebih cepat dari waktu yang sudah dia rencanakan untuk berterus terang.


‘Menggugurkan’ ... kata itu terasa lebih dari sekedar horror di telinganya. Terlebih, beberapa waktu lalu sepulang kampus, ia melakukan USG tanpa sepengetahuan Mbok Rum.


Janin sebesar biji kacang ditatapnya penuh haru. Karena hal itu, kasih sayang yang mula sembunyi tiba-tiba meluap memenuhi tempat di hatinya, untuk si calon jabang bayi.


Karena permintaan sang ayah yang menurutnya tentu sangat kejam, akhirnya Glorien memutuskan pergi mencari Samudra, membawa harapan, lelaki itu [mungkin] bisa melindungi dirinya juga calon sang anak yang tengah dalam ancaman.


Dari Mada, walaupun harus beradu ocehan dulu dengan pemuda yang tingginya hanya 169


itu, Glorien akhirnya berhasil mendapatkan alamat Darius di Sukabumi.


*


*


*

__ADS_1


Atmosfer di ruang tamu minimalis bergaya klasik rumah Darius nampak tegang. Jarum jam berdetak seolah lambat.


Samudra duduk tertunduk di satu sofa berdampingan dengan Glorien yang sama kacau.


Darius mengisi sofa tunggal bersandar punggung, namun tatapannya tak beralih dari Samudra. Miana menatap takut orang-orang dewasa di depannya dengan ponsel di genggaman yang ikut berkeringat.


“Jadi kalian akan menikah?”


Samudra mengangkat wajah menatap ayahnya. “Gak ada cara lain, Yah. Glo mengandung anak Sam. Sam harus bertanggung jawab apa pun yang terjadi.”


Ya! Dari mulut Samudra yang kaku saat memberitahu, Darius mendengar kabar itu--kabar tentang kehamilan Glorien.


Mulanya pria paruh baya itu tertegun, namun pandangannya nyalak dalam keterkejutan. Tapi bukan Darius jika tak bisa mengendalikan sikap. Seperti biasa, seberat apa pun masalahnya, ia akan tetap terlihat tenang, walau tempur dan hancur di ujung dada.


“Lalu bagaimana kamu akan menghadapi ayahnya Glo?” Darius bertanya lagi. “Apa kamu akan pasang badan rela dibonyokin mereka sampai koma kayak kemaren?”


Bagian itu Glo sebenarnya sudah tahu dari Mada, tapi ia ingin mendengarnya lebih jelas sekali lagi. “Dibonyokin? Koma?”


Sementara Samudra masih diam di posisi tanpa terlihat akan menimpal. Sedikit pandangnnya menoleh Glo, hanya ingin tahu ekspresi gadis itu jika Darius benar-benar menceritakan yang sebenarnya.


“Lebih dari sebulan lalu, Koko koma karena dipukuli orang-orang gak dikenal. Tapi dia denger, salah satu dari orang itu ... sebut-sebut nama kamu sebelum dia jatuh gak sadarkan diri.” Pada akhirnya Miana yang mengungkapkan.


Bola mata lebar Glo memukul wajah Miana. Tentu ia terkejut dengan apa yang ia dengar. Dengan kaku dan perlahan, wajahnya bergerak alih pada Samudra. Air matanya kembali luruh menganak sungai. “Sam ... kamu--”


“Aku gak papa!” Samudra menyela cepat. “Aku masih idup. Kamu liat sendiri, 'kan?”


Bukannya tenang dengan jawaban itu, Glo malah sesenggukan seraya membekap mulut. Cemas tangisnya akan keras dan terdengar memalukan di depan keluarga Samudra. Satu hal yang baru dipetiknya; Rohan Pascal bergerak lebih cepat dari yang dia kira. Samudra bahkan dibuatnya koma.


Lalu bagaimana jika ayahnya itu tahu dia dan Samudra akan menikah? Apakah yang dilakukan pada Samudra akan lebih dari sekedar membuat koma? Sungguh membayangkannya saja Glorien sudah ingin tenggelam.

__ADS_1


“Gak usah takut, Glo! Kali ini aku bakal lebih waspada. Terlebih ada kamu di sini.” Samudra berujar memberi penenangan. Dia jelas tahu makna dari tatapan Glorien. Ketakutan yang tak bisa disembunyikan.


“Koko juga harus bisa jaga diri. Mia gak mau liat Koko susah lagi!" seloroh Miana. Sekilas disekanya air mata yang terjun melewati pipi. Gadis itu sudah menangis. Menangis karena cemas.


Cukup baginya tersiksa saat Samudra di penjara, lalu kemarin koma. Harapnya saat ini hanya satu ... Samudra bisa terus baik-baik saja. Pasalnya, cuma Darius dan lelaki itu keluarga yang dia miliki.


Samudra setengah berdiri, lalu memajukan tubuh. Diusapnya kenapa Miana seraya memberi senyum. “Koko pasti baek-baek aja, Mia. Kamu gak usah lebay gitu ahh!”


“Lebay kata Koko!” hardik keras Miana. ”Penjara sama koma, Koko pikir itu sederhana?!”


Jauh dalam hati Glo ingin bertanya. Penjara? Apakah Samudra pernah dipenjara?


Tapi ini bukan saat yang tepat.


Samudra tercenung beberapa saat. Ditatapnya Miana yang kalut, lalu beralih pada Glo yang juga berurai air mata. “Kalian nangis gini, kok jadi kayak aku mau mati cepet sih?”


Miana memukulnya. “Gèlo sia, Koko! Mana ada kayak gitu! Mia cuma khawatir. Gak mau Koko kenapa-kenapa lagi!” raungnya setengah kesal.


Samudra lalu terkekeh. “Iya, iya! Udah gosah nangis. Jorè patut manèh!”


Darius mulai berdiri bertopang pegangan kursi. Tubuhnya mendadak lemas. Kesiur napas kasar terembus dari mulutnya. Sama halnya Glorien dan Miana, dia juga takut kejadian serupa kembali menimpa Samudra. Rasanya sudah cukup penderitaan pemuda itu.


“Mia, siapin kamar buat Glo. Ganti sprei yang bersih," perintahnya lantas pada Miana, kemudian berlalu langkah ke arah kamarnya yang terletak di ujung koridor menuju ruang belakang.


Miana mengangguk seraya menyeka lagi air mata dan ingusnya, lantas ikut pergi untuk melakukan apa yang dititahkan.


Kini sisa Samudra dan Glo di ruangan itu.


“Aku akan segera urus surat-surat pernikahannya,” kata Samudra. Hatinya ingin sekali merengkuh Glorien, tapi sebuah perasaan enggan tiba-tiba menahan. Seperti rasa takut gadis itu akan menolak.

__ADS_1


“Iya.” Sesingkat itu jawaban Glorien. Setidaknya untuk saat ini ia merasa aman. Samudra dan keluarganya memberikan sentuhan hangat dalam hatinya. Walau banyak hal yang belum dia ketahui di balik kehangatan itu sendiri.


__ADS_2