Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Dikejar Aparat


__ADS_3

Seorang pria datang ke bengkel Samudra yang mana sekarang dikelola oleh Mada seorang diri. Pria itu menggunakan masker juga kacamata gelap, membawa Senia silver yang ia minta beberapa bagian mobilnya itu ingin diservis oleh Mada. Namun ia tak bisa menunggu karena suatu kepentingan.


Tanpa curiga, Mada mengangguk. Pria itu meninggalkan nomor telepon dalam secarik kertas sebelum pergi, yang nanti apabila mobil itu telah beres, Mada bisa menghubunginya dan dia akan mengambil.


Tapi ketika Mada menghubungi usai semua ia kerjakan, orang itu malah meminta Mada mengantar mobilnya ke suatu alamat yang ia berikan. Namun di tengah jalan, tiba-tiba mobil itu ditikung dua orang polisi. Tentu saja Mada terkejut.


“Ada apa, Pak?” tanyanya saat berhenti dan hanya menurunkan setengah kaca mobilnya.


“Silakan Anda turun! Mobil Anda akan kami geledah!”


Mada tersentak. “Geledah? ... Emang ada apa sama mobilnya, Pak?”


“Kami minta Anda turun!” Polisi meminta lagi sedikit keras.


“Tapi saya buru-buru, Pak. Mobil ini punya pelanggan bengkel saya, dan harus segera saya anter!” Mada berkata jujur, walau sebenarnya ia ketakutan juga.


“Tolong Anda bekerja sama. Saya minta Anda segera turun!”


Dari situ Mada mulai merasa ada yang tak beres. “Jangan-jangan ini mobil colongan,” kata hatinya menerka kemungkinan terburuk.


“Anda turun, atau kami paksa dengan cara kasar?!”


Terperanjatlah Mada yang sibuk dengan pikirnya.


Matanya melirik pedal gas di bawah kaki, lalu stir yang masih setia dalam cekalan. Detik berikutnya, tanpa babibu, gas diinjak sekuat-kuatnya, memutar stir lalu melaju secepat mungkin melarikan diri.


“HEEEYYY!” Polisi meneriaki. “JANGAN KABUR KAMU!”


Sayangnya Mada sudah melejit.


Kedua polisi yang bertugas dalam satu mobil itu pasti mengejar. Tapi Mada terus berusaha memasang jarak agar tak berhasil disusul mereka.


Entah apa yang dia pikirkan, tujuannya tiba-tiba pada Samudra.


Di sinilah mereka sekarang. Di belokan dekat kebon jati Park Jimin.


Keduanya saling diam untuk beberapa waktu, sama-sama dalam mode bingung.


“Tunggu, Mad!” Samudra mengacungkan satu tangannya ke depan wajah. “Dari semua cerita yang lu beberin barusan ... jelas lu dijebak!”


Mada terperanjat. Otaknya tak seluas itu untuk sampai pada asumsi yang lebih kongkret selain kesimpulan kecil bahwa dia sedang kena sial, itu saja. “Maksud lu?”


Samudra menatap serius Mada. “Pelanggan maskeran yang kagak jelas komuknya, mobil yang ditinggalin, alamat kagak puguh, polisi yang tetiba dateng, trus barang di koper itu ... semua uda jelas kalo itu disengaja!”


Penjelasan simple yang pada akhirnya bisa dicerna Mada, walaupun di detik ke sekian belas. Ia tercenung menatap Samudra. “Lu bener, Sam," katanya pelan. Kemudian mulai bingung lagi. “Tapi ... siapa yang mau jebak gua?”


“Kamu nanya?! Kamu bertanya-tanya?!”

__ADS_1


Mada menendang betis Samudra. “Si Anyeng! Masi aja bisa becanda!”


Samudra terkekeh. “Kalo lu tanya gua, gua tanya siapa?”


Mada mendelik. “Gua serius, Samudra! Gua kudu gimana jadinya ini?!”


“Lah gua pun bisa apa, Taaann?!”


Dalam mode berdebat yang sama-sama bingung, tiba-tiba ....


NGUING NGUING NGUING!


Kedua sahabat itu saling beradu pandang, terperanjat. “POLISI!”


Panik seketika dan kelabakan. Mobil bersuara khas itu sudah terlihat di jalan aspal di atas sana.


“SAUDARA MADA! JANGAN BERGERAK!” Peringatan polisi dengan toa-nya terdengar jelas.


“Kabur, Sam! Kabur!” Mada kalang kabut.


“Gua ngapain kabur? Gua kagak salah!” hardik Samudra.


“Tapi mereka juga liat lu! Lu pasti kena tangkep juga! ... Ayo, masuk!” Mada sudah ada di dalam mobil.


Pada akhirnya Samudra juga terseret. Kursi kemudi yang kosong dilimpahkan Mada padanya. Otomatis dia harus menyetir.


Mobil polisi semakin dekat.


Aksi kejar-kejaran pun terjadi, yang sontak memicu kekagetan warga di sepanjang jalan yang mereka lintasi. Berulang polisi menembakkan pistol ke udara tanda peringatan. Tapi dengan kemampuan mengemudinya yang cepat, Samudra terus memacu.


“Lebih cepet, Sam! Gua kagak mau di penjara lagi!” teriak Mada. Kepalanya menoleh bolak-balik depan belakang melihat jarak polisi dengan mobil yang kini ditumpanginya.


“Diem lu, ******! Lu pikir gua mau?!” semprot Samudra sama paniknya.


...***...


Di lain tempat.


“Hahaha!” Rohan Pascal tertawa senang. “Sekali tepuk dua lalat tertangkap!”


Pak Jo baru saja menghubunginya. Mengabarkan, bahwa bukan hanya Mada, tapi juga Samudra. Kedua lelaki muda itu dalam pengejaran polisi sekarang.


“Anak bodoh itu berguna juga!” ujar Rohan licik. Yang dimaksudnya tentu adalah Mada.


Ponsel ditaruhnya kembali di atas meja. Dibenturkannya punggung ke sandaran sofa lalu menengadah dan kembali tertawa.


“Putriku akan segera kembali!”

__ADS_1


Mada dan Samudra seperti koin dengan dua sisi berbeda. Dua manusia yang bersatu atas nama persahabatan yang menjijikkan--itu kata Rohan.


Siapa lagi yang akan dicari Mada selain Samudra dalam kesulitannya. Dan rencana Rohan berhasil dengan sempurna.


“Asalmu dari tempat menjijikkan itu, maka kau tak pantas berada di dunia bebas. Apalagi bersama putriku.” Rohan dengan wajah membesi bersirat iblis.


...****...


“Sam! Jalannya buntu!” Mada ketar-ketir.


“Jurang.” Samudra bergumam dengan mata nyalak melebar.


Saking cepat dan serampangan ia mengemudi, alhasil buntu sudah posisi mereka saat ini. Mobil berhenti di bibir jurang yang mana mengalir sungai besar di bawahnya.


“Turun, Mad. Kita gak bisa puter balik,” ujar Samudra.


“Tapi kita bisa ketangkep, Samudra!”


“LU PUNYA KAKI, 'KAN?!” sembur keras Samudra. “LARI, ANJIINGG!” Pintu mobil dibuka, keluar gegas, kemudian berlari secepat mungkin.


Tanpa berpikir apa pun, Mada mengikuti Samudra. Berlari cepat kemana saja.


“HEYYY!” Polisi mulai berhambur keluar dari mobilnya lalu meneriaki.


Samudra dan Mada tak peduli. Keduanya kini turun ke arah sungai melalui jalan setapak dan berbatu di satu sisi bagian jurang.


“CEPETAN, SAM!”


Sebuah perahu rafting di tepian sungai tertangkap mata Samudra.


“Di sana, Mad!” Ia menunjuk.


Di saat seperti ini, walau tak memungkinkan, apa pun itu tetap mereka gunakan.


Keduanya sudah berada di atas perahu karet entah milik siapa. Arus sungai cukup deras setelah hujan.


“Woooyy, perahu saya!” Satu dari dua orang laki-laki yang tengah selfie di bebatuan, berteriak.


Samudra dan Mada lagi-lagi tak peduli. Mereka mulai mendayung untuk menjauh dari tepian, atau setidaknya dari kejaran polisi.


DOOOORRR!


Bukan lagi tembakan peringatan, melainkan keduanya mulai diincar bagian tubuhnya. Beruntung meleset, tubuh mereka masih selamat dari timah panas aparat.


“Bangsat! Sial!” umpat Samudra.


Pasang mata Mada mengikuti wajah kawannya yang mendongak ke ketinggian, ikut membelalak kemudian. “Sial!” Ia pun turut mengumpat.

__ADS_1


Hilir sungai mengalir ke arah di mana terbentang jembatan besar yang dilalui mobil di atasnya. Dan sebagian polisi sudah ada di sana--di atas jembatan.


Salahnya mereka lari, padahal keduanya sama sekali tak bersalah. Menjelaskan pada polisi sejujur-jujurnya, begitu bisa selesai, 'kan?


__ADS_2