
Ada yang dilupakan Toddy Wen dalam rencananya.
Hector!
Pria itu selamat bahkan dalam keadaan baik-baik saja.
Malang nasib Toddy, sekarang dia dalam kejaran polisi. Terkatung melarikan diri sana-sini untuk bersembunyi. Hector bertindak langsung setelah dia berhasil keluar dari tempat terkutuk itu. Melaporkan semua yang terjadi tanpa ada yang di-skip.
Cukup percaya diri karena saat ini Hector dalam perlindungan hukum.
****
Seorang penggembala kuda terkejut saat mendengar ledakan yang menggemparkan.
Dia tinggal sekitar lima kilo dari bangunan tua yang baginya banyak menyimpan kenangan.
Penasaran dengan apa yang terjadi, sekonyong-konyong dia datang pagi harinya untuk melunturkan rasa penasaran, menggunakan sepeda motor tua dengan knalpot bising yang dia tukar dengan anak kuda peliharaannya.
Terkejut setengah mati, bangunan tua yang dia tahu adalah bekas penuangan besi tempat dia dulu pernah bekerja, telah menghitam dan luluh lantak, api bahkan masih berkobar santai di beberapa titik. Entah apa yang terjadi sana, mengingat tempat itu sudah terbengkalai belasan tahun lamanya.
Cukup ketakutan pria berjanggut pirang dengan kisar usia empat puluh itu, dia berbalik pergi karena tak ada siapa pun juga di sana.
Di perjalanan sekitar lima puluh meter dari TKP, dia bertemu seorang pria pincang dengan wajah lebam membiru, melambai-lambai tangan padanya meminta tolong. Laju motor dihentikannya untuk memberi perhatian.
Tak lain adalah Rocky.
__ADS_1
Tuhan selalu punya cara manurunkan bala bantuannya walau tidak sebanyak dan sekuat pasukan assassin. Pria penggembala itu dengan terbuka dan penuh iba tanpa peduli orang itu baik atau tidak, penjahat atau bukan, dia mau menolong Rocky dan bersedia mendatangi tempat dimana Samudra dan Glorien berada, sesuai cerita orang yang ditemuinya tersebut.
Orang-orang itu benar-benar butuh pertolongan. Si penggembala gegas menghubungi ambulans dengan ponsel miliknya yang ketinggalan tiga jaman. Dia tidak bisa mengangkut sendiri karena motornya tak memungkinkan.
Dan saat ini sudah dua hari berlalu.
Samudra masih dalam perawatan intensif di sebuah rumah sakit di pusat kota. Glorien yang membaik selain rasa takutnya yang membayang, menemani Samudra tanpa ada menit yang terbuang kecuali saat buang air dan mandi.
Rocky pun sama, kaki patahnya intens ditangani dokter spesialis ortopedi. Mungkin ke depannya dia akan menjadi bagian dari perusahaan Laura yang kini di tangani Samudra, mengingat jasanya tak baik disepelekan.
Saat ini ....
Glorien terkejut saat keluar dari dalam kamar mandi. Samudra tidak ada di brankarnya.
"Samudra!" dia memanggil seraya menoleh kiri dan kanan.
"Samudra!" Terkejut kedua kali, mata Glorien sampai membelalak.
Dengan senyuman lucu, Samudra berkata, "Aku dari tadi di sini, kenapa sampe tereak-tereak kayak ada kebakaran?"
"Ng--nggak, kok." Glorien kelabakan dan segera menarik diri. Tapi ya .. Lagi-lagi Samudra menahannya. Kini posisi mereka lebih intim dari sebelumnya. Dua wajah saling berhadap sisa jarak lima senti saja.
"Aku kangen kamu, Glo."
Suara lirih Samudra terdengar seksi di telinga Glorien, dia sampai terpana dan kelu untuk berkata. Embus napas pria itu terasa hangat menerpa wajah. Tak ada alasan untuk menghindar ketika kemudian Samudra mengikis jarak, menyentuh bibirnya dengan kecupan dalam.
__ADS_1
Sekian waktu berjalan dengan kehangatan ciuman menggelora didorong kerinduan yang membuncah. Mereka tenggelam dalam irama yang memabukkan.
Sampai kemudian ....
KLEK!
Suara pintu terbuka, membuat kegiatan sejoli itu sontak terhenti dan menoleh bersamaan pada satu titik.
"Charlotte!"
"Ups, sorrry!" Gadis itu cukup menyesal datang di saat yang tidak tepat seperti sekarang.
****
Dua minggu berlalu dari kejadian bom waktu, keadaan Samudra sudah sangat membaik. Penjelasan Glorien perihal salah pahamnya, sudah diterima dan dimengertinya.
Sekarang atas nama profesional, dia kembali bergelut dengan perusahaan untuk menata hal yang sempat terbengkalai karena peristiwa Laura sampai kematian ibunya itu.
Glorien masih setia mendampingi walaupun Samudra sempat memintanya untuk pulang, takut jika dirinya akan tak betah. Mengatakan ingin menebus semua kesalahan, Glorien tak ingin kehilangan waktu.
Sagara akan diantarkan Mada ke Moscow selepas urusan sekolahnya tuntas. Urusan perusahaan, Glorien juga banyak membantu. Pengalaman bergelut di dunia bisnis, menjadikan sosoknya tak pantas untuk diragukan. Samudra cukup merasa ringan dan tertolong dengan hal itu.
Hari ini, menyetir seorang diri, Samudra menjalankan mobilnya menuju pulang, Glorien menelepon bahwa dia memasak banyak makanan bersama Charlotte, dan itu sangat dinantikan Samudra setelah bergelut dengan setumpuk berkas tanpa istirahat dengan benar dari pagi hingga saat ini, di angka delapan malam.
Sayangnya, perjalanan menuju pulang mungkin akan menjadi jauh dan sangat lama. Tepat saat lampu merah menyala dan semua kendaraan berhenti, mata Samudra menangkap sosok itu dari balik kaca mobilnya yang gelap.
__ADS_1
Dengan seringai tipis dia bergumam, "Hari ini tamat riwayatmu, Bajingan!"