Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Menemui Seseorang


__ADS_3

Samudra terus menampar diri. Ia tak boleh terbuai dan bodoh dengan bermain perasaan yang menjijikkan. Glorien dibencinya. Wanita itu termasuk bagian dari kehancurannya dulu, juga bagian penting dalam misi dendamnya atas Pascal.


Makanan yang dimasak Glorien tak ia tandaskan. Mengatakan bahwa banyak kekurangan dari rasanya, yang padahal sebenarnya ia cukup termanjakan oleh semua makanan itu. Glorien pernah menjalani sekolah memasak, jelas kemampuannya tidak akan seburuk Mada yang memasak ikan tongkol pun menjadi remahan 'tak puguh bentuk.


Samudra 'tak ingin dirinya kembali terendam lara.


Glorien pergi dari garasi dengan kecewa. Ditambah ia harus menonton Samudra ber-video call mesra dengan Jesslyn saat menonton televisi. Pelukan Samudra saat di dapur kini ia tahu, semua hanya bagian dari godaan Samudra untuk membuatnya terbang lalu menjatuhkannya kembali sekaligus seperti ampas.


Kisah cinta yang paling tolol sepanjang masa. Samudra menamainya demikian.


Dalam diamnya dia tersenyum kecut. “Tolol!” Mengumpat untuk dirinya sendiri lalu menggeleng-geleng.


Ponsel berdering, dering singkat pertanda sebuah pesan, baru saja masuk. Samudra membacanya. Detik itu juga eskpresinya berubah dingin, menajam, lalu menggeram, “Akhirnya dia datang.” Lalu membuang pandangan horror pada sekumpulan buku yang tertata meninggi di atas meja.


Pesan lain menyusul kemudian. Ia kembali melihat.


Sebuah gambar yang dikirim Ernest ditatapnya serius.


Seketika itu juga, kelam wajahnya langsung berganti senyuman puas. “Bagus,” komentarnya. “Rohan ... selamat bersaing kembali.”


Ia memainkan bolpen di jari tangan. Memutar-mutarnya seperti kincir kecil mainan bocah. Ternyata Rohan baru ditindaknya hanya seujung jari. Niat hatinya akan benar-benar menyusutkan pria itu hingga ke akar. Tentang Glorien akan ia pikirkan nanti saja.


Yang jelas, semua yang pernah membuatnya seperti anjing, akan dibalas lebih busuk dari kotoran hewan itu sendiri.


Termasuk Glorien yang telah mematahkan hatinya seperti lidi yang tak berharga. Juga anak mereka yang dianggap hanya boneka---begitu kira-kira keinginan hati Samudra.


Mereka sendiri yang telah membuatnya seperti macan.


Jangan salahkan jika kini ia balik menyerang tanpa ampunan.


...⚡⚡⚡...

__ADS_1


Esok harinya Samudra langsung bertolak ke suatu tempat. Tidak memakai jasa Glorien untuk menyetir. Dia mengemudikan mobilnya seorang diri karena yang akan ditemuinya tidak boleh melibatkan wanita itu.


Lama di jalanan karena macet yang mengular. Semua kendaraan di mode sama--kadang merayap kadang diam. Samudra cukup jengkel dengan keadaan itu.


Dalam tiga jam akhirnya Samudra sampai.


Sebuah resort di kawasan Puncak - Bogor, Jawa Barat.


Samudra masuk ke dalamnya untuk mencari di villa yang mana orang yang akan ditemuinya menginap. Pasalnya, villa di dalam sana tak hanya satu. Masing-masing berkode khusus. Harga menyesuaikan fasilitas tentu saja.


Setelah mendapatkan info, dia berjalan melewati kolam renang umum yang dijejali para tamu pengunjung. Tak ubah, tampilannya yang bak pangeran mencuri semua mata menjadi 'one way'--hanya padanya. Terlalu mubazir jika dibiarkan, walau dia berlalu seperti angin.


Senyuman ramahnya semakin membuat mereka--para wanita terkhusus, kalang kabut ingin memeluk dan mengecupi tak tahu diri.


Nasib orang gamtenk!


Skip----


Berderet villa yang memiliki desain klasik menguasi penglihatannya.


Pintu yang tak dikunci dimasukinya tanpa terlalu peduli pada dua orang penjaga itu selain sapa alakadarnya.


Kondisi villa yang tak terlalu besar membuat Samudra mudah menemukan orang yang dicarinya. Ternyata di sana, kata hatinya. Langkahnya terayun mengikuti lantunan musik klasik yang berasal dari satu petak ruangan.


Pintu kaca digesernya pelan.


“Apa kabar, Ibu?”


Kepala Laura yang terdongak tersangga kepala bathtub, dikecup sekilas keningnya oleh Samudra.


Wanita tua yang tetap cantik itu membuka mata lalu tersenyum. “Hay, Sayang,” balas sapanya atas Samudra. “Seperti biasa, Ibu sangat baik.”

__ADS_1


Samudra duduk di tepi bathtub. “Aku senang mendengarnya.” Sebotol aroma terapi dengan wangi mawar diambil lalu dituangkannya ke dalam rendaman tubuh Laura yang terinterupsi oleh limpahan busa sabun.


Lagi-lagi Laura tersenyum. “Ternyata kamu datang lebih cepat.”


“Aku tidak mau buat Ibu menunggu,” kata Samudra. Busa sabun dimainkan lalu diciumnya. “Ditambah ... aku rindu.”


Laura terkekeh menanggapi itu, “Kamu semakin pandai menggoda Ibu.” Punggung dan kepalanya ditarik untuk menegak. Sebagian dada mulusnya kini terlihat.


Samudra berjalan menuju satu sudut yang terdapat dua kimono handuk berwarna putih di sana. Ia mengambil satu lalu memberikannya pada Laura. “Bibirku lebih terpelajar tentang itu daripada Johnson yang Ibu bilang seperti beo.”


“Haha!” Laura tertawa senang seraya mengambil lalu mengenakan kimono yang dia ambil dari tangan Samudra. Berdiri percaya diri dengan tubuh hampir telanjang di depan putra angkatnya, seperti itu bukan masalah. “Johnson yang malang,” ujarnya mulai keluar dari dalam bathtub.


Dulu, Samudra sempat risih dengan hal itu, dia cemas tak bisa menahan diri karena kejantanan yang tentu masih normal dengan fungsi yang seharusnya, walaupun Laura dia anggap ibu.


Laura seringkali mengajaknya berenang bersama, atau setidaknya menyuruh dia memijat punggung yang tanpa kain. Namun kian lama, Samudra kian terbiasa. Tubuh itu tak lagi menggoda. Walau tak dipungkir, keindahannya tak kalah dengan milik Glorien ataupun Jesslyn. Laura masih sangat luar biasa untuk ukuran wanita hampir separuh abad.


Uang memang bisa mengubah yang pèot menjadi glowing. Itu bukan mustahil.


Halaman belakang yang hanya dihalangi oleh kaca-kaca besar, Samudra dan Laura kini berada di sana. Duduk mengisi dua kursi pasangan dengan meja di bagian tengah yang sudah ada dua gelas minuman berwarna oranye di atasnya. Laura mempersiapkan sesaat Samudra mengatakan akan datang menemuinya.


“Bagaimana urusanmu di sini?” tanya Laura sembari mengangkat gelas. Menimang-nimang memperhatikan warna minuman yang mungkin menarik menurutnya.


“Baik," jawab Samudra enteng saja. “Aku sudah mengakuisisi sepertiga kekuasan Pascal, dan segera akan kukuasai seluruh bagiannya ... secepat mungkin.” Ia meyakinkan.


Laura menanggapi tersenyum puas. “Ibu tahu kamu pasti bisa,” tukasnya. Minuman itu disesapnya sedikit saja dengan elegan. “Pascal bukan saingan yang menyulitkan. Rohan sudah terlalu tua untuk melawan macan. Dia tidak akan sanggup terkena cakar, apalagi berani mencabut giginya.” Tatapan remeh menguasai dua bola matanya.


Samudra tersenyum tipis. Ikut mengangkat gelas lalu meneguknya paruh volume. “Bu.” Ia menatap Laura sesudah itu.


“Ya, Sayang," sahut Laura memiringkan kepala.


“Ada yang mau aku bicarakan.”

__ADS_1


Laura mengerut kening. “Kelihatannya penting." Ia menilai dari sorot mata putra angkatnya.


Samudra terlihat ragu untuk menjawab. Gelas di tangan sejenak menjadi buangan pandangnya, untuk sekedar mengurangi kegugupan yang sebenarnya hanya belaka. Setelah itu ia mengangkat wajah menatap Laura, lalu berkata di tiga detik selanjutnya, “Aku akan menikahi Jesslyn.”


__ADS_2