Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Meledak Juga


__ADS_3

Sebatang pisau dengan karat tebal digunakan Samudra untuk memotong kabel yang disebutkan orang itu. Mulanya dia tak percaya, mencecar pria itu dengan pertanyaan dan tindakan yang cukup kasar. Tapi dengan santai, pria itu mengatakan, "Aku juga masih ingin hidup, anakku akan lulus SMP tahun ini."


Kalimat sederhana yang menyentil. Ayah mana yang tak ingin menyaksikan anaknya tumbuh, termasuk Samudra sendiri. Wajah tampan Sagara seketika jadi penguat.


Mata dipejamkannya sebelum menyentuh kabel biru yang dikatakan adalah pelumpuh detonator.


Glorien terus merapal do'a di dalam hati.


Di dekat mereka, dua orang yang tak berdaya dengan kaki patah juga berharap sama. Samudra menjanjikan kebaikan jika mereka benar-benar selamat.


Katup mata kembali dibuka Samudra. Pisau diarahkan perlahan pada kabel yang akan dipotong. Sekarang dia berpasrah, jika pun harus gagal dan mati, setidaknya Sagara sudah aman bersama Darius, Miana dan Sakti. Anak itu tidak akan terlunta lagi seperti angka delapan tahun dalam hidupnya.


Menit berjalan hanya sisa dua menit saja.


"Tuhan ... Jika kami harus mati saat ini, tolong lindungi anak dan keluargaku dari bahaya."


Habis kata di dalam hati Samudra, pisau sudah menyentuh kabel dengan satu tangan lain membantu.


Dan ....


.


.


.


.


DUAAAAAARRRRRR!!!!


Dari kejauhan di dalam sebuah mobil, Toddy tersenyum menang. Bangunan tua itu meledak. Otomatis dia memastikan jika Samudra dan wanitanya telah mati. Urusan harta Luara akan sangat mudah saat benalu terkuat telah dia habisi.


Di sisi lainnya, di balik sebuah pohon, Hector yang berjalan belum cukup jauh berbalik badan menatap kobaran api yang membumbung. Ledakan itu, dia mendengarnya. Dengan hati miris dan sedih dia berkata, "Maafkan aku, Tuan Will. Semoga Tuhan menghadiahkan surga untukmu juga istrimu.''


******


Jauh di Indonesia.


"Sam kagak bisa dihubungi. Klien dari Jepang itu mau rapat zoom, kagak mau diwakilin kita." Mada mengeluh.


"Suruh tunggu aja sampai Sam notice panggilan kita." David selalu tenang. "Gua ada urusan di hotel, artis iklan itu rada belibet. Lama-lama gua tel4njangin juga tu perempuan."


Mada mendelik. "Salah lu sendiri pake dia. Padahal kebo Haji Sogirin aja nganggur. Tinggal lu gamisin aja, kelar."


David mencebik, "Lu kalo ngomong suka bener ye, Mad. Lama-lama lu mirip si Kurdi. Serius gua."


"Sape Kurdi?" tanya Mada rada curiga.


"Itu yang ada di lagunya Doel Sumbang--Kurdi bogoh ka embek."


"B4ngke!"


Meninggalkan Mada yang seperti ibu-ibu, dari kantor kecil mereka, David melejit pergi menuju hotel Pascal milik Glorien yang kini dalam genggaman Samudra juga.


Memakan satu jam perjalanan, pria berambut gondrong itu sampai di ruangan yang didesain di bagian lobbi untuk menunggu.

__ADS_1


Di sana Teressa dengan gaun minimnya sudah duduk dengan elegan bersilang kaki. Senyum wanita itu mengembang saat David muncul dengan sejuta karisma bapaknya panda. Dia berdiri untuk menyambut.


David balas tersenyum seraya mengulurkan tangan, "Hai, Nona Tere, lama nunggu?"


"Oh, nggak kok, Pak David. Saya baru aja sampe."


"Syukur deh. Gak jadi gak enaknya saya kalo gitu."


"Hehe, Pak David bisa aja."


Keduanya duduk berhadapan. Obrolan tentang iklan mulai berkembang. Teressa terus saja membahas bikini Korea yang akan dia gunakan untuk pemotretan di kolam renang hotel malam ini.


David memang pecinta wanita, tapi jika modelnya seperti Teressa, baginya terlalu blak-blakan dan mencolok ingin ditiduri. Tak ada tantangan seru untuk wanita seperti itu.


Dalam tema yang berangsur mulai menjadi jengah, dari balik kaca bening dan lebar di sana, pandangan David teralihkan.


Matanya memicing seraya mendesiskan sebuah nama, kemudian sontak berdiri saat di belakang wanita itu mengejar sosok yang sangat ingin dia habisi. "Bedebah itu ... nyari mati."


"Pak David mau kemana?" Teressa ikut berdiri.


"Kamu nanti saya hubungi lagi. Saya ada urusan sebentar."


"PAK DAVID! ... Ihh, kok aku ditinggal." Kaki dihentak Teressa seperti anak kecil. Dongkol sendiri dia.


David melesat mengejar orang yang tak lain adalah Yara dan juga Martin.


Menuju arah parkiran. Di sana terlihat Yara dan Martin, mereka saling berdebat sembari kejar mengejar.


Sebelum memainkan tinjunya, David mengamati dulu. Bersembunyi di dekat mobil orang lain untuk melihat dan mencuri dengar, apa yang tengah didebatkan dua orang itu.


"Tapi aku masih punya sedikit saham di hotel ini. Jadi aku punya hak buat ngatur apa yang aku mau, termasuk kamu yang harus berhenti dari sini!"


Martin sebenarnya menyukai Yara lebih dari yang dia tunjukkan. Tapi pikiran tololnya selalu menepis dan menganggap semua wanita hanya mainan.


"Aku gak peduli!" Yara bersikukuh.


"Kamu harus nurut sama aku, Yara!"


Cukup keras suara Martin, akhirnya memancing David untuk keluar. Tak suka cara Martin yang sok bossy. Andai Samudra ada, pasti si songong itu sudah dilempar ke Antartika.


"Lu gak malu maksa-maksa cewek yang udah kagak sudi liat muka lu?!"


Martin dan Yara melengak bersamaan.


"David," desis Yara sedikit terkejut dengan kemunculan lelaki itu.


"Siapa lu?" tanya Martin merasa terganggu.


David bergerak ke sisi Yara lalu merangkulkan lengannya di pundak wanita itu tanpa rasa canggung. "Dia nih calon bini gua. Enak banget lu maksa-maksa."


Martin memiringkan kepala seraya mengerut kening. Digilirnya pandang ke wajah David, wajah Yara, lalu kembali kepada David diiring senyum cemooh. "Oh, lu pacar barunya?" dia bertanya skeptis. "Lumayan."


"Apanya yang lumayan?" tanya David.


"Muka lu ganteng, Bro. Tapi sayang banget, doyannya lepehan orang."

__ADS_1


Yara melengak dengan bola mata lebar. Deru jantungnya mulai tak nyaman.


David masih diam tanpa melepas rangkulannya, santai saja dulu.


"Asal lu tahu, Bro. Semua bagian tubuh Yara, kagak ada yang belon gua cicip," kata Martin tak pakai otak. "Bahkan sampe selaput paling dalem di bawah sana, gua udah obok-obok pake ini nih." Dia mengacungkan jari tengahnya ke depan wajah, lalu menatap Yara. "Iya 'kan, Sayang?"


Yara menggeleng seraya membuang wajah, malunya pada David luar biasa.


"Ah, Yara. Sama pacar harus terbuka, 'kan? Biar nanti kamu gak ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya gegara ketauan udah gak sempit."


"Martin stop!" Yara meneriaki. Dia menangis menahan malu. Rangkulan David bahkan ditepisnya secara kasar.


Tawa Martin malah menggema, menikmati benar apa yang tengah dia lakukan. "Aku cuma ngasih tau fakta sama pacar kamu yang keren ini, Yara Say--"


BGG!


"Mati lu, Anjingg!"


David mendaratkan pukulan keras di wajah Martin sebelum pria itu meneruskan kalimatnya.


Martin yang terjerembab ke badan mobil langsung memegangi wajahnya yang luar biasa sakit. Dia melengak melihat David mendekat lagi untuk menarik kerah bajunya.


BAMMM!


"Argghh!" teriakan Martin menggema keras. Pukulan David susul menyusul semakin tak terkendali. Tak bisa sedikit pun dia membalas.


Orang-orang berhambur datang diundang rasa penasaran.


"David udah, Dav! Kamu bisa bikin dia mati!" Yara berusaha menarik tubuh David untuk menjauhkannya dari Martin yang sudah tidak berdaya.


Beberapa pria termasuk security bantu menarik karna Yara tak cukup sanggup menghadapi pria tampan yang kesurupan.


"Pergi lu ke neraka, Sialan!" Kalimat penutup David sebelum menjauh. Tangan-tangan yang menariknya ia tepis dengan cara kasar.


Yara menariknya segera untuk pergi dari sana setelah meminta orang-orang di sana membawa Martin ke rumah sakit.


****


Di dalam mobil, David terdiam beku.


Yara yang menyetir tak berani mengganggu. Tapi dengan segenap hati dia beranikan diri untuk membuka. "Makasih buat yang tadi," katanya tanpa merubah pandang dari jalanan depan.


"Aku gak berani nyangkal, karena semua yang Martin bilang adalah kenyataan. Aku gak apa-apa kalo kamu jadi jijik sama aku. Aku gak apa-apa kalo kamu mau jauhin aku. Aku juga gak apa-apa--"


"Yara!" David memotong cepat kalimat Yara. Pandangan lurusnya kini dia alihkan ke arah wanita itu.


Yara yang terkejut sontak menoleh juga.


Kini keduanya saling memandang.


Bola mata David bergilir membagi tatap pada kiri dan kanan bola mata Yara. Mata yang saling bicara dengan dua mode berbeda.


Detik berikutnya, kalimat David sontak membuat Yara jantungan.


"Bulan depan kita menikah!"

__ADS_1


__ADS_2