Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Hotel Pascal


__ADS_3

Rohan Pascal 50 %


Martin Pascal 30 %


Gugun Jeswan 5 %


Chen Ajinomotto 3 %


Budi Biossol 4 %


Meggi Mecina 3 %


Holciem Tigar Oda 5%


Nama-nama itu adalah daftar nama-nama pemegang saham di perusahaan Pascal lengkap dengan jumlah persen saham yang mereka tanam. Nama Martin di sana mewakili nama mendiang sang ayah yang meninggal delapan tahun lalu karena sebuah insiden kecelakaan.


Data-data itu dipandangi Rohan dengan murka. Urat wajah dan rahang mengetat seolah akan berganti kulit.


Ia memikirkan tentang dividen. Bagaimana semua bisa dibagi sementara saham perusahaannya dalam keadaan anjlok dengan alasan yang entah apa.


Jika terus begini dalam kurun waktu satu bulan, perusahaan raksasanya akan melemah, dengan kemungkinan terburuk ... gulung tikar.


“Jo!”


Pria yang dipanggil menjawab langsung, “Iya, Tuan!”


Rohan menyorot pria itu dengan tajam. “Tutupi dulu kabar kemerosotan ini dari para investor.”


“Baik, Tuan!”


Bukan hanya perusahaan induk di Jakarta, satu dari tiga cabang perusahaan di luar kota yang bergerak di bidang properti, sudah lebih dulu bermasalah, dan Rohan terpaksa menutupnya sementara. Minimal sampai dia menemukan apa penyebabnya.


Rohan pebisnis handal, dia teliti dan kritis. Apa pun di tangannya akan sempurna. Namun sekarang, sesuatu mungkin sedang mempermainkan atau dia yang terlalu lengah, masalah muncul satu demi satu hingga membuat kepalanya ingin meledak saja.


...****...

__ADS_1


“Gimana bisa dia ada nginep di hotel ini?” Lola bertanya seraya mengimbangi langkah Glorien yang super cepat menuju ke dalam ruang kantornya.


“Aku juga gak tahu, La!” jawab Glorien sama bingung.


Beberapa saat lalu bagian resepsionist mengabarinya, ada seorang yang memesan kamar VIP yang di dalamnya ingin terdapat mini kolam pemandian air panas. Sedangkan kamar itu sendiri hanya tersisa satu kamar, dan itu pun masih dalam tahap pelengkapan fasilitas dan belum sepenuhnya bisa digunakan. Petugas jaga itu kebingungan. Alhasil dia langsung menghubungi Glorien yang kebetulan tengah makan siang di luar bersama Lola, karena orang itu tidak mau tahu.


Glorien kalang kabut. Dia bingung bagaimana caranya mengambil sikap. Sialnya bagian itu malah masuk promosi sebelum semua petak sempurna.


Namun sebenarnya bukan itu masalahnya. Kamar yang belum siap bisa dia alihkan ke kamar lain yang sudah mantap, meminta sebisa mungkin agar orang itu paham dan menerima apa yang dia sarankan walaupun harus bersitegang. Tapi masalahnya lebih urgent dari itu.


Samudra!


Siapa lagi kalau bukan dia yang paling bisa membuat Glorien tersedak bakso sebesar kepala tuyul, ketika mendengar nama pria itu disebutkan petugas resepsonis-nya.


Ya! Samewise Will mendadak akan menginap di Hotel Pascal dengan dalih ingin merasakan rendaman air panas di mini kolam kamar VIP milik hotel kenamaan itu.


Glorien masih mondar-mandir bingung di dalam ruang kerjanya.


Satu tangan berkacak pinggang sedang tangan lainnya memijat pelipis yang mulai pening.


“Trus kamu mau ngapain dia, Glo?!” tanya Lola.


Lola menyesalkan. “Sayangnya aku ada tugas dari papa kamu. Kalo nggak, pasti aku sedia gantiin kamu ngadepin dia.”


Glorien tersenyum maklum seraya mengusap lengan Lola yang sudah mulai berdiri dan akan pergi. “ Gak apa-apa, La. Kamu pergi aja. Pak Jo pasti udah nungguin.”


Lola mengangguk. “Oke, Glo. Aku pamit, ya.” Tas di pundak ia luruskan. “Kamu harus kuat ngadepin dia. Jangan baper, oke!”


Suntikan semangat Lola disenyumi Glorien. “Pasti, La. Kamu hati-hati bawa mobil.”


Keduanya berpelukan lalu berpisah.


Menit kedua belas setelah itu.


Hentak sepasang kaki beralas heels menggema di lorong menuju lobby. Glorien berjalan memantapkan hati menemui Samudra yang sudah hampir satu jam menunggunya.

__ADS_1


Di ujung sana, terhalang kaca, Samudra duduk santai bersilang kaki, mengisi sofa putih yang disediakan khusus menunggu. Sebuah majalah sport di kedua tangan sedang ia lihat-lihat.


Glorien semakin dekat, semakin lambat pula langkah yang ia dorong. Setelah blazer dengan tangan sesiku dan rok span di atas lutut, pas membalut tubuhnya yang tinggi semampai, dia rapikan sesaat saja. Sejenak memejamkan mata lalu menghirup udara sebanyaknya agar tak sesak menghadapi Samudra.


TAK! TAK! TAK!


Samudra teralihkan perhatiannya. Melihat siapa yang datang hanya dengan bola matanya, lalu tersenyum.


“Selamat siang, Tuan Will, saya direktur hotel Pascal ini. Tadi pegawai saya menghubungi, katanya Anda menginginkan sebuah kamar yang ada mini kolam air panasnya. Jadi saya akan jelaskan, kebetulan untuk saat ini kamar yang Anda maksud dalam keadaan sudah penuh. Dan hanya sisa satu yang masih dalam tahap penyempurnaan. Jadi belum bisa digunakan. Maaf sekali.” Glorien menyesalkan.


Samudra tersenyum tipis namun terkesan sinis menyikapi tingkah formal Glorien. Dia bangkit dari duduknya setelah menaruh majalah ke atas meja. Sepasang tangan mulai menyelinap mengisi saku celananya dengan santai. Ditatapnya Glorien masih dengan senyuman yang sulit dideskripsikan. “Sediakan saja kamar mana pun. Pilih yang baik menurut Anda, Nona Glorien!”


Glorien terbelalak, merasa dikerjai. Jika pilihannya berakhir seperti itu, kenapa lelaki itu memintanya datang? Mana harus pula dia menenangkan debar jantungnya yang terus berontak. Ia benar-benar merasa tolol jika begini. Diraupnya udara sebanyak mungkin. Mencoba menenangkan diri yang jujur saja ingin memukul pria itu dengan sepatu.


Akhirnya ia berhasil memaksakan senyum. “Kalau begitu baik Tuan. Mari ikut saya.” Langsung dia berbalik.


Samudra terkekeh kecil merasa berhasil, lalu mengayun langkah mengikuti Glorien.


Sebuah kamar presidential suite lain diberikan Glorien pada Samudra.


“Silakan, Tuan. Selamat menikmati hari dan istirahat Anda di hotel kami.” Dia pamit lalu berbalik tak ingin berlama-lama dengan lelaki di dekatnya.


Namun tidak akan semudah itu tentu saja. Samudra menarik tangannya hingga terpelanting ke belakang kemudian berakhir di pelukan pria itu.


“Apa tidak ada kata yang mau kamu sampaikan padaku, Glorien?” tanyanya dengan bahasa baku dan nada sebeku es.


Glorien terbelalak menengadah. Posisinya saat ini sangat tidak mengenakkan. Dia bangkit cepat lalu menjauhkan diri. “Ka-kata seperti apa yang ... kamu maksudkan?” Secepat mungkin membuang wajah. Tatapan Samudra sangat tidak baik untuk kesehatannya.


Mimik datar Samudra menciptkan atmosfer tegang. Glorien merasa dirinya dalam masalah.


Detik berikutnya, Samudra maju mendekat dengan perlahan, sementara Glorien mundur menjauh karena takut.


“Ka-kamu mau apa, Samudra?!"


Samudra tersenyum jahat, lalu berkata, “Aku cuma mau ketemu sama anakku. Dia pasti sangat lucu. Di mana dia sekarang?”

__ADS_1


Otomatis meninju ulu hati Glorien sekeras-kerasnya. Sontak berhenti mundur meskipun Samudra sudah berada tepat di hadapannya tanpa jarak. Dia membeku. Pertanyaan itu menyetrum jiwanya. “A-anak ....” Tenggorokannya mendadak tercekat.


Urat padam di wajah Samudra semakin kelam. “Apa kamu mau bilang ... kalo anak kita udah mati?”


__ADS_2