Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Asal-Usul Samudra


__ADS_3

Sedikit saja. Jaladipa adalah rekan Darius saat muda dulu ketika mereka sama-sama bekerja di perkebunan sebuah kawasan kecil di Jawa Tengah. Asli namanya adalah Jali, tapi karena kelakuannya dulu seperti wanita, dia mengubahnya sendiri menjadi Jaladipa.


Sekarang bermain dengan kilas balik.


Dua hari lalu, secara tak sengaja Darius bertemu Jaladipa di sebuah tempat pengisian bahan bakar kendaraan di Kota Semarang. Pria kemayu itu menjajakkan dagangan sejenis hiasan bendera ke mobil-mobil dan motor yang berderet dalam antrean.


Tepat ketika bagian mobilnya, Darius menurunkan kaca dan langsung mengenali sosok pria dengan tinggi setara dirinya namun lebih kurus dan nampak lebih tua dari usianya.


Mereka saling terkejut dan memekikkan nama masing-masing.


Darius kemudian menarik Jaladipa masuk ke dalam mobilnya.


Di kota itu Darius tengah melakukan bisnis pembebasan lahan. Dia akan membuka usaha perkebunan sayuran organik sebagai cabang ke sekian. Namun tak disangka, pertemuannya dengan Jaladipa di kota itu seketika mengubah tema.


Jaladipa dibawanya menginap di sebuah hotel untuk sekadar bercerita banyak hal yang beranjak jadi kenangan.


"Bagaimana kabar anak majikanku, Yus?" Jaladipa bertanya. Yang dia maksud adalah Samudra. Pertanyaan nomor satu yang ingin ia lontarkan di titik awal pertemuannya dengan Darius.


Dengan bangga Darius menjawab, "Dia sudah hebat, Jal. Sudah bisa memboyong dirinya sendiri dalam kesuksesan." Lalu tersenyum seraya menyesap kopi panas yang baru saja diantar seorang pelayan.


Jaladipa tersenyum senang, "Kalau begitu aku tidak salah memberikannya padamu."


Dulu, Darius tak sempat bertanya banyak tentang asal-usul Samudra saat Jaladipa membawa anak itu padanya. Bahkan tidak untuk namanya sekali pun. Jaladipa pergi beberapa menit saja setelahnya seperti takut karena dikejar sesuatu.


Sekarang pembicaraan mereka beranjak ke banyak hal.


Rasa ngeri seketika merayapi hati dan pikiran Darius, saat untaian cerita Jaladipa sampai di titik alasan mengapa pria itu membawa lari anak majikannya.


Ternyata ....


Laura terlibat dalam kegiatan sebuah kelompok aliran hitam illuminati. Seseorang yang berperan sebagai ketua sekte, mengatakan pada wanita itu ketika mengandung di trimester ketiga, bahwa jika anak dalam kandungannya benar-benar seorang bayi laki-laki, maka akan menjadi malapetaka besar bagi kehidupan Laura dan suaminya--Abram Karl, yang merupakan seorang pebisnis interior hebat kala itu.


Kegiatan hitam itu di luar sepengetahuan Abram. Hanya Jaladipa yang tahu, karena dia adalah orang kepercayaan Laura di rumah besarnya.


Mulanya Laura tak percaya pada ucapan ketua sekte bergender pria tersebut, meskipun hasil USG bayi dalam kandungannya memang laki-laki adanya. Tapi di bulan ketujuh usia kehamilan, Abram mengalami kerugian besar dalam bisnisnya karena ditipu seseorang berkedok klien. Beberapa aset dijual untuk menutupi gaji karyawan yang menunggak. Laura mulai gamang akan keyakinannya sendiri.

__ADS_1


Sementara si ketua sekte semakin menunjukkan taring bahwa ucapannya adalah benar---bayi laki-laki pembawa sial. Membuat Laura semakin takut dan terpuruk dalam keadaan. Ada peperangan keras dalam batinnya.


Tapi Abram tetap tak percaya. Pria Jerman itu tetap berusaha keras memulihkan bisnisnya. Yakin itu hanya ujian untuk kesuksesan berikut yang akan ia raih kembali.


Belum pulih keterpurukan, bayi laki-laki dalam kandungan Laura terlahir.


Bayi mungil yang tampan, naluri kecil Laura menyayangi buah hatinya itu sebenarnya, tapi juga ada ketakutan besar yang tak bisa ia tepiskan.


Darren Karl, nama yang diberikan Abram pada putra pertamanya. Dia begitu bahagia bertakdir menjadi seorang ayah. Namun lain dengan Laura. Wanita itu justru meminta Abram untuk membuang bayi Darren sejauh-jauhnya karena ketakutan akan kesemakinhancuran kehidupannya.


Abram jelas tak setuju karena baginya itu tak masuk akal, terpaksa Laura mengalah karena tak bisa menguatkan ucapannya.


Hingga satu setengah tahun berlalu, kesuksesan tak pernah diraih dalam usaha keras Abram. Usahanya benar-benar bangkrut. Mereka jatuh sejatuh-jatuhnya. Semua pekerja satu per satu pergi karena tak terbayarkan lagi. Selain Jaladipa yang masih setia, mengingat jasa Laura begitu banyak padanya.


Sayangnya, Abram malah terserang sakit yang lumayan parah. Semakin parah, semakin tak ada jalan keluar. Tidak ada biaya untuk pengobatan. Akhirnya Abram benar-benar meninggal tepat di ulang tahun bayi Darren yang ke-dua tahun.


Kematian Abram menjadi bukti kuat kesialan yang dibawa Darren, bagi Laura.


Dari sanalah, kebencian Laura pada putra kecilnya semakin menjadi. Tak segan batita itu dipukulnya hingga memerah. Semalaman Karl kecil menangis karena kesakitan dan demam tinggi akibat ulah tangan ibunya sendiri. Dan Jaladipa lah yang saat itu merawat sepenuh hati walaupun ia mulai tak tahan. Sebenarnya pria lembut itu juga berniat akan pergi setelah semua dirasa tenang. Tapi ....


Jaladipa yang baru muncul di ambang pintu dengan segelas air di tangan, terkejut bukan kepalang. Sebuah pisau digenggam Laura di atas kepala dengan posisi menukik. Di bawahnya, Karl kecil tengah tertidur lelap.


"Mati kau, Pembawa Sial. Kau akan kupersembahkan pada iblis untuk mengembalikan suami dan hartaku."


"NYONYA, JANGAN!"


Jaladipa melanting cepat untuk menahan pergerakan Laura yang hendak menghujamkan pisaunya pada Darren Karl.


"Lepaskan aku, Jaladipa! Jangan ikut campur urusanku! Atau kau juga akan kupersembahkan pada iblis!"


Jaladipa tak peduli. Walau tenaganya tak sekuat lelaki pada umumnya, dia tak menyerah. Sebisa mungkin ditahannya tangan Laura yang entah kenapa benar-benar terasa kuat.


"Jangan, Nyonya. Saya mohon jangan!"


Darren kecil sudah terbangun dan langsung menangis.

__ADS_1


Hingga ....


KLONTANG!


Pisau panjang itu terpelanting membentur sesuatu. Jaladipa berhasil melepaskannya.


Laura yang terengah menatap pisaunya yang terjatuh, dimanfaatkan Jaladipa untuk mendorong wanita itu hingga terjatuh. Dengan cepat Karl kecil dipangku lalu dibawanya lari.


Beruntung, Laura terjatuh lagi saat hendak bangkit. "JALADIPA!"


Pintu berhasil dikunci Jaladipa dari luar.


Setelah itu dia lari sekencang yang dia bisa bersama Darren Karl dalam gendongan.


Sepasang bola mata Darius menggenang panas. Sesakit ini hatinya mendengar kisah dan asal usul miris Darren Karl sebelum menjadi Samudra yang begitu dia kasihi.


Laura, Laura, Laura ...


Nama itu terus terngiang di kepala Darius.


"Siapa nama panjang majikan wanitamu itu, Jal?" tanyanya kemudian. Nama pasti banyak yang sama, tapi takdir siapa yang tahu ....


Jaladipa lantas menjawab, "Dia dikenal menggendong nama besar suaminya, Yus---Laura Karl. Kalau sebelum menikah, setauku dia pake nama besar marga Cina-nya, Laura Jung."


Jantung Darius terpental keras detik itu juga. "Laura Jung?"


Ponsel di atas meja diraih gegas lalu diotak-atiknya dengan gemetar.


"Apakah wanita ini majikanmu dulu, Jal?"


Jaladipa maju untuk mengamati gambar di layar yang disodorkan Darius. Sebuah foto yang dikirim Miana saat gadis itu berlibur di Moskow sekaligus menemui Samudra bertahun silam. Nampak dia berfoto bersama Laura juga Samudra.


"Ini, Yus?" Jaladipa menunjuk satu.


"Bukan! Itu putriku, Jal!" hardik Darius. "Yang satunya, yang tuaan."

__ADS_1


Seketika mata Jaladipa membola lebar. "Nyonya Laura."


__ADS_2