
“Namanya Sagara.”
“Aku pasti akan menemukannya. Menemukan anakku.” Samudra bertekad.
“Namanya Sagara.”
“Sagara.”
“Sagara.”
“Sagara.”
Nama itu terus terngiang di telinganya seperti desiran angin yang berkeliling di seputar kepala.
“Ayah pasti jemput kamu, Nak.”
Pak Jo kembali masuk ke ruangannya, tepat ketika Samudra memasukkan lipatan surat Glorien ke dalam amplopnya malam tadi. Pria itu mengatakan ada hal penting lain yang dia lupa.
Dan hal penting itu adalah ungkapan tentang isi dokumen yang dirampas dua orang penjegal semalam.
Dokumen tentang bukti kelahiran seorang anak laki-laki.
Anak yang dilahirkan Glorien enam tahun silam.
Rohan memalsukan kematian cucunya dengan mengubah jenis k3lamin dan membeli bayi orang lain yang sudah meninggal. Demi masa depan Pascal dan nama baik Glorien sendiri--tujuannya. Nama yang dikhawatirkan akan coreng moreng di mata semua orang, jika Glorien diketahui hamil di luar nikah oleh seorang pria miskin mantan narapidana. Ia menghilangkan bukti kelahiran dan memisahkan antara ibu dan anak yang menurutnya adalah keputusan tepat.
Hanya Pak Jo yang tahu dan Rohan percaya.
Tapi sekarang pria itu telah membeberkannya pada Samudra tanpa terkecuali. Memulai debut lain yang lebih mengerikan ke depannya.
Satu lagi kenyataan yang membuat Samudra benar-benar harus berlutut di hadapan Glorien.
Sekarang dia akan pergi menemui wanita itu dan meluruskan semua kesalahpahaman.
Jalanan digerus ban mobil Samudra seperti badai angin.
Tatapan kemarahan seolah bisa melahap siapa pun yang ada di hadapan.
...*****...
Hidup Pak Jo dalam masa kritis.
Malam tadi sepulang dari kantor Samudra, dia kembali dihadang sekelompok orang yang bersatu di dalam sebuah mobil hitam, mobil berbeda dari yang sebelumnya.
DORR!
Sebuah peluru melesat ke kaca belakang mobilnya.
Pak Jo terkejut dan juga takut.
Tapi dia tak boleh gemetar. Dia tak boleh menyerah. Dia harus selamat. Masih banyak hal yang belum dia lakukan untuk memperbaiki segala kesalahannya.
Berjibaku dengan setir dan berusaha melarikan diri, akhirnya Pak Jo sampai di depan gerbang rumah pribadinya. Namun keadannya jauh lebih naas dari semalam saat dia sampai di kantor Samudra.
__ADS_1
Dia tertembak.
Penjahat-penjahat itu pergi dan mengira Pak Jo pasti tak akan bisa bertahan lama. Mereka melepaskan di belokan terakhir menuju kediamannya.
Pintu mobil disibak Pak Jo, tapi rasa sakit langsung menyerang, ia tak jadi keluar. Seraya memegangi dada kirinya, pria itu mengempaskan tubuh ke badan jok. Menengadah dengan mata terpejam. Sakit luar biasa menghadirkan ringisan kental di wajahnya tak pandang surut.
“Sekali pun aku mati saat ini, setidaknya aku sudah melakukan hal yang benar,” dia bergumam di antara timbul tenggelam kesadarannya. “Selanjutnya biar Samudra yang menyelesaikan.” Dan benar-benar tak sadarkan diri di menit kemudian.
Langit masih remang di angka jam 5.30 pagi ini. Seorang wanita keluar dari gerbang menenteng sebuah kantong sampah di tangannya. Dia Yara.
“Ayaaahh!”
Gadis itu menjerit histeris. Menemukan ayahnya bersimbah darah di dalam mobil yang pintunya sudah menganga.
“Ada apa?!” Seorang pria muda pejalan kaki tergopoh dari seberang jalan.
“Ayahku!” Yara meraung cemas bercampur takut.
Beberapa warga mulai mendekat dan berkerumun.
“Kita bawa cepat ke rumah sakit!” Pemuda tadi bergerak cepat.
Yara masuk ke dalam mobil Pak Jo sesegera mungkin. Pemuda tetangganya mengambil posisi bagian kemudi.
Samudra yang sudah sampai di gerbang kediaman Pascal, membeku diam di dalam mobil. Masih mendorong hatinya untuk berbicara dengan Glorien. Dia ragu---ragu Glorien akan tak mau menerimanya.
Tapi dia lelaki!
Ditolak bukan hal yang mengerikan.
Di detik yang sama dia mendaratkan kaki di atas paving block, ponsel berdering keras.
Samudra merogoh ke dalam saku celana.
Nama Mada tertera di sana. Sempat menggerutu, karena lagi-lagi Mada muncul di saat tak tepat waktunya seperti ini.
“Ya, Mad!”
“Ernest ngilang, Sam!”
“Apa lu kata?” tanya Samudra berkerut kening.
“Iya! Cctv halaman rumahnya nangkep gambar dia lagi dipaksa masuk ke jeep warna item. Diseret-seret gitu, Sam!”
“Lu serius?” Samudra memastikan.
“IYA, SAMUDRAAAA!” Mada kesal. “Ke tempat dia sekarang!”
“Mad-- ... Sialaan!”
Belum sempat berkata lagi, panggilan sudah ditutup Mada. Ponsel dicengkramnya lalu mengempas tangan saking kesal.
“Ban9ke!” umpat Samudra. Sekarang dia bingung. Pandangannya naik ke atas lantai dua rumah pascal. Menatapnya sekian detik, lalu berbalik kembali ke dalam mobil dan melaju secepat angin.
__ADS_1
Sampai di rumah minimalis Ernest.
Keadaan sudah berantakan.
Samudra berjalan masuk seraya berkeliling mengamati dengan kening berkerut-kerut.
“Sam!” David turun dari lantai dua dengan tergopoh.
“Gimana?!" tanya Samudra menyongsong pria itu.
“Mereka incer semua data hasil retas Ernest.” David menjelaskan.
Samudra mengikuti pria itu ke arah sofa.
Mada kemudian muncul dari arah yang sama dengan David tadi. “Untung kamera upil ini berguna,” sambung Mada. Di tangannya sebuah laptop tertenteng bersama dengan tiga buah benda bulat sebesar bola golf yang baru saja dia katakan.
Laptop di tangan dipindahkan Mada ke atas Meja. Kamera bulatnya ia taruh di samping bersamaan. Dia duduk di posisi tengah. Samudra dan David menghimpit kiri dan kanan. Pandangan mereka serempak ke layar laptop yang sudah menyala.
Jari lihai Mada mulai bekerja.
BRENG!
Video aktifitas di rumah Ernest itu semua terlihat.
Mereka bertiga mengamati satu per satu.
“Yang itu coba perbesar, Mad!” perintah Samudra, telunjuk mengarah pada apa yang dia minta.
Mada menurut tanpa berkata.
Menelisik lebih dalam, Samudra mendekatkan wajah ke depan layar. Keningnya berangsur makin berkerut.
“Lu kenal, Sam?” tanya David. “Komuknya kek bukan berasal dari ini negara.” Ia ikut mengamati.
“Dazh anak buah Edmon," Samudra menjawab dengan suara kecil seperti gumaman, berekspresi terkejut.
David dan Mada serentak menoleh ke arahnya.
“Siapa mereka?" David ingin tahu.
Samudra menjelaskan;
Edmon adalah karyawan perusahaan Laura di Moskow. Dia pernah mendorong diri ke hadapan Laura untuk menjadi tangan kanan dalam bisnis gelap wanita itu. Menginginkan posisi baik dengan jadi penjilat seperti anjing. Naik ke ranjang Laura dengan terbuka bahkan siap diperlakukan seperti kuda pemuas. Kedatangan Samudra dulu menjadi pemicu kemarahan Edmon. Dia merasa Samudra melewati batasnya. Tiba-tiba muncul sebagai wakil Laura dan menjalankan semua bisnisnya. Edmon marah.
Samudra mengetahui semua cerita dari seorang wanita yang mengaku pernah berpacaran dengan Edmon.
Jika Dazh dan Edmon sudah bergerak hingga ke negara ini, berarti Samudra dalam kesulitan, termasuk orang-orang di sekitarnya.
Terbukti. Ernest sekarang menghilang.
Lelaki yang usianya dua tahun lebih muda dari Samudra itu adalah seorang h4cker handal yang indentitasnya tak pernah diketahui siapa pun.
Samudra, David, dan Mada, harus bekerja ekstra jika begini.
__ADS_1
“Dav ... berkas data pengalihan perusahaan, masih aman, 'kan?” tanya Samudra mengingat itu.
David mengangguk. “Aman, Sam!”