
Aksi donor darah yang dilakukan di kawasan Palang Pintu--dekat di mana bengkel Samudra berdiri, tak lain ada peran Laura Jung di baliknya. Hal itu dilakukan dengan tujuan untuk mencari ginjal yang cocok dengan putrinya. Dan Samudra ikut serta dalam aksi itu sebagai pendonor.
Selain darah Samudra sama dengan Charlotte, kondisi kesehatan Samudra juga dalam keadaan bersih dan prima. Tak mudah mendapatkan hal demikian dari sekian orang yang cocok. Mereka memiliki banyak cela--menurut Laura.
Itu kali ke sekian Laura melakukan aksi serupa. Tapi tak satu pun yang sesuai standarnya. Sampai pada akhirnya ia menemukan darah Samudra yang menurutnya paling sesuai dan dibutuhkan. Dari sanalah ia terus memantau kehidupan Samudra, hingga di titik terlemah dan terberat lelaki itu. Dan bagi Laura itu adalah jackpot.
Waktu pertukaran yang tepat tanpa harus memaksa.
...ΩΩΩΩΩΩ...
Bau desinfektan menyengat hidung Samudra. Seorang gadis tergolek lemah di atas brankar dengan sekian alat bantu kehidupan.
Charlotte Wen, Samudra menatap gadis itu di sisi brankarnya. Ada desiran sakit yang melebihi sekedar iba. Ia tiba-tiba mengingat Miana. Miana malang yang saat ini hanya punya satu tangan saja.
Laura mulai membelai pipi tirus putrinya sesaat mereka sampai. Ia menegakkan tubuh tanpa mengalihkan pandangannya. “Sudah satu tahun dia seperti ini,” ungkapnya tiba-tiba. “Enam bulan lalu dia baru melakukan transplantasi jantung. Aku kira dia akan sembuh. Tapi ternyata, dokter malah mengatakan bahwa ginjalnya juga bermasalah.”
Hati ibu mana yang tak sesak dengan kenyataan itu, dan Samudra tahu benar. Tapi sorot mata yang ditunjukkan Laura, tak terlihat kesedihan di sana. Wanita itu tak suka air mata, itu bahkan berlaku untuk dirinya sendiri.
Wajah pucat Charlotte ditatap Samudra. Gadis itu masih remaja. Masa depannya terinterupsi oleh garis yang menyakiti. “Ambil ginjal saya secepat yang Nyonya mau,” celetuk Samudra tiba-tiba. “Lakukan transplantasi itu segera. Saya siap walau harus dilakukan detik ini juga!”
Laura Jung tercengang. Cukup terkagum walau tak bisa ia tunjukkan secara gamblang. Orang banyak akan takut diambil ginjalnya, tapi Samudra justru sebaliknya. Hanya dibayar dengan kebebasan, pemuda itu sudah seperti dihadiahi Bartolome.
...****...
Tiga bulan berlalu.
Di ruang tindakan sebuah rumah sakit ternama di Jakarta.
__ADS_1
Glorien sedang mempertaruhkan hidup dan matinya untuk melahirkan sang buah hati.
Mbok Rum, Lola dan Pak Jo menunggu dengan cemas di depan pintu ruang tindak itu. Sedang Rohan Pascal seperti biasa hanya menunggu di singgasananya--menunggu kabar dari Pak Jo.
“Jika terjadi sesuatu pada putriku, walau sudah menjadi tanah sekali pun, akan kuhancurkan lelaki sialan itu hingga ke akar!” Rohan menggeram. Kecemasan meliputi hatinya yang bagai batu--itu aneh.
Semenjak berita kematian Samudra, Glorien semakin kacau. Tubuhnya mengecil kurus, black spot di sekitar mata seperti panda. Kepergian Samudra membawa hampir sepertiga jiwanya, hingga yang tersisa hanya bagian rapuh yang melayang-layang. Sedang Rohan tak pernah memberinya izin untuk keluar apalagi mengunjungi kuburan Samudra yang sudah pasti di Sukabumi.
Darius sempat dua kali datang mengunjungi. Membawa serta rasa tanggung jawabnya sebagai ayah dari Samudra. Walau tak banyak yang bisa ia berikan, tapi setidaknya ia tak lepas tangan sebagai orang tua. Sayangnya lagi-lagi, dia dijegal masuk dan hanya sampai di depan gerbang. Pria paruh baya itu akhirnya pulang dengan rasa hampa.
Glo akan terus dilatih untuk melupakan Samudra oleh Rohan. Walau saat ini fisik dan mentalnya dipertaruhkan. Rohan meyakini semua akan berakhir dengan cepat, jika semua yang berhubungan dengan Samudra dihapuskan dari kehidupan putrinya tanpa tersisa.
Kembali ke scene.
Empat jam berlalu. Semua sudah usai.
“Mbok, dokter kenapa lama? Aku mau liat bayiku.”
Lola dan Mbok Rum saling beradu pandang. Ada kebingungan yang terpulas di raut mereka untuk menjawab.
Glorien mengernyit heran. “Ada apa sama wajah kalian?” tanyanya. Namun mereka masih diam. “Pak Jo.” Ia memanggil pria itu.
Pak Jo yang diam sedari awal akhirnya angkat bicara, “Dokter akan datang dan menjelaskan semuanya, Nona.”
Sekian menit kemudian, seorang dokter obgyn ber-gender wanita yang sudah mulai tua, memasuki ruangan.
Glorien melihat obgyn tersebut dengan kening berkerut. Pasalnya, tangan dokter itu tak membawa apa pun. “Bayiku mana, Dokter?” tanyanya tak sabar lagi.
__ADS_1
Dengan seragam putihnya yang nampak longgar, dokter itu sudah berdiri tepat di samping brankar Glorien. Sesaat ia saling memandang dengan Pak Jo, Lola dan Mbok Rum, lalu merunduk kembali menatap Glorien. Sekilas membetulkan kaca matanya yang baik-baik saja, ia lalu berkata, “Maaf, Nona Glo. bayi Nona tidak bisa diselamatkan.”
Tak ubah petir mencabar langit, Glorien terpental perasaannya, membentur sesuatu yang besar hingga remuk berkeping-keping. “Apa katamu, Dokter?" Ia tak percaya.
“Ya, Nona. Anak yang baru Nona Glo lahirkan, sudah meninggal dunia beberapa saat setelah di luar. Jenis kelaminnya perempuan. Dia terkena dampak dari depresi Anda. Banyak bagian vital tak berfungsi bahkan hingga ke pernapasannya.”
Air mata Glorien luruh dengan cepat dan menganak sungai. Ia menggeleng-geleng tetap tak percaya. “Nggak, nggak mungkin, Dokter! Nggak mungkin! Dokter pasti boong, 'kan?”
“Maafkan saya, Nona. Kami segenap team, sudah berusaha semaksimal mungkin," ucap sang dokter menyesalkan.
“Tapi anakku laki-laki waktu dia di USG, Dokter?!" Glorien masih berharap. “Dokter pasti salah!”
Seraya tersenyum miris, dokter itu menjelaskan, “USG itu hanya tekhnologi, Nona. Dan itu manusia yang membuat. Semua bisa salah. Tangan Tuhan bisa merubahnya kapan saja.”
Penjelasan semasuk akal itu tetap tak bisa Glorien terima. “Nggak! Gak mungkin anakku meninggal!” Ia meraung histeris.
Mbok Rum dan Lola maju untuk memberi penenangan. “Sabar, Non. Sabaaar.”
“Lo harus bisa terima kenyataan Glo.” Lola menimpali sama bersedih. Meskipun ia tahu, yang dikatakannya tak akan semudah menjalankannya. Glorien dalam posisi ‘lebih baik mati’. Sekuat Lola pun belum tentu bisa menerimanya.
“Aku mau liat anakku!" Glorien berteriak meminta.
“Saya turut berduka," ucap sang dokter dengan berat hati seolah tak peduli dengan permintaan Glorien. “Kalau begitu saya permisi.” Dia kemudian berlalu dari ruangan.
“Dokter! Aku mau liat anakku!”
Lola berlari keluar. Dia benar-benar tak tahan menyikapi penderitaan sahabatnya. Memerosotkan tubuhnya ke lantai bersandar dinding seraya menangis tersedu-sedu. “Tuhaan.”
__ADS_1
Lola, Mbok Rum dan Pak Jo, mereka orang baik. Tapi kehidupan tetap punya harga yang harus dibayar. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain berusaha sekuat tenaga membangkitkan Glorien dari keterpurukan yang entah sampai kapan akan disudahi oleh waktu.