
Satu bulan berlalu.
Perusahaan Laura di Moscow sudah sangat stabil. Dua orang kepercayan Samudra sejak dulu, ditunjuknya untuk menangani dan mengurus segala hal.
Samudra sendiri akan pulang ke Indonesia bersama Glorien, Sagara dan Mada. Charlotte belum bisa ikut karena study-nya di Australia akan selesai sebentar lagi. Gadis itu akan berkunjung tepat di hari pernikahan Samudra dan Glorien yang rencananya akan dilangsungkan sekitar satu bulan berikutnya.
**
Pagi tadi pesawat Samudra mendarat di bandara internasional Soekarno-Hatta.
Tanah air sudah diinjak.
Mada langsung ditendang untuk kembali ke perusahaan karena Ernest menghubungi ada hal yang butuh tenaga si somplak itu.
Sisa Samudra dan dua orang yang sangat dicintainya.
Sebelum pergi ke tempat final, mereka mampir ke sebuah restoran mewah. Sagara terus berceloteh bahwa dia ingin makan sesuatu. Selingkar meja dipilih karena sudah direservasi secara virtual oleh Samudra.
"Mama, Ghala kebelet pipis," celetuk Sagara seraya meringis dan memegangi area pusakanya.
Glorien merespon cepat, "Ayo Mama anter ke toilet, Sayang." Sesaat dia menoleh Samudra yang tersenyum sembari menggeleng melihat putranya sudah melejit jauh karena tak tahan. "Kamu pesenin aja sesuai yang Ghala mau. Aku susul dia dulu."
Samudra mengangguk, "Oke!"
Glorien berlalu dari sana, pria ganteng gak ketulungan itu memanggil pelayan dan mulai memesan makan.
__ADS_1
Di saat yang sama ....
"Samudra!"
Samudra melengak dan mendapati seraut wajah wanita yang sangat dia kenali, berdiri di hadapannya dengan penampilan cukup terbuka, sehelai dress di atas lutut dengan dada lebar tidak tertutup. "Lussi." Hanya disuarakannya di dalam hati. Dia tak menunjukkan keterkejutan, memasang tampang sedatar lantai. Wajah Lussi tak lagi semenarik dulu saat dia masih amatir soal banyak hal.
"Kamu beneran Samudra, 'kan?" Wanita itu--Lussi, bersuara lagi.
Samudra tersenyum tipis, "Hmm, apa kabar, Nyonya Lussia Andarista?"
Sikap Lussi langsung berubah senang, bahkan sampai menutup mulut. Pria itu benar-benar Samudra, dan ajaib masih ingat siapa dirinya. Satu kursi kosong didudukinya cepat.
"Kamu beda banget. Aku sampe pangling." Aslinya Lussi tahu bahwa Samudra sudah bertransformasi menjadi pengusaha sukses dan semakin bertambah tampan karena tak lagi belepotan oli. Hal itu pulalah yang menyebabkan rumah tangganya dengan pilot itu berantakan hingga bercerai.
Lussi ingin kembali pada Samudra dan menikmati kejayaannya. Suami yang tak tahan dengan sikap konyolnya dan selalu menuntut lebih, meradang marah lalu menceraikannya.
Beberapa obrolan kecil berlngsung kaku bagi Lussi, tapi dihadapi santai oleh Samudra.
"Aku minta maaf karena dulu ninggalin kamu. Aku sekarang jadi janda dan balik kerja jadi perawat." Dengan wajah ragu, dia melanjutkan, ditatapnya raut Samudra berpulas harapan besar, "Sam--
"Anda yang jadi janda, apa urusannya dengan suami saya?"
Keterkejutan menyerang Lussi seketika. Pandangannya spontan terlempar pada sosok wanita yang berjalan dengan seorang pria kecil tampan di sampingnya. ---Glorien dan Sagara.
Dari pasang anak dan ibu itu, Lussi menoleh Samudra yang sikapnya sama sekali tidak berubah dari awal hingga saat ini--tetap santai. "Samudra, mereka?"
__ADS_1
"Ya, kenalkan, dia Glorien, istriku," terang Samudra, lalu menarik Sagara mendekat ke sisinya. "Dan si tampan ini ... Sagara, putra kami." Dia memperkenalkan dengan senyuman bangga.
Lussi langsung tercenung kemudian gelagapan. "Ka-kalo gitu ...." Bangkit segera dari duduknya, "Aku permisi."
Samudra terkekeh-kekeh menyikapi kelakuan mantan kekasihnya. Sementara Glorien nampak cemberut. Kursi didudukinya dengan kasar. Dia ingat siapa Lussi, wanita yang dulu mengkhianati Samudra dan bertunangan dengan pria lain saat pertemuan kedua mereka di Palang Pintu.
"Kamu kenapa, Glo?" tanya Samudra pura-pura tak peka.
"Nggak!" Glorien menjawab ketus.
Kekehan Samudra bertambah banyak, kali ini berlaku untuk kecemburuan ibu dari anaknya.
Seorang pelayan wanita baru saja datang dan siap menata pesanan di meja mereka, nampak terbius dengan tawa ringan Samudra yang di matanya justru tak seringan senyuman yang terlihat. Hatinya menjerit-jerit, betapa mengagumkannya pria itu. Kalau ada yang lain ... bungkusin buat aku satu. Prett!
"Sayang." Tangan Glorien ditarik lalu dikecupnya, Samudra akan melancarkan jutsu-nya. "Aku rela nuker seribu cewek kayak Lussi, sama satu botol yang di dalemnya ada kamu."
Glorien melengak. "Emangnya aku jin, pake ada di botol."
Samudra tertawa, lalu melanjutkan lagi, "Iya. Jin paling manis yang cengengnya gak ketulungan."
"Idih!" cebik Glorien. "Aku cengeng gara-gara kenal sama kamu." dia tak terima.
Tawa Samudra terdengar lagi. "Iya udah deh ... biar cengengnya sembuh, kita nikah besok, trus bikin anak semalem suntuk."
"Ih, kamu!"
__ADS_1
Sagara yang mulai sibuk menyantap terlihat bingung dengan kelakuan dua orang tuanya. Dengan nada polos dan mulut penuh dia bertanya, "Mama sama Papa ngomongin apa, sih?"