Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Makanan Beracun


__ADS_3

Napas memburu Samudra masih terdengar. Ia baru saja menegakkan tubuh. Di bawah kakinya, Dazh sudah terkapar. Tak peduli hidup atau mati, dia membalik badan lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Tubuh naas Birawa dihentak David ke dinding, lalu ambruk menelungkup setelahnya. Menghadapi pria itu membuatnya kehilangan cukup banyak energi. Tubuh kecil Birawa seperti besi. David cukup kewalahan.


Kedua pria itu bertemu di ujung tangga.


“Lu gak apa-apa, 'kan, Sam?" tanya David.


Samudra menepuk pundaknya. “Isoke. Gua baek-baek aja. Kita lanjut cari Ernest.”


Anggukan David mendorong mereka kembali meneruskan langkah.


Dan beruntung, waktu mempertemukan dengan caranya.


“MAD!” teriak Samudra. Pun David yang melakukan hal serupa. Keduanya berlari menyongsong Mada yang nampak sulit dan keberatan.


Susah payah Mada menggendong Ernest di punggungnya dari ruang bawah tanah hingga ke tempat yang saat ini mereka pijaki.


David dan Samudra menurunkan Ernest. Pemuda naas itu dibaringkan kembali dilantai berbantal paha David yang menekuk seperti cara duduk Geisha di Jepang. Wajahnya makin memucat pasi.


“Lu nemuin dia di mana?!” tanya cemas Samudra.


“Lu nanya itunya nanti aja! Kita harus cepat bawa Ernest ke rumah sakit. Nadinya lemah, Sam!” hardik Mada.


Samudra dan David terkejut, lalu kelabakan kemudian.


“Biar saya panggul dia, Tuan!”


Pepeng kebetulan datang. Wajah lelahnya menandakan pertarungan yang tak sederhana baru saja dilaluinya.


Samudra mengangguk setuju.


Semuanya bangkit mengikuti Pepeng yang dengan enteng memanggul Ernest seperti boneka di pundaknya.


Sayang seribu sayang ... lagi-lagi semuanya tak semudah itu.


Suara debam terdengar tak ramah.


“PENG, CEPET LU DULUAN BAWA ERNEST PERGI!” Samudra memerintah keras.


Pepeng langsung melanting lari melalui celah jalan lain.


Detik berikutnya, perkelahian kembali terjadi.


Setidaknya enam orang anak buah Dazh kembali datang.


Samudra, David dan Mada sibuk kembali bermain kepal tinju juga tendangan.


UIW UIW UIW!


Sirine polisi terdengar nyaring.


Giovan datang dengan bantuan.


Tembakan keras menggaung di beberapa titik, sampai ke wilayah pertarungan Samudra dan kawan-kawannya.

__ADS_1


“BERHENTI KALIAN!”


Semua anggota Dazh mengangkat tangan saat pistol aparat menodong mereka. Pertarungan otomatis terhenti.


“Ndan! Di ruang bawah tanah masi banyak orang. Mereka kena tawan!” teriak Mada memberitahu Giovan. Dia sempat melihat saat menggendong Ernest, tapi tak melakukan apa-apa karena orang-orang tertawan itu dikunci dalam sebuah ruangan lain.


“Baik! Sebelah mana?”


“Sana!”


Giovan ditemani beberapa rekan langsung melejit sesuai informasi Mada.


Setiap satu borgol polisi mengikat dua orang sekaligus. Mereka digelandang menuju mobil.


Samudra dan teman-temannya berjalan lelah ke arah luar. Sisanya diurus aparat.


Mereka cukup menyesalkan. Setidaknya tiga orang anggota Pena Hitam diboyong keluar tak bernyawa. Sepadan, Dazh juga akan dipulangkan ke Moskow dalam keadaan tinggal nama.


...*****...


Keadaan mengenaskan Pak Jo telah sampai ke telinga Samudra. Tanpa menunggu waktu, ia menurunkan perintah pada David untuk menyembunyikan ayahnya Yara itu ke suatu tempat.


Terbongkarnya rahasia tentang masih hidupnya anak Samudra dan Glorien, membuat Pak Jo dalam keadaan remuk terancam.


Hanya ada dua yang dicurigai.


Entah itu Rohan ... atau bisa jadi Laura Jung. Masih abu-abu.


Potensi keduanya sama besar.


Tentang pengetahuan Jesslyn atas masa lalunya, Samudra juga tahu, ada peran Laura di balik itu semua. Secara tidak langsung, Jesslyn juga disingkirkan Laura dari sampingnya.


Laura tak ingin Samudra dimiliki siapa pun, selain daripadanya.


Glorien ... Samudra pasti akan kembali memperjuangkan wanita itu.


Dan saat ini ....


“Nona ... ini makan malamnya.”


Glorien tersenyum. “Terima kasih," ucapnya. Dia menerima nampan berisi makanan dan minuman yang disodorkan seorang pelayan dengan senang hati. Tak makan dengan Rohan ataupun Lola, dia mengatakan akan sibuk seorang diri.


Tentang menghilangnya Pak Jo, Glorien hanya mendapat kabar dari Yara, pria tua itu sedang pulang kampung ke Sulawesi menemui istrinya. Isoke, dia mengerti itu.


Laptop di hadapannya ia tutup kini. Sejenak menunda pekerjaan yang baru ia geluti tiga hari ini pasca sakitnya beberapa waktu kemarin. Perutnya sudah berisik, dia lapar.


Pisau dan garpu diambilnya. Steak di atas piring nampak menggiurkan. Glorien mulai memotong dengan elegan. Namun ketika hendak masuk ke suapan pertama ....


BRAK!


“GLO!”


BRUK! PRANG!


Glorien terkejut setengah mati.

__ADS_1


Samudra tiba-tiba datang menendang pintu, berteriak keras, lalu melempar piring makanannya hingga hancur dan terserak di atas lantai.


“Samudra! Kamu ini apa-apaan?!” teriak Glorien.


Pertanyaan itu justru mendorong Samudra untuk memeluk wanita itu. ”Kamu gak apa-apa, 'kan?”


Glorien mendorong tubuhnya agar menjauh. “Kamu ini kenapa, sih?”


Samudra tercenung sekian saat. Lalu mengerjap mata dan bersyukur. Glorien masih baik-baik saja.


“Makanan itu beracun, Glo.” Lelaki itu mengungkapkan dengan nada normal, seraya menatap makanan yang berserakan di bawah lantai.


Glorien terperanjat. “Apa kamu bilang?!” Ditatapnya Samudra lalu menoleh ke arah lantai. “Jangan ngada-ngada deh kamu!” semprotnya kemudian.


Tahu wanita itu pasti tak akan mudah percaya, Samudra memanggil, “Mad! Bawa tu curut kemari!”


Mada muncul bersama seorang wanita dalam bekukannya.


“Lepasin aku!” Dia adalah pelayan yang tadi mengirim makanan pada Glorien. Terus meronta-ronta ingin terlepas.


Sanggul apiknya telah berantakan. Mada menjambaknya cukup keras.


“Diem lu, Munah!” hardik Mada. Didorongnya wanita itu hingga ke samping Samudra.


Samudra menatapnya tajam. ”Sekarang kamu makan potongan daging di lantai itu!” perintahnya.


Pelayan itu menggeleng-geleng. Ada raut ngeri yang siapa pun dapat membaca. “Nggak!” tolaknya.


Glorien memerhatikan tanpa berkata. Tapi wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang cukup kental.


“Makan!” Mada mendorong kepala wanita pelayan dalam cekalannya itu agar merunduk.


“Hmmp! Hmmp!" Rapat wanita itu menutup mulut seraya menggeleng-geleng tidak mau.


Tapi Mada tetap memaksa. Potongan kecil steak diambilnya cepat, lalu dijejalkan ke dalam mulut wanita itu secara paksa dan kasar.


“Kunyah! Telan!” Turun lagi perintah Samudra. “Cepet!”


Tidak ada opsi. Sisi mana pun wanita pelayan itu dalam keadaan rugi. Dia mengunyah daging di mulutnya, lalu menelan dengan susah payah seraya menitikkan air mata.


Glorien menatapnya cemas.


Dalam sekian menit, tak ada yang berubah. Pelayan itu masih waras dan baik-baik saja. Tapi berubah raut di satu menit kemudian.


Urat wajahnya mengetat kencang, timbul membiru seperti akan berganti kulit.


Detik selanjutnya, kedua tangannya naik melingkari leher seolah akan mencekik diri sendiri. Tapi tidak begitu. Dia menahan sakit yang luar biasa di tenggorokan dan panas di sekujur dada. “To-to ... long.” Susah payah dia mengucapkan secarik kata itu.


Glorien memundurkan diri dengan gemetar. Dia takut.


BRUK!


Pelayan cantik itu ambruk ke lantai dengan mulut berbusa dan mata yang melebar.


“Kamu lihat itu, Glo?!”

__ADS_1


__ADS_2