
“Dia bertingkah seolah tersakiti.” Samudra tersenyum sinis dalam omongnya seorang diri. “Pinter ekting juga,” cibirnya tak habis pikir.
Dia duduk di kursi kerjanya. Suatu pekerjaan mungkin akan dimulai sesaat lagi. Terulur tangan untuk membuka laptop, namun urung, karena Mada tiba-tiba datang seperti habis kemalingan.
“Gimana, Sam?! Apa yang lu lakuin sama mantan bini lu?!” tanya Mada langsung jebret. “Trus, mana do'i sekarang?!” Kepalanya mengedar semua sudut mencari-cari.
Samudra berdecih, lalu bangun lagi dari duduknya. “Lagak lu kepo!” semprotnya seraya menoyor kening Mada hingga lelaki itu tersurut ke belakang. “Lu yang bikin dia tau, kalo gua Samudra, pan?”
Nyengirlah si Mada seraya garuk-garuk kepala. “Kagak sengaja aing, Sam.”
“Laen kali kalo lu mao bikin onar, jangan gua lu jadiin alas, Keparat!”
Mada menghardik, “Heleh! Pan itu yang lu mau, Jirr!”
Samudra mengusap elegan bibirnya setelah meneguk segelas jangkung air mineral hingga tandas. Mengolok sebotol bir yang berdiri tegak di hadapannya. Ia harus sehat, sebisa mungkin jangan tergoda. Ia tak boleh minum alkohol karena ginj4l yang tinggal satu. “Gua bukan tikus got yang maen kotor,” tukasnya. Lalu membalik tubuh setelah gelas kembali ia taruh ke atas meja.
Mada sudah duduk di depan meja kerjanya seraya memainkan ponsel. “Jadi dia udah balik?” tanyanya tanpa menatap lawan bicara.
“Gua usir," jawab Samudra sesantai kentut.
“Gila lu!” Mada tak habis pikir. “Do'i pan sekarang tambah cakep, Sam. Masa iyak lu kagak kegoda barang seoles aja gitu?”
“Pantat lu seoles!” sembur Samudra.
Mada hanya mengangkat bahu, kembali sibuk dengan ponselnya.
“Gimana kerjaan lu sama dua hacker itu?” tanya Samudra kemudian, sembari menarik kursi kerjanya untuk kemudian ia duduki.
Mada tersenyum. Satu tangan terangkat dengan telunjuk dan ibu jari bersatu membentuk huruf O, yang berarti; “Beres," katanya. “Cepet ato lambat, lu bakal denger kabar Rohan kalang kabut gegara saham perusahannya merosot sot sot!” Senyumnya mengembang berganti cengiran puas.
Samudra menanggapi tak sama konyol. Tatapannya berubah tajam diulas seringai kelam. “Bagus, Mad,” pujinya, lalu membanting punggung ke sandaran kursi. “Gak sabar gua.”
...🔸🔸🔸...
Sisi lainnya.
Sepanjang jalan--Bandung-Jakarta, Glorien tak henti menangis. Mata bengkak menjadi hasil.
Dua hari dia meminta izin papanya untuk tak bekerja. Sebuah hotel berbintang dua di selatan kota, didatanginya lalu menginap di sana. Dia tak ingin pulang. Malas mendengar pertanyaan Rohan ataupun Lola, apalagi olokan Martin yang membuatnya panas telinga. Akan makin mengacau pikir dan hatinya yang remuk redam.
__ADS_1
Glorien ingin sendiri.
Balkon kamar hotel yang mana sebuah kursi rotan bersandar di sudut kiri, ia duduk mengisinya. Air mata telah kering, tapi tidak untuk hatinya. Luka yang lama tertutup, kini kembali menganga, bahkan lebih melebar.
Samudra masih hidup ... bagaimana bisa?
Bagaimana bisa lelaki itu menipunya, lalu pulang dengan menjadi orang lain? Sementara dia sendiri terluka dalam, bahkan tak sembuh di waktu singkat.
“Apa sebenernya yang terjadi?" Ia bertanya pada diri sendiri di tengah hati yang berkecamuk. Semua yang dialami seperti teka-teki tanpa jawaban. Bertahun lamanya--bayangkan saja. Wajah sedih enggan berganti. Terlalu merisaukan rasanya.
Ponsel yang tergolek di atas meja diraihnya karena berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari Lola.
Glorien melihatnya sedikit malas, namun dibuka juga.
Lola mengirim link yang setelah dibuka, ternyata berisi kartu undangan.
Keningnya berkerut sembari membaca.
“Peresmian Hotel Kencana di Surabaya," ia menyebut intinya saja.
Lola mengirim tambahan susunan kata yang berbunyi; ‘jangan malas bersenang-senang selagi ada jalan dan kesempatan’.
Ditanggapi Glorien dengan senyuman kecut. Hatinya masih kebas seperti tak bisa merasakan apa pun selain tentang Samudra yang seolah tak ada ilmu penutup.
------Time Skip------
“Orang itu gak mau jual tanahnya. Yang pasang iklan penjualan di internet itu kerjaan iseng pegawainya yang kesel karena gajinya telat dibayar.”
Alasan itu Glorien lontarkan pada Rohan dan juga Lola setelah dua hari pulang dari semedinya. Ia terpaksa berbohong. Tidak akan bercerita apa pun tentang pertemuannya dengan Samudra. Terlalu riskan.
Dan hari ini ....
Lola sudah seperti cacing kepanasan ingin segera pergi.
Sementara Glorien masih menyusun persiapan dan keperluannya ke dalam koper.
Mereka akan berangkat jam delapan pagi ini ke Surabaya. Karena peresmian hotel itu akan berlangsung malam harinya.
__ADS_1
Waktu tiba di tujuan.
Satu bagian lantai dasar hotel baru itu sudah ramai dipadati tamu undangan termasuk paparazi. Semua memasang penampilan terbaik di acara itu.
Hiasan bunga-bunga nuansa putih menambah indah di antara gemerlap lampu yang bertabur.
Glorien nampak cantik dengan empire waist dress berwarna putih. Rambut panjangnya disanggul habis membentuk bunga melingkar dengan kepangan cantik hasil buah karya penata kenalannya. Lola si tomboy pun sudah tobat dan memilih memakan midi dress warna violet. Rambutnya masih sama--tetap pendek, namun sedikit bertransformasi, dari bob nunggin9 menjadi asimetris bob. Keduanya nampak menonjol dengan warna anggun masing-masing yang dimiliki.
Selingkar kursi dengan meja bundar di tengah-tengah, Glorien dan Lola mendapat bagian paling depan, karena keduanya termasuk jajaran tamu VIP.
Dengan jas abu berdasi biru, seorang pria mendekat dengan segelas anggur menghampiri dua wanita itu.
“Nona Glo, boleh saya gabung di sini?" tanya pria itu cukup sopan.
Glorien mengangkat wajah melihatnya. “Mario.” Dia tersenyum sewajarnya. “Silakan,” katanya menyetujui.
Mario Ramses, dia adalah putra kedua pemilik hotel.
Mendapat angin segar, kursi di samping Glorien segera didudukinya. “Makasih.”
Lola acuh saja. Entah dia normal atau tidak. Sebaik apa pun tampilan seorang pria, dia akan tetap datar tanpa minat memasang muka.
Obrolan basa-basi mulai terjadi. Selebihnya hanya pembahasan tentang bisnis yang sama-sama mereka tekuni. Di panggung sana, lagu-lagu bergantian dinyanyikan beberapa artis yang kebetulan juga diundang.
Sampai gelegar suara MC kemudian mengalihkan semua perhatian ke arahnya. “Kita sambut model ambassador kita ... Jesslyn Dunn!”
Seluruh pasang mata menyorot satu titik yang sama.
Dengan tampilan anggunnya, model ternama yang baru saja dipanggil itu, naik ke atas panggung. Senyum manisnya mengiringi bait demi bait kata yang dia ucap. Semua dia jelaskan dengan cara menarik, dibantu layar yang menampilkan keseluruhan bagian hotel atas nama jatah promosi.
Sampai tiba di durasi akhirnya, Jesslyn Dunn meminta perhatian lebih pada semua orang, MC pun mempersilakan.
“Sekalian berdiri di sini, saya ingin memperkenalkan calon tunangan saya pada kalian," kata Jesslyn sedikit malu-malu. “Seorang lelaki luar biasa yang sudah setahun ini mendampingi juga mendukung karier saya hingga sampai di titik ini.” Tangan kanannya kemudian terjulur ke samping sementara wajahnya tetap senyum ke depan. Ia menunggu.
Tak lama, seorang pria tampan muncul lalu naik untuk menyambut uluran tangan Jesslyn dengan senyum menawan, lalu mengecupnya penuh sayang.
Pemandangan yang manis itu ditatap semua orang dengan iri dan kekaguman yang hakiki.
Namun lain bagi Glorien. Nyalak melebar sepasang matanya, disusul dentuman keras di dalam dada.
__ADS_1
“Samudra.”